
Nadia melangkah dengan hati-hati saat melewati bebatuan kecil menuju kantor distrik yang ada di sebrang jalan. Ia akhirnya memutuskan untuk ikut ke distrik memenuhi undangan dari kepala distrik setelah mengumpulkan moodnya dengan susah payah. Ia merapatkan sweater pink yang dikenakannya untuk menutupi perutnya yang semakin besar. Waktu masih menunjukan pukul lima sore tapi sinar matahari masih cukup membuatnya berpeluh. Untuk menghalau sinar matahari yang menyilaukan mata, ia memakai topi milik Gibran bertuliskan Bigrif yang menutupi hampir setengah jidatnya. Sementara untuk melindungi dirinya dari gigitan nyamuk, Nadia tak lupa lotion anti nyamuk sesuai pesan Gibran. Baju terusan di bawah lutut berwarna baby pink menjadi pilihannya mengingat dengan badan balonnya sekarang ia makin susah memadu padankan pakaian apalagi tidak ada Mall atau butik untuk membeli yang baru. Selain baju-baju model baby doll yang dimilikinya dan selusin daster yang dibelikan Gibran, ia tak lagi memiliki baju yang nyaman untuk di pakai tanpa menyetak badannya. Sebenarnya ia tak masalah dengan baju-bajunya yang dulu tapi sikap over protektif Gibran membuat segalanya jadi sulit untuknya.
"Bu Gibran?"
Nadia menoleh saat seseorang menyapanya dari belakang. Ia langsung melambaikan tangan pada orang itu yang tak lain adalah Robi yang sedang memanggul satu doa minuman mineral di bahunya sedangkan di tangan kirinya memegang plastik hitam.
"Ibu mau ke distrik?" Tanya Robi setelah menyamai langkah Nadia yang memang menunggunya.
"Iya. Sudah sore bangat sih Om tapi gak apa-apalah, setor muka." Jawab Nadia sembari melanjutkan langkah diikuti oleh Robi di belakangnya.
"Acaranya belum mulai, Bu. Bu Guntur juga barusan sampai tadi." Terang Robi dengan langkah pelan mengikuti Nadia yang begitu hati-hati menapakkan langkahnya. Nadia mengangguk pelan, kalau Sabrina tak perlu di tanyakan lagi, tetangganya yang satu itu sudah bilang sebelumnya akan datang terlambat karena harus ke salon mempersiapkan dirinya menghadiri acara penyambutan para Tim kesehatan yang katanya kebanyakan dari mereka adalah wanita cantik dan masih muda. Nadia sampai bingung di buatnya karena tidak menemukan hubungan antara tampil cantik dan Tim kesehatan yang masih muda dan cantik. Memang ada yang lebih muda dari dirinya disini? Nadia menggeleng pelan, terkadang tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita seperti Sabrina, cantik tapi masih juga insecure.
"Banyak bangat orang disana ya Om? Kampung sampe sepi gini." Nadia mengangkat sedikit dressnya saat melewati rerumputan yang bunganya melekat di pakaian. Sepanjang perjalanan tadi ia tak mendapati seorangpun warga padahal kalau sore hari seperti ini pasti ada saja warga yang berlalu lalang di jalan raya.
"Iya, Bu. Semua warga di undang. Kata mereka supaya kenalan sama warga." Jelas Robi. Ia berhenti sejenak karena sedikit kepayahan dengan barang bawaan yang memperlambat jalannya. Seharusnya ada Lucas bersamanya tapi rekan sekaligus teman serumahnya itu harus pulang ke rumah untuk mengambil barangnya yang ketinggalan.
Nadia yang melihat Robi kesulitan dengan semua bawaannya langsung mengambil inisiatif untuk menolong. Tentu saja dia masih bisa menambah bawaan lain selain bayi kecil di perutnya. "Plastiknya biar Nad aja yang bawa, Om." Ia mengulurkan tangan meminta plastik hitam yang di pegang Robi. Sepertinya tidak berat hanya saja cukup merepotkan Robi hanya beberapa kali harus memperbaiki posisi dos minuman di bahunya.
"Jangan, Bu. Biar saya saja." Tolak Robi. Ia melihat keadaan Nadia tak lebih leluasa dibanding dirinya. Bahkan nafas Nadia terlihat ngos-ngosan hanya dengan melewati kerikil saja.
"Gak apa-apa, Om. Nad aja." Nadia si keras kepala dan penolong sejati tanpa menunggu persetujuan Robi langsung mengambil plastik hitam. Ia hanya ingin membantu dan membawa plastik tak akan membuat dia mati. Dengan berat hati akhirnya Robi membiarkan Nadia membawa plastik berisi tissue dan rokok yang ia ambil dari kantor.
"Terima kasih, Bu."
"Sama-sama."
Keduanya berjalan beriringan masuk halaman distrik dimana biasa mereka mencari jaringan internet. Beberapa anak remaja sedang duduk diam sibuk dengan gadget masing-masing tampak tak saling memperdulikan. Itulah bodohnya manusia, berusaha memperluas jaringan dan mencari teman di dunia maya tapi mengabaikan orang yang duduk sejengkal di sampingnya. Nadia menghela nafas prihatin, untung saja dirinya dan The Girls lebih waras dengan tidak menggantungkan hidup pada popularitas maya. Membelanjakan kan isi Atm unlimited mereka tentu saja lebih menyenangkan dibandingkan sekedar berselancar di dunia maya memamerkan barang-barang branded pada orang-orang yang tak mampu.
"Ibu sudah jarang main kesini. Sepertinya sudah mulai terbiasa tanpa jaringan internet." Robi berniat bergurau karena melihat pembawaan Nadia yang lebih mudah diajak berteman. Robi tak akan berani melakukannya jika mata tajam Gibran mengawasi mereka berdua. Ia masih sayang nyawanya meskipun Ayahnya selalu menyumpahinya untuk mati tertembak di medan tugas. Lelaki tua pemabuk itu tentu saja tak akan mudah mendapatkan keinginannya.
Nadia mengedikkan bahu. "Males aja, Om. Teman-teman Nad juga sedang sibuk ngurus kuliah." Sebenarnya ia hanya malas berdebat dengan Gibran dan mengacaukan moodnya hanya demi mendapatkan izin untuk menyapa para gadis kesayangannya. Meminta izin Gibran keluar rumah tanpa lelaki kesayangannya itu harus melewati prosedur rumit yang tak kalah ribet dari perizinan membuat usaha diatas tanah sengketa.
Robi mengangguk makfum. Adiknya pun sedang melakukan hal yang sama sekarang, sibuk dengan tugas kampus hingga melupakan dirinya disini. "Adik saya mungkin sama sibuknya dengan teman-teman, Ibu." Selorohnya.
Nadia menoleh pada Robi. "Om punya adik? Cewek apa cowok?" Ia tidak bisa untuk tidak iri pada siapapun yang menjadi adik Robi melihat betapa lembut dan penyayangnya tentara muda itu. Tapi tentu saja lebih beruntung dirinya yang memiliki Gibran si Om kesayangannya yang bisa menjadi apapun dalam hidupnya, terkecuali menjadi kakak yang menyenangkan karena tipe laki-laki seperti Gibran bukanlah tipe kakak laki-laki yang ia inginkan. Lagipula siapa yang ingin memiliki kakak otoriter, pengatur dan suka mengekang seperti Om kesayangannya itu, setiap hari pasti akan terasa seperti perang dunia ketiga dengan segala hal menyebalkan yang dimiliki Gibran. Ia beruntung memiliki Gibran sebagai Om dan suaminya karena status mereka akan seimbang terutama saat berada diatas ranjang, bahkan terkadang dirinya akan memegang kendali. Nadia merasakan wajahnya menghangat, malu sekaligus merona karena sebelumnya tak pernah membayangkan bisa melakukan hal semacam itu bersama seorang Gibran Al Fateh si pria kaku nan menyebalkan.
"Ibu tidak apa-apa?"
"Hah?" Nadia mengerjap, bodohnya dia melamun sambil berjalan, ia lantas menggelengkan kepala, "Ah ya, tidak apa-apa."
Meskipun sedikit khawatir melihat istri kaptennya yang senyum-senyum sendiri, Robi tidak melakukan apa-apa "Adik saya perempuan." ucapnya menjawab pertanyaan Nadia yang tertunda.
"Wah asik dong, Om. Ada yang bisa dijahilin." Memiliki kakak seperti Robi pastilah menyenangkan. Setidaknya itu yang Nadia tangkap dari interaksi mereka selama ini. Robi lembut dan penyayang. Meskipun Kata beberapa temannya yang memiliki adik atau kakak, punya saudara itu tidak bagus karena harus berbagi banyak hal dan tak jarang terjadi pertengkaran hanya karena hal-hal sepele.
Robi tertawa ringan, "Saya membosankan. Itu kata adik saya." ujarnya membayangkan adik perempuannya yang selalu meneriakinya laki-laki membosankan karena tidak bisa diajak membandel.
"Gak lah. Menurut Nad, Om orangnya asik kok." Gak kayak Om Gi yang nyebelinnya sampai ke ubun-ubun. Masih mending nanya rumput yang bergoyang ketimbang nanya tu kanebo kering. Diemnya nyeremin. Hih. Lanjut Nadia dalam hati. Ia bergidik membayangkan wajah dingin Gibran sebagai kakaknya yang jarang sekali tertawa, pasti selain wajahnya tampan, Gibran sebagai kakak pasti akan sering membuatnya menangis meskip hanya dengan diam saja. Padahal Om nya itu kalau senyum manisnya sampai tumpah-tumpah. Apalagi kalau tertawa, renyahnya saingan dengan biskuit khong guan.
Robi tersenyum lebar. Nadia adalah orang pertama yang menyebutnya asik. Seumur hidupnya ia hanya mendengar kata membosankan disandingkan dengan namanya. Kaptennya sangat beruntung memiliki perempuan seperti Nadia, meskipun kelihatan sombong dan cuek terlebih dengan kalimatnya yang kadang tidak sopan pada beberapa orang tapi aslinya Nadia sangat baik, menyenangkan dan polos persis seperti adik kecil yang minta disayang. Tentu saja disayang bukan dalam artian romantis, Gibran akan membunuhnya di tempat jika berani menyayangi Nadia dalam artian yang spesial.
"Terima kasih. Ini pertama kalinya seseorang menyebut saya asik." Ujar Robi sembari mengusap cuping telingannya yang memerah. Keduanya sudah sampai di lokasi acara dan hal pertama yang menyambut keduanya adalah tatapan menggoda Valeria yang menyorot mereka berdua dan tatapan siap menguliti milik Gibran yang ditujukan pada Robi.
"Selamat sore, Kapten, Dokter." Robi menyapa lebih dulu sementara Nadia mengekor di belakangnya tampak tak begitu peduli.
"Sore Pak Robi, Bu Nadia." Balas Valeria ramah. Tatapan bahagia dan senyum senang tak lepas memandang keduanya membuat Nadia mengernyitkan dahi karena mendapat sapaan yang menurutnya terlalu berlebihan apalagi ekspresi yang ditunjukan Valeria seolah dirinya dan Robi adalah pasangan lovey dovey yang menjadi panutannya, semoga saja ia salah menafsirkan. Nadia melirik Gibran yang tak menghiraukan mereka. Lagipula sejak kapan suaminya itu menjadi orang ramah, mungkin kelak saat dunia kembali di taklukan oleh Avatar. Nadia melongos melewati Valeria dan Gibran begitu saja. Jika Gibran Al Fateh adalah kanebo kering dan pria tak ramah sepanjang sejarah dunia maka Nadia Gaudia Rasya adalah hasil didikannya yang akan melakukan hal yang sama seperti contoh. Percuma ia hidup sepanjang usia bersama lelaki itu jika wajah dingin tidak bisa di fotocopynya dengan sempurna.
"Permisi, Pak, Dok." Robi si lelaki ramah yang baik hati membungkuk badan samar saat melewati dua orang itu, ia harus membagikan air minum untuk orang-orang yang membantu kelancaran acara. Beberapa orang warga berbondong datang membantunya.
"Terima kasih, Bu." Ucap Robi setelah meletakkan dos minuman yang ia bawa diatas meja dan mengambil plastik di tangan Nadia.
"Sama-sama, Om. Gak usah sungkan gitu sama Nad." Ucap Nadia tersenyum lembut. Hanya membawa plastik ringan toh bukan sesuatu yang memberatkannya. Ia membuka topi yang ia pakai dan mengipasi wajahnya yang berkeringat. Robi yang melihat itu buru-buru mengeluarkan tissue dari plastik dan minuman dingin yang tadinya ia beli untuk dirinya sendiri lalu diberikan pada Nadia.
"Ini, Bu."
Nadia menerimanya dengan senang hati, "Thanks ya, Om." Hampir ia menggunakan lengan sweaternya untuk melap keringat padahal hal itu paling tidak diizinkan oleh Gibran.
"Sama-sama." Robi hampir saja melarikan tangannya untuk mengacak rambut Nadia jika saja tidak mengingat radar Gibran masih mengitari mereka. Celurit akan benar-benar menancap di kepalanya. Refleks Robi menyentuh kepala plontosnya.
Disisi lain Valeria masih juga tak melepas tatapannya dari Robi dan Nadia. Pasangan manis itu ternyata real ada di kehidupan nyata bukan hanya dalam drama-drama korea yang biasa di tonton oleh teman-temannya saat melepas lelah setelah mengerjakan berbagai laporan dari dokter-dokter senior yang juga dosen mereka. Kisah cinta memang akan lebih manis dalam keadaan seperti ini saat setiap orang tengah mengemban tugas mulianya. Mungkin sebentar lagi dirinya akan merasakan perasaan yang sama, memiliki kekasih yang bertanggungjawab pada tugasnya dan juga pada pasangannya, bukankah itu akan sangat romantis?
"Mereka serasi ya, Pak?!" Valeria menoleh kesamping. Gibran tidak lagi berdiri di sampingnya melainkan berjalan jongkok sembari membabat rumput-rumput yang masih tinggi. Valeria lalu duduk di samping Gibran mengambil sampah-sampah yang ditinggalkan lelaki itu dan memasukannya dalam dos bekas air minum kemasan.
"Pak?" Panggilnya. Meskipun sedikit sudah, ia akan memperjuangkan kisah romantisnya di tempat ini.
"Silahkan cari orang lain kalau mau mengobrol." Ujar Gibran tanpa basa basi. Iya tak menghentikan gerakannya memotong rumput.
Valeria yang memiliki jiwa pejuang yang kental dalam dirinya tak lantas pergi. Ia setia mengikuti Gibran walaupun kali ini sedikit melihat situasi. Ia tentu tidak ingin menghancurkan usahanya hari ini. Banyak jalan menuju roma, banyak jalan mencairkan es. Prinsipnya berkembang seiring pertemuannya dengan Gibran, Kapten muda berwajah rupawan tapi berhati dingin.
"Bapak tidak ingin seperti Bu Nadia dan Pak Robi? Mer--"
"Ada apa dengan mereka?" Potong Gibran sembari menancapkan celuritnya dengan kuat membuat Valeria berjengit.
Takut-takut dilirikanya celurit itu. Gibran tidak akan membacoknya kan? Tidak, laki-laki di sampingnya ini meskipun wajahnya tak bersahabat tapi selama di rumah distrik maupun dari Omnya ia tidak mendengar cerita mengenai Gibran yang memukul seorang perempuan karena banyak bicara. Bahkan hanya hal-hal baik yang ia dengar tentang Gibran yang membuatnya semakin penasaran dengan sosok dingin itu.
Gibran menghela nafas kasar. Diliriknya Valeria yang menyengir horor di sampingnya lalu menoleh kebelakang melihat Nadia dan Robi yang tampak sedang tertawa akan sesuatu hal. Kepalan di tangan Gibran menguat hingga buku-buku kukunya memutih.
Gibran lalu kembali menatap Valeria dengan kening bertaut menuntut jawaban. Ia harus mendengar dari orang lain mengenai pikiran mereka tentang istrinya dan laki-laki pemilik sembilan nyawa itu supaya ia tahu hukuman apa yang harus diberikan pada istri kecilnya itu. Kenapa Nadia harus cantik sekali sekarang, ini membuat Gibran tak bisa bekerja dengan tenang.
"Pasangan Serasi dan Manis." Ujar Valeria disisa-sisa nyalinya. Mengutarakan pendapat dilindungi kan di negeri ini? Jadi seharusnya ia baik-baik saja.
Gibran mendengus pelan. Senyum miring tercetak di wajahnya, "Mereka tidak cocok sama sekali." Ujarnya menekankan. Setelah mengatakan itu Gibran meninggalkan tempat itu menghampiri Nadia dan Robi sembari memikirkan apa yang harus ia lakukan pada tentara muda itu, mungkin menguburnya hidup-hidup tidak akan buruk.
Valeria yang ditinggalkan seorang diri hanya bisa melongok, ada apa dengan orang itu?
***
Yuhuuuu i am back. maaf ya lama up.
HAPPY READING!!!