
Hari ini Nadia tidak memiliki jadwal kuliah. Dosen yang harusnya mengajar sedang keluar kota karena ada acara keluarga. Sudah menjadi hal biasa dimana urusan keluarga selalu menjadi alasan umum yang kerap digunakan oleh sebagian dosen untuk skip kelas. Nadia sebagai mahasiswa yang memuja hari libur tentu saja sangat bahagia dengan kabar jadwal yang kosong itu karena artinya ia bisa menghabiskan waktu bersama Pia di rumah.
"Dek, bagusan bando angel atau devil? Kalau Ibu sukanya yang devil, keren menyala."
Pia mengerjap. Bayi yang sedang duduk senderan di kursi bayinya itu sejak tadi menjadi tim hore sang Ibu yang tengah memilih berbagai jenis barang yang ada dalam sebuah situs jual beli online. Ia bahkan belum bisa mengenali warna tapi sudah disuruh memilih oleh sang Ibu. Ckckck berat sekali hidup bayi gembul itu, resiko punya Ibu sekece Nadia Gaudia Rasya.
"Berarti fix yang devil ya Dek." Itu bukan pertanyaan tapi keputusan final dari Nadia. Ibu muda yang asik lesehan itu melirik pada putrinya yang hanya menyengir atau melongok setiap kali dirinya berbicara.
"Apa lagi ya sekarang?" Nadia bergumam sendiri, mengetuk-mengetuk dagunya lalu mendekat memangku dagunya di sisi kursi Pia mencolek pipi gembul kemerahan itu, "Cari untuk ayah aja gimana?" Senyum Nadia semakin lebar mengiyakan idenya sendiri. Memang kurang kerjaan sekali. Ia kembali berselancar melihat-lihat barang yang bagus. Jangan berpikir Nadia mencari pakaian di toko-toko para rakyat jelata yang beli seratus dapat tiga sebab pewaris muda itu hanya mengenal merk-merk ternama seperti Channel, Gucci, LV, Hugo boss etc. dan tentu saja tak ketinggal longchamp untuk pakaian Navia serta baby sequoia untuk aksesorisnya.
Cup.
Nadia terlonjak kaget saat benda kenyal menempel di pipinya, "Ih ngagetin!" Nadia memberenggut manja setelah tahu siapa yang sudah menciumnya. Om Gi kesayangan Nad, idaman para ular keket.
Gibran baru pulang dari kantor, tampak gagah seperti biasa dengan seragam lorengnya, "Asik sekali sampai tidak mendengar salam."Ia duduk lesehan disamping Nadia, menusuk pipi gembul Pia dengan telunjuknya, "Hai, Pia sayang." Sapanya gemas.
"Hai ayah. Ayah Udah cuci tangan belom?" Tegur Nadia sok galak sembari menyandar manja didada suaminya.
"Sudah. Nad sudah mandi belom berani nyander gini?" Tanya Gibran sembari mengusap lengan atas Nadia yang terbuka.
Nadia mengangguk cepat, "Udah dong. Pia juga udah." Ujarnya menyengir lebar lalu tanpa permisi berpindah duduk di pangkuan Gibran, bergelayut manja di lehernya. Hebat sekali Ibu Nadia.
Gibran menyentil keningnya, "Malu sama Pia. Manja bangat." Dasar lelaki, kata-kata memang tak sejalan dengan aksi, berikutnya Bapak Kapten itu sudah menenggelamkan wajahnya didalam rambut kecoklatan Nadia yang baru saja di warnai.
"Biarin. Pia juga gak protes." Nadia menyembunyikan wajah dileher Gibran, mendusel-ndusel disana, "Wangi sekali Kisanak. Padahal keringatan lho."
Gibran terkekeh, "Iyalah. Kan suaminya Nadia."
"Ih gak nyambung tapi Nad love pake bangat."
Cup. Cup. Cup.
"Nadia kasi ciuman selamat siang biar Om semangat." Nadia menangkup pipi Gibran lalu menariknya lebih dekat, "Dan ciuman di bibir biar Om makin lebar senyumnya."
Cup. cup. cup. cup.
Gibran terkekeh memeluk Nadia erat, "Sisain buat bentar malam." Kedipnya nakal.
"Hidiiih nggak ya. Bentar malam Nad tidur bareng Pia. Sore ini kan Pia imunisasi. Pasti rewel."
"Wah sayang sekali. Kalau begitu simpan untuk stok nanti malam."
"No!" Nadia menutup mulut Gibran yang menunduk hendak menciumnya, "Kasian Pia belum cukup umur." Nadia berujar sembari menunjuk pada Pia. Balasan bayi itu hanya cengiran, tentu saja.
"Baiklah." Gibran mengalah. Ia mengangkat Nadia memindahkannya untuk duduk di karpet, "Saya harus kembali ke kantor. Cuma mau ambil berkas."
"Mau Nad ambilin?"
"Gak usah sayang. Disini aja sama Pia." Gibran beranjak dari tempat duduknya, menyapa dan mencium Pia sebentar lalu ke lantai dua.
Di meja kerjanya Gibran mengambil beberapa berkas yang sudah ia kerjakan sebelumnya. Saat akan kembali ia menemukan amplop dengan lambang Universitas tempat kuliah Nadia diatas meja Nadia. Gibran lantas membuka amplop tersebut dan membaca isinya. Sebuah surat izin untuk mengikuti kegiatan Bela Negara. Gibran melipat lagi surat izin tersebut dan membawanya serta.
"Nad"
"Ya?"
"Ini surat izin kamu kenapa gak dikasi saya?" Gibran mengangkat amplop surat tersebut dan menunjukkannya pada Nadia.
"Nad malas ikut."
"Kenapa? Ini bagus untuk Nad."
"Kasian Pia kalau ditinggal. Om gak baca ya kalau kegiatannya sampe nginep?"
Gibran melirik lagi amplop di tangannya lalu pada Pia. Ia mendekati Nadia, mengacak rambut ikal itu, "Ikut saja. Pia sama Om." Gibran jelas ingin Nadia merasakan semua pengalaman menyenangkan sebagai mahasiswa. Gibran menginginkan Nadia menjalani kehidupan kampusnya seperti mahasiswa lainnya, beraktivitas normal sesuai batas yang bisa diterima.
"Kalau Pia laper gimana? Om kan gak punya susu." Nadia manatap Gibran polos. Jika ia pergi, otomatis sumber kehidupan Pia juga ia bawa. Hal paling tidak ingin dilakukannya adalah memberi Pia susu formula. Hak Asi eksklusif harus di dapatkan bayi gembulnya itu.
"Saya bisa datang mengambilnya." Ujar Gibran yakin.
"Maksud Om, Nad bawa-bawa sedotan susu gitu?"
"Atau Mau Om bantu sedotin?"
"Ish si mesum!"
Gibran terkekeh pelan, "Gak masalah kan?"
"Masalah lah Om. Pasti tidurnya di barak. Tau sendiri privasinya nol besar." Terang Nadia. Bukannya mau menutupi statusnya sebagai Ibu menyusui tapi kan tidak mungkin ia menyedot makanan Pia dilihat banyak orang.
"Bisa, Nad." Gibran meyakinkan. Ia tentu lebih situasi di tempat seperti itu. Sudah menjadi bagian dari hidupnya.
"Oke, Nanti Nad ikut. Tapi sini, peluk Nad dulu. Mau kerja kan?"
Gibran tertawa renyah, meraih Nadia dalam pelukannya, "kurang-kurangin manjanya ntar dikira kakak Pia."
"Siap, Komandan!"
Gadis nakal yang menggemaskan.
***
Gibran menatap koper pink yang di seret Nadia menuruni tangga menuju ke ruang tengah dengan kening bertaut, "Ini untuk ikut bela negara, Nad?" Gibran memperhatikan koper besar itu seksama. Yang benar sajalah yang mau ikut bela negara ini, masa yang dibawa koper cantik persiapan liburan sebulan?! Bisa muat untuk tiga Pia sekaligus.
"Iya. Masih kurang ya Om? Ntar Nad--"
"Ini terlalu banyak." Potong Gibran, menahan langkah Nadia yang hendak kembali keatas.
"Hah?" Nadia melipat tangan tak terima, "Gak, ini udah cocok buat tiga hari tiga malam."
Gibran menggeleng, "No! Ambil ransel!" perintah Gibran tak bisa dibantah. Bukan apanya tapi membayangkan Nadia membawa-bawa kopernya diantara bunyi peluit pasti lucu sekali dan itu menjadi tidak lucu lagi kalau kekeraskepalaan Nadia kambuh.
"Gak mau."
"Percaya sama Om, Nad hanya butuh perbanyak daleman." Gibran menarik koper Nadia untuk dibawa ke kamar. Nadia mengikut dibelakang dengan hentakkan-hentakkan kaki kesal. Semalaman memilihnya harus berakhir sia-sia. Om Gibran memang terbaik!
"Enam pasang dalaman, dua kaos, satu baju tidur, kaos kaki, sweater, jeans dan jaket hujan." Nadia menoleh pada Gibran tak yakin, "Ini doang?"
Nadia mencebik sebal tapi tak punya pilihan lain selain mempercayai laki-laki kecenya ini. Om Gi knows well tentang dunia militer, Nad. jiwa malaikatnya mengingatnya. Setelah berakhir dengan Nadia yang selalu kalah dalam urusan debat mendekat, keduanya berangkat ke kampus dimana titik kumpul dilakukan.
"Yakin nih Nad dibolehin?" Nadia belum melepas seatbeltnya, melihat keluar dimana dua buah bus sudah menunggu dan para panitia mulai mengatur barisan. Benar saja dugaan Gibran, tak ada yang membawa koper. Nadia bakalan jadi satu-satunya yang menyeret koper jika saja Gibran tidak bertindak cepat.
"Um. Cepat, nanti terlambat." Gibran membantu melepas seatbelt Nadia dan merapikan kerah kaos biru tanpa lengan istrinya, "Celana sobek begini masih di pake juga? Om jahitin dulu ya?"
"Eh enggak!" Nadia menjauhkan kakinya dari jangkauan, "Apaan sih. Ini fashion tauk Om. Jangan aneh-aneh deh." Masa celana gue udah cakep gini masa mau dijahit sih. Nadia menutup bagian lututnya yang memang dari modelnya memiliki dua sobekan yang disengaja.
"Fashion aneh." Gumam Gibran tak mau ambil pusing. Anak muda jaman now memang sedikit tidak jelas seleranya. Satu-satunya selera Nadia yang keren adalah mencintai laki-laki sepotensial dirinya. Ia turun dari mobil disusul oleh Nadia.
"Nad jalan." Pamit Nadia mencium punggung tangan Gibran. Mereka cukup terlindung dari pandangan orang-orang sehingga tak ada yang memperhatikan keduanya.
"Ikut aturan panitian. Jangan ngeyel." Gibran menasehati. Pengalaman tidak menyenangkan saat Nadia ikut pramuka masih menghantuinya. Hilang di bumi perkemahan cibubur karena mengejar kunang-kunang, keren sekali Nadinya.
"Iyah. Om udah ngomong gitu hampir dua puluh kali." Nadia mengingatkan. Gibran terlalu berlebihan padanya.
"Soalnya ingatan kamu pendek." Ujar Gibran mengacap puncak kepala Nadia. Ibu muda itu memberenggut tapi dalam hati menyetujui. Ingatannya tidak pendek, sumbunya saja yang pendek.
"Assalamualaikum." Pamit Nadia.
"Waalaikumsalam." Gibran mengecup kening Nadia sebelum akhirnya melepaskan istrinya itu ikut kegiatan bela negara. Ternyata tak cukup dirinya yang membela negara, istrinya pun harus turun tangan.
Gibran baru akan masuk kembali dalam mobilnya saat melihat satu adegan yang membuat keningnya terangkat satu, pertanda tak suka. Apa-apaan cowok itu? Berani sekali jaketnya menyentuh bahu istriku. Dengan langkah lebar ia menghampiri sang istri dan cowok tengil yang berdiri di depannya. Hanya dua anak muda itu yang belum naik diatas bus.
"Kenapa Nad?"
Nadia yang sedang mengelap kaos depannya yang basah menggeleng, "Om belum pulang?"
Untung belum pulang, kalau tidak akan ada scene apa lagi berikutnya? Ikat tali sepatu atau tabrakan ala sinetron? Haduh, kenapa gerah sekali disini?! Ia melirik Orion yang menonton dengan santai, seolah menikmati situasi yang ia ciptakan. Berani-beraninya jaket cowok ini menyentuh pundak istrinya? Buru-buru Gibran melepas kemeja putih lengan pendeknya--
"Kulit kamu bisa gatal-gatal pakai jaket gini." Gibran dengan santai melepas jaket Orion yang baru saja dipakaikan pemuda itu dibahu Nadia hingga jatuh diatas aspal begitu saja.
Orion melirik tak suka dengan apa yang dilakukan pria dewasa yang gosipnya kekasih Nadia. Ia mengambil jaketnya dan menepuk-nepuknya dengan sedikit berlebihan. Pengganggu!
"Basah." Adu Nadia menunjukkan kaos depannya yang sepertinya kena tumpahan air.
"Sekali lagi gue minta maaf sudah bikin lo basah." Kata basah diucapkan oleh Orion dengan sedikit berat.
Basah apanya kampret? Ambigu juga tuh mulut. Ini umpatan pertama Gibran sepanjang hidupnya. Untung saja lidahnya terlatih mengucapkan kata-kata mulia sehingga tidak perlu mendengar lelaki baik itu berbicara kasar.
"It's okey, lo juga gak sengaja kan." Nadia berujar pasrah. Mau bagaimana lagi, semua terjadi begitu saja. Nadia sedang minum dan Orion tidak sengaja menabraknya karena terburu-buru mengatur peserta.
"Jangan pakai barang tanpa label halal Nad, najis." Gibran memasang kancing kemejanya yang kini dipakai Nadia "Paham?" lanjutnya sembari melirik Orion yang menatapnya penuh persaingan.
"Enggak. Tapi Nanti Nad pikirin." Jawab Nadia jujur. Setahunya ia tidak menyentuh jaket dari bulu guk-guk tadi.
"Pokoknya kalau bukan barang Nad atau Om jangan diambil." Gibran menekankan. Nadia sebagai golongan istri-istri solihah mengangguk.
Gibran menghembuskan nafas lega, "Bagus. Sekarang naik bus." Gibran menggiring Nadia naik salah satu bus yang sudah disediakan. Dibelakang mereka Orion mengumpat kesal.
Si*lan.
***
Nadia turun dari bus malas-malasan. Pasalnya sekarang mereka di minta duduk jongkok dan beratur seperti bebek mengikuti instruksi peluit yang menyambut mereka di depan gerbang markas Angkatan Darat yang serba hijau sejauh mata memandang. Nadia tak asing lagi dengan lingkungan seperti ini hanya saja ia tak suka dengan suara peluitnya, sangat mengganggu.
PRIIIIIIIT!
"JONGKOK!" teriakan menggema dari seorang pelatih di depang gerbang sontak membuat para Mahasiswa baru itu kalang kabut, langsung duduk tanpa membantah lagi. Hanya Nadia, lagi-lagi Nadia yang terlambat. Nasehat Gibranlah yang membuatnya akhirnya duduk jongkok seperti orang kurang kerjaan.
"JALAN!"
APAAAAAH? Nadia hendak berdiri untuk melakukan protes tapi seorang panitia yang Nadia jarang liat menekan tas ranselnya agar ia tetap menunduk. Apa-apaan sih ini? Nadia mulai tak suka. Seharusnya ia minta di suntik obat tidur saja semalam supaya ia punya alasan untuk tidak ikut kegiatan ini.
Dengan wajah tertekuk dan mulut tak berhenti mengumpat, Nadia ikut jalan jongkok bersama dengan teman-temannya. Beruntung sekali Wati yang memakai alasan bisulan agar tidak mengikuti kegiatan ini. Kenapa ia tidak terpikir sebelunnya ya? Haduh!
Barisan digiring di tengah lapangan terik tanpa pelindung sama sekali. Untungnya ia sempat memakai sunblock sehingga tak perlu mengkhawatirkan kulitnya melepuh. Tapi ada yang aneh sejak tadi. Nadia merasa tidak nyaman, entah hanya perasaannya atau memang beberapa pelatih dilapangan itu tengah menatapnya intens sembari sesekali saling memberi kode. Nadia mengalihkan wajahnya ke tempat lain. Apaan ya?
Dari atas podium terdengar MC membacakan susunan acara pembukaan. Nadia bisa bernafas lega karena acaranya tidak sampai dua halaman, hanya pembukaan, penerimaan dari Komandan batalyon, pengibaran bendera dan menyangikan beberapa lagi nasional.
Bruk!
Nadia berjengit saat salah satu rekannya jatuh pingsan, disusul oleh peserta lainnya dibarisan berbeda. Mereka langsung dibawa ditempat teduh dan mendapatkan minuman. Enak sekali! Nadia tiba-tiba memiliki ide gila ini. Pura-pura mati!
Bruk!
Nadia mengernyit saat merasakan kulitnya menyentuh aspal panas. Haduh, kurang persiapan. Pingsannya seharusnya di badan rekan disampingnya saja supaya langsung di tangkap. Nadia menutup mata, memasrahkan dirinya saat seseorang datang menggendongnya, yes akhrinya gue bisa istrahat. Nadia bersorak dalam hati. Benar dugaannya, ia sekarang bisa merasakan angin sepoi-sepoi dan gemerisik daun diatasnya. Ia disandarkan pada sebuah pohon mahoni lalu bau dari minyak telon menusuk hidunyanya.
Hatchiiiim!
Tak seperti orang lain yang membuka mata dengan wajah lemas, Nadia malah muncrat dihadapan wajah seorang tentara berwajah manis. Tentara itu mengusap wajahnya diiringi helaan nafas berat.
"Sorry." Nadia menyengir tak enak. Astaga, opening yang sangat tidak elegan.
"Istri seorang kapten kok gini aja pingsan."
Bruuuuuurrr!!!
Sekali sembur, air yang masih dimulutnya sudah habis membasahi wajah yang sama. Mati aku!
"Ma-maaf." Nadia tergagap, mengucek hidungnya yang memerah. Ia salah dengar atau bagaimana tadi ya?
"Si muka tembok itu harus membayar ini." Decaknya, lalu kemudian tawa kecil tertangkap telinga Nadia.
"Salam perkenalan yang sangat berkesan, Nyonya Gibran Al Fateh."
Nadia membeku. Anjiiiiim apa ini namanya terjebak di ladang kacang hijau?
***
Nad, Celananya perlu ditambal pakai ban bekas apa gimana?