
"Suaminya siapa sih ini? Ganteng bangat." Nadia datang menghampiri Gibran yang berdiri memunggunginya.
Gibran yang tengah berdiri menatap laut biru menoleh. Nadia terkekeh melihat wajah datar pria itu menatap padanya. Memang sejak semalam lelaki itu belum ikhlas dinistakan oleh sang istri yang sudah mengubahnya menjadi sosok mengerikan seperti manusia-manusia jadi-jadian yang sering mencegatnya di lampu merah. Mengingatnya saja sudah membuat laki-laki itu merinding.
"Pamer otot, Bang?" Nadia mencolek dada Gibran yang hanya dilapisi baju tanpa lengan memamerkan otot-otot bahu dan lengannya.
"Pamer perut, Neng?" Balas Gibran tanpa intonasi yang tepat. Bayangkan saja kalimat itu diucapkan dengan nada datar, sangat tidak kreatif.
Nadia tertawa renyah, mengalunkan tangan di leher laki-laki itu, "Udah dong ngambeknya ntar keriputnya rame lho." ia menusuk-nusuk pipi Gibran yang juga masih berwajah tembok. Lucu sekali. Semalam untung saja hpnya tidak sampai retak, Gibran benar-benar syok melihat wajahnya yang berwarna warni karena di lukis oleh tangan nakal istrinya. Bencong katanya. Astagaaa.
Gibran menjentik kening istri ajaibnya. Bisa-bisanya ia dibuat merona oleh anak kecil ini. Harga dirinya sebagai pria sejati bahkan diacak-acak semalam. Ia bahkan sampai terbawa mimpi gara-gara melihat wajahnya yang lebih horor dari film horor yang pernah ada.
"Sarapan yuk!" Nadia mengamit lengan Gibran, menyandar manja disana.
"Sarapan apa?" Ini kali pertamanya selama mereka beberapa hari di Vila Nadia mengajaknya makan. Biasanya selalu dirinya yang membangunkan ibu muda itu sarapan.
"Roti lapis coklat, minumnya jus avocado. Om pasti suka."
Gibran mengernyit, "Alpukat? Dapat darimana?" Seingatnya tidak ada tempat belanja yang dekat dengan vila mereka dan pun tidak membawa stok alpukat dari rumah.
"Om Dewa dan Gendis yang bawa."
"Oh ya?" Gibran melepaskan lengannya dari rengkuhan Nadia dan ganti menyusupkan jari jemarinya disela-sela jemari kecil Nadia.
"Kok pas bangat ya Om?" Kekeh Nadia memperhatikan tautan jemari tangan mereka. Selalu cocok jari-jari besar itu dengan miliknya yang mungil.
"Jodoh." Jawab Gibran singkat yang makin melebarkan senyum Nadia.
"Iya, jodoh." Ujar Nadia mengangguk senang. Baik pelukan maupun jemari seolah tercipta memang untuk bersama.
Kedua sejoli itu masuk kedalam Vila menghampiri yang lainnya yang sudah duduk di meja. Pia bahkan punya kursi sendiri sekarang.
"Morning, guys."
"Morning. Sarapan berdua aja ya lo. Kami udah selesai." Dewa memimpin yang lainnya meninggalkan meja makan. Semua tampak sibuk masing-masing. Definisi libur is me time.
Nadia manyun melihat kelakuan tamunya yang tak berakhlak. Satu persatu dari mereka meninggalkan meja.
"Nad, pinjam hp lo dong. Gue mau telfon mami, belum sempat ngisi pulsa." Aleksis yang terakhir selesai menghampiri Nadia.
"Ambil aja, ada di meja tv."
"Thanks."
"Ok-- Duduk, sayang." Nadia menarik kursi untuk Gibran. Hari ini akan memberikan full service pada si om agar kenangan buruknya semalam tidak terbawa-bawa dan mengancam keselamatan uang jajan maupun perizinannya. Gibran mengernyit melihat kelakuan tak biasa sang istri. Menggeleng pelan, bukannya duduk di kursi yang ditarik Nadia, laki-laki itu malah memilih kursi lain disamping Pia.
"Morning, Pia." Sapanya mengecup pipi bulat sang putri.
Nadia memutar bola matanya, "Dasar laki-laki, tidak bisa liat yang mudaan dikit."
Pia yang tengah memegang sendok makannya bergerak-gerak lincah mengangkat kedua tangannya minta di gendong.
"Sarapan dulu ya Nak." Gibran mengusap rambut Pia. Bayi itu menyengir lebar seolah paham apa yang diucapkan oleh ayahnya. Nadia yang berdiri di belakang mereka melipat kedua tangan di dada memperhatikan ayah dan anak itu. Pia adalah saingan beratnya mendapatkan perhatian Gibran.
"Gitu ya, kalau udah berdua emang Nad gak penting lagi. Berasa ngontrak deh di dunia milik Kapten Gibran dan Nona Navia." Nadia menghela nafas sok sedih. Drama queen. Kemudian menarik kursi disamping Navia "Pia lebih sayang Ayah atau Ibu?" tanyannya sembari meletakkan pipinya diatas meja.
"Ayahlah." Bukan Pia yang menjawab melainkan Gibran yang juga melakukan hal yang sama seperti Nadia. Tangannya terulur memainkan rambut hitam sang istri.
Sementara Pia yang ditanya, malah merasa seperti orang ketiga sekarang. Bayi itu mengerjap-ngerjap lucu. Mata bulatnya menatap ayah Ibunya bergantian. Bayi malang.
"Mau sama Ibu atau ayah?" Tanya Nadia lagi dan kali ini Pia mengarahkan tangannya kearah Gibran membuat laki-laki itu tersenyum jumawa.
Nadia mencibir, lalu menampilkan senyum terbaiknya, "Tapi ibu punya susu lho, Dek. Ayah gak punya. Modal tampang doang gak bisa bikin kenyang lho, Dek." ujarnya memainkan alisnya.
Bayi malang itu menatap pada Ibunya. Kasian sekali, masih bayi sudah harus menanggung beban hidup ini. Hiks. Nadia mengulum senyum melihat wajah gamang sang putri.
"Ayah juga gak hafal lagu nina bobo lho, Dek. Taunya Indonesia raya aja. Emang Pia mau tidur sambil ngibarin bendera?"
Pia makin galau. Terlebih ayahnya kini menampakkan wajah sedih. Gibran dan Nadia benar-benar kompak mengusili bayi itu.
"Tapi Ayah sayang Pia." Ujar Gibran menggerakkan jari telunjuknya yang digenggam tangan mungil Pia.
"Ibu juga sayang Pia. Sayangnya banyak-banyak." Ucap Nadia tak mau kalah.
"Bukannya sayang banyak-banyaknya untuk saya?" Protes Gibran tak terima.
"Buat Pia." Ujar Nadia tersenyum sombong.
Pia semakin dibuat berat. Ia bahkan masih belum genap setahun tapi sudah harus memilih. Life is choice apa secepat ini datangnya?
"Jadi, Pia mau ayah atau Ibu?" Lanjut Nadia jahil. Pia masih menatap Ibu dan ayahnya bergantian. Ini sangat berat. Akhirnya kalau harus memilih maka---
"HUAAAA OEEEK OEEEEEK...."
"Eh eh, jangan nangis dong sayang." Nadia dan Gibran langsung panik saat tangis Navia tiba-tiba pecah.
"Kamu sih." Gibran buru-buru menggendong Pia.
"Lha, Om juga ngapain ikut-ikutan?! Cup cup cup---Pia sayang, jangan nangis ya" Nadia mengusap-usap rambut putrinya yang sudah berada dalam gendongan sang ayah.
"Pia, udah ya, Ayah dan Ibu bercanda Nak." Bujuk Gibran mengecup sayang wajah Pia yang menarik suaranya sekencang mungkin. Giliran dia yang balas dendam sekarang.
***
"Pia sudah tidur?" Gibran menghentikan gerakkannya mengeringkan rambut saat melihat Nadia masuk dalam kamar.
"Udah. Kasian bangat nangis kejer gitu." Jawab Nadia terkekeh. Iseng sekali ibu satu ini. Ia mengambil alih handuk di tangan Gibran dan menggantikannya menggosok rambut basahnya.
"Wangi."
Nadia terkekeh geli ketika Gibran mengendus-endus perutnya. Saat ini Gibran duduk dikursi rias sementara Nadia berdiri didepannya diantara paha laki-laki itu.
"Jangan nakal ya Om. Nad baru aja nyusuin Pia lho." Nadia memperingatkan Gibran yang endusannya mulai intes menuju kemana-mana.
Tak mendengar peringatan itu, Gibran malah dengan bebasnya menyusupkan kedua tangannya kedalam baju longgar Nadia, mengusap naik turun punggung mulus itu.
"Om--" Nadia buru-buru menahan tangan Gibran yang hampir berhasil melepas kaitan branya.
Gibran mendongak, "Tidak boleh?" tanyanya seperti bayi anjing yang minta diadopsi.
"Bukan gitu tapi---" masih kempes, kan malu. Lanjut Nadia dalam hati. "Gak ada isinya." cicit Nadia memerah. Astaga, kenapa sih sekarang bahasanya yang beginian sekali. Hiks. Nad kan masih kecil ya Tuhaaaan.
Gibran tersenyum tipis, "Tidak masalah." Satu tangannya yang ditahan Nadia dengan gerakan manipulatif berhasil ia bebaskan, dengan lihai menyusuri garis bra Nadia, "Jadi, boleh kan?" tanyanya mulai serak.
Nadia diam sebentar. Sejurus kemudian ia mengangguk, "Bo-boleh." jawabnya lirih dan selanjutnya hanya bisa menahan desahannya saat Gibran mulai memyentuh, memainkannya dengan penuh hasrat.
"Jangan digigit." Nadia mengingatkan disela-sela usahanya menahan desahannya. Ia melihat pantulan dirinya dibalik cermin. Sangat kacau. Didalam dekapannya Gibran tampak penuh hasrat, mencecap, mengulum dan sesekali memainkan puncak Nadia dengan jarinya.
"Nghhh" Nadia mendesah panjang saat mulut basah Gibran menarik puncaknya sedikit keras. Pinggangnya ditarik lebih rapat dengan tubuh laki-laki itu. Ia begitu terlihat rapuh dalam kuasa Gibran yang selalu berhasil memuaskannya.
.
.
Nadia tidak menghitung berapa kali Gibran mendesahkan namanya yang pasti saat ia bangun sore harinya, ia merasakan badannya remuk berada dalam dekapan hangat laki-laki itu tanpa pakaian.
Pelan, Nadia melepaskan diri dari badan besar Gibran. Ia mengelus pipi laki-laki itu sebelum kemudian mendaratkan satu kecupan ringan di keningnya. Gibrannya sangat tenang ketika tidur seperti ini berbeda sekali saat ia sedang on fire. Nadia bahkan selalu penasaran bagaimana tubuh kokoh itu begitu lembut saat menyentuhnya padahal melihat otot-otot jemarinya, Nadia merasa Gibran bisa menghancurkannya hanya dengan sekali rengkuhan.
Nadia mengambil tanktop hitam yang ada dalam lemari lalu mengenakannya. Tak lupa celana tidur berwarna senada. Rambutnya ia biarkan tergerai begitu saja. Nadia membuka dinding kaca yang membatasi kamar mereka dengan bagian belakang Vila yang langsung menawarkan pesona matahari terbenam yang sangat cantik. Nadia menatap jauh mengiringi warna jingga yang kian menggelap. Wanita muda itu menghela nafas pelan. Pikirannya bercabang-cabang, tak sengaja ia melihat isi chat Gibran dan Gio. Keadaan Elsa tak sebaik kelihatannya dan itu membuatnya sedikit tidak nyaman. Perhatian dari orang-orang yang membuat nyaman dokter muda itu akan membantu mempercepat proses pemulihannnya.
Elsa dalam penanganan psikiater?
Nadia mulai menebak-nebak sejak kapan Elsa menjadi seperti itu. Apa sejak dulu atau sejak ia muncul sebagai istri Gibran? Seingatnya, Elsa adalah seorang dokter muda yang cantik, baik, bersahaja dan bisa dibilang wanita solehah tapi mendengar kabar ini semua seperti menjadi abu-abu. Apa cinta memang bisa segila ini? Haruskah kali ini ia merelakan Om Gibrannya demi kesembuhan wanita lain?
"Nad?"
Nadia menoleh, dibelakangnya Gibran menatapnya dengan wajah bangun tidurnya
"Hi, Om gi sayang." Sapa Nadia tersenyum lembut. Lelaki inikah yang membuat seorang dokter menjadi pasien? Nadia memperhatikan Gibran dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Kenapa ngeliat saya begitu?" Tanya Gibran ikut memperhatikan penampilannya. Tidak ada yang salah.
"Om ganteng bangat."
Gibran menghebuskan nafas jengah, "Jangan mulai."
Nadia terkekeh, "Baik bangat, bertanggungjawab dan sangat luar biasa. Nad beruntung memiliki lelaki sehebat Om Gi."
Gibran mengernyitkan kening, "Kurang puas ya yang tadi?" Godanya lalu menyeringai.
"Puas bangat. Om selalu juara." Ucap Nadia merentangkan tangan, "Peluk?"
Gibran berdecih. Perlahan langkah tegapnya keluar dari ruang tidur mereka lalu mendekap tubuh kecil di depannya.
"Sayang Om Gi." Ucap Nadia, menyeruk didada lelaki itu.
"Tau." Jawab Gibran mengecup rambut Nadia.
Untuk beberapa saat keduanya terdiam larut dalam suasana menyenangkan dimana langit sore yang jingga serta suara debur ombak memukul pantai.
"Om Gi?"
"Hm?"
Nadia menarik kepalanya kebelakang untuk melihat wajah tampan itu.
"Nadia cinta bangat sama Om Gi. Om tau kan?"
Gibran mengangguk.
"Kalau misalnya Nad tidak kehilangan Ayah dan Bunda. Kalau misalnya Ayah dan Bunda masih ada bersama Nad. Apa Om tetap akan memilih Nad?"
Gibran mengerutkan kening, "Pertanyaan macam apa itu?"
Nadia tersenyum tipis, "Nad percaya Om sangat mencintai Nadia tapi ini cuma berandai-andai kok Om." Nadia menarik nafas sejenak, "Andai saja Nad masih memiliki ayah dan ibu, apa Om masih akan menikahi Nad?"
Gibran memegang bahu Nadia, "Sebenarnya kemana arah pertanyaan kamu?"
Nadia menggigit bibirnya gugup. "Maaf, Nad gak sengaja liat obrolan Om sama Om Gio. Tante Elsa sakit kan?"
Gibran menghabuskan nafas kasar, "Oke, lalu?"
"Apa--apa om menyesal?" Tanya Nadia takut-takut, "Apa Om menyesal karena kita menjadi salah satu penyebab tante Elsa sakit"
Gibran diam. Ia akui, dirinya sangat menyesal mengetahui Elsa mengalami semua itu tapi bukan karena ia menikahi Nadia sehingga Elsa menjadi seperti itu. Ia menyesal kenapa selama ini tidak berlaku tegas pada Elsa. Jika sejak awal ia tidak mendiamkan omongan orang-orang yang selalu memasangkan keduanya, mungkin saja Elsa tak memupuk harapan begitu banyak yang akhirnya membuat dokter muda itu tidak bisa membedakan antara cinta dan obsesinya.
"Iya. Saya menyesal karena tidak mengatakan sejak dulu bahwa saya hanya mencintai satu wanita di dunia ini yaitu kamu."
Nadia terdiam. Tidak menyangka jawaban Gibran seperti itu.
"Seharusnya sejak dulu saya mengklaimmu sebagai milikku sehingga tidak perlu ada orang yang berharap lebih padaku. Saya menyesal Nadia. Sangat menyesal." lanjut Gibran, menyembunyikan wajah Nadia di dadanya, "Ada atau tidak adanya Ayah dan Bunda kamu, Nadia Gaudia Rasya akan tetap menjadi Nyonya Gibran Al Fateh."
Nadia terisak penuh haru. Ia tahu betapa cintanya laki-laki itu padanya. Ia tidak ragu sama sekali. Tapi ada sisi dalam dirinya yang selalu berandai-andai jika saja jalan hidupnya tak seperti ini.
"Ini permintaan pertamaku, Saya mohon jangan pikirkan siapapun diluar sana. Cukup pikirkan saya dan Pia. Egoislah untuk kami berdua." Pinta Gibran yang diserang rasa khawatir tiba-tiba. Nadia memang keras kepala, kadang nakal dan egois tapi wanita muda dalam pelukannya ini memiliki hati yang lembut, yang mudah tersentuh. Gibran tidak ingin hal itu malah membuat mereka tidak bahagia. Katakan saja dirinya egois, tapi untuk Nadia dan Pia, ia tidak ingin memikirkan siapapun.
"Saya mencintaimu Nadia. Sangat mencintaimu." Ucapnya jelas.
Nadia mengangguk, "Nad tau." ia memeluk pinggang Gibran erat.
Tuhan, boleh kan Nad egois sekali lagi?!
***
Nad, please ya, cinta itu egois jadi jangan pikirin yang macam-macam deh.
Mau kan Nad egois untuk lelaki ini?
Dan untuk putri kecilmu yang menggemaskan ini.