
Valeria berlari kecil mengejar langkah lebar Gibran yang baru saja mengantar Komandan yang tak lain adalah pamannya ke gerbang kantor. Sejak di ruangan sampai sekarang Gibran sama sekali tak menyapanya. Lelaki itu hanya sibuk menjawab atau sekedar menanggapi ucapan pamannya. Bahkan dilirik pun tidak sama sekali.
"Kapten Gibran!" Valeria berhasil menyusul Gibran dan menyamai langkah lelaki berperawakan tinggi kekar itu meskipun harus tertatih. Untung sekali ia memakai sepatu boots flat sehingga tidak perlu khawatir tersandung atau terjatuh.
"Ada apa?" Gibran menghentikan langkahnya membuat Valeria bisa menghela nafas lega.
"Saya dan teman-teman mau mengucapkan terima kasih karena sudah diterima dengan baik disini." Ujar Valeria sambil tersenyum.
"Anda bisa menyampaikan langsung pada warga. Kami hanya menjalankan tugas." Jawab Gibran singkat dan padat.
"Ah iya. Pasti, Kapten Gibran. Tapi secara pribadi saya mewakili tim mengucapkan terima kasih karena sudah di jemput dan disediakan tempat tinggal."
"Itu dari distrik langsung. Kami hanya memfasilitasi." Gibran melirik jam di pergelangannya. Sudah lewat tengah hari. Harusnya Nadia sudah pulang sekarang.
Valeria rasanya ingin menggigit lidahnya sekarang saking gemasnya. Laki-laki di depannya ini sangat jauh dari kata 'ramah' tapi jangan panggil Valeria jika ia tidak bisa menaklukan kapten es seperti Gibran. Bahkan batu kali pun bisa retak jika terus ditetesi air.
"Tetap saja kami sangat berterima kasih." Ujar Valeria tak menyerah. Percuma ia menjadi presiden kampus jika tidak bisa mengendalikan ruang komunikasi dengan baik.
"Sama-sama. Ada lagi?"
Valeria menggeleng. "Itu saja, Kapten. Maaf kalau saya mengganggu waktu anda." sengaja ia menggunakan kalimat bernada sesal itu karena biasanya orang langsung tak enak hati pada si pengucap tapi sepertinya Gibran memang bukan orang biasa. Buktinya laki-laki itu tak bergeming sama sekali, sibuk melihat jam tangannya entah sedang memburu apa.
"Permisi." Ujar Gibran datar.
Valeria mengepalkan tangan sedang bibir mengulum bibir gemas dan kesal. "Silahkan, Kapten."
Let see, Mr.Gibran.
***
"Woe! Balik yuk! Panas bangat berasa di teras neraka nih gue."
"Bentar. Kotak gue belum penuh."
Sabrina menghela nafas kasar. Untuk pertama kalinya ia bertemu wanita cantik tak takut matahari. Biasanya, belum apa-apa siapapun yang ia aja berpanas-panasan seperti ini langsung menyerah, mencari payung atau tempat teduh untuk melarikan diri. Tapi Nadia, ibu hamil itu malah dengan asik mengikuti langkah Robi memunguti ulat sagu yang mereka dapatkan dari batang pohon sagu siap panen.
"Buru, Om kapten nanti ngamuk. Belum solat kan lo?!"
Nadia membeku. Mati gue. Ia segera merogoh hpnya dan yap, setengah tiga sore.
"Om, balik sekarang." Teriak Nadia pada Robi yang tengah menyisir pohon lain untuk mencari ulat sagu. Robi mengangguk lalu mengambil kotak bawaannya sendiri dan menghampiri Nadia dan Sabrina.
"Mari, bu, saya bantu." Robi menawarkan diri membawa kotak Nadia. Namun Nadia yang merasa bawaan Robi sudah banyak langsung menolak.
"Nad bisa, Om. Makasih."
"Gue, Bi." Sabrina menghampiri Robi dan menyerahkan kotaknya. Nadia menggelengkan kepala tapi tidak mengatakan apapun.
Sabrina menyadari itu "Robi ikhlas kok. Iya kan, Bi?" Ia sudah cukup kesulitan membawa dirinya dengan pakaian yang sudah mirip dengan penjelajah luar angkasa, akan lebih ribet dengan sekotak ulat sagunya.
Robi mengangguk yang langsung membuat Sabrina kesenangan.
"Gue gak ngomong apa-apa." Ucap Nadia.
"Your face tells everything."
Nadia memutar bola matanya. "Whatever."
Robi yang menyaksikan perdebatan keduanya hanya menggelengkan kepala. Ia cukup senang dengan keberadaan Sabrina dan Nadia yang umurnya tak begitu jauh dari dirinya sehingga sedikit banyak mereka nyambung saat membahas satu topik.
"Hati-hati, Bu." Peringatnya ngeri saat Nadia hendak melewati salah satu batang kayu yang cukup besar. Mereka mengambil jalan lain untuk memperpendek jarak tapi sepertinya mereka salah strategi karena medan yang mereka lewati ternyata sangat sulit terlebih untuk Nadia dan Sabrina yang tidak terbiasa berjalan dalam semak belukar.
"Gue dulu." Sabrina dengan lincah melewati batang pohon tersebut lalu setelah sampai di seberang ia mengulurkan tangannya "Pegang tangan gue."
Nadia meraih tangan Sabrina namun ia sedikit kesulitan dengan dress yang ia gunakan.
"Biar saya bawa kotaknya, Bu." Tanpa menunggu Nadia setuju Robi mengambil kotak ulat sagu tersebut dan membiarkan Nadia menyebrang di bantu oleh Sabrina.
"Hati-hati, lo."
"Iya. Bawel bangat." Nadia turun perlahan dibantu oleh Sabrina. "Thanks." Ucapnya setelah berhasil menyebrang.
"Kasiin gue foto topless Om Kapten." Ujar Sabrina menaik turunkan alis.
"Ogah. Mending gue gelindingan sampe rumah deh." tolak Nadia keras. Dada kotak-kotak itu hanya miliknya, tidak boleh ada yang melihatnya apalagi Sabrina yang fantasinya mengkhawatirkan.
"Ya udah, gue bantu dorongin." Ucap Sabrina enteng.
"Gilaaak!!!
Sabrina tertawa puas melihat wajah kesal Nadia. Paling mudah membuat Nadia kesal kalau sudah berhubungan dengan Kapten Gibran.
"Mau gue gandeng gak?" Tawar Sabrina.
"GAK! Gandengan sono sama truk." Nadia berlenggak melewati Sabrina begitu saja namun Sabrina yang aslinya iseng malah mengikutinya terus hingga menyusul Nadia.
Sabrina terkekeh menyamai langkah Nadia. Dibelakang merela Robi menyusul membawa barang bawaan hasil perburuan sesiangan ini.
"Gue juga pengen hamil kayak lo. Keren kalik ya perut gue kalau buncit-buncit gini. Berasa balon udara gitu. Lo ngerasa nggak?"
Nadia menggeleng, "Gak. Gue biasa aja." Nadia paham betul perasaan Sabrina. Menikah bertahun-tahun tapi belum juga dikaruniai buah hati. Perempuan manapun pasti akan merasa kurang. Walaupun Sabrina mengucapkannya dengan nada bercanda tapi tentu saja ada kegetiran disana. Oleh sebab itu Nadia paling menghindari topik mengenai kehamilan. Topik sensitif yang membuat banyak pasangan muda yang belum dikarunia anak merasa orang-orang menjadi menyebalkan berkali-kali dengan pertanyaan mereka, 'kok belum isi?'
"Gue pasti ngerasa kek gitu Nad. Bang Guntur juga pasti makin cinta yah meski sekarang pun tetap cinta. Lo ada resep gak biar gue bisa hamil kayak lo gini?"
Nadia menghentikan langkahnya lalu meraih tangan Sabrina yang sejak tadi melenggak mengenai lengannya.
"Gak ada resep apapun Mbak Bina. Semua Allah yang ngatur. Jadi tenang aja, gue yakin dan percaya semua yang memiliki rahim pasti memiliki anak. Sekarang mbak sama Om guntur pacaran dulu deh. Allah ngasi waktu tuh."
"Lo yakin gue bisa hamil?"
Nadia mengangguk "Yakin bangat. Kecuali kalau ***** lo hasil dari oplas, itu baru gue gak yakin."
Sabrina manyun "Kapan dong? Gue capek ditanyain mulu. Lo gak ngerasain sih."
Nadia melepas amitannya di lengan Sabrina lalu berpindah memegang pundak wanita muda di depannya itu, "Kalau itu gue nggak tau. Om Gi bakal ngamuk atau nggak aja pas gue pulang telat gini, gue nggak tau apalagi perkara kapan lo hamil." diusapnya lengan Sabrina. "Insya Allah, diwaktu yang tepat dan indah, lo akan punya baby. Lo dan Om Guntur bersabar aja. Allah bersama orang-orang sabar kok. Jadi tenang aja. Sekarang kita balik sebelum Om Gi ngamuk dan mencoret nama gue dalam kartu keluarganya." Lanjut Nadia sembari kembali melanjutkan perjalanan.
"Lo ngerasa merinding gak?" Tanya Sabrina pada Robi dengan suara pelan seperti bisikan. Laki-laki yang banyak diam itu menggeleng.
"Gak, bu. Memang kenapa?" Tanya Robi balik.
"Tu anak kecil kok ngomongnya bener ya. Gue jadi takut, jangan-jangan dia kemasukan jin insyaf tadi di hutan." Sabrina bergidik ngeri. Nadia yang biasa mulutnya di pakai untuk membalas ucapannya dengan kalimat nyelekit tiba-tiba menjadi sangat bijak, bukankah itu mengerikan?
Robi tertawa renyah, "Bu Gibran memang seperti itu, Bu. Cuma ketutup sama wajah judesnya. Aslinya baik dan bijak." ujar Robi tak menutup-nutupi kekagumannya pada Nadia.
"Lo suka?" Sabrina menatap curiga.
"Tidak ada yang tidak menyukai Bu Nadia. Iya kan?"
Sabrina terdiam. Senyum tipis tersungging di wajahnya. Ia lantas mempercepat langkahnya menyusul Nadia.
"Anak kecil, tungguin gue!"
Nadia tak menghiraukan Sabrina. Ia terus berjalan memburu waktu yang sudah sangat darurat. Semoga saja Omnya belum pulang atau kalaupun sudah on the way pulang, moga saja kehadang bencong di jalan. Sungguh doa yang sangat mulia, Nadia. Ia meringis pelan menyadari doa ngawurnya.
Bugh!
"Aw!!!" Nadia memeluk perut eratnya yang untungnya tidak kenapa-kenapa. Hampir saja.
"Ma- maaf,bu, gak sengaja. Ibu gak apa-apa kan?"
"Iya, gak apa-apa. Saya yang tidak liat-liat tadi." Nadia tersenyum canggung pada seorang wanita muda di depannya.
"Ibu tidak apa-apa?" Robi sebagai pihak yang diamanahkan untuk menjaga bergegas menghampiri Nadia mengecek istri kaptenya itu.
"I am ok." Ucap Nadia meyakinkan Robi.
"Yakin? Gak ketubruk kan?" Sabrina tak kalah khawatirnya mengecek Nadia muka belakang membuat wanita yang sedang hamil itu mencebik sebal. Selalu saja.
"Gak. Gue nggak apa-apa."
"Sekali lagi saya minta maaf." Ujar wanita muda di depan Nadia itu yang jika ia perhatikan sepertinya tamu yang sabrina maksud tadi pagi melihat masih glowing-nya kulit yang belum terpapar sinar UV itu.
"Saya Valeria. Kami baru sampai siang ini dari Jakarta." Valeria mengulurkan tangannya mengenalkan diri dengan ramah.
Nadia dan Sabrina saling melirik. Keduanya kemudian memindai Valeria dari ujung kaki ke ujung kepala. Clean, tidak memiliki ciri sebagai pelakor. Nadia dan Sabrina saling mengirim sinyal dalam diam.
"Nadia." Nadia menerima uluran salam tersebut tak kalah ramahnya. Jika kamu baik padaku maka aku akan seratus kali lebih baik padamu. Begitupun sebaliknya. Salah satu prinsip hidupnya klan para Gaudia.
Setelah Nadia, Sabrina pun melakukan hal yang sama "Sabrina." di susul Robi yang masih setia menunggu mereka, juga mengenalkan dirinya.
Valeria memperhatikan Nadia lekat. Sangat muda, terlalu muda, dan muda sekali untuk menyandang status sebagai calon ibu. Sebagai seorang yang berprofesi di bidang kesehatan, Valeria tahu bagaimana resiko memiliki anak di usia muda seperti Nadia. Tanpa bertanyapun ia sudah yakin bahwa Nadia masih berusia belasan dilihat dari garis wajahnya.
"Ada apa ya anda menatap saya seperti itu?" Nadia yang tak nyaman di tatap sedemikian lekat langsung bertanya.
"Ah ya, ma-- maaf. Saya hanya Amazed. Ibu Nadia sangat muda dan sebentar lagi akan menjadi soerang Ibu. Hebat." Valeria kelabakan karena kedapatan memperhatikan Nadia.
Bohong. Paling dalam hati lo nyinyirin gue. Ujar Nadia dalam hati. Kalimatnya sih berisi pujian, cara ngomongnya itu lho, julid yang dibalut kata-kata manis.
"Oh." Nadia dan Sabrina berujar bersamaan.
"Senang bertemu dengan bapak dan Ibu." Ujar Valeria formal. Nadia maupun Sabrina hanya mengangguk samar. Dua wanita dengan tingkat keangkuhan yang menyebalkan. Valeria tersenyum tipis, ternyata ada modelan seperti ini di pedalaman.
"Semoga betah di kampung kami, Bu." Robi menyahuti untuk mencairkan suasanya yang canggung.
"Terima kasih. Bapak dan ibu dari mana? Sepertinya buru-buru sekali." Tanya Valeria lagi. Ia harus membangun relasi sebaik mungkin.
"Dari hutan, Bu. Berburu ulat sagu."
"Wah Ulat sagu? Saya bisa lihat?"
Nadia yang sedang terburu-buru langsung mengambil kotak ulat sagu miliknya dari tangan Robi yang kebetulan berdiri di sampingnya. Biar cepet.
"Boleh. Nih---" Nadia memberikan kotak tersebut pada Valeria.
Valeria yang sangat penasaran dengan wujud ulat sagu yang kata orang lebih enak dari udang itu tanpa ragu mengambil kotak tersebut. Dengan tidak sabar ia membuka kotak tersebut dan---"KYAAAAAAA!!!"
BRAAAAAK!!!!
"ULAT SAGU GUEEEEEE!!!"
"Ops, sorry."
***
"Baru pulang?"
Nadia menggigit bibirnya gugup. Di depannya Gibran berdiri dengan tangan bersedekap.
"Om kok udah balik? Cepet bangat."
"Kenapa? Supaya bisa kelayapan sampe malam?"
Nadia menyengir, "Gak gitu juga kalik, Om."
"Kemari!" Gibran menggerakkan jari telunjuknya memanggil Nadia.
Nadia mendekat dengan langkah ragu-ragu. Sial bangat gue, ulat sagu udah jadi sate bakar di aspal, kena amuk lagi sama Si Om. "Jangan marah ya Om. Nad udah capek bangat nih. Belum solat juga."
"Ingat solat juga?"
"Iya dong. Masa gak ingat Tuhan sih Om."
"Pintar bangat ngejawab. Sini!" Gibran mengecek Nadia dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Ini kenapa sobek?"
Nadia menunduk mendapati ujung dressnya sobek. Ia juga baru tahu pakaiannya sobek. "Kesangkut kayaknya."
"Kesangkut? Kok bisa?"
"Bisalah. Namanya juga hutan. Ada-ada aja sih Om." Nadia mengamati sobekan di dressnya yang cukup panjang. Sayang sekali, padahal dress ini hadiah dari Thr girls.
"Mana hasil buruan kamu?"
Wajah Nadia langsung mendung. Hasil buruan yang susah payah di kumpulkannya sekarang mungkin sudah hangus diatas aspal. Semua gara-gara Valeria yang menumpahkan semua isi kotaknya diatas aspal dan si ulat sagu akhirnya hanya bisa ia kenang. Hiks.
"Gak ada." Ucap Nadia dengan suara bergetar.
Gibran mengernyit, "Seharian pergi tapi gak ada hasil?"
Nadia mengangguk tak semangat. Harusnya ada tapi--"Om Giiiiiiii ulat sagu Naaaaad--hiks."
"Kenapa malah nangis?!"
Nadia merasa sedih dan kesal. Semunya bercampur menjadi satu, membuat ia ingin sekali menangis meraung-raung. Lelahnya jadi sia-sia karena tidak bisa menikmati hasil dari buruannya. Padahal ia sudah membayangkan makan malam dengan tumis ulat sagu yang menggugah selera.
"Om Giiiii---"
"Ck. Jangan cari alasan. Masuk mandi!" Gibran melepas tangan Nadia yang melingkar di pinggangnya.
Nadia memberenggut kesal. Ia kan sedang sedih, di hibur kek, apa kek, malah di suruh mandi. Laki-laki gak peka,dasar. Nadia menghentakan kaki kesal lalu masuk dalam rumah.
"Waktu interogasi kamu belum selesai." Ujar Gibran dari arah depan yang dijawab dengan bantingan pintu oleh Nadia.
BAM!!!
***
Hello readers, masih menunggu cerita Om Gi dan Nad?
Bagi readers yang gak se-ide dengan cerita kedua pasangan ini dan mungkin muak membaca ide ceritanya, boleh kok menghapus novel ini dari daftar bacaan karena akupun kalau ada novel yang gak sesuai selera langsung kuhapus dari list bacaanku daripada mengotori hati karena sebel, ya kan?
Saya menulis apa yang ingin saya baca. Dan saya membaca apa yang membuat saya senang. That's the point. Jadi kalau sebel, lepaskaaaan. Hapuuuuus, bahkan kalau perlu jangan lewati jejaknya 🤣🤣🤣
Daaaaaan jreeeeng jreeeeeeeeng Author mau mengucapkan terima kasih pada para readers karena sudah membaca cerita abal-abal ini.😘😘😘😘
Selamat membaca 🤗🤗🤗