
Setelah diberhentikannya pencarian terhadap Ben, kala itu, beberapa bulan pun berlalu. Sementara perut Rose yang semakin membesar, kabar tentang Ben tak jua datang.
Meskipun begitu, Rose tetap bertahan pada pendiriannya. Jika, tidak ada jasad, maka wanita itu akan tetap menganggap kekasihnya menghilang. Dan, dia akan menunggunya kembali. Walau, sampai berapa lamanya sekali pun.
Mengingat, betapa mulus dan rapi rencana yang berjalan untuk menjebak mereka, Rose yakin, jika, hal ini pasti berkaitan dengan wanita yang bernama Della, itu. Ini bukan hanya ulah Zayn semata.
Della Moran August, semenjak kejadian itu, Rose gencar mencari informasi tentangnya. Pun, pada saat kejadian nahas yang menimpa Ben dan dirinya, wanita itu ternyata tidak bergerak kemana pun, di negaranya.
Namun, hal ini tidak mengurangi kecurigaan Rose sama sekali, terhadapnya. Wanita itu adalah, sosok paling licik dan licin, yang pernah Rose ketahui. Sangat sulit, untuk mengetahui tindak tanduknya yang selalu terselubung.
Akan tetapi, Rose memiliki keyakinan, bahwa hilangnya Ben, berkaitan dengannya. Hanya saja, rencana apa dan di mana keberadaan Ben saat ini, Rose masih belum mengetahuinya.
Dan untuk Zayn, orang itu benar-benar menghilang seperti ditelan bumi. Semenjak hari itu. Tidak ada kabar atau petunjuk apa pun mengenai keberadaannya.
Apakah dia masih hidup atau tidak?! Sejujurnya, semua orang bertanya-tanya.
Antara ingin memberikan pengampunan, juga hukuman bagi semua hal yang pernah dia lakukan sebelumnya. Pengkhianatan yang mesti ia tebus ganjarannya.
Bahkan, dengan taruhan nyawa pemimpin mereka. Tidak ada yang tidak mengharapkan kehadiran orang itu kembali.
Mereka masih ingin melihat betapa Tuhan memberikan hukuman kepadanya.
6 bulan kemudian, di markas Harimau Putih,
Ruang pribadi yang dulu ditempati oleh pemimpin mereka, masih tertata rapi seperti sedia kala. Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang bergeser barang satu senti pun, semua yang ada di sana. Seperti memang masih ada seseorang yang menghuninya.
Benar memang, karena Rose masih menempati kamarnya, yang terakhir kali ditempati oleh ia dan kekasihnya yang menghilang itu. Sedang untuk membahas urusan kelompok, mereka masih menggunakan ruangan Ben sebagai ruang pertemuan, di antara para petinggi.
Semua kebiasaan itu, tidak ada yang berubah. Hanya saja, jika dulu semua keputusan ada di tangan Ben. Maka, pada masa ini, mereka akan benar-benar bermusyawarah untuk memutuskan hasil.
Karena, sampai saat ini, tidak ada yang berniat menggantikan posisi Ben. Tidak ada yang berani maju untuk menjadi pemimpin. Bahkan untuk sekadar menantang ego atau pun gengsi mereka. Tidak ada.
Lagipula, ada Baz yang selalu membantu. Yang notabene mempunyai pengalaman sebagai seorang pemimpin. Juga Relly yang selalu cerdas seperti biasanya. Dan, Rose yang biasa mengeluarkan pendapat maupun ide-ide brilian. Serta Anggie yang melengkapi mereka semua.
Rasa-rasanya, semua anggota merasa cukup dengan hal itu. Mereka tidak menginginkan hal lain. Atau pun lebih.
Kecuali… perubahan sikap Nona Rose mereka. Yang diharapkan, bisa menjadi pelangi lagi, bagi markas itu. Meski, saat ini, dia tetaplah pembeda di antara yang lain. Walau, dengan sikapnya yang sekarang cenderung dingin dan tidak acuh.
“Rose! Kau ingat, kan? Hari ini adalah jadwal cek kandunganmu?” tanya Baz, ketika mereka baru saja menyelesaikan sebuah pembicaraan.
Relly dan yang lainnya sudah pergi meninggalkan ruangan pribadi Ben, yang selalu mereka isi. Kini, tinggal hanya mereka berdua saja.
Baz yang selalu menemani Rose, di mana pun dan kapan pun. Sedang Rose, yang saat ini tengah membereskan sisa-sisa pertemuan mereka tadi.
Cangkir-cangkir di atas meja, tengah ia benahi untuk dipindahkan ke pantry mini, di salah satu sudut ruangan itu.
“Ehm, ya! Aku ingat!” jawab Rose. Menoleh sedikit, kemudian melanjutkan kegiatannya lagi.
“Aku sudah menghubunginya. Dokter Tania bilang, akan datang setelah jam makan siang,” sambut Baz atas jawaban singkat itu. Dan walaupun begitu, ia tetap terlihat antusias. Layaknya, seorang ayah yang menanti jadwal bulanan, yang selalu ditunggu-tunggu.
Seperti, dialah ayah dari bayi yang tengah di kandung Rose saat ini.
“Ekh…!” Mendadak Rose merintih. Dengan suara kecil, sengaja agar Baz tak mendengarnya. Namun tetap saja, indera pendengaran lelaki itu, dapat menangkap suara mikro sekali pun.
Rose merasakan perut bagian bawahnya terasa nyeri dan sedikit berdenyut. Perut yang sudah membesar itu, ia pegangi. Sambil satu tangannya yang lain, mencengkeram meja, menahan sakit.
Drap~! Drap~! Drap~!
Bergegaslah pria itu menuju ke arah Rose, di sudut ruangan. Wajah pun berubah panik.
“Ada apa? Perutmu sakit?” tanyanya seraya meraba bagian perut yang Rose pegangi.
Rose hanya menatapnya. Dengan ringisan di bibir, menurut Baz, hal itu adalah sebuah jawaban.
“Kalau begitu istirahatlah!” Ia pun membimbing Rose beranjak ke arah sofa lagi. Baz merangkul, memapahnya kala Rose terus memegangi bagian perutnya yang masih menyisakan nyeri.
“Mungkin,karena kau terlalu lelah akhir-akhir ini! Lalu perutmu menjadi tegang, sehingga menimbulkan rasa sakit dan nyeri. Kadang juga terasa perih, seperti kulit perutmu ditarik-tarik.”
Rose menoleh, ketika Baz mendudukkan dirinya di sofa. Menatap dengan tatapan bertanya, seolah tidak yakin dengan penjelasan yang Baz berikan.
Saat ini, Rose memang tidak banyak bicara. Wanita itu pelit sekali dengan suara merdunya. Yang terkadang bisa juga melengking, ketika mengomeli Relly ataupun… Ben. Tapi itu dulu, dahulu kala, sekarang tidak lagi. Mungkin, entah kapan suara merdu itu akan terdengar riang lagi.
Baz membenarkan posisi Rose agar meluruskan kakinya, di sofa panjang. Lalu menyandarkan punggung wanita itu pada sandaran tangan, yang cukup tinggi untuk menyanggah sampai setengah punggungnya.
Lantas, ia pun membiarkan wanita itu setengah merebahkan badan. Membuat Rose merasa senyaman mungkin. Lalu… tangannya dengan lihai dan lincah memberikan pijatan, sambil dirinya melutut di atas lantai.
“Kau masih tidak percaya dengan ucapanku?” tanya Baz meski direspon dengan tatapan saja.
“Hey! Aku ini, adalah lelaki berpengalaman!” katanya dengan percaya diri. Lalu, ia pun melanjutkan kesombongannya, yang sudah ia sebutkan berulang kali. “Pengalaman merawat Bella saat itu, sudah aku rekam baik-baik. Dan, sedang aku praktikan sekarang. Jadi jangan khawatir! Kau akan selalu aman bersamaku!”
Mendengar hal itu, Rose malah memiringkan tubuhnya, menjadi sedikit membelakangi Baz. Ada sesuatu yang sedang ia tahan, agar tak nampak atau pun terdengar oleh lelaki, yang selalu bersamanya ini.
“Hey! Kenapa kau malah berpaling dariku?! Aku, kan, sedang-“ Baz tidak jadi meneruskan kalimat protesnya, lantaran melihat sebulir kristal bening, menetes dari ujung pelupuk wanita hamil itu.
“Rose!” serunya pelan dan lembut. Seraya menyentuh bahu dan berusaha menghadapkan tubuh Rose ke arahnya lagi.
“Tidak-!” Namun Rose menolak sentuhan juga ajakan Baz sama sekali. Ia mengedikkan bahunya itu, agar tangan Baz tidak sampai bertengger di sana.”Tidak apa-apa! Aku tidak apa-apa!”
Tangan yang masih menggantung di udara itu pun, Baz tarik kembali dengan kepasrahan. Perasaan wanita hamil itu memang fluktuatif dan sulit ditebak. Baz dapat mewajari hal ini, meskipun ia tidak tahu apa penyebab Rose sampai menangis.
“Biarkan aku sendiri dulu! Sebentar saja…” Rose langsung melanjutkan, saat Baz hendak membuka mulutnya untuk menyerukan sebuah protes. “…sebentar, biarkan aku sendiri! Aku berjanji, akan baik-baik saja!”
Wanita itu bahkan menoleh untuk memperlihatkan keseriusan ucapannya. Meski, Baz harus melihat linangan air mata di pipi. Namun, ia memang yakin akan janjinya sendiri.
“Hh… baiklah!” Helaan napas berat terdengar, kala Baz beranjak berdiri. Kemudian ia menipiskan bibir. “Kalau begitu, nanti, aku akan ke sini lagi, bersama dengan dokter Tania, untuk memeriksakan kandunganmu. Makan siang, aku akan meminta seseorang untuk mengantarkannya. Kau jangan sampai melewatkan makan siangmu.”
Angguk Rose saat tangan Baz mengusap lembut, puncak kepalanya. Hal itu sungguh terasa nyaman dan menentramkan. Tapi tidak cukup untuk membuat hati Rose tenang dari segala kegundahan. Yang, hanya dia seorang yang tahu.
Rose menoleh sekali lagi. Meyakinkan diri sendiri, bahwa hanya tinggal dirinya di ruangan itu seorang diri.
Hiks~! Hiks~!
Air mata yang sejak tadi ia tahan pun tumpah ruah, sejadi-jadinya. Menganak sungai di wajah, bersama isak tangis yang tidak terlalu kencang terdengar, memenuhi ruangan yang kini senyap.
Jika, mereka sedang berkumpul, rasa kehilangan itu tidak begitu terasa. Pasti terasa, karena biasanya, selalu ada sosok Ben, yang memutuskan segala hal.
Namun, apabila sedang seorang diri seperti ini, perasaan resah karena kehilangan sosok yang dicinta, terasa semakin menggila. Memberontak dari kekangan yang sudah Rose buat, sekuat mungkin.
Agar, di setiap waktu, dirinya bisa selalu kuat dan tegar dalam menjalani hari. Di mana dia akan setia menanti.
Kalimat yang Baz ucapkan tadi, sungguh menyulut gembok pagar pembatas dirinya yang lemah.
Biasanya Ben yang akan mengatakan hal itu kepadanya. Mengatakan jika dirinya, akan selalu aman, apabila mereka terus bersama.
Rose telah menegarkan diri. Tapi… ada kala di mana hatinya sedang lemah dan tidak bisa menahan diri. Dari serangan nostalgia, yang menyayat hati.
Wanita itu lantas melihat ke arah perutnya, yang sekarang membuncit. Sambil menyelesaikan isak tangis berisi sembilu hati.
Sebuah tendangan ia rasa di perutnya, di sebelah kiri.
“Tidak apa-apa, Sayang! Mama baik-baik saja.” Seraya mengusap bagian perutnya, yang tadi mendapatkan sebuah gerakan singkat, tapi bermakna. “Mama hanya sedang merindukan Papamu. Kau pasti merindukannya juga, kan?!”
Satu gerakan lagi, ia rasa. Dan kini, sepertinya, sebuah sikut mungil yang menonjol, ia lihat.
Bersama tangisnya, yang belum benar-benar berhenti, Rose tertawa. Senangnya bukan main!
Ia seperti mendapatkan respon atas pertanyaannya. Seolah, bayinya di dalam sana, turut merindukan Papanya juga.
Sikut yang masih menonjol itu, Rose belai dengan penuh kasih sayang. Sampai tonjolan itu memudar dan kembali tenang di dalam sana.
“Benar, kan?! Kau juga merindukannya?!” Rose tertawa lagi sambil terus mengusap bagian itu.
Bahagianya seorang ibu, bisa merasakan perkembangan seperti ini!
Ditatap Rose, topi kebangsaan Ben, yang kini bertahta, di atas meja kerjanya. Selalu di sana, dan tak pernah pindah. Mungkin, jika Rose sedang membersihkannya, barulah, topi itu akan berpindah ke tangannya, untuk dibersihkan. Selain itu, tidak ada yang berubah di sana.
“Kembalilah, Ben! Kami sangat merindukanmu!” lirih Rose meminta, sambil memandangi topi koboi milik sang kekasih.
***
Deg~! Deg~!
Adalah suara detak jantung nyawa, yang sedang berkembang di dalam perut Rose, saat ini. Proses pemeriksaan rutin dilakukan di kamar Rose, oleh dokter Tania. Dokter kandungan yang direkomendasikan oleh dokter pribadi yang bertugas di Harimau Putih.
Seperti biasa, selalu ada perjanjian hitam di atas putih. Bahwa dokter Tania, dilarang menyampaikan apa pun terkait apa yang terjadi di dalam markas itu.
Pun, termasuk dengan kehamilan Rose, yang ia pantau sampai kelahirannya, nanti. Mungkin, sampai anak itu lahir di dunia ini. Dokter Tania akan mengambil tanggung jawab untuk menjaga tumbuh kembang sang anak.
Setiap kali mendengar suara itu, kristal bening selalu mencair tanpa Rose sadari.
Bahagia, haru dan sedih. Menjadi satu kesatuan yang berusaha mencairkan kristal berharga, yang biasanya beku.
“Lihat! Kau menangis lagi!” seru Baz dengan protesnya.
Ya! Pria itu ada di sana. Selalu ada, di mana pun Rose berada. Apalagi, di setiap pemeriksaan berkala ini. Baz tidak pernah absen sekali pun, untuk melihat tumbuh kembang sang jabang bayi. Meski, itu bukan darah dagingnya.
Tapi… jauh di dalam lubuk hati Baz, ia sudah menganggap anak yang ada di dalam perut Rose, adalah anaknya sendiri. Ia pun sudah sangat menyayanginya, meski sang bayi belum melihatnya di dunia nyata.
Ketika, mendengar suara detak jantung sang bayi pun, Baz selalu merasakan haru, juga aliran hangat membanjiri seluruh sanubarinya.
Sekujur tubuhnya selalu merinding, setiap kali mendengar bunyi kehidupan di dalam perut Rose tersebut.
Padahal, itu bukan anaknya, bukan darah dagingnya. Tapi hatinya benar-benar tersentuh seperti itu adalah miliknya sendiri. Rasanya, mirip-mirip ketika ia mendengar detak jantung Bervan, ketika masih berada di dalam kandungan Bella.
Namun, ini agak sedikit berbeda. Mungkin, karena ia memendam cinta pada wanita yang sedang menjalani pemeriksaan, kali ini.
“Tidak!” sanggah Rose, seraya menghapus jejak air matanya.
Kenapa dia menangis? Mungkin hampir di setiap pemeriksaannya, Rose memang akan menitihkan air mata.
Sebab, begitu rindunya ia pada Ben. Dan pada momen ini, seharusnya ada pria itu di sini. Mendengar dan melihat calon jabang bayi mereka, bersama-sama.
“Lalu, air mata itu datangnya dari mana?” Baz mencoba mengajaknya bercanda. Agar luput sudah kesedihan yang sejak tadi Rose rasakan. Baz dapat menangkap hal yang tersembunyi di sana.
Mungkin, Rose sedang merindukan orang itu!
“Apa kalian tidak ingin mengetahui jenis kelaminnya?” tawar dokter Tania. Karena, sudah beberapa kali ia bertanya, Rose selalu menjawab dengan hal yang sama.
“Tidak perlu! Dokter hanya perlu memastikan, jika bayiku sehat di dalam sini,” jawab Rose seraya menduduk sambil mengusap perutnya yang sudah membesar.
“Baiklah! Tapi, dua minggu lagi, datanglah ke tempat praktikku. Kau tetap harus menjalani pemeriksaan USG untuk memastikan kandunganmu aman dan tidak bermasalah. Ini bukan tentang melihat jenis kelaminnya saja. Walaupun nantinya, kau bisa melihat jenis kelamin calon anakmu.”
“Baik, Dokter!” Baz yang menjawab dengan patuh. Sementara Rose, hanya tersenyum untuk menanggapi.
Wanita itu, hanya ingin jika, kelahiran bayinya nanti, akan menjadi surprise tersendiri, baginya, juga bagi semua orang.
Yang terpenting adalah, bayinya sehat dan aman di dalam kandungan.
Dan masih terus berharap, jika, di waktu kelahiran anaknya nanti, Ben sudah ditemukan. Jadi, atau bisa jadi, ayah dari calon anaknya ini, bisa menemaninya, di sisinya. Di masa-masa terberatnya itu. Maka, hal ini pun akan menjadi sebuah kejutan, untuk Ben juga.
Walau, Rose tahu, apabila, kemungkinan itu terasa amat kecil. Tapi hal itu, tidak membuat Rose berhenti berharap.
Bersambung…