Little Persit

Little Persit
Istri yang baik



"Assalamualaikum."


Nadia mendongak lalu berlari kecil menghambur ke pelukan Gibran memamerkan hewan kecil dalam plastik beningnya "Waalaikumsalam. Liat deh Om, Nad punya nemo."


Gibran mengernyit memandang intens ikan kecil yang sedang memamerkan kelincahannya berenang dalam kantong plastik yang di pegang istrinya.


"Cup*ng bukan nemo. Dapat darimana?" Tanyanya selidik.


"Dari Om Robi. Tadi banyak bangat ikannya Om. Terus Nad dikasi yang kecil buat di pelihara. Bentar beli aquarium ya Om, yang paling besar." Ujar Nadia penuh antusias.


Gibran mengacak puncak kepala Nadia, "Gak ada dijual disini Nad. Harus pesan di kota."


"Ya udah pesanin buat Nad, ya ya ya?!" Mata puppy eyes yang melemahkan. Helaan nafas Gibran terdengar berat namun anggukan di kepalanya langsung membuat Nadia bersorak senang lalu menyarangkan ciuman di seluruh wajah Gibran.


"Makasih Om kuuuu... sayang Om banyak-banyak."


"Hmmm." Gibran membawa tubuh Nadia yang gelantungan dibadannya untuk duduk di kursi. Bukti-bukti kepayahan mengalir di pelipisnya, Papua benar-benar panas.


"Tolong ambilin Om minum." Pinta pada Nadia yang nyaman duduk diatas pangkuannya.


"Oh iya bentar." Nadia beranjakd dari pangkuan Gibran untuk mengambil air minum yang selamalam di panasi Gibran, tidak ada istilahnya minuman isi ulang karena di tempat mereka yang baru, air minum di dapatkan dari hasil mengangkut dari sumur lalu di masak di belakang rumah menggunakan kayu bakar. Oleh karena prosesnya yang melelahkan kan, Nadia lebih menghargai air minum sekarang, yang biasanya minum setengah gelas dan menyisakannya kalau sekarang harus di minum sampai habis karena semua itu hasil tetes keringat sang suami.


"Ini. Airnya seger, Nad simpan termosnya di bawah meja." Jelasnya bangga akan ide briliannya sendiri.


"Pinter Nad. "


"Ya dong. Om mau makan gak? Nad udah goreng sosis. Enak bangat. Nad udah cobain, tenang aja." Ia masih mengingat syarat masakannya biar dimakan si suami, harus dicoba sendiri dulu sebelum diberikan pada yang bersangkutan.


"Udah bisa nyalain kompor?"


Nadia menggeleng, "Om Robi yang nyalain."


Gibran menatap Nadia tak senang, "Nad masukin laki-laki dalam rumah?"


"Ck, enggak Om." Nadia menyela "Nad angkut kompornya di luar. Nad ingat dong peraturan Om, gak boleh bawa masuk cowok dalam rumah kalau gak ada Om." Terangnya padat singkat dan jelas.


Gibran menghela nafas lega, awas aja kalau sampai berani.


"Ngapain Robi main kesini? Om kan di kantor. Kalau ada urusan, temuin di kantor."


"Dih sewot. Orang Om Robinya cuma lewat doang kok. Ya udah Nad minta tolong aja."


"Tetep aja. Gak usah masak kalau gak tau apa-apa. Jangan dekat sama laki-laki asing." Gibran menggulung lengan bajunya dengan wajah datar, horor dan menyebalkan. Itulah yang Nadia lihat.


BUK!!!


"Aw!"


"Siapa yang deket sih?! Nyebelin ah, gak ngehargai bangat usaha istri." Nadia meninggalkan Gibran sembari menghentakkan kakinya kesal. Mau dimasakin bukannya bersyukur malah nuduh. Dasar Om-om nyebelin. Nadia menghempaskan badannya diatas ranjang. Luka ditangannya yang tadinya tidak terasa sekarang malah jadi perih, Om Gi bod*h!


"Ayah kamu tuh, jelek bangat." Nadia mengelus perutya lembut. Mencari sekutu, si bayi kecil yang menghuni rahimnya. Perasaan kesal menghuni hatinya hingga Gibran muncul di depannya, ia abai begitu saja.


"Nad--"


"Gak usah manggil-manggil." Nadia memalingkan wajahnya ke tempat lain. Malas menanggapi Omnya yang menurutnya sangat berlebihan. Sampai sekarang ia tidak mengerti jalan pikiran Gibran yang selalu mengkhawatirkan kedekatannya dengan lawan jenis dengan keadaanya yang sedang hamil.


"Ngambek?" Gibran duduk disamping Nadia yang belum juga mau menoleh padanya.


"ENGGAK!!! udah tau pake nanya lagi." Nadia berujar kesal. Niat baik kalau dilepehin tuh sakit bangat. Pengen nyakar.


"Maafin Om. Bukan maksud Om nuduh-nuduh Nad, Om cuma gak suka Nad dekat sama laki-laki lain." akunya sembari mengelus punggung tangan Nadia. Susah menjelaskan perasaan kesal yang menggerogoti hatinya tiap ada orang lain yang dekat dengan istrinya. Ia tidak ingin marah tapi yah--


"Cuma dibantuin nyalain kompor doang Om. Gak ngapa-ngapain."Jelas Nadia sebal. Kalau seperti ini terus lama-lama dia jadi anak pingitan, dalam rumah saja supaya tidak ketemu laki-laki. Siapa yang tidak kesal, ia sampai di ciprati minyak panas demi memasak untuk suami tapi yang didapat bukannya ucapan terima kasih, peluk sayang atau ciuman manis malah dicurigai. Asem bangat emang.


"Iya tapi tetap aja. Jangan gitu lagi. Om gak suka Nadia dekat-dekat laki-laki yang bukan mahram. Nadia seorang istri, gak baik dilihat sama laki-laki lain. Kalau ada orang iseng yang nyebarin kabar gak baik, Nad juga yang kena."


Masih juga? Nadia menatap Gibran datar.


"Ck. Peduli amat sama omongan orang." Ucap Nadia malas.


Gibran menangkup pipi Nadia lembut, "Om peduli kalau itu bisa mengancam ketenangan Nad dan Om." ucapnya menatap Nadia dalam-dalam. Ketenangan hatinya yang utama, rasanya ia ingin menghancurkan sesuatu setiap kali mengetahui Nadia dengan cowok lain. Mungkin rahang seseorang.


"Tapikan Om Robi baik, Om. Nad kek punya temen, punya kakak laki-laki kalau sama dia. Nad juga gak ngapa-ngapain." Tekan nadia dengan suara meninggi.


"Tetap aja gak baik Nad. Memangnya Nad senang liat Om dekat sama perempuan lain?" Serang Gibran.


"Ya eng--" Nadia mengunci mulutnya. Kampreeet lah dibalikin omongan gue.


"Tidak kan? Sama, Om juga gak suka Nad dekat laki-laki lain." Gibran berusaha tidak terpancing kesal melihat kekeraskepalaan istrinya yang tentu saja darah muda masih menggelora, merasa ingin selalu menang.


Nadia menghela nafas jengah, "Tapi kan Om tau kalau Nad gak ngapa-ngapain. Om gak percaya Nad?" Tanya Nadia tak mau kalah.


"Percaya. Om percaya Nad," Tapi tidak dengan laki-laki manapun yang deketin Nad. Lanjutnya dalam hati.


"Terus?"


"Gak ada terusannya. Nad paham gak maksud Om?"


NGGAK!!!


Nadia mengangguk samar, "Ngerti. Nad minta maaf." biar cepat. Sebenarnya ia masih kuat gontok-gontokkan tapi mengingat nasihat dokter kemarin, ia harus menghindari stres berlebihan jadi biarkan saja ia mengalah.


Gibran tersenyum puas. Ditariknya Nadia dalam pelukannya "Nad tidak butuh kakak laki-laki." Gumamnya yang tertangkap jelas di telinga Nadia. Bilang aja cemburu, susah amat si bambaank.


***


"Ikannya udah dikasi makan?" Gibran datang menghampiri dengan sepiring sagu bakar buatannya sendiri. Keduanya duduk di bawah pohon mangga diatas dipan buatan Gibran.


"Udah. Kasian ya Om, ikannya kesepian." Ujar Nadia prihatin. Rumah boleh saja luas, tapi kalau tidak punya teman apa gunanya.


"Mau di lepas aja?" Tanya Gibran yang langsung dapat gelengan kuat dari Nadia.


"Jangan dong. Kan jadi temen Nad kalau Om ke kantor."


Gibran mengatupkan bibirnya, Maafin Om. Gibran sangat paham perasaan Nadia, harus tinggal di tempat jauh tanpa kenalan, tanpa tempat yang bisa dikunjungi dan tanpa hiburan bukanlah hal mudah. Belum lagi Nadia tipe bosanan yang biasanya aktif kemana-mana sekarang hanya bisa di rumah tanpa melakukan apa-apa. Gibran sampai dibuat takjub, sudah hampir sebulan mereka tinggal, Nadia tidak juga mengucapkan keluhannya atau keinginannya untuk pulang.


"Nad kangen rumah?" Tanya Gibran mengusap lembut rambut hitam legam Nadia. Bunyi derit bambu sesekali terdengar bersinggungan saat ia bergerak.


"Kangen lah Om." Ujarnya dengan senyum sedih.


"Nad mau pulang?"


Nadia menggeleng, "Gak mau. Nad mau sama Om aja." Kata Nadia mengalunkan tangannya dan menyandar nyaman di bahu Gibran. Merasakan aman yang selalu saja jadi alasan dia untuk bertahan dengan segala masalah yang datang. Mata hitamnya berpendar indah membalas tatapan tajam Gibran padanya.


Cup.


Satu kecupan lembut didaratkan oleh Gibran, mencipta senyum di wajah Nadia. Ia tak pernah berpikir bisa sejauh ini memiliki Nadia. Perasaan yang sejak awal di bubuhi oleh cinta seorang kakak pada adiknya, lalu berkembang menjadi cinta seorang bapak asuh pada anaknya, hingga kemudian satu perasaan aneh yang tak lagi sesederhana itu di jelaskan, sebuah perasaan yang membuat Gibran tak karuan setiap kali Nadianya tersenyum pada lelaki lain selain dirinya. Sebut dia egois tapi Nadia hanya boleh memandangnya, Nadia hanya boleh menangis dan tertawa karena dirinya, dan Nadia hanya miliknya seorang.


Cup.


"Om!" Nadia menutup mulut Gibran dengan telapak tangannya saat laki-laki itu lagi dan lagi mengecup bibirnya. "Jangan nakal!" Ujarnya dengan suara manja, senyum cantiknya mengembang menambah aura kebahagiaan semakin terpancar.


"Kenapa? Gak boleh?"


"Boleh tapi kan ini diluar. Kalau dilihat tetangga gimana?"


"Liat aja. Bukan istri orang ini."


"Yatapii kaaaan--"


"Jadi mau didalam rumah?" Goda Gibran menaik turunkan alisnya. Nadia yang paham otak kotor suaminya langsung merona. Dasar laki-laki, gak bisa dipancing dikit.


"Ck, Om mah gitu." Nadia hendak menggeser duduknya agak jauhan namun pinggangnya di tahan oleh Gibran.


"Disini aja."


"Oke, disini aja tapi tangannya tolong dong dikondisikan."


"Emang tangan Om kenapa? Gak ngapa-ngapain." Gibran berujar tanpa dosa.


Gak ngapa-ngapain apa tuh, ngelus-ngelus. Nadia menatap datar.


"Assalamualaikum, selamat sore, bapak, Ibu."


Wajah Gibran yang tadinya senang langsung berubah kecut, pengganggu.


"Waalaikumsalam. Selamat sore Om." Nadia tersenyum lebar pada Robi yang pasti baru kembali dari memancing. Kegiatan anak muda biasanya memancing keributan atau memancing hati anak gadis orang tapi Robi punya hobi lain, memancing ikan plus kekesalan Gibran. Tangan Gibran langsung bergerak cepat, menahan bahu Nadia saat istrinya hendak turun dari dipan-dipan. Di peluknya Nadia dengan posesif. Hal itu tak luput dari perhatian Robi si jomblo mengenaskan yang hanya bisa mengasihani dirinya sendiri.


"Om dapat banyak gak? Lihat nih Om, ikannya Nad pelihara dengan baik. Makasih udah kasihin Nad." Lapor Nadia menunjukkan toples besarnya. Robi mengangguk samar sembari tersenyum tipis.


"Sama-sama, Bu. Ibu dan bapak mau ikan?" Diam-diam ia melirik tak nyaman Sang Kapten yang sejak tadi hanya diam, menatap tajam kearahnya.


"Ma--"


"Tidak, terima kasih."


Nadia melirik Gibran dengan kening mengerut, bukannya ini orang paling doyan ikan sungai ya? Sampai kadang barter dengan warga lokal demi mendapatkan ikan sungai segar. Nadia bahkan sampai menangis semalaman karena kinderjoy dan pocky nya dipakai Gibran untuk ditukar dengan bayi ikan sungai.


Gibran yang mendapat tatapan itu dari Nadia balas menatap sang istri dengan kening bertaut, Apa?


Nadia mengalihkan wajahnya. Ia kadang sulit mengerti lelaki yang tengah memeluknya ini.


"Makasih, Om. Buat Om aja, kebetulan masih ada lauk di rumah." Tolak Nadia lebih halus. Niat baik Robi perlu di apresiasi.


Robi mengangguk maklum, ia juga tak akan memaksa. Ia kemudian mengangkat toples kecil yang dihuni dua ikan kecil yang berenang gelisah berebut ruang. Mata Nadia langsung cerah, melihat makhluk-makhluk lucu menggemaskan itu.


"Wah lucuuu!" Nadia berseru heboh sampai melupakan keberadaan laki-laki disampingnya yang wajahnya semakin datar sedatar papan setrikaan.


"Buat teman ikannya Ibu." Ucap Robi. Nadia baru akan melompat dari dipan saat teringat akan sesuatu, ah ya Gibran-- Nadia menoleh pada sang suami menatap penuh harap seolah-olah berkata, Om, boleh kan?


Gibran yang melihat sinar penuh harap di wajah Nadia langsung terenyuh. Mungkin ia terlalu keras sama Nadia sampai hal ini pun istrinya itu merasa perlu meminta izin.


Gibran tersenyum, "Boleh." Ucapnya akhirnya sembari menepuk puncak kepala Nadia. Gadis muda itu lantas bergegas turun dari dipan setelah sebelumnya memberikan ciuman terima kasih di pipi Gibran yang diam-diam membuat laki-laki itu merona. Ia bisa bangga sekarang, Nadia mendengarkannya dan memilihnya, tentu saja. Ia tersenyum lembut melihat bagaimana Nadia sangat bahagia memiliki tiga ekor ikan cup*ng kecil dari 'kakak lelakinya'.


"Terima kasih, Om Robi." Ucapnya dengan senyum lebar. Akhirnya ikan kecilnya tidak sendiri lagi dan sekarang ia sudah memiliki nama untuk peliharaan barunya yang pasti akan sangat cocok melihat begitu cantiknya para cup*ng itu.


"Sama-sama, Bu." Ucap Robi tak kalah senang melihat istri Kaptennya bahagia. Ternyata sesederhana ini membuat seorang Nadia bahagia, bukan barang mewah melainkan tiga ekor ikan cup*ng yang tidak sengaja terjaring di perangkap ikan miliknya.


"Terima kasih, Robi." Ujar Gibran tulus, menghampiri sang istri yang asik menyapa teman-teman barunya.


"Sama-sama, Kapten." Robi bisa bernafas lega sekarang. Tekanan yang diraskaannya tadi ternyata datang dari aura kuat sang Kapten yang daerah teritorinya merasa terancam, khas seorang tentara, mengamankan pos dan persediaan.


***