Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Lebih pahit dari kopi



Ruangan itu kini sunyi, ruangan itu kini senyap. Ruangan pribadi yang sekarang hanya diisi oleh tekanan emosi Ben yang meningkat drastis.


Selama hidupnya, baru kali ini Ben berusaha keras bertindak lembek terhadap sebuah pengkhianatan. Ben memang belum melepaskan Zayn. Karena dia juga belum mengetahui alasan sebenarnya di balik pilihan yang ia ambil itu.


Namun bukan berarti dia akan membiarkan hal ini dan melepaskan Zayn begitu saja. Tidak! Ben tetap akan menindak orang itu, segera, setelah semuanya jelas di depan mata.


“Ben!” Lembut suara Rose, sama dengan lembut elusan tangannya di punggung pria itu.


Setiap titik di ujung jemari lentiknya, sejak tadi, Rose gunakan guna menghantarkan sensasi-sensasi menenangkan untuk Ben. Rose tidak bisa membiarkan kekasihnya itu meluapkan amarahnya saat ini juga. Ben juga perlu untuk mengendalikan emosinya.


“Ini bukan saat yang tepat, untuk kau marah, Ben! Kita masih perlu menemukan orang di belakangnya”, peringati Rose, tak melepas tangannya dari punggung Ben sama sekali.


Pria yang sejak tadi henyak dalam lamunannya sendiri pun mendadak berbalik. Ben memalingkan tubuhnya, menjadi menghadap Rose sekarang. Lalu, ditatap Ben manik mata Rose yang abu.


Rose menatap balik netra, yang memantulkan bayang dirinya di sana. Diselami Rose rasa yang tergambarkan pada manik mata itu. Sakit dan kecewa, berbaur dengan kemarahan, di sklera matanya yang memiliki sedikit semburat merah.


Grep~!


Lantas Ben memeluknya. Mata pria itu terpejam, Ben tengah mengingat bagaimana dia melepaskan Zayn tadi.


Bukannya menekan orang itu, dengan pertanyaan terkait pengkhianatan yang dia lakukan. Pada akhirnya, yang keluar dari mulut pria itu hanya sebuah kebisuan. Dia malah mengusir Zayn untuk segera pergi dari hadapannya.


Bukan tanpa usaha! Justru Ben bisa melakukan hal itu, setelah melakukan perjuangan, dan peperangan dengan dirinya sendiri.


Makanya, dia berbalik. Memilih untuk menatap ke luar jendela yang dihalangi tralis besi, di sisi dindingnya yang lain. Jika, jika dia terlalu lama melihat wajah itu, jika dia terlalu lama menatap pandangan mata yang menyembunyikan kebohongan, Ben takut tidak akan bisa menahan diri.


Tok! Tok! Tok!


“Tuan! Ini aku!”


Sudah jelas, jika itu adalah suara Relly. Mulanya Ben ingin marah karena asistennya itu selalu datang di saat yang tidak tepat.


“Aku ingin melaporkan sesuatu!”


Teriakan tidak putus asa Relly, membuat mata Ben memicing, yang tadinya terbuka lebar dan hendak memancarkan api amarah.


“Biarkan dia masuk!” pinta Rose yang masih di dekap oleh tuan seramnya.


Sebab Ben, hanya membuka matanya ketika ketukan pintu terdengar. Namun tidak melepaskan Rose sama sekali, dari dalam dekapan.


Apapun yang Rose miliki, selalu memberikan kenyamanan dan ketenangan di saat dirinya sedang gusar dan gelisah, seperti sekarang ini contohnya.


Diurai Ben pelukan mereka. Sedang mulut pria itu masih bungkam, tak mau bicara. Ben hanya berjalan menuju meja kerjanya. Kemudian diambilnya remote untuk membuka pintu ruangan itu.


“Kau ingin kopi? Atau teh?” tawar Rose yang sudah berada di pojok ruangan.


Terdapat meja sudut yang menyajikan gula, berbagai macam teh serta kopi. Juga dispenser air panas, sehingga siapa saja dapat membuat minuman, tanpa perlu pergi jauh menuju dapur, atau menunggu anak buahnya datang, yang akan membawakan dari sana.


“Aku ingin… kau!” Diangkat Ben tatapannya. Dengan wajah serius dan tidak ada senyum sama sekali di sana.


“Hh… hh… jangan bercanda!” Rose tersenyum kaku sambil mengibaskan tangannya ke depan.


Buru-buru dia membelakangi Ben lagi. Tahu arah topik pembicaraan mereka akan ke arah mana. Dan Rose tidak mau jika mereka akan benar-benar membahas hal itu.


Dari pada itu, lebih baik Rose segera membuat secangkir kopi saja untuk prianya. Mungkin kafein yang terkandung bisa sedikit membuat Ben merasa lebih rileks.


Yah! Paling tidak, hal ini sudah bisa membuat bibir pria itu sedikit tersenyum. Mengusir tegang yang sejak tadi bersarang di wajah.


“Tuan!” sapa Relly setelah pintu terbuka.


“Kau mau kopi? Atau teh?” tawar Rose pada orang yang baru masuk itu.


“Ekh…!” Relly sempat kaget. Namun tetap percaya diri untuk menyebutkan pesanannya dengan begitu bersemangat. “Kopi!”


Bibir Relly langsung tersenyum lebar. Yah, tidak masalah jika seperti ini! Yang penting dia tidak menyaksikan hal yang dapat membuat hati, serta jiwa raganya terus menderita.


Relly menyadari, jika tuan dan nonanya itu mungkin, memang tidak bisa dipisahkan.


Mungkin dirinya pun akan seperti mereka juga, jika sudah menemukan wanita yang tepat. Untuk menjadi belahan jiwanya, untuk menemani sisa hidupnya sampai akhir hayat nanti.


Ang-


Mulutnya hampir saja menyebutkan nama itu. Namun segera ia mengunyah udara, karena sudah lancang, berani memikirkan wanita yang tidak semestinya.


“Apa yang kau temukan?” tanya Ben langsung, setelah Relly sampai di hadapannya.


Ben juga ingat, tadi Relly sudah menyampaikan jika dia mendapatkan informasi mengenai orang itu. Namun Ben ingin tahu, siapa orang yang Relly maksud.


Tuk! Tuk!


“Ini kopi kalian!” Diletakkan Rose dua buah cangkir dengan minuman hitam pekat, di atas meja kaca pada set sofa di ruangan itu. Samar, nampak asap putih mengepul dari uap panas yang dihasilkan.


Ben mengangkat tubuhnya, beranjak lalu mulai berjalan ke arah kekasihnya itu berada. Seperti tahu, bahwa itu adalah isyarat jika Rose menginginkannya untuk pindah ke sana.


Dengan senang hati, Relly mengekori. Rasanya memang lebih santai duduk di sofa. Ketimbang dia mesti berdiri lama seperti patung.


Bahkan sebelum ditawari, dengan percaya diri, Relly sudah lebih dulu mencicipi kopi yang Rose buatkan. Ditempelkan ujung cangkir yang pipih ke bibirnya. Relly menyeruput dengan hati-hati. Takut bibirnya terbakar


karena kepanasan.


Slurp~!


“Aakhh…!” Lidahnya langsung terjulur dengan ekspresi jelak di wajah.


“Kenapa? Tidak enak?” tanya Rose yang masih berdiri. Bibirnya melengkungkan seringai.


“Hehe… enak!” Mana berani dia mengatakan hal buruk mengenai nonanya. Sedangkan Tuan Ben sudah memelototinya di seberang. “Hanya... agak pahit!”


“Itulah akibatnya jika serakah!” Rose langsung mendudukkan diri. Lalu tangannya yang sedari tadi bersembunyi di belakang, mengeluarkan sesuatu.


Bahkan kekasihnya saja belum meminum kopi yang ia buatkan. Tapi Relly sudah berani mendahuluinya!


Meski ia tidak berniat mengerjai orang itu, sebenarnya. Hem… rasakan!


Tuk~!


“Aku memang belum menambahkan gula pada kopi kalian,” seru Rose sambil meletakkan toples gula di atas meja. “Kalian atur gulanya sendiri, sesuai selera!”


“Dan aku yakin, masih lebih pahit jalan hidupmu, daripada pahit kopi itu!”  tambahnya menyindir, tepat sasaran.


“Nona!” protes Relly. Meskipun itu benar adanya. Tapi… tidak perlu dipertegas seperti itu, kan?! Cukup dia saja yang tahu jika hidupnya lebih pahit daripada secangkir kopi.


“Katakan!” potong Ben. Pria bertopi koboi itu menyendokkan gula ke cangkir kopinya. Tidak mau mendengarkan celotehan tidak berguna lagi!


“Ini mengenai Zayn!”


Bersambung…