Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
4 Bulan Kemudian



4 bulan kemudian,


Waktu dirasa cepat berlalu ketika sudahh tiba di penghujung masanya. Namun, akan terasa lama jikalau baru saja dimulai masa-masanya.


Inilah yang dirasakan seorang wanita berambut cokelat keemasan dengan mata abu. Rose Benneth yang telah mengubah namanya menjadi Rose Callary, meskipun si pemilik nama belakangnya itu belum dinikahinya.


“Hikk…, hiks…!” Terdengar suara seseorang sedang tersedu.


“Kau kenapa Anggie?” tanya si empunya rambut pirang. Rose yang kepalanya memakai sebuah mahkota kecil nan cantik.


“Kau cantik sekali, sampai aku sedih~!” ungkap Anggie. Masih tersedu dan sesekali mengusap air mata yang jatuh di pelupuk mata.


“Maksudmu, aku menyedihkan? Begitu?” tuntut Rose tidak terima.


Dia yang penutup kepalanya masih disingkap ke belakang, nampak cemberut atas pernyataan sahabatnya itu.


Gaun putih indahnya bahkan ia pukul dengan buket bunga mawar di tangan.


Benar!


Ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh semua orang. Hari dimana Rose mengenakan pakaian indah, putih, suci seperti yang dulu dikenakan oleh Bella. Kakak iparnya.


Hari ini adalah hari pernikahan Rose dan Benny Callary. Pasangan kekasih yang sudah lama terpisah, tetapi dikaruniai cinta sejati.


“Bukan, bukan! Kau tahu? Di hari pernikahan, pengantin wanita dilarang cemberut!” ledek Anggie padanya. “Aku sedih karena tidak bisa mengungkapkan bagaimana cantiknya kau hari ini, tahu!” jelas wanita seksi itu.


“Aku juga sedih, karena sampai sekarang belum bisa memakai gaun indah seperti ini! Hiks!” Wanita itu pura-pura tersedu lagi.


“Memangnya…, Relly belum melamarmu?” tanya Rose heran.


Anggie langsung menggeleng dengan sedih. Bibirnya pun cemberut dan manyun ke bawah.


“Sampai saat ini?” tanya Rose lagi dengan ekspresi tidak percaya.


Anggie menggeleng lagi.


Rose makin membeliakkan mata. Bukankah hubungan mereka cukup baik selama ini. Tidak ada masalah yang berarti dalam hubungan keduanya. Apalagi masalah orang ketiga, keempat dan seterusnya.


Meski sudah tidak tinggal di markas, Rose selalu update kabar terbaru mengenai keadaan Harimau Putih. Termasuk dengan hubungan dua manusia itu. Relly dan Anggie.


“Hherm!” Si pengantin wanita menggeram seraya memukulkan buket mawarnya ke tangan yang lain. Rose nampak marah. “Awas saja kalau dia tidak serius denganmu!” erangnya sembari menatap tajam ke depan.


“Hati-hati, Rose! Buketnya bisa hancur kalau kau terlalu memakai kekuatan!”


Rose pun auto menundukkan kepala. Benar saja! Sepasang alisnya lekas terangkat naik, setelah melihat beberapa kelopak mawar berjatuhan di lantai.


Wanita itu lupa, ia bukan lagi Rose yang dulu. Dirinya yang sekarang bisa membuat hidung seseorang langsung berdarah. Hanya dengan sekali pukul saja.


“Masalahnya, semenjak Tuan Ben menghilang, lalu kau memutuskan untuk pergi dari markas, semua tugas jadi dibebankan pada kami berdua.


“Jadi, kami terlalu sibuk mengurusi banyak hal, sampai lupa memikirkan masa depan hubungan kami. Ini bukan sepenuhnya salah Relly, Rose!”


Mendengar hal itu, Rose pun langsung merasa bersalah. Setidaknya, dia ambil bagian dalam tidak jelasnya masa depan dari hubungan Relly dan juga Anggie.


Melihat Anggie sudah tidak membahas ‘orang itu’, Rose juga merasa lega. Itu berarti, Anggie sudah tidak memikirkan ‘orang itu’ lagi.


‘Orang itu’ yang dimaksud tak lain tak bukan adalah Zayn. Zayna yang sudah salah paham dan memilih menjadi pengkhianat.


Zayn yang berjasa besar di Harimau Putih, tetapi namanya kini sudah tabu untuk disebutkan oleh setiap anggotanya. Karena momok besar yang menjadi embel-embel namanya sampai tiada.


Seorang pengkhianat!


“Maaf!” ucap Rose penuh iba dan sedih.


“Anggie!” Si pengantin wanita pun merengkuh tubuh sahabatnya. “Terima kasih karena selama ini kau selalu ada di sampingku! Menjaga, merawat dan selalu mendukungku selama ini! Aku sangat menyayangimu!” Dieratkan pelukan itu oleh Rose sembari ia berucap tulus.


“Aku juga sangat menyayangimu, Rose!”


Dua wanita pun larut dalam haru dan hangatnya sebuah pelukan. Namun tiba-tiba, Anggie segera melepas pelukan erat itu. Lalu memegangi kedua bahu Rose dan melihatnya dari atas sampai bawah.


“Ada apa?” Rose kebingungan.


“Aku sedang mengecek, apakah penampilanmu masih 100% sempurna seperti tadi?”


“What?!”


“Aku lupa, aku tidak boleh memelukmu lama-lama. Karena aku mendapat perintah dari Tuan Ben, untuk menjagamu tetap cantik sempurna sampai di pelaminan, nanti!”


“Hah?” Rose benar-benar tak habis pikir pada perintah yang disebutkan oleh kekasih, sekaligus ayah dari putrinya itu.


Anggie pun berpamitan, setelah mendapat sebuah panggilan. Kebetulan, wanita seksi itu yang menghandle acara pernikahan Rose dan Ben. Jadi, bisa diwajari apabila wanita itu akan lumayan sibuk.


Kenapa tugas ini tidak diberikan kepada Bella?


Bukan karena Rose tidak percaya pada Bella. Tetapi, kakak iparnya itu sedang memiliki seorang balita yang sedang aktif-aktifnya. Yang sedang memerlukan perhatian khusus dari sang ibu.


Rose lebih tidak tega apabila ia membebani kakak iparnya itu dengan pekerjaan merepotkan ini. Lagipula, Anggie pun dibantu oleh Relly. Jadi, dia tidak sendirian dalam mengurus semua hal.


Akhirnya, calon pengantin wanita itu pun ditinggalkan sendiri, di kamar tempatnya dirias, tadi. Namun, itu bukan kamar pengantinnya.


Ben, sudah mempersiapkan secara khusus kamar pengantin bagi mereka.


Setelah ditinggalkan oleh Anggie, Rose masih berdiri di tempat semula. Namun, ia membelokkan tubuh demi mematut diri di depan cermin rias.


Menatap bayang dirinya saat ini, hari ini, sekarang. Gaun putih dengan lengan model sabrina, turun sampai sejajar ke dada. Gaun berlapis tile itu pun menjuntai sampai ke lantai.


Bibir ranum si wanita merekah kala menatapi indahnya gaun yang sedang ia kenakan. Kemudian, pandangannya jatuh pada sepasang telapak tangan yang sudah dibungkus sarung tangan putih, sembari memegangi buket bunga mawar berwarna senada dengan gaunnya.


“Indah sekali! Tapi sebenarnya, aku lebih suka mawar merah! Apa dia lupa?” gumam Rose sembari tersenyum lucu.


Tapi tidak apa-apa! Rasanya pun akan sangat kontras apabila rangkaian mawar merah berada di tengah pakaiannya yang serba putih.


Nanti, mungkin Ben sudah menyiapkan buket mawar merah tersendiri untuknya! Memikirkan hal itu, Rose pun jadi tersenyum sendiri.


“Terima kasih, Rose! Karena kau selalu kuat dan hebat, menunggunya selama ini! Terima kasih, karena kau terus mencintainya dan tak pernah berhenti!” ucap wanita cantik itu ada pantulan bayangnya sendiri di cermin.


Setitik air mata haru pun mengaliri pipi tanpa sadar. Rose tersenyum sambil menyekanya.


Jika dihitung sejak Ben menghilang, waktu yang terlewati memang sangatlah lama. Hingga akhirnya mereka bertemu kembali pun, Rose masih harus menanti lagi sampai kesehatan Ben benar-benar pulih.


Meskipun, sejak keluar dari rumah sakit, lelaki itu terus bersikukuh untuk segera menikahinya. Dan mengatakan bahwa ia sudah tidak apa-apa.


Akan tetapi, Rose dengan tegas mengatakan bahwa ia akan sabar menunggu. Akan menunggu lagi sampai Ben benar-benar pulih seluruh luka dan kesehatannya.


Rose agak menyayangkan karena mereka belum sempat kembali ke Harimau Putih dan mengundang semua anggota secara langsung. Sebab, Ben sungguh sudah tidak sabar untuk menikahinya. Dan mengatakan, mereka akan melakukan perayaan sendiri di markas, nanti.


“Hah! Dia memang si tuan seram yang tidak sabaran!” desah Rose dengan komentarnya terhadap sang calon suami.


Clek!


Pintu kamar itu tiba-tiba dibuka dari luar.


Rose yang kaget pun segera menoleh dan melihat siapa yang datang.


Bersambung…