
Setelah satu jam lebih perjalanan, jalan raya yang ramai juga sudah terlewatkan. Pemandangan pinggir kota mulai lengang, berganti barisan pepohonan rindang di kanan jalan. Kembali, mobil sport putih itu memasuki areal perbukitan lagi. Yang tedapat sebuah pantai indah di baliknya.
Pantai dengan pasir putih, yang tenang dan damai. Karena tak banyak orang yang akan berwisata ke sana. Tempatnya cukup private, untuk mereka yang benar-benar ingin menikmati privasi.
Badan kiri jalan merupakan sebuah jurang terjal berdinding batu karang. Sementara dari sana, mata siapa saja, sudah dapat menyaksikan, eloknya lautan biru.
Sepoi angin pantai terasa pada ujung jari Rose yang keluar dari jendela. Ben tersenyum melihat hal itu. Ia pun menekan sebauh tombol yang terdapat di dekat stir. Lantas, kap mobil pun terbuka. Perlahan.
“Waahh!!” Mulut Rose langsung terbuka lebar. Terperangah dan terpukau. Akan kecanggihan yang belum ia temui sebelumnya.
Anggap saja ia norak! Tidak apa-apa! Memang itu kenyataannya, kan!
Meskipun kakaknya kaya, tapi Victor memang tidak memiliki jenis kendaraan roda empat yang seperti ini. Kakaknya itu lebih cenderung menyukai mobil-mobil mewah, khas keluarga.
Tidak dengan mobil berkapasitan dua orang, seperti ini! Maklumi saja, mungkin kakaknya itu memang sudah mengidam-idamkan sebuah keluarga sejak lama.
Sedangkan dulu, ketika ia masih berada di negaranya, yang ayahnya miliki hanyalah sebuah mobil sedan biasa. Harganya tidak terlalu mahal. Jadi tidak pula bisa dikatakan sebuah mobil mewah.
Itu pun Rose hanya dapat menaikinya pada momen-momen tertentu. Seperti ketika keluarga mereka diundang dalam sebuah acara besar. Selebihnya, Rose tidak pernah diizinkan oleh ibu tirinya itu, untuk berada di dalam satu mobil yang sama.
Ironisnya, Rose bahkan jarang sekali diizinkan untuk keluar rumah. Heh!
Memang, dia adalah sosok upik abu, pada masanya. Tapi tidak sekarang! Hal seperti itu tidak akan terulang lagi! Dia sendiri pun tidak akan membiarkannya.
Bahkan jika perlu, ibu dan saudara tirinya itu, yang mesti merasakan hal serupa. Seperti apa yang dia alami dulu.
Untuk hal itu, nanti, dia akan membuat perhitungan kepada mereka berdua. Ketika ada waktu senggang. Sebab, untuk saat ini dan beberapa waktu ke depan. Rose sedang sangat sibuk, untuk mempersiapkan dirinya, supaya bisa menjadi lebih kuat.
“Ben!” serunya seraya menoleh. Dengan antusias. “Kenapa dari dulu kau tidak bilang, mobilmu bisa melakukan hal seperti ini?!” Masih dalam keadaan terpana. Ia protes, tapi bahkan matanya masih menatapi kap mobil yang belum benar-benar turun, di bagian belakang badan mobil.
“Kau tidak bertanya!” jawab pria itu acuh. Namun tetap menyembunyikan senyumnya.
Jika tahu, hal semacam ini akan dapat membuat senyum di bibir Rose seindah itu, Ben pasti sudah akan melakukannya sejak lama. Bahkan di saat lamaran itu.
Mungkin saja, kna, saat itu lamarannya akan diterima? Yah… siapa tahu saja, kan! Pria itu mengdeikkan kedua bahunya, di kala memikirkan hal ini.
Jadi, tidak perlu juga ia sampai meminta pendapat dan saran dari Relly. Yang akhirnya, membuat rencana lamarannya gagal total. Ia malah ditolak di saat pertama.
Yah,,, meskipun tidak sepenuhnya, sih!
Mendengar hal itu, Rose langsung berdecak. “Ck! Bagaimana aku bisa tahu!”
Kemudian mengacuhkan pria itu. Rose kini malah menikmati sepoi angin laut berpadu dengan segarnya hawa dari pepohonan yang rindang, dengan menghidu aromanya dalam-dalam.
“Buka sabuk pengamanmu!” Ben memberitahu dengan sekali toleh. Ia menunjuk dengan dagunya, pada benda pipih yang melintang dari bahu sampai ke pinggang kekasihnya.
“Untuk?” Sambil bertanya, wanita itu pun membuka sabuk pengamannya, sesuai perintah.
Meskipun suka membangkang, pada dasarnya, Rose adalah sosok yang penurut! Sungguh! Tanyakan saja pada orangnya, jika tidak percaya! Xixi…
“Berdiri, lalu rentangkan kedua tanganmu!” lanjut Ben memberi arahan.
“Apa tidak berbahaya?” Rose mengernyitkan alisnya. Aneh sekali, pikirnya.
Biasanya, tuan seramnya itu akan melarangnya untuk melakukan hal yang berbahaya. Sedangkan sekarang, dia malah menyuruhnya melakukan hal, yang dirasa Rose, cukup berbahaya. Menurutnya.
Atau mungkin, karena dia tidak pernah melakukan hal itu?
Tapi… jalan yang sedang mereka lintasi, saat ini, memang cukup lancar, namun kondisinya berbelok-belok. Apa tidak apa-apa jika ia melakukan apa yang Ben pinta?
“Tidak apa-apa! Aku akan menjagamu,” ucap Ben seraya mengedip pelan. Juga anggukan ringan, yang cukup meyakinkan.
Baiklah, ia akan mencobanya, kalau begitu!
Perlahan, Rose meluruskan lututnya bersama dengan bokong yang ia jauhkan dari tempat duduk. Kedua tangan yang semula berpegangan di kanan kiri kakinya pun ia lepaskan. Sambil mendorong tubuhnya agar berdiri tegak sempurna.
Mulanya, Ben memegangi tangan kanan Rose. Untuk membuatnya, menjaga keseimbangan. Lantas, setelah yang kiri berhasil merentang, Ben lalu melepaskan tangan kanan Rose. Sambil begitu, sesekali ia menoleh ke depan. Tetap konsentrasi pada jalanan di depannya.
“Wahhh!” Lengkung bibir yang naik, berserta tonjolan pipi yang sekarang sudah berada di atas.
Kencang, tapi rasanya sangat menyenangkan. Kepalanya bahkan sampai mendongak ke atas, saking ia rakus menghidu aroma segarnya alam terbuka ini.
“Jangan membuka mulut terlalu lebar!” cetus Ben tiba-tiba.
Rose pun auto membuka matanya, lalu menoleh ke arah lelaki itu. “Kenapa?” Sambil menukikkan alisnya.
“Nanti mulutmu kemasukan lalat!” ujar Ben sembari tergugu. Terkekeh kecil dengan gelinya.
Brug~!
“Ben!” protes wanita itu seraya menjatuhkan dirinya kembali ke tempat duduk. Lantas ia memangku tangannya di depan, dengan wajah cemberut.
Sungguh pun, lelakinya ini pandai sekali merusak suasana!
Ketenangan, kedamaian yang jarang-jarang bisa ia dapatkan, seperti ini. Benar-benar diusik oleh kejahilan kekasihnya itu. Moodnya pun langsung berubah drastis. Ia sudah tidak ingin melakukannya lagi.
Ng… ng… ng~!
Mendadak, suara lalat terdengar mengelilingi mereka.
Hk~!
Kepala Rose berputar, mencari-cari sumber kebisingan yang tiba-tiba datang. Mengganggu, mengusik indera pendengarannya.
“Dari mana asalnya lalat itu?!” gerutunya sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah. Agar, hewan menjijikkan itu tidak hinggap padanya.
Rose bingung, bukannya mereka sedang dalam keadaan melaju kencang. Lalu, kenapa bisa ada lalat di sekeliling mereka?!
Berarti peringatan Ben agar ia menutup mulutnya, adalah hal serius. Rose jadi merasa bersalah. Karena tadi, ia berpikir jika kekasihnya itu sedang bercanda. Dan hanya sedang meledeknya saja. Huh!
Makin lebar lengkung di bibir pria itu. Lebih puas lagi ia, dengan kedatangan tamu tak diundang ini.
Meskipun, sebenarnya ia juga setuju dengan pertanyaan Rose barusan. Entah dari mana lalat itu berasal. Yang jelas, ia makin gemas saja, melihat wajah kesal kekasihnya itu.
“Kau tidak mau berdiri lagi?” Ben mencoba bertanya. Coba saja, siapa tahu kekasihnya itu masih kesal. Hehe….
“Tidak!” jawab Rose cepat dan tanpa ragu sedikit pun. Ia bahkan mendengus dan membuang pandangannya ke samping.
Uh~! Andai saja, ia bisa menepikan mobilnya terlebih dahulu, pasti ia sudah akan melahap bibir merah muda yang sedang manyun itu. Ben pasti akan menghabisinya sampai ia berwarna merah, bengkak dan berantakan.
Sayangnya, tidak ada badan jalan sama sekali, untuk membuat mobilnya berhenti. Barang lima menit saja! Ya, lima menit saja! Rasanya cukup untuknya!
Kemudian Rose mengacuhkan pria di sampingnya. Tidak memasang sabuk pengamannya kembali, namun ia melanjutkan menikmati segar dan sepoi angin, dengan menjulurkan sebelah tangannya ke luar.
Pikirnya, lebih baik ia menikmati vista indah ciptaan Tuhan ini. Ketimbang menatapi lelaki mengesalkan, yang sebenarnya, ciptaan Tuhan juga. Dan… indah juga, sih.
Apalagi… kalau… sedang tidak… ah, sudahlah! Kenapa otaknya malah terisi oleh pikiran kotor seperti itu, sih!
Rose menggeleng cepat, untuk mengusir sampah-sampah yang tak seharusnya ia pikirkan saat ini. Mungkin, nanti malam-
Setelah setengah jam memutari bukit nan rindang itu, akhirnya, mereka sampai juga di tepian pantai. Jalanan yang di sebelah kirinya terdapat bibir pantai, yang membentang panjang.
“Dimana tempat kita bertemu?” tanya Rose saat di rasanya mereka akan sampai sebentar lagi. Pasalnya, Ben sudah mengurangi laju kendaraannya.
“Di sana!” tunjuk Ben dengan dagu, sebuah rumah besar.
Mungkin, satu-satunya rumah yang terdapat di lepas pinggir pantai tersebut. Pun terdapat di paling ujung lepas pantai itu. Kemudian, sisi lain dinding rumah besar itu, berbatasan dengan pepohonan, yang merupakan bagian dari bukit itu.
‘Itukah villa yang Zayn maksud?’ tanya Rose dalam hati.
Jika dilihat dari letaknya, memang hanya inilah, tempat yang sesuai dengan deskripsi ‘villa pinggir pantai’, seperti apa yang Zayn katakan, melalui pesannya.
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Rose menyelidik melalui lirikannya. Sementara pria yang ditanya, mulai menimbulkan berbagai mikro ekspresi di wajahnya.
“Ini… adalah tempat terakhir Johan sebagai anggota Harimau Putih. Karena, setelah keluar dari sini, saat itu, dia bukan lagi anggota kami. Dia hanyalah warga sipil biasa,” jelas Ben sambil membelokkan mobilnya, ke halaman, yang pagarnya sudah dibukakan dari dalam.
Bersambung…