
“Ben!” tegur Rose sambil menggelengkan kepala.
Tapi deru napas yang menggebu-gebu ini masih belum biasa ia reda. Matanya masih sengit menatap ke arah Baz.
“Sudahlah, Rose! Percuma kau membujuk kerbau seperti dia!” Tawa kecil dan sedikit cemooh keluar dari mulut Baz. Sulit memang berbicara dengan orang yang sedang cemburu buta.
Baz juga menyadari betapa kuatnya cinta mereka. Dan mungkin saja, memang hanya maut yang dapat memisahkan mereka berdua.
Semoga pasangan kekasih itu bahagia sampai akhir hayat mereka! Harap pria itu dalam hati.
“Aku tidak akan merebut kekasihmu. Tenang saja!” tukas Baz sebelum pria bertopi koboi itu mulai menyemburkan lahar kemarahannya. Tidak akan ada habisnya jika dia terus meladeni orang aneh ini.
“Aku pegang kata-katamu!” Ben menekankan kalimatnya seraya menyandarkan punggung.
“Yah!” Diangkat Baz kedua bahunya sambil menipiskan bibir.
“Jadi, apakah kau punya ide, untuk menyelesaikan masalah di sini?” tanya Rose, mengalihkan arah pembicaraan mereka.
“Oh, ya! Minumlah dulu! Kau pasti haus sehabis dalam perjalanan!” tambahnya sambil menyodorkan cangkir teh yang memang sudah berada di hadapan Baz. Menjadi lebih dekat ke hapadan pria itu.
“Kau tidak usah terlalu sopan padanya!” ketus Ben seraya membuang muka.
“Ben!” raung Rose kesal. Pria itu masih tidak mau berhenti juga. Sikap kekanak-kanakannya terlalu berlebihan.
Baz sudah lelah. Enggan pria itu menyahuti Ben lagi. Tanggapan yang ia berikan, hanyalah sebuah senyum kecil dengan gelengan kepala. Yang sudah entah ke berapa kali ia lakukan!
Slurp~!
“Sepertinya, strawberry cheese cake favoritmu akan pas menemani teh ini,” sindir Baz setelah menyicip teh hangat yang Rose sajikan untuknya.
Sudah ada minuman, maka harus ada makanan pendampingnya juga! Tidak boleh setengah-setengah dalam menjamu seorang tamu.
Dan selagi ada di sini, ada baiknya memang ia menikmati makanan manis itu lagi. Kue itu, terasa ada yang berbeda dengan yang dijual di toko.
Atau yang dibuat seorang koki rumahnya. Sebab, Baz pernah meminta koki di rumah untuk membuatkannya. Dan hasilnya… tidak seenak yang Ben berikan untuknya waktu itu.
Ben tak bergeming. Dia tak sudi memberikan kue kesukaannya itu pada saingan cintanya! Oh, astaga! Sampai saat inipun, Ben masih menganggap Baz seperti itu!
“Itu juga kau tahu?” tanya Rose antusias. Saking antusiasnya, ia sampai menggeser tubuhnya ke depan. Sangat penasaran, seberapa banyak yang Baz tahu tempat ini.
“Kekasihmu memaksaku untuk mencobanya,” ungkap Baz tenang.
“Tck!” Ben mendelik padanya. Seperti Baz memang sedang berniat memprovokasinya terus menerus. “Memaksa? Heh! Kau yang penasaran sendiri, kan!”
“Jika kau menyukainya, aku bisa membuatkannya untukmu!” seru Rose bersemangat. Dia sudah akan beranjak dari sana, tapi Ben segera menahan pergelangan tangannya.
“Kau buatkan untukku! Biar dia dibuatkan oleh koki saja!” tegas Ben pada Rose. Namun yang ia pandangi malah Baz yang tidak terusik sama sekali dengan tatapan tajamnya.
Lantas Rose melepas pegangan tangan Ben padanya. Kemudian segera beranjak untuk pergi ke dapur. Seingatnya, masih ada setengah loyang kue yang terakhir ia buat. Masih bisa mereka makan bersama.
Masa bodoh jika tuan seramnya itu marah! Dia pasti tahu, membuat kue hingga menunggunya bisa dinikmati itu, memakan waktu yang cukup lama. Jadi biar saja, ia mengambil sisa kue yang tersisa. Tapi ia akan meminta koki membuatkannya dulu sebelum pergi.
***
Hari sudah berganti,
Sudah tiga hari Baz tinggal di markas Harimau Putih. Pria itu mulai terbiasa tinggal di sana. Memang terasa berbeda, namun hangatnya kekeluargaan kelompok itu pun tutur ia rasakan. Agaknya, pria itu cukup betah tinggal di tempat itu.
Menghilangkan aura pemusuhan di antara dia dan pemimpin tempat itu, Ben dan Baz fokus membahas hal-hal mengenai masalah yang terjadi selama beberapa waktu belakangan ini.
Baz sudah mendapatkan informasi dari negara asalnya. Jika memang ada sebuah pergerakan di negara B, beberapa waktu belakang ini. Aktivitasnya tidak biasa, sehingga mereka patut mencurigai. Karena pergerakan itu pun berhubungan dengan negara tempat Baz berada saat ini.
Akan tetapi, nampaknya mereka perlu khawatir karena musuh yang di hadapi tidak sembarangan. Dari informasi yang Relly dapatkan sebelumnya mengenai Zayn, serta data milik Baz, mereka akhirnya tahu bahwa orang itu adalah…
“Seorang wanita!” pekik Rellt kaget. Di tangannya, terdapat sebuah map berisi laporan yang digabungkan. Antara miliknya, dengan milik Baz.
“Jangan remehkan dia! Dia bukan sembarang wanita. Dia adalah putri dari penguasa wilayah benua kami. Penerus klannya dan-“ Penjelasan Baz segera dipotong oleh Relly.
“Stop! Jangan diteruskan!” Direntangkan Relly lima jari tangannya ke hadapan wajah Baz. Bola mata Relly padahal masih menjelajah pada berkas yang ia pegang. Lalu, makin lama, makin berubah pias wajahnya.Jadi ia rasa, Tuan Baz tidak perlu menambahkan kekhawatirannya lagi.
“Ini mengerikan, Tuan! Dia bukan lawan yang sebanding dengan kita!” ungkap Relly ketakutan pada Ben. “Bahkan, senjata kita yang ditukar juga merupakan ulahnya!”
Pria bertopi koboi itu pun tengah memikirkan hal ini. Pantas saja, orang itu bisa melakukan hal yang tidak mungkin dilakukan oleh semua orang. Hal tidak biasa yang memiliki risiko tinggi.
Dia sudah berani menjejalkan tangannya ke wilayah yang tidak semestinya dijamah, berarti dia juga memiliki armada yang siap melindunginya, jika sesuatu hal terjadi.
Tapi sepertinya tidak mungkin! Karena mereka saja baru hari ini, baru hari ini mereka semua menyadari siapa lawan yang dihadapi. Setelah sekian lama!
“Mereka memiliki cukup sumber daya dan senjata… mungkin jauh lebih banyak dari yang kalian miliki. Lalu apa urusannya dengan mengambil sejumlah senjata milik kalian?!” Alis Baz menukik dalam.
Pernah, sekali waktu memang, ia pernah bertemu dengan wanita mempesona itu. Wajar, karena bagaimanapun juga mereka berada di satu wilayah. Baz datang sebagai perwakilan dari negaranya.
Ia mendapatkan sebuah undangan pada perkumpulan mafia benua itu, yang pemimpinnya adalah ayah dari wanita yang sedang mereka bicarakan. Maka, dari situlah Baz mengetahui sedikit banyak informasi.
Namun tetap saja, wanita itu, orang itu, dia sudah memiliki segalanya. Tidak kekurangan apapun sama sekali. Lalu apa yang dia inginkan dengan membuat masalah di negara yang jaraknya sangat jauh dari wilayahnya seperti ini?!
“Apakah mungkin… dia menginginkan… Ben?” Rose yang sejak tadi diam pun bersuara.
Satu tangannya ia gunakan untuk menyanggah dagu, dimana seisi kepalanya tengah berpikir sejak tadi. Alisnya berkerut, menatap lurus ke wajah kekasihnya.
Sontak saja, tiga pria yang sedang duduk bersamanya menoleh. Bersamaan, sangat kompak. Rose saja sampai kaget dan terperangah. Apakah ada yang salah dengan yang dia ucapkan barusan?
Bersambung…