Little Persit

Little Persit
Obrolan pasangan



Nadia terbangun saat mendengar bunyi percikan air di kamar mandi. Disampingnya tidak ada Gibran yang semalam tidur dalam pelukannya. Selimut yang ia gunakan semalam untuk menyelimuti Gibran sudah terlipat rapi diatas bantal. Handuk kompresnya pun sudah tidak di kamar lagi. Nadia bangun perlahan memegangi perut besarnya dan duduk menyandar di kepala ranjang. Ia melirik hp di sampingnya untuk melihat jam. Waktu subuh belum tiba lalu kenapa Gibran mandi subuh sekali? Untuk menjawab rasa penasarannya, Nadia beranjak turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.


Tok tok tok.


"Ya, Nad?" Sahut Gibran dari dalam.


"Om Gi mandi?" Tanya Nadia mendekatkan kupingnya di pintu kamar mandi.


"Tidak. Kenapa?"


Nadia menggeleng namun saat sadar Gibran tak bisa melihatnya ia lantas menjawab "Gak. Kirain Nad, Om mandi. Ya udah, Om lanjut." ujar Nadia menjauh dari pintu kamar mandi. Ia memutuskan untuk memasak air panas untuk dirinya dan Gibran.


"Ngapain?"


Nadia terkejut saat dua lengan kekar mengalung di lehernya, memeluknya posesif.


"Masak aer." Nadia membalik badannya menghadap Gibran. "Om mandi ya? Kok handukan doang?"


"Keringatan. Gak nyaman." Gibran menangkup pipi Nadia dengan tangan lebarnya. "Belum cuci muka ya? Tuh belekan."


Nadia mencebik, hendak mencubit perut Gibran tapi tidak ada lemak yang bisa ia dapat disana. "Subuh-subuh gak usah ngajak perang bisa kalik."


"Bisa dirundingin. Sekarang mana morning kiss-nya?"


Nadia mendorong wajah Gibran dengan telapak tangan kecilnya, "Belum pagi ya Om, Jangan maruk. Semalam udah Nad sayang-sayang, gak puas juga?"


"Gak akan pernah puas. Mau lagi, lagi dan lagi." Gibran tersenyum nakal, memainkan rambut Nadia disela-sela jemarinya.


"Kalau ada maunya tuh mulut manis bangat ngalahin madu. Pas ngomel aja pedes bangat udah kayak cabe sekilo." Cibir Nadia.


"Kapan saya mengomel? Gak pernah lah." Elak Gibran menghindari tatapan Nadia.


"Dih, amnesia. Perlu bangat Nad sebutin kapan dan dimana Om omelin Nad? Nad simpen draftnya loh kalau misalnya Om penasaran."


"Gak usah lah." Gibran melepaskan tangannya dari pipi Nadia "Masak air saja?" matanya melirik kebelakang Nadia.


"Iya. Mau dimasakin apa? Bentar, Nad cek badan Om dulu." Tangan Nadia terulur menyentuh kening Gibran lalu kemudian menyentuh keningnya sendiri "Udah gak demam." ucapnya lega.


"Teh hangat saja. Jangan capek-capek." Pesan Gibran, menyarangkan kecupan sayang di rambut Nadia "Jangan lupa cuci rambut." sambungnya menyengir tanpa dosa.


"Ih Om Rese! Udah sana, jauh-jauh!" Nadia mendorong Gibran menjauh dari dapur. Ia menghela nafas kasar setelah susah payah menjauhkan badan samson itu dari dapurnya. Kemudian ia melanjutkan pekerjaanya menyiapkan teh hangat serta air hangat untuk mandi.


.


.


.


"Bunga dari mana, Om?" Nadia menghampiri Gibran yang sedang duduk di undakan tangga dengan membawa segelas teh hangat di tangannya. Lelaki itu tengah memandangi dua jenis bunga liar yang di tanam di dalam pot yang terbuat dari potongan botol bekas air mineral.


"Nemu di hutan. Suka?" Gibran menggeser pantatnya agar Nadia bisa duduk disampingnya, meletakkan gelas teh yang Nadia bawa di tempat yang agak jauh namun masih terjangkau olehnya.


"Suka. Buat Nad?" Nadia mengangkat pot kecil itu dan memperhatikan jenis bunga yang baru dilihatnya itu.


Gibran mengangguk "Anggrek lagi gak musim." jelasnya, tahu betul Nadia menyukai bunga yang memiliki kembang yang berwarna.


"Ini juga cantik kok, Om. Makasi ya. Manis bangat Om nya Nad." Nadia meletakkan kepala pot tersebut lalu merentangkan tangannya "Sini peluk." Gibran menyambut tawaran pelukan itu dengan senang hati. "Jangan sakit lagi." Gumamnya sembari menepuk-nepuk punggung Gibran lembut.


Gibran mengulas senyum tipis "Terima kasih untuk obatnya semalam."


Nadia mencibir, tahu betul maksud dari kata obat itu sendiri. Semalam iya sudah seperti ibu muda yang baru melahirkan bayi besar yang kelaparan. Saat sakit ataupun sehat, nafsu Gibran benar-benar sulit dikendalikan. Mungkin inilah alasan kenapa laki-laki yang sudah mampu di sunahkan untuk segera menikah karena nafsu laki-laki lebih susah di kontrol daripada perempuan. Ditangkupnya tangan hangat Gibran dan diusap-usapkan ke pipinya. "Mau janji sama Nad?"


"Janji apa?"


Nadia menunjukkan jari kelingkingnya "Janji sama Nad untuk selalu bahagia."


Gibran memalingkan wajah ke tempat lain "Janji macam apa itu?"


Nadia manyun. Di tangkupnya wajah Gibran untuk menoleh padanya "Om ngadep sini." tuntutnya. Gibran menoleh, membalas tatapan sendu Nadia dengan tatapan datar miliknya. Bahkan dalam atmosfir penuh romansa seperti ini Gibran tetaplah lelaki jelmaan kanebo kering.


"Janji sama Nad?" Nadia mengancungkan jari kelingkingnya diantara mereka.


Gibran menangkup jari kelingking mungil itu dalam kungkungan tangan besarnya. "Kebahagian Nad dan adek bayi adalah kebahagiaan saya juga. Pastikan Nad selalu bahagia kalau mau Om bahagia." ujarnya dengan nada datar. "Paham?"


Nadia mengerjap pelan lalu menganggukkan kepalanya "Paham." Ia merengsek masuk dalam pelukan Gibran "Nad cinta sama Om. Nad cintaaaaaa bangat."


Gibran tersenyum lembut, "Tau."


Nadia mendongak namun tak melepas pelakannya dibadan Gibran "Tau apa?"


"Tau kalau Nadia Gaudia Rasya cinta mati sama Gibran Al Fateh." Sahut Gibran dengan smirk menyebalkan di wajahnya.


"Ck. Rese!" Rutuk Nadia kesal berbanding terbalik dengan respon tubuhnya yang malah jatuh lebih dalam memeluk dan menghirup wangi hangat Gibran yang menenangkan.


"Gibran Al Fateh sangat mencintai Nadia Gaudia Rasya, itu yang bener." Koreksi Nadia dengan suara manja yang dulu sangat membuat Gibran jengah. Lain sekarang yang malah sangat menyenangkan terdengar di telinganya. Efek cinta memang sedahsyat itu.


"Itu kamu tau. Jadi gak usah di tanyain lagi. Perasaan saya untuk Nad tidak bisa diukur hanya dengan kata-kata. Nad adalah bukti sayangNya Allah untuk Om. Hadiah dari surga yang akan selalu saya syukuri." Bisik Gibran di telinga Nadia. Satu kecupan di layangkan di bahu istrinya yang tertutup sweater hangat yang dibelinya saat turun ke kota.


Bibir Nadia melengkung sempurna mendengar kalimat panjang nan manis yang Jarang-jarang suaminya itu mau ucapkan. Biasanya Nadia hanya mendapatkan ungkapan cinta lewat omelan, sikap kaku dan tak jarang hukuman yang menyebalkan dari lelaki yang tengah memeluknya ini. Satu-satunya kata cinta yang pernah ia dengar adalah ungkapan cinta pertama kalinya di kuburan kedua orangtuanya. Gibran bahkan tak mau repot-repot mencari tempat yang lebih baik untuk pernyataan cintanya yang legend itu. Benar-benar suami yang romantis! Mungkin sakitnya semalam telah melemaskan salah satu sarafnya yang kaku.


"Om habis ngemil madu campur gula jawa ya semalem? Manis bangat omongannya."


Gibran menjauhkan wajahnya dari bahu Nadia "Ngemilin kamu. Lupa?" Ujarnya menaikkan satu alisnya.


Nadia memutar bola matanya sebal "Om memang rajanya menghancurkan momen manis."


"Aku apa?" Nadia berujar tak terima. Ia bahkan hanya bernafas disini.


"Manis."


"Dih!" Dasar laki-laki, bisanya ngebaperin anak gadis orang.


Gibran terkekeh mengacak rambut Nadia. Setiap saat ia tak lupa bersyukur Tuhan telah menjodohkannya dengan gadis kecilnya ini. Dulu ia berpikir bahwa perasaannya hanya sebatas tanggungjawab dan juga balas budinya pada kedua orangtua Nadia tapi makin hari ia makin yakin bahwa sejak dulu perasaannya memang sudah untuk Nadia. Tidak ada tempat untuk cinta yang lain. Gadis nakal yang sering mengharuskannya masuk ruang BK untuk menangani kelakuannya kini menjadi persit kecilnya yang meskipun masih sering bertingkah luar biasa tapi mampu mendampinginya dengan tugas-tugasnya sebagai abdi negara. Siapa yang berpikir sebelumnya seorang Nadia Gaudia Rasya si gadis metropolitan yang hobi berfoya-foya dengan segala akses kemudahan yang di dapatkannya karena menyandang nama besar Gaudia mau bersusah-susah dengannya di tempat terpelosok seperti ini. Bahkan Gibran tak pernah membayangkan hal mustahil ini akan terjadi dalam kehidupannya.


"Terima kasih."


"Sama-sama. Ngomong-ngomong Om Makasinya buat apaan?" Tanya Nadia dengan wajah polosnya. Ia belum melakukan banyak hal luar biasa pagi ini kecuali kalau memasak air termaksud hal keren luar biasa yang patut mendapatkan ucapan terima kasih.


Gibran menarik nafas pelan lalu senyum kecil terulas di bibirnya "Terima kasih karena sudah mau menikah dengan Om-om kanebo kering ini." ujarnya menjawil hidung kecil sang istri.


Nadia terkekeh "Om gak Om-om bangat kok. Walaupun memang kanebo kering" Ujarnya terkekeh. "But terima kasihnya Om, Nad terima. Nad juga mau bilang makasih and congratulation buat Om karena udah mau menikahi gadis cantik nan manis ini. Benar-benar anugrah besar bangat tauk buat Om bisa menikahi gadis separipurna Nad." Lanjutnya bangga dengan wajah sengak khas Nadia si gadis kaya raya.


Gibran mengangguk mantap, membenarkan omongan Nadia tentang betapa beruntungnya ia memiliki istri seorang Nadia Gaudia Rasya. Di peluknya ibu hamil kesayangannya itu dan dihadiahi kecupan-kecupan lembut yang membuat Nadia tidak bisa menahan geli.


"Tapi selain Om yang beruntung dan terberkati bangat karena menikahi seorang Nadia cantik nan rupawan, Nadia lebih beruntung karena dinikahi lelaki super kece badai yang kehangatan hatinya overdosis. Nadia tuh beruntung bangat tauk Om. Nakal tapi tetap dijodohin sama lelaki sebaik Om. Nad kadang mikir, ini Nad nya yang untung bangat atau Om yang buntung, gitu hehe"


"Akhirnya ngaku juga ya kalah nakal?!" Gibran mencubit gemas pipi Nadia yang semakin chubby karena kehamilannya membuat Nadia mengaduh walaupun sebenarnya tidak sakit sama sekali.


"Ih, Om mah. Jangan cubitin pipi Nad nanti makin ngembang kayak balon." Protes Nadia merengek manja.


"Mau segede balon atau lebih ngembang lagi gak ngaruh sama saya. Nad yang paling cantik." Puji Gibran memberikan senyum manisnya yang jarang sekali dilihat oleh orang lain.


"Bentar deh, Om," Nadia melepaskan jungkungan hangat Gibran, melirik jam di pergelangannya.


"Kenapa? Nad ada janji keluar?"


Nadia menggelengkan kepala sembari tangannya memutar tombol kecil di jamnya "Nad mau liat tanggal berapa sekarang, kenapa Om manis bangat pagi ini." Ujarnya lalu mendongak memamerkan cengiran lebar polosnya pada Gibran yang satu alisnya menukik tajam.


Gibran mendengus mengacak rambut Nadia "Sembarang aja kamu ini."


"Abisnya Om nyeremin sih. Gak biasanya tauk. Nad kan jadi gimana-gimana gitu." Ujarnya memanyun-manyunkan bibir lucu. Didepannya Gibran kembali memasang wajah datar papan tripleksnya.


"Ck. Om gak ada benernya emang." Rutuk Gibran mengalihkan pandangannya kearah lain.


Nadia yang melihat itu langsung meraih pipi Gibran, mencapitnya lembut "Gak cocok! Gak usah ngerajuk gak jelas gitu. Malu sama umur."


"Udahlah, saya pergi saja." Gibran bergerak seolah akan beranjak dari tempat tersebut namun ditahan oleh Nadia.


"Ih jangan dong Om. Disini aja dulu sama Nad." Rengek Nadia memeluk pinggang Gibran posesif. Kapan lagi Omnya semanis ini, kalau sudah masuk ke dalam rumah, jelmaan fir'aunnya pasti kembali dan Nadia sebagai rakyat yang tak patuh akan menjadi kesal sepanjang hari.


Gibran mengulum senyum kemenangan miliknya. Aslinya dia juga masih betah berlama-lama duduk bersama istri kecilnya itu. Sikap manja Nadia yang seperti ini yang sering dia rindukan. Nadianya yang suka sekali menempelinya dan memintanya melakukan banyak hal karena semenjak hamil ia bisa merasakan bahwa Nadia menahan diri dalam bersikap kepadanya. Nadia yang patuh dan manis memang menyenangkan tapi Nadia yang sedikit nakal dan pemberontak juga tak buruk.


"Akhir-akhir ini Om liat Nad seperti menahan diri. Kenapa?" Tanya Gibran setelah memperbaiki posisi duduk keduanya. Kedua tangannya mengalun di bahu Nadia yang berpindah duduk di undakan tangga yang lebih rendah. Dagu lelaki itu bertumpu pada rambut sang istri, mengecupi aroma segar yang menguar dari rambut hitam lembut itu.


"Menahan diri gimana maksud Om?"


"Nad lebih patuh dan banyak mengalah. Seperti bukan Nadia biasanya. Ada apa?"


Nadia terdiam sebentar. Ia memainkan jemari Gibran yang terulur di depan sembari sesekali mengecup telapak tangan lelaki itu. "Kenapa? Om kangen ngehukum Nad?"


"Kapan Om ngehukum Nad? Gak pernah."


Preeet, kapan katanya? Bagaimana dengan uang jajannya yang di pangkas? Bagaimana dengan kolam asrama yang penuh lintah? Bagaimana dengan dikurung berhari-hari dalam rumah? Kalau harus mengabsen semua hukuman yang Gibran pernah berikan padanya, maka kesemua jari tangan dan kakinya tidak akan cukup untuk menghitungnya.


Nadia memutar bola matanya untuk yang kesekian kalinya. Inilah laki-laki, bagaimana mau belajar dari kesalahan kalau banyak kesalahannya yang dilupakan begitu saja?! Hebat sekali, sekalian saja amnesia dan lupakan telah memiliki istri yang sedang hamil.


"Gak pernah dalam ingatan Om tapi menumpuk dalam ingatan Nad. Udah ah, Nad sebel kalau ngingat itu. Bawaannya pengen teriak trus ngejambakin Om."


"Ya udah jambakin aja kalau bikin kamu senang."


"Bilang kek gitu lagi kalau rambut Om udah numbuh." Ujar Nadia galak.


Gibran terkekeh, "Sekarang aja, Om relain."


Nadia mendecih. Hanya orang b*go yang bisa menjambak rambut cepak hampir botak seperti milik suaminya itu. Selanjutnya ia tak lagi membalas ucapan Gibran, percuma saja, kemampuan berdebatnya hampir hilang semenjak ia hamil. Demi generasi yang berakhlak baik, ia melatih diri menjadi ibu luar biasa yang lebih kalem dan bermulut manis serta sopan. Si anak gembala saja bisa jadi Ibu hebat, kenapa Nadia Gaudia Rasya yang paripurna tidak bisa?!


"Nad,Jawab!"


Nadia yang sempat melamun terhenyak, "Jawab apaan?"


Gibran menghela nafasnya berat "Kenapa akhir-akhir ini Nad berbeda? Ngalah dan patuh itu tidak cocok sama sekali dengan kamu."


"Apaan deh." Nadia mengucap tak terima. Diakan memang dari dulunya patuh dan sabar cuma porsinya saja lebih sedikit hihihi. "Nad dari dulu udah kayak gini kalik Om. Sabar, patuh, lembut, baik hati, kalem, ma--"


"Berhenti menghayal, " Potong Gibran cepat "Jawab aja pertanyaan tadi."


Nadia tertawa dalam hati, puas membuat Gibran dongkol. Setelah dia ingat-ingat, memang benar ucapan Gibran, ia lebih menahan diri dalam bersikap terutama menghadapi kelakuan Gibran yang menyebalkan dan semua itu ia lakukan demi menjadi contoh yang baik buat anak mereka kelak. Mulai dari sekarang ia harus melatih diri lebih bersabar agar kelak saat bayi mereka telah lahir, ia bisa benar-benar menjadi lebih sabar dan bisa mengontrol dirinya lebih baik.


"Karena Nad pengin jadi teladan yang baik untuk anak kita kelak. Kata guru agama Nad, seorang Ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya. Makanya Nad berlatih dari sekarang menyiapkan Madrasah yang bukan saja baik tapi juga keren buat anak-anak nanti." Ucap Nadia dengan pandangan menerawang jauh ke masa depan.


Senyum Gibran mengembang. Kata-kata Nadia menghadirkan perasaan hangat dalam hatinya. Meskipun masih sangat muda, Nadia memiliki visi yang luar biasa untuk kehidupan rumah tangga mereka, memikirkan calon anak-anak mereka yang jarang sekali dilakukan oleh ibu-ibu muda seumuran dirinya.


Cup.


"Masya Allah, itu keren sekali." Pujinya tulus. Dikecupnya lama rambut sang istri dengan penuh sayang. Ia berjanji dalam hati akan mendukung Nadia sepenuhnya, menjadi imam yang terbaik untuk keluarga kecil mereka.


I love you so much, my little persit.


***