
Ini beneran kan? Bukan mimpi kan? Duh, aduuuuuh mana nih pelakunya? Nadia melirik kiri kanan tapi tak ada siapapun. Pemandangan hamparan pasir putih di depannya telah menghipnotisnya sampai ia lupa keberadaan suami dan anaknya yang sejak berangkat tidak mau berpisah. Tepatnya Pia yang nempel sekali sama ayahnya sampai-sampai Nadia merasa seperti wanita kedua diantara mereka. Gak ibunya, gak anaknya, tidak bisa terlepas dari jerat pesona si babang Kapten.
"Sayangkuuuuu... Omkuuuu?" Nadia berlari-lari kecil masuk kedalam vila besar yang merupakan milik keluarganya. Nadia tidak tahu sebelumnya kalau mereka memiliki Vila baru di tempat jauh ini. Siapa sangka tempat kece ini adalah miliknya, atas namanya. Well memang tidak mengherankan lagi harta yang tidak akan habis tujuh turunan dan delapan belokan itu jika setiap sudut di negeri ini ada sumber keuangan Gaudia.
"Om Gi ganteeeeng... Pia anaknya Ibuuu... kalian dimana?" Nadia mengintip dalam kamar luas yang akan mereka tempati namun tidak ada siapapun, hanya ada barang-barang mereka yang belum sempat di masukan dalam lemari. Ia kembali mencari di tempat lain sembari memanjakan matanya dengan segala kemewahan yang ada disetiap bagian vila tersebut.
"Om Gi? Pia?" Nadia menuju dapur dan benar saja, ayah dan anak itu sedang sibuk di dapur. Senyumnya mengembang, menghampiri Pia yang duduk di kursinya sembari memainkan sebuah wortel. Ia mengecup gadis kecilnya itu yang dibalas tatapan polos dan antusias minta di gendong, "Bentar ya sayang, Ibu mau ke ayah dulu. Kangeeeen." ujarnya mengusap lembut pipi putrinya. Padahal baru beberapa menit berpisah tapi memang pada dasarnya sudah terjerat pesona Om-om bawaannya pengen lengket terus.
"Ngapain? Kok Nad ditinggal?" Nadia memeluk punggung Gibran yang tengah sibuk memblender susu dan pisang hingga tidak menyadari kehadiran istrinya.
"Your favorite." Ucap Gibran langsung mendapat ciuman di pipinya.
Cup.
"You are my favorite." Kata Nadia mengalungkan tangannya di leher Gibran dengan kedua kaki berjinjit. Gibran tersenyum kecil mendengar kalimat manis itu, ia membiarkan istrinya itu bergelantungan di badannya.
"Gendong." Rengek Nadia manja. Ia sudah merentangkan tangannya meminta Gibran menggendongnya seperti kebiasaanya. Posisi koala adalah favoritnya. Gibran menelengkan kepala melihat putrinya yang asik memukul-mukul wortelnya.
"Malu lah sama Pia. Udah gede gini masih manja." Bersamaan kalimat yang terlontar itu, satu tangannya malah meraih pinggang Nadia dan membawa istri manjanya itu dalam gendongan. Dengan cengiran lebar Nadia mengalungkan tangannya dileher Gibran dan menumpukkan dagu dibahu sang suami mencuri harum yang menguar dari badan tegap itu.
"Sejak kapan vila ini jadi milik kita Om? Setau Nad, Om Gi gak pernah bahas-bahas."
"Kejutan. Kamu terkejut kan?"
Nadia mengangguk semangat, "Bangat. Rasanya pengen nyium om sampe sesak nafas. Senangnya nyampe ke ubun-ubun." celoteh Nadia menarik Gibran dan mengecup seluruh wajahnya "Makasih ya sayangku. Sayang Om Gi pokoknya. Pia juga." tambahnya nya saat melihat mata putrinya menatap padanya.
"Hm." Gibran menggumam pelan. Kedua tangannya yang tadi menyangga paha Nadia kini sibuk menuang susu pisang hasil buatannya kedalam gelas, bergabung dengan makanan pendamping Asi milik Pia dan juga jus buah untuk dirinya sendiri.
Gibran mengambil gelas miliknya, piring Pia dan menyerahkan gelas Nadia pada pemiliknya. Ia menurunkan Nadia duduk di kursi disamping Nadia sementara ia menyusul duduk disamping Pia hingga posisi Pia kini diantara ayah dan Ibunya.
"Pia makan dulu ya Nak. Udah jadi nih makanannya. Masakan ayah, Pia suka kan?!" Nadia mengambil piring Pia lalu mulai menyuapi putri kecipnya, "Baca bismillah dulu. Bismillahirahmannirahim. Aaaaa... "
Pia yang tidak susah makan dengan senang hati membuka mulutnya. Bayi gembul itu memang bisa dikatakan pemakan segala. Tidak pilih-pilih dan tentu saja paling suka masakan ayahnya.
"Gimana? Enak kan?" Nadia menyeka mulut Pia yang makan dengan penuh semangat. Nadia paling senang menyuapi Navia karena nafsu makan bayinya itu membuat siapapun merasa bangga melihatnya begitu lahap. Anak sehatnya ayah Gibran dan Ibu Nadia tentunya.
"Bilang makasih dong sama Ayah. Makasih ayah sayang. Pia makan dengan lahap dong." Ucap Nadia mewakilkan sang anak.
"Sama-sama Pia." Balas Gibran tak berhenti tersenyum melihat interaksi manis Pia dan Nadia. Memiliki dua malaikat cantik, nikmat mana lagi yang didustakan.
"Saya kedepan sebentar, mau ketemu penjaga vila." Gibran mendorong gelas Nadia, "Habiskan minumanmu." Ucapnya sembari mengecup rambut Nadia lalu Pia kemudian pergi meninggalkan dapur.
Nadia tersenyum lebar. Ia mendekat pada Pia, berbisik pada Pia, "Ayahmu manis bangat kan? Nanti kalau Pia udah besar semoga berjodoh dengan laki-laki seperti ayah yang mencintai pia dengan sepenuh hati. Kayak ayah sama Ibu, cintanya tak tertolong lagi." Kekeh Nadia mengusap rambut putrinya, "Habiskan makananmu." Ucapnya meng-copy kalimat Gibran.
***
"Ambil fotonya yang cantik ya Om. Nad mau up di IG supaya terjadi huru hara." Nadia melakukan pose terbaiknya sementara Gibran yang memegang kamera langsung menurunkannya.
"Tidak jadi foto." Ucap Laki-laki itu mengarahkan kameranya ke tempat lain.
"Ih kok gitu?" Protes Nadia. Sudah bergaya se-hawwwt mungkin malah gagal foto.
"Untuk apa di pamerkan? Paha kamu kelihatan kemana-mana."
Nadia melongok. Ya ampun bapak ini sedang over protective ya? Nadia terkekeh pelan. Makin kesini Gibran memang makin ketat mengawasinya. Katanya karena Nadianya makin cantik. Bisa aja si buaya loreng.
"Nad cantik bangat ya Om?" Goda Nadia masih di posisinya semula.
"Harus dijawab?" Tanya Gibran balik melirik sang istrinya yang tersenyum mengejek.
"Gak sih. Udah tau kok Nad cantik maksimal." Ujar Nadia percaya diri. Kepercayaan diri Nadia selalu naik maksimal setiap kali melihat gelagat kecemburuan suaminya. Merasa benar-benar dicintai dan berharga.
"Yaudah deh, fotonya untuk koleksi aja." Ucap Nadia akhirnya.
"Janji?"
"Janji. Ayo foto lagi. Perlu Nad lepas gak nih yang ini?" Nadia memegang tali bajunya sembari tersenyum jahil. Dia tahu Gibran pasti sedang panas sekarang.
"Sekalian saja lepas semuanya. Nanti saya lempar untuk makanan hiu." Tukas Gibran datar yang sontak memecah tawa Nadia.
"Uluh uluuuuh ucul bangat si Om." Nadia mengganti posenya lebih elegan, "Udah nih."
Gibran berdecak pelan, mengarahkan kameranya mengambil beberapa foto Nadia dalam beberapa gaya. Setelah mengambil banyak gambar ia mengecek gambar-gambar hasil bidikannya itu. Nadia memang cantik, cantik yang ada manis-manisnya.
"Cakep bangat ya istri Om gi?"
"Khm." Gibran berdehem salah tingkah karena tertangkap basah sedang mengagumi kecantikan istrinya.
"Gak usah panik gitu dong mukanya. Gak salah kok mengagumi istri sendiri. Yang salah itu mengagumi perempuan lain. Kalau Om ngagumin cewek lain misalnya trus ketahuan Nad, itu baru boleh panik."
"Saya tidak panik. Ini terpesona namanya." Kilah Gibran, mengarahkan kameranya pada Nadia lagi. "Diam aja. Gak usah banyak gaya, udah cantik." ujar Gibran saat Nadia hendak membuat gaya ala-ala seleb on vacation.
Nadia mengangguk, sesuai arahan sang fotografer dadakan, ia hanya melakukan gerakan natural yang langsung diabadikan oleh kamera Gibran.
Setelah puas berfoto, Nadia dan Gibran lanjut menyusuri bibir pantai sembari menikmati matahari terbenam. Pia yang ketiduran ditinggalkan bersama bibik yang sengaja mereka bawa untuk membantu mereka menjaga Pia jika sewaktu-waktu mereka butuhkan.
"Om?"
"Hm?"
Nadia menarik wajah Gibran agar menoleh padanya, "Terima kasih. Terima kasih untuk semua yang udah Om lakuin untuk Nad dan Pia. Nad belum bilang sebelumnya tentang ini sama Om tapi waktu Nad kehilangan ayah dan Bunda, saat itu mati rasanya lebih baik untuk Nad sebelum kemudian Om dateng ngejaga Nad seperti ayah dan ngomelin Nad seperti Bunda. Walaupun itu nyebelin tapi sadar gak Om kalau kehadiran Om adalah pertolongan Allah untuk hambanya yang putus asa ini?! Nad bisa memberi apapun untuk Om bahkan jika itu nyawa Nad. Segitu berartinya Om buat Nad."
"Kenapa kamu ngomong ini?" Gibran menangkup tangan Nadia yang masih memegang kedua pipinya, "Saya tidak suka kamu bicara seperti ini."
Nadia tersenyum lembut. Didepannya Gibran menatap dengan wajah kaku, "Gak tau. Nad pengen aja ngomong ini sama Om. Nad pengen Om tau sepenting itu Om Gi untuk Nad. Jadi Nad mohon, apapun yang terjadi nanti, bertahan untuk Nad, untuk Pia."
Gibran menggeleng, "Jangan menangis. Saya tidak suka liat airmata Nad."
Gibran mengusap pipi basah Nadia, ada perasaan tidak nyaman mendengar Nadia mengucapkan isi hatinya. Entah kenapa kali ini Gibran tidak menyukainya padahal biasanya Nadia mengucapkannya tapi tak sekalipun Gibran merasa ada yang salah dengan itu.
"Kita akan selalu sama-sama kan Om?"
"Tentu saja. Nad akan selalu bersamaku, bersama Pia juga." Ucap Gibran menarik Nadia dalam pelukannya. Untuk rasa yang tak nyaman itu, semoga saja tidak ada hal buruk kedepannya. Ya, semua pasti akan baik-baik saja.
"Om Gi wangi, Nad suka." Nadia mengisi rongga dadanya dengan harum tubuh Gibran. Ia merasa lega setelah mengucapkan segalanya.Tidak tau kenapa kali ini ia ingin mengungkapkan semuanya, berharap apa yang diucapkannya ini tidaklah terlambat. Gibran harus tau betapa kehadiran laki-laki itu sangat penting untuknya.
"Kita kembali ke hotel. Pia pasti sudah menunggu." Gibran melepas pelukannya setelah mengecup lama kening Nadia.
"Mau digendong?"
Nadia mengangguk antusias. Saat Gibran membungkuk, ia langsung melompat dipunggung laki-laki itu.
"Berat bangat. Banyak dosa ya?" Canda Gibran menahan tungkai Nadia.
Nadia tertawa, "Banyakan sayang sama Om makanya berat."
"Pantas. Sayangnya banyak-banyak ya?"
Nadia mengangguk, "Yap. Benar sekali bapak." kedua tangannya merentang saat Gibran membawanya berlari menyusuri pantai.
"YA ALLAH NAD SAYANG LAKI-LAKI INI, JAGA OM GIIIIIII." Nadia meneriakan doanya bersahutan dengan suara deru ombak yang memukul pantai. Sementara Gibran membalas doa itu dalam hati. Berharap yang sama untuk Nadia dan Navia. Ya Allah Engkau sudah memberikan keluarga baru untukku setelah membiarkanku hidup tanpa mengetahui siapa keluargaku dan tak memiliki siapapun di dunia ini maka jagalah mereka. Ambil apapun dariku tapi jangan mereka.
Nadia dan Gibran sampai di Vila disambut oleh suara ramai-ramai di ruang televisi. Nadia mengenal suara-suara itu. Dengan langkah lebar ia berlari dan---
"Taraaaaaa... Surpriseeeeeee!!!"
"YAK! LO BERTIGA NGAPAIN DISINI?" teriaknya dan langsung menghambur memeluk ketiga sahabatnya, Sandra, Aleksis dan Gendis.
"Terkejut gak lo? Terkejut dong ya." Sandra duluan melepas pelukan mereka, gadis sok kecantikan yang sayangnya memang cantik paripurna itu memamerkan rambut bergelombangnya, "Kejutan dari Om Gi untuk istrinya tercinta. Katanya lo kayak ayam sakit liburan gak ada kita-kita."
Nadia menoleh pada Gibran, laki-laki itu sudah bergabung dengan teman-temannya. Yap, tentu saja barisan Om-om loreng itu tak akan ketinggalan keseruan ini.
"Gimana? Lo happy nggak atau merasa terganggu honeymoon lo jadi kayak pasukan anti huru hara gini?" Aleksis memeluk Nadia dari samping mencolek pipi sahabatnya itu.
"Bakalan keganggu bangat sih tapi gak apa-apa sekalian mamerin kemesraan gue bareng Om Gi. Ngiler, ngiler dah lo bedua. By the way pengantin baru gak masuk hitungan ya. Gue yakin Om Dewa pasti udah nunjukin semua hal keren yang bisa dilakuin pasangan sama sahabat kita yang satu ini, iya nggak Ndis?"
"Ih apaan sih. Rese deh." Gendis menepis sebal tangan Nadia yang mencolek-colek pipinya. Sumpah demi apapun Nadia melihat semburat merah di wajah polos Gendis. Sahabat polos mereka pasti sudah tidak polos lagi, belang-belang atau tidak loreng-lorenglah sekarang. Nadia tertawa puas tanpa memperdulikan keheranan orang-orang melihatnya.
"Jangan gangguin dong Nad. Kasian mukanya loreng tuh." Tambah Sandra membuat Gendis semakin memerah.
"Nyebelin lo berdua. Aleeeee... " Gendis merengek pada Aleks meminta pembelaan.
Aleks terkekeh, menepuk-nepuk bahu Gendis, "Sabar ya Ndis. Emang resiko lo harus ngadepin fase nyebelin sahabat-sahabat lo. Gue saranin deh belajar ilmu kekebalan sama Nadia biar lo tahan banting pas dikecengin kek gini. Sekalian tanya resep rahasianya sampai jadi cewek gak ada malu gitu." Tunjuknya kearah Nadia yang sudah mepet lagi pada Gibran.
"Pindah kali Nad gak usah desak-desakan di sofa single gitu. Lo kira ini angkot?" Sandra menghempaskan pantatnya diatas sofa, mencibir kearah Nadia yang memelet padanya.
"Iri bilang kawan." Ujar Nadia sembari mengangkat lengan Gibran dan masuk dalam pelukan laki-laki itu.
"Gue jomblo, gue diem." Timpal Vina yang muncul dari arah dapur memegang segelas kopi.
Nadia yang menyadari kehadiran wanita manis nan perkasa itu langsung menghampiri Vina, "Tante ikut?"
"Tepatnya diculik." Tunjuk Vina pada si tersangka utama. Jonathan?
"Pacaran ya Tan? Tuh Om jonathan malu-malu gitu mukanya." Bisik Nadia ditelinga Vina.
Vina menangkup pipi Nadia gemas, "Anak kecil jangan sok tau urusan orang dewasa."
Nadia mendengus, "Please bangat ya tante, Nad umur doang yang kecil, pikiran mah udah dewasa. Tanyain coba om Gi kalau gak percaya."
Vina mendengus geli namun tak ayal melempar juga pertanyaan pada Gibran, "Emang benar bang?"
"Apanya?" Tanya Gibran bingung.
"Ni anak ngakunya udah dewasa, umurnya doang yang kecil." Ujar Vina mengusap puncak kepala Nadia yang langsung di tepis oleh gadis gengsi selangit itu.
"Dewasalah Vin. Lo nggak liat merah-merah di leher Gibran? Cuma orang dewasa yang bisa bikin cetakan maha sempurna seperti ini." Bukan Gibran yang menjawab melainkan Dewa si mulut cewek yang sayangnya sangat beruntung menikahi gadis semanis Gendis.
"Kenapa? Om ngiri ya karena Gendis gak bisa bikin? Kasian." Balas Nadia memelet.
"Kok gue? Gue diam ya dari tadi." Gendis yang disebut namanya langsung protes.
"Lo lah, kan istrinya. Ntar gue ajarin, tenang aja ndis."
"BENERAN?"
Semua orang terkesiap mendengar kejujuran yang sangat bersemangat Gendis. Bahkan Dewa tersedak air minumnya dan membahasahi kaos polosnya.
"Yap. Sandra dan Aleks juga." Jawab Nadia langsung bertos dengan dua sekutunya. Yap, mereka perlu mengajari Gendis caranya menyenangkan suami meskipun ketiganya sanksi bahwa Dewa belum mengajari hal-hal kotor pada otak polos sahabat mereka itu. Liburan kali pasti akan luar biasa menyenangkan. Thanks to Om gi yang super pengertian.
***
Cakep bangat dah Omnya Nad. Ngambil gambarnya diem-diem aja biar gak di pelototin.
Gimana gak pusing cobak punya istri cantiknya sampe tumpah-tumpah gini. Sabar ya Om Gi.
Pia, bagi wortelnya dong. Anaknya Ayah Gibran dan Ibu Nadia lucu yaaa pengen tante culik.