
“Selama Ben belum kembali, aku akan tetap tinggal di markas,” sambung Rose dengan keputusan yang ia buat.
Ketika, semua atau, beberapa orang hendak menyanggah keputusannya, maka, wanita itu pun mengeluarkan suaranya lagi.
“Jika, tidak satu pun dari kalian bisa menemukannya, maka, aku anggap, Ben hanya menghilang.” Lantas Rose kembali mengalihkan pandangan ke arah tepian jurang lagi.
Tempat di mana nestapanya bermulai. Tempat perpisahannya dengan Ben, untuk yang terakhir kali.
“Aku akan terus menuggunya. Sampai dia, kembali pulang.” Ia pun melepaskan diri dari pegangan dua wanita di kanan kirinya. Yang masih terhenyak, dengan putusan yang baru saja Rose buat.
Setiap kalimat yang Rose ucapkan, begitu mendalam terasa. Kekuatan cinta sejati yang begitu besar, masih sangat terasa, meski keduanya, tidak saling memiliki saat ini.
Entah, itu adalah insting Rose yang begitu kuat, sebagai seorang wanita. Atau, hanya perasaannya belaka, yang belum bisa menerima realita pada masa kini.
Yang jelas, perasaan cinta Rose yang begitu besar, sangat terasa, sampai, bulu kuduk yang mendengarnya pun jadi ikut merinding dibuatnya.
“Tapi, Rose!” Panggilan Victor tak urung menghentikan langkah Rose yang mulai menjauhi, posisi Bella dan juga Anggie.
“Kau dalam keadaan mengandung saat ini. Biarkan kami yang-“
“Kehamilanku tidak akan menghalangi niatanku untuk menunggu. Justru, akan membuatku menjadi semakin kuat,” ucap Rose tanpa menoleh sedikit pun.
Sungguh, Rose telah berubah, menjadi sosok yang dingin nan membekukan.
“Aku bisa menjaga diriku sendiri!” Ditolehkan kepala Rose sebentar, sedikit, untuk memeringatkan mereka, bahwa keputusannya adalah bulat. Dan, tidak ada yang bisa menggugatnya, sama sekali.
Brak~!
Suara pintu yang ditutup dengan keras pun terdengar.
Itu Rose yang baru saja memasuki mobil SUV yang Relly kendarai. Ia menduduk di kursi belakang. Lantas, menggeser tubuhnya, sampai berada di ujung jendela yang satunya.
Tetap saja, arah pandangan Rose, tetap pada tepian jurang nestapa itu. Ia tak menoleh kemana pun. Hanya ke arah itu. Di mana isi hatinya tertinggal dan menghilang di sana.
Semua orang saling berpandangan. Sampai detik ini, tak ada yang berani menyanggah keputusan Rose sama sekali. Mereka hanya saling terdiam dan kebingungan.
Lalu, Bella dan Victor saling berpandangan. Sementara Anggie kembali ke barisannya, bersama Relly dan Baz di sisi mobil yang sudah Rose naiki.
Helaan napas begitu berat, terdengar kompak dari mulut dan hidung semuanya. Bahkan Bervan sendiri pun, nampak tertunduk lesu. Padahal ia sudah sangat semangat, untuk menjaga bibi kesayangannya!
Dialihkan Baz, pandangannya ke samping. Pria itu berpikir sebentar. Kemudian, ia memulai langkahnya.
Puk~!
Ditepuk pelan, bahu Anggie, ketika mereka berpapasan. Menyemangati wajah yang nampak lesu. Baz memberikan senyum teduh pada wanita seksi itu, sembari berlalu.
Sementara Relly, lantas menyambut Anggie yang datang ke arahnya. Ia merangkul, pemilik wajah tidak bersemangat itu.
Mendapati sebuah sentuhan hangat, lantas Anggie menoleh. Dilihatnya, sebuah senyuman, yang entah sejak kapan, sudah mampu membuat hatinya merasa lebih tenang.
Ia pun membalas senyuman itu, dengan bibir yang menipis. Karena untuk tersenyum, rasanya Anggie tak berdaya.
Jujur saja, mereka merasa asing dengan sikap Rose, yang berkembang akhir-akhir ini. Seperti, tidak ada lagi, mentari yang menyinari, sehingga bumi makin jelas menampakkan warna-warni keindahannya.
Baz sampai di hadapan sang adik. Ia mengusap dengan lembut, dari ujung kepala sampai ke belakang punggungnya. Diberi tambahan energi positif, agar adiknya itu, tidak kembali muram.
Ketika Bella menatapnya, Baz pun mengalihkan pandangan pada Victor, adik iparnya. Pria itu, menatapnya dengan keyakinan penuh.
“Biarkan Rose dengan keputusannya. Dan, biarkan aku yang menjaganya,” ucapnya pada pasangan suami istri itu, memandang mereka secara bergantian.
Sungguh pun, jika saja yang dicintai Rose adalah orang ini, pasti Victor tetap akan merestuinya juga. Ia pun tahu, betapa bertanggung jawabnya kakak iparnya itu. Dan betapa Baz, sangat mencintai adiknya. Meski, Rose tidak membalasnya sama sekali.
“Kakak-!” seru Bella yang tak percaya. “Tapi bagaimana dengan pekerjaan Kakak? Bukannya, Kakak sudah harus kembali akhir pekan ini?!” Ia pun bertanya dengan bingung.
Benar! Masa cuti dan liburan Baz sudah berakhir. Pria itu sudah harus kembali ke negaranya, untuk mengurus perusahaan kembali. Pun dengan kelompok mafia yang ia ketuai.
Banyak hal yang mesti ia urus karena terlalu lama ditinggalkan. Akan tetapi… nuraninya telah memutuskan-.
“Yah… kalau sudah begini, mau bagaimana?!” Dengan gaya santai, Baz mengedikkan kedua bahu. Membuat suasana menjadi lebih ringan, tidak terlalu membuat semua orang tertekan.
Mereka yang diajak bicara pun mengernyitkan alis. Apa maksudnya?
“Aku sudah memutuskan… akan tinggal di sini dan menjaga Rose,” ucapnya seraya melebarkan senyum.
“Apa maksudmu?”
“Lalu, bagaimana dengan pekerjaan Kakak?”
Victor dan Bella dibuat bertanya, secara bersamaan. Tidak hanya pasangan suami istri itu yang terkejut, Relly dan Anggie pun sama. Mereka tak menyangka, dengan keputusan yang pria itu buat.
“Aku masih punya, orang-orang kepercayaan, untuk mengurus hal-hal di sana. Mungkin, aku akan mengundurkan diri dari jabatanku, agar terasa adil bagi yang lainnya.”
“Tapi, hal itu tidak terlalu penting, selama aku masih pemilik dan pemegang saham utama di sana.”
“Tapi, Kak-“ Bella hendak menyela, namun Baz belum selesai dengan penjelasannya.
“Untuk urusan yang lain, begitu juga aku akan memutuskan. Semuanya masih bisa terkendali, meski tidak ada aku di sana.”
“Tapi di sini…,” Baz memandang ke arah adiknya lalu pada adik iparnya. “Aku tidak bisa membiarkan wanita yang ku cintai berjuang seorang diri.”
“Kak!” Ada nada memohon pada panggilan Bella.
Ia sangat tahu bahwa kakaknya itu memendam rasa pada saudara iparnya. Namun, dalam keadaan seperti ini, bahkan ada janin pria lain di dalam diri wanita yang dicintainya, apa itu sepadan dengan semua pengorbanan yang akan diberikan.
Tidak ada yang tahu, Rose akan membuka hatinya atau tidak. Atau bahkan, mungkin Rose akan membekukannya, mematikan hatinya untuk orang lain.
Walau, sekeras apa pun kakaknya berjuang. Bella, yang sebagai perempuan juga pun, tidak yakin, jika Rose akan tersentuh hatinya, oleh ketulusan yang kakaknya berikan.
Bukan karena ia bermaksud tidak baik pada Rose. Akan tetapi, ini kakaknya sendiri, kakak kandung yang sudah Bella anggap seperti ayahnya.
Wajar bagi Bella, jika dia begitu memikirkan nasib dan jalan yang kakaknya itu ambil.
“Lagipula, aku punya pengalaman mengurus wanita hamil.” Diusap Baz pipi adiknya yang lembut, meski alis dan bibrnya mengerut dalam. Masih menunjukkan ketidaksetujuannya. “Kali ini, aku pasti bisa melakukannya juga.”
Tentu saja mereka berdua tahu, bahkan Victor sekali pun. Jika, hal ini tentang Bella yang menjalani masa-masa sulit itu, hanya dengan kakaknya saja. Mengingat hal itu, ia pun kembali merasa tak berdaya.
Akan tetapi, memikirkan hal itu, ia pun ingin sama seperti Baz dulu. Ingin berguna dan bermanfaat bagi adiknya. Yang setiap kali menjalani masa-masa sulit, selalu dilalui seorang diri. Tanpa kehadiran dia yang merupakan kakaknya.
Victor makin merasa tak berguna. Makin tertunduk pula kepalanya, dengan semua rasa penyesalan ini.
“Apa yang kau pikirkan?!” Ia pun bangkit dari lamunannya. Karena panggilan ini. Entah sejak kapan, kakak iparnya itu, sudah ada di hadapannya.
“Kau punya tugas lain. Jaga adikku dan juga keponakanku! Rawat dan habiskan waktu bersama mereka, sebagai penebusan dosa dari waktu-waktu yang tidak kalian lalui bersama.” Dan Victor benar-benar diingatkan oleh hal ini. Ia pun kembali menyadari, bahwa dirinya di ambang kebingungan.
Puk~!
“Jangan khawatir! Aku pasti akan menjaga adikmu, dengan baik. Aku pun akan mengabari perkembangan calon keponakanmu, secara berkala,” sambungnya setelah menepuk Victor.
Hal itu ia lakukan, seolah, sedang mengusir beban apapun yang tengah dipanggul sang adik ipar.
Heeehhh…. Perlu menarik napas dalam, sebelum Victor memutuskan. “Baiklah! Kalau begitu, aku percayakan adikku padamu.”
Puk~!
Ia juga membalas tepukan bahu sang kakak ipar. Memberikan sebagian beban hatinya, padanya.
“Tolong jaga Rose dan calon bayinya! Sering-seringlah mengabari kami!” Akhirnya Victor memutuskan, seraya mengangguk menghilangkan sebagian beban.
“Tenang saja! Serahkan itu padaku!” balas angguk Baz.
Walau, rasa khawatirnya tak bisa usai begitu saja. Namun, hati Bella menghangat melihat hal ini. Beruntungnya dia, di kelilingi oleh dua orang pria, yang begitu menyayangi adik-adiknya.
Bella lantas menarik pandangan ke arah Rose berada.
Meskipun begitu, ia tetap berharap, suatu saat, wanita itu, akan mau membuka hatinya, untuk kakaknya. Jikalau, kekasihnya, memang benar-benar tidak kembali.
Bersambung…
Setelah ini, alurnya maju cepat ya, langsung ke masa-masa akhir kehamilan Rose.