Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Belajar dari film



Mereka terus bergerak mengikuti jejak sepeda motor di tanah yang agak basah itu. Hingga suara baku tembak menarik atensi mereka semua.


Suaranya terdengar tepat dari tengah perkebunan, agak ke timur dari tempat mereka berada sekarang. Kelompok itu pun bergerak dengan hati-hati ke arah suara berderu itu berlangsung.


“Terus berpegangan denganku!” Ben kembali menegaskan hal ini kepada kekasihnya itu.


“Hmm!” Rose mengangguk dengan yakin.


Pasalnya suara baku tembak itu terdengar semakin dekat di telinga mereka semua. Suaranya bersahut-sahutan layaknya pertarungan sengit.


Dua buah bayangan hitam mulai terlihat bersatu dengan pohon-pohon cokelat yang rindang.


Ben segera mengaba-aba pada anak buahnya untuk meredam suara pergerakan mereka.


Drrt! Drrt!


Ponsel Ben bergetar sebentar. Diambilnya gawai itu dari saku jaket kulitnya di bagian dalam. Relly mengirim pesan, mengatakan jika salah satu tim mereka sedang membekukan pelaku di bagian tengah kebun cokelat.


Ben menyimpan ponselnya lagi. Berarti benar, dua orang yang sedang dilihatnnya itu adalah pelaku yang sudah berani mengacau di markasnya. Pria itu pun mengeraskan rahangnya.


‘Matilah kalian di tanganku!’


Tangannya lalu melambai di atas kepala, mengisyaratkan kepada anak buahnya untuk menyebar menjadi dua kelompok. Yang satu bergerak ke arah barat dari letak posisi kedua orang itu. Sedangkan sisanya tetap bersama dengan dirinya.


Dari arah barat terlihat agak lengang menurut Ben. Kedua orang itu bisa saja menjadikan arah itu celah untuk melarikan diri. Maka Ben memutuskan untuk mengepung mereka juga dari arah sana. Dan dirinya bersama beberapa orang lagi, akan menyerbu dari arah belakang. Arah yang mungkin tak terduga bagi keduanya.


“Jika kau takut, bersembunyilah di sini. Aku akan kembali lagi setelah menyelesaikan semuanya,” ucap Ben pada Rose. Wanita itu sejak tadi berpegangan pada jaket kulitnya dengan sangat erat. Ben pikir jika mungkin Rose belum siap dengan situasi macam ini.


Rose menggeleng dengan cepat. “Tidak apa-apa! Biarkan aku tetap bersamamu!”


Wanita itu berkata dengan tegas namun juga memohon dengan tatapan  matanya. Bagi wanita itu, lebih baik dia berada di dalam situasi berbahaya bersama-sama. Dari pada mesti ditinggalkan sendirian, di medan yang tidak ia ketahui sama sekali.


Entah, bahaya apa yang akan mengintainya. Rose tidak mau sendirian.


“Baiklah!”


Meskipun ini adalah pengalamannya yang pertama kali, beraksi dengan membawa wanita, namun dia tidak keberatan sama sekali. Karena yang dibawanya adalah kekasih yang sangat dicintainya. Pria itu sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga dan melindungi Rose dalam keadaan apa pun.


Walau kadang kekasihnya itu memang suka bertindak sesuka hati, seperti sekarang ini. Diperintahkan untuk tetap di kamar, tapi dia malah nekat menyusul.


Tangan Ben melambai lagi, sekarang memberi isyarat pada anak buah di belakangnya untuk bergerak mendekat lebih dekat ke arah dua orang itu.


Matanya menganalisa jika kedua orang itu bukan orang sembarangan. Menghadapi jumlah lawan yang lebih banyak, mereka yang hanya berdua belum tumbang  juga. Sedangkan Ben dapat melihat jika beberapa anak buahnya sudah ada yang terluka akibat tembakan dari keduanya.


Anak buahnya yang lain sudah bergerak ke barat sesuai dengan arahannya. Dia dan yang lainnya sekarang mulai bergerak ke depan. Dengan langkah mengendap-endap, mereka semua terus melaju sambil bersembunyi dari balik pohon ke pohon.


Sisa lima orang yang lainnya, salah satu di antara mereka terus berjaga di dekat Ben dan Rose. Dia mengambil tugas untuk melindungi bos besar dan kekasihnya.


Sekarang jarak mereka dengan pertempuran sengit itu hanya berjarak kurang dari lima puluh meter saja. Ben mengangkat tangannya, memerintahkan kepada anak buahnya untuk menghentikan langkah mereka.


Ben nyalakan lampu flash dari ponselnya, lalu ia lambaikan ke arah pemimpin kelompok yang sedang menghadapi dua penyusup itu sejak tadi. Pria bertopi koboi itu ingin memberitahukan kehadiran dirinya di sana.


Karena posisi dua penyusup itu membelakanginya, jadi mereka tidak dapat melihat sinyal yang Ben berikan.


“Mundur!” perintahnya pada semua anak buahnya yang masih selamat. Sedang yang terluka sudah ditandu untuk diberi perawatan.


Beberapa orang yang tengah menjalani baku tembak yang tak henti itu pun mengambil langkah mundur sesuai dengan arahan dan menghentikan tembakan mereka. Kecuali penyusup itu menargetkan tembakan kepada mereka.


“Ben!” seru Rose sambil menarik-narik jaket Ben yang terus dipegangnya sejak tadi.


“Berikan aku senjata!” katanya lagi setelah Ben menoleh padanya.


“Tidak!” Ben menjawab dengan tegas berikut aura yang tak mampu dibantah.


Rose hanya mampu mendengkus sambil mengerucutkan bibirnya karena hal ini. Padahal dia tidak berniat macam-macam. Hanya untuk berjaga-jaga jika salah satu dari penyusup itu membuatnya atau kekasihnya itu dalam bahaya, barulah dia akan menggunakannya.


Meskipun sebenarnya Rose tidak tahu cara menggunakannya. Tapi dia pernah beberapa kali melihat adegan menembak di dalam film. Dan itu akan ia jadikan bahan referensinya untuk belajar.


Lalu, dalam keadaan darurat seperti ini, bukankah adalah salah satu cara untuk belajar juga?! Dia akan dipaksa untuk mau tidak mau menggunakannya, kan?!


Sedang tuan seramnya berpikiran lain. Dia yang akan menjaga dan melindungi Rose jika kekasihnya itu dalam bahaya. Lagi pula, Rose belum pernah belajar dan tahu mengenai senjata. Ben tidak mau mengambil risiko. Biar dia saja yang bergerak.


Kedua penyusup itu nampak saling pandang, mereka terlihat kebingungan karena lawan mereka tiba-tiba mundur dan berhenti menyerang.  Namun tangan mereka tetap bersiaga dengan senjata mereka, takut-takut ada serangan mendadak.


Tapi keduanya juga belum menyadari, jika mereka sudah diintai dan dikepung dari berbagai arah. Karena barusan Ben mendapatkan pesan lagi dari Relly, jika asistennya itu sudah mengirim beberapa tim lagi ke lokasi tempat mereka berada saat ini.


Diarahkan pistol yang digenggamnya ke depan. Ben mulai membidik salah satu kaki penyusup itu. Niat Ben adalah untuk melumpuhkannya terlebih dahulu. Supaya memperlambat pergerakkan mereka jika ingin melarikan diri lagi.


Dor!


Satu tembakan melesatkan timah panas ke titik sasaran yang sudah Ben kunci.


“Aarggh!” Salah satu penyusup itu pun mengerang sakit sambil memegangi pahanya. Celananya yang hitam pun mulai terlihat basah. Sepertinya darah mulai merembes dengan derasnya.


Salah satunya lagi refleks berbalik ke belakang. Ke arah asal tembakan itu melesat dan menghujam kaki rekannya. Ditodongkan senjata yang ia pegang dengan waspada.


Dor!


Satu tembakan dilayangkan oleh orang itu pada anak buah Benyang bersembunyi di balik pohon cokelat dan terlihat sejumput pakaiannya nampak oleh mata orang itu.


Anak buah Ben itu menganggguk padanya, memberitahukan pada bosnya itu bahwa dia baik-baik saja.  Karena tembakan itu sedikit melesat dan hanya melubangi pohon cokelat tempatnya bersembunyi.


Tangan Rose yang mencengkeram jaket Ben semakin mengencangkan pegangannya, kala suara keras itu seperti terdengar nyata tepat di telinganya. Sungguh ia merasa seperti sedang melakukan adegan di dalam sebuah film laga.


Dan bukannya takut, wanita itu malahan melebarkan senyumnya saat ini ia menundukkan kepala.


Bersambung…


Yuk,, yuk,, dukung terus cerita ini ya manteman


Jangan lupa kasih like, vote dan komentar kalian


Terima kasih juga untuk teman-teman yang sudah selalu dukung aku,, lope u pull buat kalian semua


Keep strong and healthy