
“Rose! Ini aku Anggie. Apa aku boleh masuk ke dalam?” seruan
itu memanggilnya dari luar.
“Ya, tunggu sebentar!” Dia pun beranjak sambil mengusap
jejak air mata di wajah. Berulang kali Rose melakukannya, karena terlanjut
basah kuyup wajahnya itu.
Kriet!
Pintu terbuka… dan Anggie langsung menghambur ke arahnya.
“Rose, kau tidak apa-apa?” tanya wanita seksi itu setelah
berhasil memeluk Rose. Nadanya terdengar khawatir dan bergetar tulus.
Rose membalas pelukan Anggie. Tapi netranya bergulir ke
sekitar, mencari sosok yang satunya lagi. Karena nampaknya, Anggie datang
menemuinya hanya seorang diri.
Wanita makulin itu tidak menunjukkan batang hidungnya sejak
kejadian semalam. Bahkan, jika diperhatikan, Rose tidak melihat eksistensinya
selama kejadian itu terjadi. Zayn seakan menghilang ditelan bumi.
“Ehm… ya. Aku tidak apa-apa,” jawabnya seraya melepas
pelukan. Ditipiskan bibirnya supaya terlihat tegar.
Apakah Anggie percaya? Tentu saja tidak!
Dengan bukti sisa air mata yang dikeringkan secara paksa,
hal itu jelas menunjukkan bahwa Rose sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik
saja. Wanita itu pasti baru saja menangis. Dan mungkin belum juga selesai
menangisnya. Tapi harus berhenti karena dia datang.
Pikir Anggie, sepertinya tepat dia memutuskan untuk datang
ke sini. Sebab dia yakin, Rose pasti sedang membutuhkan seseorang di
sampingnya. Sekaligus, dia ingin melihat bagaimana keadaan bosnya secara
langsung. Apakah sudah sadar atau belum!
Untuk Rose, biarlah nanti dai bertanya di dalam. Biarkan
wanita itu meluapkan perasaannya.
“Kemana dia?” tanya Rose sekilas, lalu mengedarkan pandangan
matanya lagi sebelum akhirnya menutup pintu. “Ayo, masuk!”
“Maksudmu, Zayn?” Sambil mendudukkan diri di kursi yang Rose
sediakan, Anggie menjawab dengan pertanyaan juga.
“Tentu saja! Siapa lagi yang biasanya selalu berada di
sisimu?!” Sebisa mungkin Rose menyembunyikan kecurigaannya ini dengan sebuah
senyuman. “Kalian, kan, selalu bersama! Makanya aku bertanya.”
Rose sembunyikan kilatan dingin di matanya. Hanya sesaat,
ketika dia memandang ke arah Ben. Ia yakin semua ini juga tak luput dari campur
tangan orang itu.
Tapi… kemana perginya setelah membuat kekacauan seperti
ini?! Bukankah seharusnya dia sedang menikmati momen saat ini? Momen dimana
semuanya hancur berantakan. Termasuk Ben yang entah bagaimana nasibnya setelah
bangun nanti. Apakah semua anggotanya masih mau menerimanya atau tidak!
Mungkin juga, setelah membuat kekacauan seperti ini, dia
puas lalu pergi melarikan diri.
“Ohh… Zayn sedang mengurus masalah di perbatasan. Mendadak
sekali, terjadi masalah di sana juga di sini. Hah… rasanya frustasi sekali!”
desahnya dengan wajah lelah.
Anggie menundukkan kepala, ekspresinya tak jauh berbeda dengan
Relly. Perasaan campur aduk antara kesal, penat dan pening menjadi satu di
wajah frustasinya. Berulang kali juga wanita seksi itu menggelengkan kepala,
seakan tengah kebingungan memikirkan solusi dari masalah yang ada.
Rose mengamati, memperhatikan setiap hal di wajah Anggie
yang menunjukkan kebohongan di sana. Tapi tidak ada, yang ada didapatinya hanya
ketulusan dan rasa frustasi yang nyata.
“Hh….” Rose juga mendesahkan napasnya pelan. Biar saja waktu
yang menentukan Anggie juga pengkhianat seperti Zayn atau bukan.
“Rose, kau yakin, kau baik-baik saja?” Anggi mengangkat
wajah, bertanya pada Rose yang tengah menatap bosnya.
Sebab wajah kusam Rose akibat debu tadi malam, bekas air
matanya jadi terlihat jelas. Melebar dari di sekitar pipi dan meluas dari
pelupuk mata sampai ke dagu. Masih terlihat juga beberapa jalur air mata di
leher yang mengering sendiri.
Anggie, tahu, wanita itu bohong jika dia mengatakan
baik-baik saja. Keadaannya tidak menyatakan begitu.
“Entahlah! Aku juga tidak tahu.” Dia menggeleng lemah sambil
mengalihkan tatapannya pada Anggie. “Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan
perasaanku saat ini.”
“Rose!”
Sekali lagi, air matanya yang berharga tumpah. Meski tadi
dia berniat untuk tegar. Namun… jika seorang wanita yang sedang rapuh,
dipancing pertanyaan penuh perhatian seperti itu, pasti akan luluh juga tembok
pertahanannya.
Ditangkupkan Rose wajahnya dengan kedua tangan. Dia meraung
datang.
Lantas… Anggie pun menggapainya. Memeluknya dengan erat
supaya Rose bisa berbagi rasa. Anggie pun terenyuh, dia pun mengiba pada apa
yang terjadi pada wanita yang belum lama dikenalnya ini.
“Tenanglah, Rose! Semua pasti ada jalan keluarnya.”
Diusap-usap dengan lembut punggung Rose yang bergetar karena isak tangisnya.
“Aku tidak tahu Ben bisa sampai seperti itu saat benar-benar
marah. Aku takut mereka akan menyalahkannya untuk semua yang terjadi di sini.
Aku takut… mereka akan membenci Ben lalu mengusirnya.” Semua kalimat itu Rose
ungkapkan di tengah isak tangisnya yang makin membahana.
Akhirnya, Rose mau meluapkan perasaan yang sedari tadi ia
pendam sendiri. Saat ini, ia memang butuh bahu untuk menyanggah kesedihannya,
untuk menguatkan dirinya yang rapuh, serta… untuk menopang dirinya yang rapuh.
Adanya Anggie di sini, membuat Rose kembali mengingat semua
hal yang membuatnya sedih, takut dan marah. Semuanya Rose tuangkan melalui air
mata di bahu Anggie dengan leluasa. Lupa jika dia pun mesti berwaspada dengan
wanita seksi ini.
Rose sudah tidak peduli lagi. Inginnya dia bisa bicara
dengan Bella, kakak iparnya. Hanya wanita itu, orang netral dengan sikap dewasa
yang bisa membuat hatinya tenang setiap kali ada masalah.
Untuk sekarang, rasanya tidak apa-apa. Rasanya tidak peduli
lagi, Rose ungkapkan semua ini. Toh, nilai kecurigaannya pada Anggie tidak
sebesar yang ia miliki pada Zayn, si wanita maskulin.
“Apa yang kau takutkan tidak akan terjadi! Jadi tenanglah,
dan jangan berpikir terlalu banyak!”
“Menagislah sebentar, Rose. Jangan terlalu lama. Karena
menangis tidak dapat mengubah apa pun.”
“Kau harus kuat, kau harus tegar, seperti apa yang kami
lihat tadi malam!” ungkap Anggie sambil melepas pelukannya.
“Ngomong-ngomong… aku belum memujimu!” Sambil menangkup
wajah Rose dan mengusap air matanya di sana. “Kau keren sekali tadi malam!”
“Kau ini… apa-apaan!” Mau tak mau Rose pun tertawa mendengar
penuturan Anggie ini. Meski sambil setengah menangis di wajah jeleknya itu.
Harus Rose akui, semua yang dikatakan wanita seksi itu
menyentuh lubuk hatinya yang terdalam. Yang resah dan gelisah karena
kekhawaritan serta amarah yang dia miliki.
Dikerahkan Anggie lengkung bibirnya. Senyum Rose seakan
menular kepadanya. Dia pun bersyukur karena Rose sudah mau meluapkan semua
perasaannya. Dan yang lebih baik… dia sudah mau tersenyum, bahkan tertawa.
Ketika Rose membukakan pintu untuknya, Anggie dapat melihat
ketegangan di wajah itu. Gusar dan semua resah menarik otot wajahnya menjadi
kaku. Dan untunglah… semua hal itu perlahan sirna di wajahnya. Meski tidak
sepenuhnya menghilang kesedihan wanita itu.
“Kemarilah!” Ditarik Anggie tangan Rose, hingga wanita itu
bangun dari duduknya.
Sebenarnya Anggie hanya memindahkan duduk Rose saja. Dari
pinggir tempat tidur ke kursi bulat di depan meja rias. Rose didudukkan di
sana.
“Lihatlah!” Anggie memegangi bahu Rose dari arah belakang.
Kini mereka berbicara melalui pantulan cermin meja rias itu.
“Menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Yang ada,
penampilanmu menjadi terlihat kacau seperti ini. Baumu juga tidak sedap!”
Anggie pura-pura mengerutkan hidung supaya Rose kembali tersenyum.
“Ck…” Benar saja, dia kembali menguari senyum yang selalu
indah dipandang. Kemudian Rose membiarkan Anggie melanjutkan kalimatnya lagi.
“Mandi dan bersiaplah! Kita akan menyelesaikan semua
ketakutanmu itu.” Rose pun menatapnya di kaca.
“Kita akan menghadapi mereka semua. Mereka juga bertanggung
jawab atas apa yang terjadi.” Ditepuk kedua bahu Rose dari arah belakang seraya
mengangguk penuh keyakinan.
Benar, ini memang karena mulut kotor dan kurang ajar mereka!
Jika saja mereka tidak melakukan demonstrasi seperti itu dan terus memfitnah
dan menghina dirinya, sampai Ben murka. Mungkin semua kekacauan ini tidak akan
terjadi.
Anggie pun berpamitan. Mereka akan bertemu di ujung lorong
setengah jam lagi. Mereka akan bersama-sama menghadapi ini semua.
“Terima kasih!” ujar Rose dengan tulus saat Anggie sudah
berada diluar pintu.
Anggie pun berbalik dan tersenyum. “Kita, kan, teman!”
Wanita itu lalu berbalik lagi dan pergi.
Bersambung…