Little Persit

Little Persit
Saran-saran



"Lo b*go jangan sukarela gini juga dong, Nad. Tumbalin Om Gi buat orang cacat mental kayak tante Elsa, Waras lo?" Sandra menggeprak meja saking kesalnya. Didepannya Nadia duduk seperti pesakitan yang sedang disidang di meja hijau.


"Gue cuman--" Hah, entahlah. Nadia juga pusing darimana pikiran itu datang yang pasti dia merasa ikut andil dalam hal ini. Ia menarik nafas kasar dan menghembuskannya, "Gue jahat bangat pasti."


"EMANG! lo jahat bangat sama Om Gi." Ujar Sandra kesal. Gadis perparas cantik itu menghempaskan punggungnya disandaran kursi pantai. Belum puas, ia kembali menegakkan punggungnya, "Kita berempat dari sononya juga udah jahat. Nikmatin aja. Lagian lo jahat gimana sih, Om Gi itu suami lo, rumah tangga lo, tega lo?" Sandra berapi-api mengutarakan kekesalannya atas curhatan Nadia tentang pengorbanan. PENGORBANAN BULLSH*T! Disampingnya Gendis mengusap lengannya mencoba meredam amarah kembaran milea itu.


"Sabar, San." Aleksis memberikan minumannya pada Sandra, "Minum dulu biar gak serek. Kasian noh Nadia lo omelin." Nadia memelas mendengar pembelaan Aleksis. Dirinya berada di posisi serba salah sekarang. Bagaimanapun Elsa pernah baik padanya. Dokter Elsa dan keluarganyalah yang mendampinginya saat-saat terberat dalam hidupnya ketika kehilangan janin disaat bersamaan Gibran hilang diperairan. Mungkin ia bisa melakukan sesuatu untuk membalas semua kebaikan itu. Kedua orangtuanya selalu mengajarinya untuk tidak lupa akan kebaikan orang-orang kepadanya.


"Nad, emang lo rela ngeliat suami lo perhatian ke cewek lain? Ini tante Elsa lho Nad yang kata lo tanpa berusahapun udah anggun maksimal." Gendis yang tadi banyak diam menangkup tangan Nadia. Sangat paham apa yang dipikirkan sahabatnya itu tapi kalau harus dengan mengorbankan perasaan sendiri, itu namanya menyiksa diri. Lagipula membayangkan suaminya, Dewa misalnya perhatian sama wanita lain, pasti sangat mengerikan. Ia tidak akan segan-segan meracik racun tikus untuk melumpuhkan wanita itu.


Gimana Nad, rela?


"Om Gi punya gue." Ujar Nadia lirih. Melihat wanita lain diluar sana menatap penuh puja pada suaminya saja rasanya ia ingin mencolok mata-mata itu apalagi kalau sampai Gibran sendiri yang perhatian. Nadia sudah merasakan bagaimana ketika Gibran memperlakukan seseorang dengan lembut, sangat tidak rela jika harus melihat laki-laki itu membagi perhatiannya dengan wanita lain.


"Nah, kan. Om Gi punya lo jadi gak usah deh sok dermawan gitu. Lo bukan panti sosial yang ngurusin orang-orang kayak tante elsa. Ngeselin bangat." Sandra mencebik sebal. Ayolah, Om Gi idolanya masa ngurusin wanita gila sih. Gilanya karena terobsesi cinta lagi. Gak ada harga diri.


Nadia menunduk, ia menatap Aleksis meminta saran dari sahabat mereka yang biasanya waras dalam memberi solusi.


Aleksis menghela nafas pelan, "Gini deh, Nad. Lo tanya diri lo dulu, rela nggak bagi-bagi perhatian Om Gi? Ikhlas gak kalau Om gi nemenin wanita lain? Siap lo kalau tiba-tiba tu tante minta dinikahin? Nah kalo--"


"Yang kayak Om Gi kan cuma bisa monogami, Leks." Potong Gendis yang diangguki cepat-cepat oleh Nadia. Info yang cukup melegakan.


"Itukan kata negara. Tapi kalau nikahnya siri gimana? Tau sendiri tante Elsa terobsesi gila sama Om Gi. Maulah pasti dinikahin meskipun cuma sah dimata agama. Kan tetap aja istri namanya." Aleksis menatap Nadia dan Gendis bergantian. Kedua istri muda itu saling melirik, perkataan Aleksis memang benar. Para seragam loreng itu memang hanya bisa monogami tapi lain cerita kalau nikahnya diam-diam. Dan Nadia tau pasti bahwa Elsa akan sukarela dinikahi Gibran meskipun tanpa surat-surat. Nadia menggeleng takut.


"Lo kok jelek bangat ngomongnya." Protes Nadia sebal bercampur ngeri. Ia mau berbagi apapun tapi tidak untuk berbagi suami. Cukup Pia yang jadi saingannya, jangan wanita lain diluar sana.


"Emang gitu kan? Jadi, mending lo mikir dulu deh."


"Ngapain pake mikir sih. Udah bener tuh kata Om Gi, gak usah mikirin yang lain. Pikirin tuh Om Gi dan Pia." Sambung Sandra sewot.


Nadia menatap ketiga sahabatnya. Ia ingin egois, tentu saja. Tapi, apa harus ia menjadi orang yang tidak tau balas budi?


"Gue capek. Gue pengen ngilang aja." Desahnya lelah.


Nadia lupa bahwa lari atau menghilang tak akan pernah menyelesaikan masalah.


***


"Besok kita balik."


"Cepat bangat. Belum juga seminggu." Nadia duduk disamping Gibran yang tengah menonton siaran berita di televisi.


"Saya ada kerja. Mendadak. Tapi kalau kamu mau, Nad bisa disini dulu."


"Gak asik kalau gak ada Om." Wanita muda itu menyandarkan kepalanya didada Gibran. Menikmati moment berdua seperti ini memang sangat menyenangkan. Vila tampak sepi, sahabat-sahabat Nadia dan Gibran memutuskan untuk snorkling tak jauh dari Vila. Sementara Navia sedang tidur siang. Bayi gembul itu memang hobi tidur makanya berat badannya sedikit menghkawatirkan. Mungkin nanti Nadia harus memikirkan diet sehat untuk putrinya itu


"Ya sudah. Ikut pulang." Ujar Gibran enteng. Lelaki itu membiarkan jemarinya dimainkan oleh Nadia, sesekali iseng menggigitnya.


Nadia manyun. Ya sudah deh. Mau bagaimana lagi.


"Om, kampus ngadain bakti sosial. Kelas Nad dapat bagian untuk ikut." Nadia teringat program kampus yang diadakan akhir semester dimana para mahasiswa semester awal diikutsertakan dalam kegiatan tersebut. Selain untuk mengenalkan program kampus juga membantu para mahasiswa untuk saling mengenal walaupun sebenarnya Nadia tidak begitu peduli dengan tujuan terakhir tersebut.


"Dimana?"


"Belum tau pastinya tapi paling di daerah perkampungan gitu."


"Kamu mau ikut?" Tanya Gibran tetap fokus menatap layar televisi.


"Kalau boleh sih, gak usah aja. Males." Ujar Nadia menyengir lebar. Pasalnya kegiatan ini wajib hukumnya untuk para mahasiswa baru seperti dirinya jadi kalau Gibran tidak memberi izin kan bisa ada alasan ke panitia.


"Malas? Tidak ada alasan yang lebih bisa saya terima?"


"Supaya Om gak kangen? Mungkin?" Nadia tersenyum lebar setelah mengecup ringan rahang Gibran. Laki-laki itu meliriknya tajam. Nadia suka sekali memprovokasi tibanya eksekusi, dia selalu yang disalahkan.


Gibran meraup wajah Nadia dengan satu tangan saat gadis nakal itu kembali mendekat, "Kamu ikut sekalian latihan kepekaan."


"Peka itu nama tengah aku kali Om." Ujar Nadia sombong. "Om belum ngomong aja, Nad udah tau kalau Om lagi pengen." goda Nadia menaikturunkan alisnya.


"Pengen apa?"


"Pengen dimanja."


"Bukannya kamu?"


"Ih enggak ya Om. Jangan fitnah. Mana pernah Nad kayak gitu. Gak pernah." Nadia nyolot.


Oh, tidak pernah ya? Gibran tersenyum tipis.


"Trus ini lagi apa namanya?"


Nadia melihat posisinya sekarang, bersandar sepenuhnya pada Gibran dan satu tangannya mengarahkan suaminya untuk mengelus-elus punggungnya.


"Ini namanya kebutuhan Om. Jadi gak masuk hitungan." Ujar Nadia membela diri. Mana ada matinya alasan gadis nakal ini. Gibran menggeleng pelan lalu sedetik kemudian mengecup pipi Nadia tanpa peringatan.


"Ih, genit ya." Nadia sok-sok menolak padahal senyumnya super lebar.


"Tidak masalah, istri sendiri." Ucap Gibran super datar. Bagi orang luar yang mendengarnya, terdengar seperti kalimat biasa tapi ditelinga Nadia kalimat itu mampu menerbangkannya hingga menembus genteng.


"Sudah mandi kan?" Tanya Gibran selanjutnya.


"Sudah. Makasih air hangatnya."


"Sama-sama."


"Om."


"Hm?"


Nadia melepaskan diri dari pelukan Gibran dan duduk bersila disamping laki-laki itu.


"Apapun yang terjadi, Om cuma punya Nad." Ucapnya mantap.


Gibran mengangguk, mengancungkan jempolnya.


"Biarpun Nad jadi orang jahat, Nad gak mau Om sama orang lain."


Gibran mengangguk lagi, "Tentu."


"Bahkan sampe Nadia mohon-mohon pun supaya Om pergi, jangan diturutin. Oke?" Pintanya penuh tekad.


Gibran menegakkan punggung dengan tampang tak suka, "Kamu mau tinggalkan saya?"


Nadia menggeleng, "Gak. Ini kan kalau aja, Om." Sanggah Nadia cepat-cepat. Muka Gibran sangat tidak santai sekali.


Gibran mendesah lega, "Kalaunya kamu ini tidak enak didengar." ujarnya sarat akan peringatan. "Bahkan berpikir untuk pergipun tidak boleh." lanjutnya tegas.


Nadia mengngguk. Oke pemirsah, ini mulai panas. Jadi daripada wejangan-wejangan ini melebar kemana-mana, Nadia langsung menangkup pipi Gibran. Laki-laki itu terdiam. Masih menatap tak suka pada sang istri yang berani-beraninya berpikir untuk memintanya dilepaskan.


"Nadia Gaudia Rasya akan selalu bersama Kapten Gibran Al Fateh." Ujar Nadia menatap tepat dimata Gibran, "Janji." Lanjutnya serius. Tidak ada lagi alasan untuk berpikir tentang balas budi atau semacamnya. Biarkan Tuhan yang membalas kebaikan Dokter Elsa sekeluarga. Manusia lemah seperti dirinya mana bisa menghitung kesetaraan kebaikan orang.


Gibran menepis tangan Nadia lalu mencebik, "Sejak kemarin omongan kamu sudah melantur kemana-mana. Saya tidak suka Nadia."


"Maaf."


"Jangan aneh-aneh." Gibran memperingatkan lalu kemudian meraih Nadia dalam pelukannya, "Kamu tidak tau apa yang saya bisa lakukan jika kehilangan kamu dan Pia." lanjutnya lirih. Nadia menggangguk, ia tidak berniat membuat Gibran sedih. Tidak sama sekali.


Satu hal lagi yang Nadia lupa, bahwa bukan hanya seorang wanita yang bisa mencintai satu laki-laki sampai akhir hidupnya. Laki-laki pun bisa merasakan cinta sedalam itu. Gibran salah satunya.


***


"Liat noh!" Sandra menyikut lengan Nadia yang berdiri disampingnya, "Mau lo bagi senyum itu sama wanita lain?"


Nadia menggeleng. Tak jauh dari mereka tampak Gibran sedang mengajak Navia bercanda. Nadia menggeleng kencang, "Nggak mau. Om Gi punya gue dan pia doang." Ujarnya ngeri membayangkan Om Gibrannya bersama wanita lain.


Sandra mencibir, "Makanya, jangan sok baik lo. Gak bakat."


Nadia menghembuskan nafas kasar, "Iya, kayaknya gue emang cocoknya jadi antagonis aja."


"EMANG. gak apa-apa jadi antagonis di drama kehidupan orang lain selama lo protagonis di drama hidup lo sendiri." Sandra mengingatkan.


"Thanks. Walaupun saran lo agak sesat tapi cocoklah buat hidup gue yang emang dramanya klise gini." Nadia memasukkan barang-barangnya lagi dalam koper. Tumben sekali kali ini Sandra mau repot menemaninya sementara yang lain memanfaatkan waktu yang tersisa untuk menikmati semua fasilitas yang ada di Vila tersebut.


"Nad"


"Yap?"


"Gimana sih rasanya nikah?"


Nadia yang tadinya sibuk mengepak barang-barang mendongak. Menatap Sandra curiga, "Lo mau nikah?"


Sandra mencebik sebal, "Gue cuma nanya. Gak boleh?"


"Boleh sih tapi gak biasanya aja seorang Sandra ngomongin nikah." Ujar Nadia kembali melanjutkan kesibukannya.


"Jadi gimana? Banyak happynya atau sad nya?" Tanya Sandra lagi sedikit memelankan suaranya. Ia tak mau Gibran mendengarnya dan memulai khotbah nikahnya. Ia belum siap sama sekali.


"Namanya hidup ya pasti ada happy-nya ada juga sad-nya. Normallah itu. Cuman kalau dipikiran gak happynya terus, yang ada malah jadi kufur nikmat." Jelas Nadia sembari menutup kopernya yang sudah selesai ia kepak isinya.


"Gue nggak paham. Lo ngomongnya aneh." Sandra melirik kearah Gibran yang tampak asik membuat bayi kecilnya tertawa. "Emang benar ya kalau udah nikah hidup kita bakal dijajah?"


Nadia lagi-lagi menghentikan gerakan tangannya. Menatap Sandra dengan kening terangkat satu, "Menurut lo, gue seperti orang terjajah?"


Sandra menggeleng, "Ng-nggak sih." Ia menggaruk pelipisnya, "Lebih ke menjajah."


"Si*lan lo." Nadia melempar barang ditangannya kearah Sandra sedang sahabatnya itu terbahak.


Dari kacamata para wanita disini, Gibran seperti golongan suami takut istri padahal aslinya memang om-om satu itu sudah mendarah daging hobinya memanjakan dan mengurus Nadia. Pernikahan tak banyak mengubah kebiasaan mereka. Gibran tetaplah Om yang nyebelin kalau sedang kumat sikap otoriternya dan Nadia tetap gadis keras kepala yang keseringan kumat kebiasaan zaman masih belum menikah. Perbedaan yang paling terasa sekarang hanyalah Gibran tak lagi hanya sekedar menatap Nadia sebagai anak asuhnya tapi sebagai wanita halal untuk ia sentuh, begitupun Nadia yang memiliki akses penuh pada laki-laki itu. Dan satu lagi yang berubah, Nadia perlahan tapi pasti mulai paham mana hak dan kewajibannya sebagai seorang istri dan itu sangat keren.


"Tapi San--"


"Hm?"


Suasana riuh tadi kembali tenang dan sedikit serius, "Menikahlah karena lo yakin laki-laki yang nikahin lo itu bakal bawa lo kearah yang lebih baik. Jangan pernah menikah karena tuntutan. Nikah gak bakalan selamanya seenteng gue karena gue dan Om Gi beda kasus, kami sudah saling mengenal dengan baik. Lo harus yakin kalau lo sanggup untuk hidup dengan orang yang sama seumur hidup. Orang yang pas tidur udah muka dia yang lo liat, pas bangun pun begitu. Pas makan, dia lagi, dia lagi bahkan saat keluar dari WC pun lo liatnya orang yang sama. Kalau udah yakin siap, boleh deh lo pertimbangin buat nikah." Jelas Nadia panjang lebar.


"Semengerikan itu?"


Nadia menyipit. Respon macam apa itu. Ckckck, Nadia memukul Sandra gemas dengan baju yang di pegangnya, "Jadi lo maunya gimana? Mau ganti suami tiga kali sehari kayak minum obat? Gitu?"


Sandra yang kembali tergelak hanya melindungi kepalanya dari sabetan Nadia, "Ya kalau bisa, kenapa nggak?"


"SET*N!!"


***