
Sepasang manusia baru saja tenggelam ke dalam alam mimpi. Saling memeluk, saling menjaga, tak ingin kehilangan, berpegangan dengan posesifnya. Padahal tubuh mereka baru saja selesai menyatu, berpadu dalam cinta.
Rentetan peluh sudah mengering, di tubuh yang masih menyatu dalam sebuah pelukan. Pertemuan kulit dengan kulit yang polos tanpa benang itu, dibalut selimut putih yang sama polosnya dengan tubuh mereka.
Selimut putih itu membungkus tubuh keduanya sampai ke dada. Menjaga mereka dari terpaan angin pantai yang dingin, dari arah pintu kaca.
“Hmhh…” Si lelaki menggeram kala indera pendengarannya terusik. Bola matanya berputar di dalam kelopak yang masih memejam.
Entah, keramaian apa yang terjadi di luar sana, di depan pintu kamar! Yang jelas, hal itu sangat mengganggu lelap tidurnya.
Perlahan, kelopak mata itu mengepak. Bulu-bulu mata yang panjang dan lentik mencoba memisahkan diri, dengan perlahan. Padahal mereka ringan, namun bagi si empunya, entah mengapa rasanya jadi begitu berat untuk mengangkat dan membukanya.
“Hmhh…” erangnya kembali saat ia sudah berhasil membuka mata. Bibirnya lalu membuat kurva sambil menatap dengan mata sayu.
Ada pemandangan indah yang lantas membuatnya sejenak melupakan kebisingan di luar sana. Wanita cantik dengan wajah polos yang sedang terlelap karena kelelahan.
Pasangan kekasih yang baru saja mabuk kepayang akan surga dunia, yang tak berkesudahan, sampai tak sadar mata mereka terpejam. Lalu lelap ke alam mimpi.
Diselipkan Ben sejumput rambut yang menutupi wajah Rose, ke belakang telinganya. Kemudian ia usapkan dengan lembut ibu jarinya pada pipi kekasihnya itu.
“Hmh…” Ia hirup aroma manis yang selalu menguar dari tubuh wanita di dalam dekapannya ini. “Maaf, ya! Kau pasti lelah sekali!” Masih terus membelai lembut pipi Rose.
“Emhh…” Wanita itu seperti enggan diganggu waktu istirahatnya saat ini.
Bugh~!
Wanita itu mendadak menaikkan sebelah kakinya, ke atas tubuh Ben. Menjadikan pria itu bantal hidup baginya, seperti semakin nyaman jika tubuh mereka saling menempel satu sama lain.
Suhu hangat pada tubuh pria itu mungkin menambahkan efek nyenyak untuk tidurnya saat ini. Lelap yang amat ia butuhkan, setelah digempur habis-habisan.
Ben terkekeh kecil melihat tingkah kekasihnya itu. Matanya melirik ke bawah, melihat selimut yang mereka kenakan sampai tersingkap karenanya.
Kaki jenjang yang mulus dan putih polos itu sekarang menumpang di atas pinggangnya. Ben lalu menurunkan kaki itu pelan, agar tak mengganggu tidur si empunya.
Andai saja mereka… ah, tidak! Bukan mereka, tapi wanita itu masih mempunyai stamina, pasti sudah akan ia ajak pergi menikmati surga dunia lagi.
Jangan tanya stamina yang dimiliki pria itu! Ben bahkan masih siap bertempur kembali jika wanitanya siap.
Pria itu tergugu sendiri memikirkan ini. Rasanya, ia akan menjadi tega sekali jika memaksakan keinginan yang tiada habisnya ini, kepada kekasihnya itu.
Maklumi saja! Dia sudah berpuasa setelah sekian lama. Pun sudah lama mendamba pada diri kekasihnya itu. Ditambah dengan tubuhnya yang sudah terkontaminasi zat afrodisiak itu. Semakin bersemangatlah pria itu jadinya.
Ben seperti tidak ingin berhenti. Terus saja ada keinginannya untuk menyatu dengan Rose lagi. Lagi dan lagi.
Segala hal yang ada di tubuh Rose adalah candu baginya. Dan hal ini baru ia temui pada diri wanita itu saja. Ini baru pertama kali, namun seperti tidak ada kata puas baginya, untuk menyentuh kekasihnya itu.
Pria itu lalu membenarkan selimut mereka lagi. Menutupi seluruh tubuh yang polos, sampai ke dada. Memastikan agar wanitanya itu tetap hangat dan nyaman dalam posisi tidurnya saat ini.
‘Tapi aku ingin mengetahui keadaan adikku saat ini! Apa itu salah?’ Suara Victor terdengar dari dalam.
‘Tidak salah! Tapi kau bisa menanyakannya ketika pagi atau siang nanti! Bisa jadi sekarang adikmu itu baru saja beristirahat! Lalu, apa kau mau mengganggunya?’ Kini suara Baz menyahuti.
‘Mengerti saja! Mereka butuh waktu untuk mengistirahatkan diri. Kau juga tahu hal itu, kan?!’ terdengar suara saingan cintanya itu agak meninggi.
‘Tapi-‘
“Tidak ada tapi-tapian! Kita semua juga butuh istirahat! Termasuk kau! Lebih baik kau kembali ke kamarmu sekarang! Bella dan Bervan pasti sedang menunggumu!’ Terdengar Baz langsung memotong ucapan Victor.
“Hh…” dengus Ben kala senyum kecil terbir di bibirnya.
Ia tidak menyangka jika saingan cintanya itu cerdas juga!
Benar memang jika mereka belum lama memejamkan mata. Tentu saat ini dia dan kekasihnya sangat membutuhkan istirahat.
Terutama Rose, yang bahkan sudah tidak mampu lagi bergerak dengan leluasa. Di saat terakhirnya tersadar sebelum Ben mencapai puncaknya, wanita itu sudah mengeluhkan sekujur tubuhnya yang lemas tak berdaya.
Sepertinya, setelah ini, Ben akan berbaik hati karena Baz sudah sangat mengerti keadaan mereka. Dengan mengusir Victor yang tidak tahu situasi sama sekali.
Hanya saja, Ben tidak tahu… jika di depan kamarnya, saat ini, pria yang baru saja ia puji itu tengah mencibir, mencebikkan bibirnya dengan kesal. Karena harus membela seseorang yang seharusnya menjadi musuhnya dalam urusan percintaan.
“Lihat! Kakakmu yang cerewet itu ada di depan kamar kita! Dia ingin tahu sekali bagaimana keadaan kita saat ini!” gumam Ben seraya membelai puncak kepala Rose.
“Dia pasti akan memarahiku jika melihat adiknya sampai terkapar begini!” Ben tergugu lagi.
Nampak Rose sedikit menggerakkan kepalanya. Lalu ia bergumam. “Kakak!”
“Ya! Dia ada di depan kamar kita tadi!” Dengan isengnya, Ben malah menyahuti ucapan seseorang yang setengah mengigau.
Sepasang kelopak mata mendadak terbuka. “Kakak?” Rose langsung berseru dengan nada terkejut.
Dia juga langsung bangun dari posisi tidurnya yang memeluk Ben. Melepaskan begitu saja, pria itu dari dekapannya. Selimut yang membalut tubuh polosnya pun sampai melorot ke pinggang.
“Di mana Kakak? Di mana? Ada di mana Kakak?” Berulang kali wanita itu menoleh seraya bertanya.
Dari nadanya, dia begitu terkejut juga panik dan khawatir. Rose terus bertanya sampai, sebuah suara dari samping menyadarkan dirinya.
“Jadi sekarang… kau sedang menggodaku lagi atau bagaimana?” tanya Ben dengan kedua alisnya yang naik.
Laki-laki itu masih berposisi miring. Namun sekarang dia sudah menopangkan kepalanya pada tangannya yang menyiku ke bantal. Membuat pandangannya meninggi dan semakin jelas lagi, untuk melihati, menikmati tubuh bagian atas kekasihnya yang selalu nampak indah.
Rose pun auto menundukkan kepala. Menatap bagaimana keadaa tubuhnya saat ini.
Dia langsung menyilangkan kedua tangan di depan dada, begitu menyadari tubuhnya masih tak berbusana sama sekali. Dengan panik.
Lalu, karena merasa tidak cukup, Rose merasa tubuhnya masih dapat terlihat dari sela-sela tangannya, maka dia pun menaikkan selimut di pinggangnya dengan cepat.
“Kau mau lagi?” tanya Ben mengandung unsur godaan yang sangat kuat.
Hah? Lagi? Mata Rose langsung terbelalak lebar.
“TIDAK!!” Sambil berteriak, sambil ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Rose meringkuk di dalam kain putih polos itu. Memegangi setiap bagian yang bisa ia raih, agar tidak setitik pun kulitnya dapat terlihat.
“Ak- aku lelah! Aku… aku juga ngantuk sekali! Aku mau tidur lagi sekarang!” seru Rose berbalut selimut kepanikan.
Bersambung…
Maap baru update ya manteman… ini kan weekend, author juga butuh liburan.. hehe
Selamat kembali beraktivitas ya besok
Eh udah senin lagi ya,, wkwkwkwk