
Mendengar suara Relly berkumandang, orang di bawah kakinya
lantas kembali memohon dan meminta. Dengan suaranya yang paling mengenaskan, berharap
supaya bisa dikasihani.
“Saya mohon, Tuan, Nona! Tolong ampuni saya! Tolong ampuni
kesalahan saya!” Kembali dengan suara bergetarnya. Sampai ia merapatkan dada
dan dagunya ke pinggiran panggung.
Orang itu… memohon dengan putus asa.
Meski ia adalah pemimpin di dalam kelompok ini, tapi Ben
tidak merasa memiliki kuasa untuk memberikan keputusan lebih lanjut untuk orang
itu.
Karena dia telah mencari masalah dengan kekasihnya, maka Ben
akan membiarkan Rose yang membuat keputusan, akan diapakan orang itu setelah
ini. Ben memberi kebebasan sepenuhnya kepada wanita itu.
Dia tidak akan mencegahnya, meskipun hukuman yang Rose
jatuhkan adalah yang terberat sekali pun. Tidak lantas, karena orang itu adalah
anak buahnya, maka Ben akan membelanya.
Orang itu bersalah. Ben pun cukup tahu, seberapa besar luka
yang telah orang itu dan yang lainnya torehkan di hati Rose. Tahu pula bagaimana
wanita itu mencoba untuk tetap tenang dan berani, di tengah suasana genting
tadi malam. Serta bagaimana berusahanya Rose untuk tetap tegar, ketika batinnya
bergulat sendiri.
Ben tahu itu! Sebab, jika wanita itu tidak bertahan, maka
saat ini, detik ini, Rose tidak akan berdiri tegak dengan anggun dan kokoh di
panggung ini, dengan begitu menawan.
Jika wanita itu tidak mampu melewati semuanya, pasti…
sekarang… tidak, tadi, ketika dia baru saja membuka mata, yang didapatinya
adalah suara tangis sendu kekasihnya itu.
Nyatanya, ketika dia bangun, Rose tidak ada di sisinya.
Malahan dia mendengar cerita lain dari para anak buahnya yang berjaga, jika
kekasihnya itu nampak keren sejak tadi malam.
Anak buahnya itu sedikit bercerita padanya, tentang
bagaimana heroik Rose ketika menyelematkan situasi yang kacau balau. Serta
seberapa tegas dan beraninya Rose saat menghadapi anak buahnya yang lain, yang
tak bosan untuk menyudutkan dirinya.
Apa lagi ketika sampai di aula ini, berbinar netra hitam
legamnya, kala menyaksikan wanitanya berdiri mantap di atas panggung, dengan
penampilan yang… berbeda. Rose makin terlihat cantik menurutnya.
Kesannya yang lebih berani, menambahkan nilai kepercayaan
diri pada diri wanita itu. Tidak ada lagi kesan wanita rumahan yang lemah
lembut, yang selama ini Ben temui.
Sungguh! Ketika pertama kali melihatnya, hal pertama yang
ingin sekali Ben lakukan, namun mesti ia tahan adalah… menanamkan bibirnya ke
bibir merah Rose yang seksi. Warna merah terangnya sungguh menggoda untuk cepat
dicoba.
Hah! Baiklah! Nanti saja ia akan melakukan, sepuas hatinya!
Beserta hukuman ganda yang belum ia berikan pada kekasihnya yang nakal itu!
“Rose! Sisanya aku serahkan padamu!”
Pria bertopi koboi itu memegang kedua bahu Rose dengan erat,
sambil mendorongnya maju. Ben ingin Rose sekalian berlatih untuk membuat
keputusan.
Bagaimana dia harus menilai dan menelusuri masalah. Serta
bagaimana Rose mesti bijak dalam mengambil sebuah keputusan.
Terlebih lagi, ini menyangkut nama dan harga dirinya
sendiri. Yang sudah diinjak habis sampai ke dasar, oleh mereka.
Ya! Tidak hanya satu orang itu yang mesti diberi pelajaran,
tapi juga, terutama orang-orang dengan mulut jahanam, yang telah melukai
hatinya.
Ben ingin tahu, dalam hal ini, Rose akan menggunakan egonya
atau tidak!
“Ben, aku-“ ringis Rose merasa ragu. Namun Ben sudah
memotongnya. Seakan tak mengizinkan wanita itu untuk berkeluh kesah.
Plak!
“Aku yakin, kau pasti bisa!”
Satu tepukan di bahu sebelah kirinya, Ben maksudkan untuk
menyemangati wanita itu. Meyakinkan Rose, bahwa dia pasti bisa melakukannya.
Kemudian, Ben mundur lagi ke belakang. Bersedekap dada
sambil memperhatikan.
Di bawah tatapan tenang Ben saja, mereka sudah nampak
gelisah tak karuan. Tentu saja, mereka yang kontra dan merasa punya dosa terhadap Rose.
Makin gelisah, karena wanita itu yang diberi kewenangan
untuk menindak lanjuti apa yang telah mereka lakukan. Makin takut karena banyak
dosa yang telah mereka tanam pada diri wanita itu.
Memfitnah, menghina, mengolok, menyudutkan. Terus dan terus,
bahkan ketika mereka tak punya satu hal pun untuk membuktikan.
Mereka takut, mereka khawatir bukan main. Takut jika Rose
akan menjatuhkan hukuman paling berat kepada mereka semua. Takutnya nyawa
mereka tidak terselamatkan, karena dosa yang telah mereka perbuat.
Heh! Sampai saat ini, mereka masih saja memikirkan diri
meminta maaf pada Rose, yang telah mereka hina.
Wanita itu, Rose, memandang ke penjuru arah sambil kesusahan
menelan saliva. Keputusan apa yang harus ia ambil, Rose benar-benar belum bisa
memikirkannya.
Dipejamkan matanya sejenak sambil menarik napas dalam-dalam,
kemudian diembuskannya melalui mulut. Dia benar-benar… harus berkata dengan
benar kali ini.
Kelopak mata beserta bulu mata yang lentik itu perlahan
memisahkan diri. Rose membuka pandangan matanya yang tegas dan berani.
“Ke sini sebentar, ada yang ingin aku tanyakan padamu!” Rose
menggerakkan dagu ke samping.
Saat dipandanginya Relly, sebagai isyarat bahwa dia sedang memanggil pria itu.
“Ada apa, Nona?” tanya Relly sembari mendekat.
“Apakah kau sudah tahu siapa yang mengiriminya pesan?” Rose
hanya menggeser pandangannya sebentar, pada orang yang masih merintih dan
meringis dengan permohonan ampunnya.
“Sampai saat ini saya belum bisa melacaknya, Nona! Nomor
yang tertera pun, adalah nomor luar negeri!” jawab Relly apa adanya.
Pria itu tidak takut dimarahi. Karena nyatanya, memang lebih
sulit untuk mengidentifikasi seseorang yang berada di luar jangkauan. Relly perlu
menghubungi beberapa koneksi untuk meminta bantuan. Dan sepertinya, memang
membutuhkan waktu lebih lama lagi.
Nomor luar negeri?
Dikerutkan Rose alisnya dalam. Memikirkan hal yang makin
rumit ia rasa. Satu nama yang terpikirkan olehnya adalah Zayn. Menurut
penilaiannya, pasti orang itu yang berada di balik semua hal ini.
Tapi ini… nomor luar negeri?
Dengan bergitu berarti bukan Zayn pelakunya? Kenapa makin lama, makin terasa seperti benang
kusut?
Apa mungkin Zayn bersekongkol dengan seseorang? Tapi dari
luar negeri! Siapa orangnya?
Rasa-rasanya tidak mungkin jika Zayn memiliki rencana sampai
sejauh dan sematang itu! Terlalu berlebihan dan tidak mungkin! Pasti ada yang
telah membantunya.
“Lalu apa motifnya melakukan semua itu?” tanya Rose lagi.
“Tentu saja karena uang, Nona! Setelah saya selidiki… orang
itu sejak awal memang sudah tidak menyukai kehadiran Nona. Lalu pesan itu
datang bersama dengan jumlah uang yang diiming-imingi.”
“Hobinya berjudi, makanya dia tidak berpikir panjang lagi
untuk langsung menerima tawaran itu.” Jelas Relly.
Sejak awal?
Sudah tidak suka dengannya?
Baiklah! Rose bisa menerima hal itu! Rose paham jika setiap
orang berhak untu menyukainya atau tidak. Rose tidak bisa memaksakan kehendak
orang lain.
“Jadi bagaimana, Nona? Hukuman apa yang pantas dia
dapatkan?” Relly bertanya lagi untuk mengingatkan. Sementara Rose, pandangannya
tengah menerawang ke arah lain.
“Hh…” Wanita itu mendengus pelan. Lelah dengan semua ini.
Rasanya, dia tidak ingin peduli lagi dengan semua hal yang menimpanya.
Rose hanya ingin menjalani hari-harinya dengan tenang.
“Nona-!” Relly menegurnya lagi. Mengingatkan,jika belum ada
satu keputusan pun yang Rose buat.
“Ck! Cerewet sekali!” gerutunya setelah berdecak dengan
kesal. Sepertinya Relly sedang dalam
mode serius, sehingga pria itu tidak menanggapi.
“Aku baru beberapa hari di sini. Aku tidak tahu sistem
hukuman yang kalian terapkan. Lakukan saja sesuai dengan peraturan yang ada.”
Pikir Rose, dia tidak ingin mengacaukan sistem dan regulasi
yang mereka punya. Dia hanya orang baru di sini, maka Rose rasa, ia tidak
mempunyai hak untuk masuk dan mengambil keputusan secara utuh.
Meski masalah ini banyak sekali merugikan dirinya. Bukan
secara materiil, namun mental dan psikisnya sempat terganggu dan terguncang
karena masalah ini.
“Hanya saja… jangan membuatnya mati! Biarkan dia hidup dan
mengabdi untuk markas ini di sepanjang hidupnya. Karena setiap kali dia
mendapatkan misi, penghasilannya mesti kau ambil 60%.”
“Anggap saja upahnya berbuat licik kemarin adalah hutangnya
kepada kalian. Jadi dia harus terus bekerja, sampai hutang-hutangnya itu lu-nas.”
Wanita itu menarik punggungnya kembali setelah selesai mengucapkan kata
terakhirnya yang bertekanan.
Dikibaskan tangan Rose di depan wajah seolah mengusir Relly
dari hadapannya. Rasanya benar-benar lelah sampai dia tidak mau memusingkan hal
ini lagi. Serahkan saja pada aturan yang berlaku di sana. Beres!
“Tidak bisa seperti itu, Nona!” protes Relly tiba-tiba.
Bersambung…