
"Ibu Nadia ada affair kan sama Pak Gibran?"
"WHAAAAT???"
Suasana menjadi hening. Baik Nadia maupun Valeria larut dengan dugaan masing-masing. Valeria yang merasa harus menuntaskan masalah tersebut membuka suara.
"Bu Nadia tidak perlu khawatir. Saya akan merahasiakan ini dari Pak Robi tapi putuskan hubungan Ibu dengan Pak Gibran. Ini sama sekali tidak pantas di lakukan orang terpelajar seperti Ibu apalagi Pak Gibran."
Memutuskan hubungan? Gilak aja ni orang. Suami gue itu.
"Tunggu, Dok, sepertinya Dokter salah paham. Saya tidak mengkhianati siapapun dan Om Gi--"
"Cukup. Ibu jangan mengelak. Memang susah menolak pesona laki-laki se-keren Pak Gibran. Saya pun mengakuinya tapi bukan berarti perselingkuhan bisa dibenarkan. Salah tetap salah." Jelas Valeria berapi-api.
Jengah dengan tuduhan yang diterimanya Nadia lantas berdiri. Paling enak memang mengamuk dalam keadaan berdiri. Lelaki sekeren Pak Gibran? Jadi tante ini salah satu pemuja Om Gue? Baguuuus! Mungkin harus Nadia perjelas dan garis bawahi siapa disini yang memiliki Gibran Al Fateh secara legal dimata hukum dan agama. Tanpa Valeria sadari senyum evil terbiat di wajah Nadia. Show time!
"Tapi saya sangat mencintai Om Gi." Ucap Nadia lirih. Suaranya terdengar tak berdaya dan penuh dengan tekanan. Ia sampai menundukkan kepala untuk menghayati perannya sebagai wanita perebut lelaki orang yang tak rela melepaskan lelaki tersebut meskipun sudah ketahuan. Setetes bening mengalir di sudut matanya. Ah, seharusnya gue ikut casting aja, kali-kali bisa ngegantiin peran Dian Sastro di AADC versi thriller. Nadia terkekeh dalam hati.
Valeria menatap Nadia tak percaya. Dalam hati mengutuk Nadia yabg seolah tak memiliki harga diri sebagai seorang wanita bersuami. "Lo punya suami! Bentar lagi punya anak. Sadar?" Ia bahkan melupakan sebutan formal untuk Nadia. Emosinya menekan semua attitude-nya lagipula baginya Nadia tak layak mendapat penghormatan seperti itu.
Nadia mengangguk, dengan gaya natural menyeka sudut matanya yang berair. "Saya tahu tapi perasaan ini kuat bangat, Dok. Saya sangat mencintai Kapten Gibran."
"TIDAK BOLEH!"
Nadia terkejut hampir terjengkat kebelakang. Anjiiiir gue diteriakin dong.
"Lo wanita bersuami. Karir Kapten Gibran bisa hancur kalau skandal ini di ketahui pimpinan. Lo tentu lebih tau kan aturan militer?!" Nafas Valeria ngos-ngosan. Tak habis pikir dengan jalan pikiran wanita hamil di depannya ini.
"Tapi kami saling mencintai. Om Gi pasti akan lebih memilih saya daripada pekerjaannya." Ujar Nadia dengan mimik yang dibuat semenyebalkan mungkin. Part seperti ini memang hobinya.
"GILAK!" Hardik Valeria. Ia mengusap wajahnya kasar "Gue gak akan biarin itu terjadi. Lo tuh gak pantas berbuat seperti ini sama Pak Robi dan Pak Gibran." Tudingnya di wajah Nadia. Wajahnya merah padam menahan diri untuk tidak mencekik Nadia yang berdiri dengan wajah sok tak berdosanya. "Pak Gibran layak mendapatkan yang lebih baik dari wanita macam lo."
Yang lebih baik? Memangnya ada yang lebih baik dari dirinya? Gak ada dong.
"Bagi Om Gi, saya yang terbaik." Jawab Nadia mengangkat wajahnya sembari mengulas senyum angkuh. Ia memainkan kuku-kukunya dengan santai. "Saya bisa memberikan apapun yang dia inginkan, termaksud--" Nadia mengusap perutnya sembari memandang Valeria yang menatapnya tak percaya "anak."
Valeria membelalak. Jadi anak yang di perut Nadia-- Valeria menggeleng tak percaya, wajahnya syok dan tak habis pikir. Jadi sudah sejauh ini hubungan mereka berdua "Lo berdua--"
"Nad, Ayo!"
Ucapan Valeria terpotong oleh kedatangan Gibran. Lelaki itu berdiri dengan wajah datar tanpa ekpresi. Tak ada kekhawatiran di wajahnya karena telah membawa istri orang. Hal itu makin membuat Valeria pusing. Ada apa dengan orang-orang disini?!
"Permisi, Dokter." Nadia berlalu dari hadapan Valeria dengan melenggak anggun. Ia bahkan mengangkat sedikit dress baby dollnya ala-ala putri kerajaan.
Tepat di samping Gibran ia langsung mengangsurkan tangannya minta di gandeng oleh Gibran, "YUK, SAYANG."
"Bisa lebih kencangan lagi?" Tanya Gibran dengan wajah malasnya. Nadia yang disindir halus terkekeh.
"NANTI DI KAMAR AJA KALAU MAU YANG LEBIH KENCENG."
Gibran mengernyit, "Kamu kenapa ngomongnya mesti teriak-teriak gitu?!Kuping saya masih sehat."
Kuping Om sehat, Brain tuh Dokter yang sakit.
Nadia menggeleng seraya menyengir lebar "Biar alam semesta dengar." Ia melirik dengan sudut matanya, Valeria masih terpaku di tempatnya dengan wajah mengeras. Enjoy it, Doctor!
Gibran menoleh pada Valeria lalu mengangguk tipis untuk permisi yang dibalas dengan anggukan yang sama oleh Valeria hanya saja wajah dokter itu tampak sedikit tidak baik. Gibran mengedikkan bahu, lagi pula itu bukan urusannya.
"Kalian akrab?" Tanyanya pada Nadia. Tangannya menggandeng Nadia dengan hati-hati melewati jalan berbatu.
"Ya gitu deh." Jawab Nadia sekenanya. Senyum puas tersungging di wajahnya. Valeria benar-benar mendapatkan serangan jantung. Lagian jadi dokter kok b*go bangat. Nalarnya gak jalan apa gimana sih, apa kemistri sekuat ini tidak terbaca otak anak kedokterannya? Padahal Vibesnya udah The next habibi Ainun bangat lho. Nadia menggelengkan kepala. Genggaman tangannya di lengan Gibran menguat. Ah ya, sudah pasti masuk kampusnya nyogok atau bisa jadi kampus kakeknya makanya bisa lolos. Ckckck, untunglah ia sedang kenyang, kalau lagi laper, beuh habis si Valeria jadi santapan.
***
Hari kedua pasca konfrontasi langsung Valeria terhadap dirinya, Nadia tidak lagi bertemu dokter itu. Nadia menghabiskan hampir seluruh waktunya di rumah, membuat beberapa tugas Persit yang menjadi tanggung jawabnya. Selain itu Gibran tengah mengikuti pertemuan di kota dan harus bolak balik kota dan distrik karena tidak bisa meninggalkannya. Sebisa mungkin Nadia meminimalisir kekhawatiran Gibran demi meringankan beban pikiran suaminya itu. Setidaknya Gibran bisa bekerja dengan perasaan tenang tanpa harus terbebani dengan dirinya yang ditinggalkan seorang diri.
Setelah memastikan pekerjaan rumahnya beres, pagi itu Nadia memutuskan membawa ikan-ikannya keluar rumah untuk menikmati udara segar. Baik manusia maupun ikan pasti akan stres jika terus-terusan berada dalam rumah makanya pagi ini Nadia berbaik hati membawa trio c*pangnya keluar.
Nadia duduk diatas beranda dengan hati-hati agar tidak membahayakan perutnya. Dokter sudah memprediksi kelahiran bayinya beberapa hari ke depan. Semua perlengkapan untuk ke kota pun sudah disiapkan Gibran dalam koper untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu dirinya harus di bawa ke rumah sakit kota.
"Selamat pagi, Bu Nadia."
Nadia seketika menolah. Senyumnya lebar melihat Robi dan Lucas beriringan membawa alat pancing.
"Pagi Om Robi, Om lucas. Mau mancing?" Sesaat ia melupakan keberadaan ikan-ikan kecil miliknya. Bayangan tambahan ikan mulai mengisi kepalanya.
"Iya, Ibu. Ibu mau ikut kah?" Lucas menawarkan mengajak Nadia. Ia tahu istri kaptennya itu sedang bosan di rumah.
Nadia menggeleng, "Gak Om. Gak di bolehin Om Gi. Takut Nad tenggelam." Ujarnya menyesal. Padahal siapa yang bisa tenggelam dalam air yang selutut orang dewasa itu. Suaminya hanya berlebihan.
"Pele ibu, airnya dangkal sekali. Tra bisa tenggelam disitu." Terang Lucas yang sangat Nadia setujui tapi izin Gibran tidak di kantonginya.
"Gak, Om. Makasih." Ucanya dengan senyum kecil terpatri di wajahnya.
"Tidak apa-apa, Ibu. Nanti kami bawa pulang untuk Ibu kalau misalnya dapat."
"Bener Om?"
Robi mengangguk begitupun Lucas yang turut senang melihat Nadia bahagia hanya dengan dijanjikan ikan kecil.
"Ok deh." Nadia menyengir lebar. Tangannya melambai ceria pada Robi dan Lucas yang minta diri untuk melanjutkan perjalanan, yes ikan baru.
Nadia bergegas turun dari dipan-dipan bambu mengangkat tempat ikannya masuk dalam rumah. Ia sampai lupa harus menghubungi Samuel untuk mengurus calon kampus barunya. Setelah membicarakannya dengan Gibran, Nadia memutuskan untuk mendaftar di kampus swasta. Memikirkan harus mengurus bayi dan juga tanggung jawabnya sebagai Ibu Persit yang pasti akan menyita waktu, kampus Swasta pasti lebih fleksibel di banding kampus negeri sekelas Universitas Indonesia. Ia juga sudah memikirkan mengambil jalur ekstensi agar bisa mengatur waktu dengan bebas agar kewajibannya sebagai mahasiswa maupun Ibu rumah tangga bisa berjalan beriringan.
Setelah meletakkan tempat ikannya di tempat semula, Nadia masuk kamar untuk mengambil hp sekaligus mengambil sweater rajutnya yang di gantung di ganggang pintu lemari.
"Ouch." Nadia memegangi perutnya yang berkontraksi. Sudah beberapa kali pagi ini ia merasakan perutnya berkontrasi dengan jeda waktu yang cukup panjang. Pagi tadi Gibran menanyakan keadaanya sebelum berangkat dan karena tidak ingin membuat suaminya khawatir Nadia memutuskan untuk tidak mengatakan pada Gibran mengenai kontraksinya. Lagipula prediksi dari dokter belum harinya. Bisa saja yang ia rasakan sekarang hanya kontraksi palsu.
Akhirnya mengabaikan perasaan tidak nyaman di perutnya, Nadia tetap melanjutkan niatnya untuk ke kantor Distrik mencari wifi.
"Yang tenang ya, Dek. Tunggu ayah balik." Ujarnya sembari mengusap lembut perutnya. Ia memakai sweaternya lalu keluar rumah.
Nadia keluar rumah langsung di sambut lambaian tangan dari Sabrina yang sudah nangkring di depan pagarnya.
"Mau bertamu?" Nadia menghampiri Sabrina dengan langkah hati-hati. Pagi ini ia biarkan rambutnya terurai begitu saja.
"Kantor Distrik." Jawab Nadia menunjukkan hp di tangannya. "Lo?"
Sabrina menggeleng, "Gak kemana-mana. Sepi di rumah. Bang Guntur tugas mulu." curhatnya.
Nadia membuka pintu pagar, "Suami lo kan bukan pengngguran. Ya wajar kalau tugas terus. Kalau mau yang stay di rumah aja, nikah noh sama jobless biar ditemenin terus di rumah. Ntar deh lo bedua makan daon kalo laper."
Sabrina berdecih, "Gak peka Lo. Laknat bangat jadi tetangga."
"Bodo. Emang gue peduli. Cus ah, jangan ngalangin jalan gue." Nadia mendorong pelan bahu Sabrina untuk menyingkir dari hadapannya.
"Ck. Gak ngajak gue lo?"
"Gak usah lebay deh. Kalau mau ikut, ikut aja." Ujar Nadia sambil lalu.
Sabrina menghentakkan kaki kesal menyusul Nadia. "Gue perhatiin lo dari tadi meringis mulu. Kenapa? Ada yang sakit?" tanya Sabrina khawatir.
"Gak apa-apa. Gue cuma emang udah gak bebas lagi geraknya. Berasa berat bangat." Ujar Nadia dengan nafas yang terdengar memburu di telinga Sabrina.
Sabrina lantas menahan lengan Nadia, "Mending ke puskemas aja deh, Nad. Kayaknya lo mau ngelahirin deh. Keringat lo banyak bangat." Di hapusnya peluh Nadia dengan telunjuknya.
Nadia mencengkeram lengan Sabrina "Perut gue, mbak ouh!" langkahnya terhenti saat merasakan kontraksi yang semakin sering.
Sabrina langsung panik, "Duh, Nad. Tahan ya, jangan ngelahirin di jalan dong." Sabrina mengedarkan pandangannya namun tidak menemukan siapapun. "Ayo gue bantu." Dipapahnya Nadia menuju puskesmas. Aneh sekali pagi ini, kenapa tidak ada orang sama sekali?!
" Bu Nadia, Bu Sabrina?"
Sabrina mendongak, "Alhamdulillah. Robiiii tolongin."
Robi bergegas menghampiri Nadia yang sedang di papah oleh Sabrina.
"Tolongin, Nad kayaknya mau ngelahirin."
Robi membuang begitu saja tempat umpan yang ia siapkan. Niatnya tadi kembali untuk mengambil umpan ikan yang ketinggalan di rumah, siapa yang menyangka jika ia bertemu tetangganya dalam keadaan seperti ini.
"Biar saya angkat." Robi tak menunggu persetujuan Nadia langsung melesatkan istri kaptennya itu dalam gendongannya. Nadia reflek mengalungkan tangannya di leher Robi menahan ringisan akibat kontraksi yang menyiksanya.
"Nad, tenang, bentar lagi sampai puskesmas." Sabrina berjalan cepat mengikuti Robi yang melangkah lebar namun hati-hati.
"Bu Sabrina bisa duluan saja? Bilang sama Bidan kalau ada yang mau melahirkan." Robi berucap terengah karena bobot Nadia tidaklah ringan.
"Oke."
Sabrina berlari menuju Puskesmas untuk memberitahu Bidan distrik.
"Bu Bidaaaan hah hah... " Panggilnya saat sampai di depan puskesmas. "Bu Bidan tholong. Bu Nadia mau ngelahirin." Sabrina tak menemukan bidan melainkan Valeria bersama teman-temannya.
"Bidan mana?" Tanyanya panik.
Valeria yang baru selesai memeriksa pasien melongok keluar, "Ada di dalam. Mana Bu Nadia?" Tanyanya balik.
"Dih--bhelakhang sama O-om Robhi." Jelas Sabrina dengan suara terputus-putus karena lelah berlari.
Valeria lalu membuka pintu lebar, "Bal, siapin ranjang."
Ikbal yang juga berada di ruangan itu bergegas menyiapkan ranjang dorong dan meletakkannya di depan pintu.
Tak lama mereka melihat Robi tergopoh dengan Nadia yang tampak lemas dalam gendongannya.
"Ya Tuhan, Bu Nadia?!" Valeria berseru panik melihat Nadia menutup matanya. "Buat dia tetap sadar!" Teriaknya pada seorang suster rekannya.
"Bu Nadia tetap sadar, Bu!"
Nadia yang sudah sangat lemah tak lagi mendengar dengan jelas. Rasa sakit yang di rasakannya membuat sekelilingnya menjadi buram.
"Baringkan di ranjang, Pak!" Perintah Ikbal membantu Robi untuk membaringkan Nadia diatas ranjang dorong. Ranjang tersebut kemudian di dorong masuk ke dalam ruangan.
Bidan distrik sudah keluar dengan perlengkapannya. "Mana suaminya?"
Semua yang ada di ruangan itu kebingungn termaksud Sabrina yang tahu persis Gibran sedang tidak ada di tempat. "Gak ada, sus. Biar saya saja." ujarnya menawarkan diri.
Bidan tersebut mengerjap bingung, "Suaminya?"
Valeria yang baru keluar dari ruangan setelah membersihkan ruangan yang akan di pakai tak pikir panjang langsung menarik tangan Robi menemani Nadia dalam ruang, "Mari, Pak Robi!"
Robi bertahan di tempatnya, "Sa-saya bu--"
"Cepat Pak!" Sentak Valeria saat melihat Robi kebingungan.
"Ta-tapi--"
"Om Giiiii" Nadia berujar lirih. Airmatanya mengalir dari pelupuk matanya dengan deras. "Om Giiii" Panggilnya lirih.
Valeria yang mendengarnya terpaku. Ia menoleh pada Robi yang berdiri dengan wajah panik di depan pintu. Laki-laki itu pasti terpukul, batinnya.
"Pak, ayo masuk!" Paksa Valeria, tak tega melihat Robi yang tampak bingung di depan pintu.
"Om Giii" Nadia terus saja memanggil Gibran dengan suaranya yang hampir tak terdengar.
BRUK!!!
Sebuah benturan terdengar keras di depan puskesmas. Seperti slow motion, Valeria melihat Gibran berlari dengan wajah gusar menggapai pintu puskesmas.
"Nadia!" Panggilnya sesaat berada di depan pintu. Nafasnya ngos-ngosan namun tak ada satu orangpun yang menahannya termaksud Valeria yang terpaku di tempatnya.
"Suami Bu Nadia?" Samar terdengar suara Bidan bertanya pada sosok yang baru saja masuk.
"Iya, Saya Suaminya." Jawab Gibran mantap yang terdengar di telinga Valeria seperti guntur yang menyambar.
Suami?
***