
"Kapten darurat!"
Lucas berlari menyongsong Gibran dan Nadia yang baru keluar dari jalan setapak. Gibran menurunkan Nadia dari gendongannya.
"Ada apa? Nad, pulang ke rumah. Nanti Om menyusul."
"Tapi Om--" Nadia melirik Lucas yang menunggu mereka.
Gibran mengusap bahu Nadia yang mulai bergetar, "Pulang ya. Tidak apa-apa." ujarnya menenangkan Nadia yang berdiri dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"O-om- Nad--"
Cup.
Gibran menyarangkan kecupan di kening Nadia "Tunggu di rumah." Ujarnya singkat Lalu tanpa kata lagi berlalu meninggalkan Nadia untuk bergabung dengan Lucas dan beberapa tentara lainnya yang siap siaga entah untuk hal apa.
Nadia mengapus airmatanya. Sesak, rasa takut, khawatir bercampur jadi satu.
Allah yang maha pelindung, jaga Om Gi.Jaga mereka. Nadia terpaku melihat punggung Gibran yang sedang membicarakan sesuatu dengan rekan-rekannya. Dengan langkah gontai ia meninggalkan tempat itu. Ia kuat, ia bisa.
Seorang istri tentara tak akan meraung, menangis, mengiba meminta orang terkasihnya untuk pulang bersamanya. Seorang istri tentara akan menemani setiap langkah suaminya dengan doa-doa pada yang Maha penjaga. Kalimat panjang Gibran disuatu malam terlintas seperti kaset rusak di kepalanya. Dirinya bukanlah pewaris Gaudia group dan Gibran pengasuhnya. Dirinya bukanlah seorang anak asuh dan Gibran bukanlah seorang bapak asuh. Dirinya adalah seorang persit, yang mengucap janji setia untuk selalu mendukung suaminya, seorang Prajurit dalam keadaan apapun.
"Ya Allah, Nad minta ampun karena jarang mengingatMu dalam kelapangan. Kali ini Nad datang lagi, Jaga Om Gi nya Nad. Jaga dia ya Allah, bawa Om Gi Nad pulang dengan utuh. Sungguh Engkau sebaik-baik penjaga." Nadia terpekur di sujud panjangnya. Setelah dua rakaat sholat sunah, ia tak bangun dari sujudnya. Mengiba pada sang pemilik hidup untuk keselamatan orang yang ia kasihi.
Ceklek!
"Nad--"
"Om Gi?" Nadia bangu dari sujudnya. Matanya berlinang airmata, berlari memeluk Gibran erat. Suaminya itu tampak tenang dengan peluh di keningnya.
"Om pergi ya. Tunggu di rumah." Gibran memeluk Nadia, mengusap pipi istrinya yang basah.
Nadia terdiam. Bilang 'jangan pergi' pun tidak mungkin ia lakukan. Gibran melepas pelukannya lalu bergegas ke kamar untuk mengambil seragamnya.
Lelaki itu tampak sigap mengambil semua perlengkapannya untuk kelapangan. Baru saja terjadi aksi teror di kawasan proyek pembuatan jalan. Seorang pekerja jalan tewas dan beberapa belum di pastikan keadaanya. Mereka di tembak oleh pemberontak yang berniat mengambil logistik para pekerja. Para tentara penjaga perbatasan di turunkan untuk mengamankan lokasi termasuk dirinya yang berperan penting sebagai Komandan lapangan.
"I-ini."
Gibran tertegun. Di depannya Nadia tampak tegar menyerahkan sebuah sangkur. Sebuah senyum terbiat di wajahnya yang Gibran tebak pasti menyembunyikan ketakutan disana.
"Terima kasih sayang." Gibran mengambil sangkur tersebut bersamaan menarik tangan Nadia memeluknya erat. "Om akan pulang. Tunggu Om." ucapnya sembari mengecup beberapa kali kepala Nadia yang terbalut mukenah.
Nadia mengangguk, airmatanya kembali berlinang "Hati-hati." ucapnya serak. Sebelumnya ia tidak pernah mengalami hal seperti ini, mengntarkan sang suami ke medan perang. Dulu ia hanya tahu Om Gibrannya pergi untuk bertugas tanpa mau tahu apa yang dikerjakan laki-laki itu di tempat tugas, atau apa saja yang mungkin akan menimpa laki-laki itu saat sedang menjalankan tugas. Yang ia tahu Gibran akan pulang ke rumah membawa perintah dan aturan yang mengekang kehidupannya. Tapi sekarang, semua tak lagi sama. Ia melihat sendiri bagaimana pekerjaan seorang tentara di lapangan, merasakan langsung bagaimana kehilangan dan ketakutan akan apa yang akan terjadi pada Gibran, Omnya, suaminya, Ayah dari calon bayinya.
"Salim." Nadia berujar dengan suara lirih. Gibran mengulurkan tangannya yang kemudian di kecup sedikit lama oleh sang istri. "Assalamualaikum, Om. Selamat bertugas." ujarnya dengan mata dibanjiri airmata. Ia sudah berusaha tegar tapi tetap saja sulit untuk bersikap seolah baik-baik saja dengan semua kejadian ini.
"Waalaikumsalam. Jaga diri kalian." Gibran membawa tangan Nadia ke depan bibirnya. Mengecup tangan lembut itu dengan penuh perasaan lalu turun untuk mengecup perut sang istri. Ia tahu Nadianya tengah khawatir tapi yang seperti ini akan selalu terjadi dan sebagai seorang persit, Nadia harus membiasakan diri dengan segala kemungkinan yang terjadi di medan perang.
Nadia menatap punggung Gibran yang berlari kecil dengan tas besar dan senjata laras panjang di tangan kanannya.
Tuhan, Nad titip Om Gi. Jaga dia dengan sebaik-baik penjagaanMu.
***
Nadia belum bangun dari sajadahnya. Entah sudah berapa rakaat sholat yang ia dirikan sepanjang kepergian Gibran hingga tengah malam ini. Ia berhenti hanya untuk makan karena butuh tenaga untuk menunggu selain itu bayinya tidak boleh ia abaikan. Nadia tak mengucapkan banyak hal sebab jeritan hatinya mengatakan segala ketakutannya. Sajad menjadi satu-satunya tempat untuk menumpahkan segala kecemasannya dan doa-doanya untuk Gibran yang sedang berjuang diluar sana.Ternyata merdeka saja tak lantas segalanya menjadi aman sentosa. Merdeka tak lantas membebaskan para prajurit untuk menikmati kehidupan yang nyaman bersama keluarga mereka karena di luar sana masih banyak yang menuntut untuk merdeka. Nadia mengusap pipinya yang basah. Matanya bengkak sedari sore tak berhenti menangis.
Tok tok tok...
"Selamat malam Ibu... "
Nadia duduk, memasang pendengarannya dengan baik.
"Selamat malan Ibu Gibran." Suara ketukan terdengar terburu.
Nadia beranjak mengintip di balik jendela. Sudah hampir tengah malam, ada apa Ibu katty bertamu semalam ini? Nadia mengambil kunci yang ia simpan diatas meja lalu membuka pintu.
"Selamat malam Ibu Katty." Sapanya, menghapus pelan airmata di pipinya. Bu Katty tampak menatapnya khawatir.
"Ibu tra papa kah? Sepertinya mau hujan, Ibu. Ke rumah sudah. Bapak sedang jaga di pos."
Nadia mendongakkan kepala keluar. Dan benar saja, langit gelap tak berbintang dan angin bertiup membawa tetes-tetes gerimis membasahi dedaunan.
"Tidak apa-apa, bu. Saya disini saja. Mau tunggu Om Gi." Ujar Nadia lirih.
"Aduh sayang eeee... bapak Kapten belum tentu pulang malam ini. Ke rumah sudah. Nanti hujan lebat sendiri."
Nadia menggeleng. Ia tidak akan meningglkan rumah. Ia sudah janji pada Gibran untuk menunggunya di rumah "Insya Allah saya tidak apa-apa sendiri, Bu. Terima kasih tawarannya."
"Benar? Ibu yakin kah tii?"
Nadia mengangguk yakin, "Yakin, Bu. Terima kasih sekali lagi." ucapnya merapatkan mukenah di badannya saat angin bertiup cukup kencang.
Bu Katty menghela nafas pendek, "Ya sudah. Ibu hati-hati ya. Sa mo pulang dulu."
"Iya, Bu."
Bu Katarina sekali lagi menoleh pada Nadia dan helaan nafas berat lolos dari mulutnya, "Sayang eeee...." Gumamnya lirih lalu meninggalkan Nadia yang terpaku di tempatnya.
Om, cepet pulang.
Nadia menutup kembali pintu rumah dan tak lupa menguncinya. Ia benar-benar membenci keadaan ini. Menunggu dengan perasaan takut, khawatir, was-was dan segala perasaan tak menyenangkan lainnya.
Nadia terbangun saat mendengar kokok ayam milik Lucas dan Robi. Ia mengucek matanya, merenggangkan badannya yang terasa kaku karena tertidur diatas lantai. Ia mungkin tertidur dalam sujudnya semalam. Cepat-cepat Nadia mengecek keluar melalui jendela rapuh yang kata Gibran akan di gantinya namun laki-laki itu belum pulang untuk menunaikan janjinya.
Setelah lagi-lagi hanya mendapati kekosongan, Nadia kembali ke dalam untuk mengambil wudhu. Ia harus sholat dan kembali mengadukan kegundahannya pada sang pemilik hidup. Tidak ada yang bisa melindungi Om Gibrannya di luar sana selain pemiliknya sendiri.
Nadia memutuskan untuk ke pos mencari informasi mengenai apa yang terjadi di lapangan terutama mengeni suaminya. Ia mengenakan jaket besar milik Gibran mengingat cuaca yang masih gerimis. Nadia mengunci pintu terlebih dulu sebelum jalan. Langkahnya pelan melewati jalanan becek dan basah. Ia tidak akan mengambil resiko mengalami hal buruk tanpa adanya Gibran di sampingnya. Pagi masih sangat sepi. Belum ada aktivitas luar rumah yang dilakukan oleh penghuni asrama. Semua seolah terbawa keadaannya yang mencekam di luar sana. Masing-masing istri dan anak menunggu kabar orang yang di kasihaninya. Nadia merapatkan jaketnya saat angin bertiup menyapu kulitnya. Langkahnya melambat saat melihat sosok Sabrina yang bolak balik seperti setrikaan antara rumah dan pagar. Penampilannya tak jauh lebih buruk dari dirinya. Matanya sembab, hidungnya merah persis badut. Kalau keadaanya tidak sedang memprihatinkan Nadia dengan senang hati mengatakan itu pada salah satu mantan fans garis keras suaminya.
"B-bu Gibran mau kemana?" Suaranya terbata menghampiri Nadia.
Nadia menunjuk kearah pos. Sabrina mengangguk seperti orang bodoh. Penampilannya benar-benar kacau. Wanita itu membesut hidungnya dengan punggung tangan. Matanya tampak basah begitupun pipinya.
"Ibu tidak apa-apa?" Tanya Nadia. Tidak tahu kenapa ia merasa kasihan dengan Sabrina yang seperti itu. Sabrina menggelengkan kepala cepat namun tak ayal butir-butir airmata menetes di pipinya dengan deras.
"Sa-saya--hiks." Sabrina terduduk dengan kedua tangan menangkup wajahnya. Ia sesunggukan, membuat Nadia gelagapan. Ia tidak mau dituduh kedua kalinya menyakiti orang. Akal sehatnya memerintahkan ia untuk pergi dari tempat itu namun hati kecilnya berkata lain.
"Are you okey?" Fix, dirinya kena pelet. Nadia mengenyahkan kejanggalan sikapnya yang manis sekali pada salah satu orang yang membuat ia bertengkar hebat dengan suaminya. Tangannya dengan ragu-ragu mengusap punggung Sabrina yang sesunggukan.
Grap!
Nadia hampir saja terjengkang kebelakang saat Sabrina memeluknya. "A-abaaang..." tangis wanita itu pecah dalam lekukan leher Nadia.
Nadia meneguk salivanya susah payah, ini kenapa mereka jadi mesra sekali? Nadia memegang lengan Sabrina berusaha melepaskan tangan perempuan itu dari lehernya tapi gagal. Akhirnya setelah beberapa kali percobaan dan tetap saja gagal, Nadia pasrah. Di elusnya punggung sabrina ragu-ragu. Demi semua warga bikini bottom ia tidak pernah membayangkan akan semesra ini dengan seorang yang di labelinya ular keket.
"Saya menyesal udah nyakitin hati abang selama ini. Sa-saya jahat bangat sama abang padahal dia suami yang terbaik. Dia mau bertahan dengan wanita seperti saya yang tak sempurna ini. Di-dia hiks, abaaaaaang...." Sabrina terus menangis, mengungkapkan apa yang sebenarnya tidak penting menurut Nadia. Setelah seperti ini baru menyesal. Kemana saja selama ini? Suami sebaik Guntur di abaikan dan memilih menjadi bucin suami orang lain.
Sabrina mengangkat wajahnya, menatap Nadia yang balas menatapnya dengan kening bertaut.
"Saya tidak menyukai suami kamu."
Heh?
Nadia melongo, lagian siapa yang selama ini mengaku-mengaku akan merebut Om Gi-nya bukankah dia sendiri?
"Saya mencintai suami saya huaaaaa abaaaaang"
"Aduh--" Nadia terduduk setelah Sabrina lagi-lagi menyeruduknya tiba-tiba.
"Saya mencintai suami saya. Abaaaang maafkan Bina, Bina belum sempat bilang semua perasaan bina sama abang. Abaaaang hiks."
Nadia terpaku. Belum sempat bilang perasaan? Nadia menggeleng pelan. Beruntunglah ia tak sungkan mengatakan perasaannya pada Gibran hingga tidak perlu merasakan sesal seperti ini tapi apa yang terjadi sebenarnya? Belum ada kabar sama sekali mengenai keadaan mereka disana.
"Abaaaaaang maafin Bina hiks." Sabrina sesunggukan dalam ceruk leher Nadia. Hal itu membuat Nadia merasa iba, Sabrina yang biasanya begitu percaya diri mengusik ketenangannya kini tampak rapuh. Ia tidak tahu apa yang terjadi setelah kedatangan mereka di rumah yang pasti ia bisa melihat begitu banyak cinta dimata tentara berwajah ramah itu untuk istrinya.
Flashback On.
"Jadi--" Gibran menggantung kalimatnya. Ia perlu mengerjai dua orang pasangan ini agar lebih tahu rasanya tidak melakukan kesalahan tapi disalahkan. Sakit.
"Kami minta maaf, Pak. Kesalahan kami sangat fatal. Istri saya sebenarnya datang kesini untuk meminta maaf langsung pada Ibu dan juga bapak mengenai ketidaksopanannya selama ini yang membuat Ibu dan Bapak tidak nyaman."
Nadia melirik Sabrina dengan wajah datar. Perempuan di depannya itu tampak salah tingkah, kesulitan mengatur kalimatnya.
"Ayo sayang." Guntur menyentuh punggung tangan istrinya yang bertaut diatas pangkuannya. Sabrina memandang suaminya ragu-ragu, ia merasa sungkan harus mengakui semuanya di depan orangnya lain. Maaf memang sesulit itu di ucapkan di hadapan orang yang benar-benar telah disakiti dengan sadar. Anggukan samar Guntur membuat Sabrina akhirnya mau mengangkat wajahnya menatap Nadia.
"Saya minta maaf Bu, Pak. Saya sudah membuat bapak dan Ibu tidak nyaman. Terutama Bu Nadia. Saya sadar bu, sudah menyebabkan masalah untuk Ibu dan bapak. Semua itu karena perasaan iri saya melihat Ibu yang begitu disayangi oleh bapak yang selama ini saya merasa suami saya tidak pernah melakukannya padaku. Tapi saya salah bu, saya terlalu melihat jauh keluar padahal sesunggunnya Bang Guntur sudah memberikan segalanya untuk saya. Saya benar-benar minta maaf. Saya malu sama Ibu dan Bapak, juga sama suami saya. Saya sangat menyesal."
"Mak--"
"Kami maafkan, Bu, Pak."
Nadia melirik Gibran tak senang. Hei! Ia belum memaki-maki wanita di depannya ini. Seenaknya mengusik kehidupan orang lain lalu dengan entengnya meminta maaf. Bagaimana dengan kehidupan beratnya selama ini yang harus ia lalui karena masalah yang disebabkan oleh keirian.
"Om Nad--"
"Saling memaafkan Nad. Allah saja mau memaahkan hambaNya masa Nad sebagai hamba tidak bisa memaafkan."
Nadia memutar bola mata sebal. Gue kan bukan Tuhan bambaaaank. Nadia berujar gemas dalam hati.
"Maafkan kami, Bu. Semua salah saya karena tidak bisa mengingatkan istri saya dengan benar. Saya juga minta maaf sama bapak mengenai kejadian di kantor waktu itu. Terima kasih karena kapten tidak melaporkan kejadian itu pada atasan. Saya malu sudah bertindak keterlaluan." Guntur melanjutkan.
Kejadian apa lagi nih di kantor? Nadia melirik Gibran meminta penjelasan namun laki-laki itu malah mengabaikannya.
"Lupakan saja, Pak. Saya hanya berharap kejadian ini tidak terulang lagi."
"Terima kasih Pak, Bu." Guntur dan Sabrina berujar lega sedangkan Nadia, ia belum benar-benar bisa memaafkan, terutama Sabrina si ular keket.
Flashback Off.
"Huaaaaa Abaaaaaang hiks."
Nadia tersentak dari lamunan panjangnya. Sekarang ia bisa mengerti perasaan Sabrina. Wajar saja ia merasa down seperti ini setelah mengabaikan kebaikan-kebaikan dan cinta suaminya selama ini. Seorang suami yang memaklumi kesalahan istrinya yang menghianati perasaannya adalah hal langka di dunia ini, ya kecuali di sinetron azab yang di nonton bibik setiap hari. Sekarang mereka hanya bisa berdoa semoga baik Sabrina masih diberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung pada sang suami begitupun dirinya semoga Om Gibrannya kembali sehingga ia bisa mengatakan cintanya setiap hari pada laki-laki itu.
Tuhan, tolong jaga mereka yang sedang berjuang di medan tugas. Ada Istri yang menunggu untuk memeluk kesatrianya, ada anak yang menunggu ayahnya pulang dan ada orangtua yang tak habis mengucurkan peluh dan airmata untuk putra kebangaan mereka.
***
Teruntuk seorang pejuang bangsa yang belum lama ini harus gugur di medan juang. Semoga Amalan bapak di terima dan keluarga di beri kesabaran. Dan semoga tanah papua damai selamanya.