Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Keputusan Rose



Mendengar suara Relly berkumandang, orang di bawah kakinya


lantas kembali memohon dan meminta. Dengan suaranya yang paling mengenaskan, berharap


supaya bisa dikasihani.


“Saya mohon, Tuan, Nona! Tolong ampuni saya! Tolong ampuni


kesalahan saya!” Kembali dengan suara bergetarnya. Sampai ia merapatkan dada


dan dagunya ke pinggiran panggung.


Orang itu… memohon dengan putus asa.


Meski ia adalah pemimpin di dalam kelompok ini, tapi Ben


tidak merasa memiliki kuasa untuk memberikan keputusan lebih lanjut untuk orang


itu.


Karena dia telah mencari masalah dengan kekasihnya, maka Ben


akan membiarkan Rose yang membuat keputusan, akan diapakan orang itu setelah


ini. Ben memberi kebebasan sepenuhnya kepada wanita itu.


Dia tidak akan mencegahnya, meskipun hukuman yang Rose


jatuhkan adalah yang terberat sekali pun. Tidak lantas, karena orang itu adalah


anak buahnya, maka Ben akan membelanya.


Orang itu bersalah. Ben pun cukup tahu, seberapa besar luka


yang telah orang itu dan yang lainnya torehkan di hati Rose. Tahu pula bagaimana


wanita itu mencoba untuk tetap tenang dan berani, di tengah suasana genting


tadi malam. Serta bagaimana berusahanya Rose untuk tetap tegar, ketika batinnya


bergulat sendiri.


Ben tahu itu! Sebab, jika wanita itu tidak bertahan, maka


saat ini, detik ini, Rose tidak akan berdiri tegak dengan anggun dan kokoh di


panggung ini, dengan begitu menawan.


Jika wanita itu tidak mampu melewati semuanya, pasti…


sekarang… tidak, tadi, ketika dia baru saja membuka mata, yang didapatinya


adalah suara tangis sendu kekasihnya itu.


Nyatanya, ketika dia bangun, Rose tidak ada di sisinya.


Malahan dia mendengar cerita lain dari para anak buahnya yang berjaga, jika


kekasihnya itu nampak keren sejak tadi malam.


Anak buahnya itu sedikit bercerita padanya, tentang


bagaimana heroik Rose ketika menyelematkan situasi yang kacau balau. Serta


seberapa tegas dan beraninya Rose saat menghadapi anak buahnya yang lain, yang


tak bosan untuk menyudutkan dirinya.


Apa lagi ketika sampai di aula ini, berbinar netra hitam


legamnya, kala menyaksikan wanitanya berdiri mantap di atas panggung, dengan


penampilan yang… berbeda. Rose makin terlihat cantik menurutnya.


Kesannya yang lebih berani, menambahkan nilai kepercayaan


diri pada diri wanita itu. Tidak ada lagi kesan wanita rumahan yang lemah


lembut, yang selama ini Ben temui.


Sungguh! Ketika pertama kali melihatnya, hal pertama yang


ingin sekali Ben lakukan, namun mesti ia tahan adalah… menanamkan bibirnya ke


bibir merah Rose yang seksi. Warna merah terangnya sungguh menggoda untuk cepat


dicoba.


Hah! Baiklah! Nanti saja ia akan melakukan, sepuas hatinya!


Beserta hukuman ganda yang belum ia berikan pada kekasihnya yang nakal itu!


“Rose! Sisanya aku serahkan padamu!”


Pria bertopi koboi itu memegang kedua bahu Rose dengan erat,


sambil mendorongnya maju. Ben ingin Rose sekalian berlatih untuk membuat


keputusan.


Bagaimana dia harus menilai dan menelusuri masalah. Serta


bagaimana Rose mesti bijak dalam mengambil sebuah keputusan.


Terlebih lagi, ini menyangkut nama dan harga dirinya


sendiri. Yang sudah diinjak habis sampai ke dasar, oleh mereka.


Ya! Tidak hanya satu orang itu yang mesti diberi pelajaran,


tapi juga, terutama orang-orang dengan mulut jahanam, yang telah melukai


hatinya.


Ben ingin tahu, dalam hal ini, Rose akan menggunakan egonya


atau tidak!


“Ben, aku-“ ringis Rose merasa ragu. Namun Ben sudah


memotongnya. Seakan tak mengizinkan wanita itu untuk berkeluh kesah.


Plak!


“Aku yakin, kau pasti bisa!”


Satu tepukan di bahu sebelah kirinya, Ben maksudkan untuk


menyemangati wanita itu. Meyakinkan Rose, bahwa dia pasti bisa melakukannya.


Kemudian, Ben mundur lagi ke belakang. Bersedekap dada


sambil memperhatikan.


Di bawah tatapan tenang Ben saja, mereka sudah nampak


gelisah tak karuan. Tentu saja, mereka yang kontra dan merasa  punya dosa terhadap Rose.


Makin gelisah, karena wanita itu yang diberi kewenangan


untuk menindak lanjuti apa yang telah mereka lakukan. Makin takut karena banyak


dosa yang telah mereka tanam pada diri wanita itu.


Memfitnah, menghina, mengolok, menyudutkan. Terus dan terus,


bahkan ketika mereka tak punya satu hal pun untuk membuktikan.


Mereka takut, mereka khawatir bukan main. Takut jika Rose


akan menjatuhkan hukuman paling berat kepada mereka semua. Takutnya nyawa


mereka tidak terselamatkan, karena dosa yang telah mereka perbuat.


Heh! Sampai saat ini, mereka masih saja memikirkan diri


meminta maaf pada Rose, yang telah mereka hina.


Wanita itu, Rose, memandang ke penjuru arah sambil kesusahan


menelan saliva. Keputusan apa yang harus ia ambil, Rose benar-benar belum bisa


memikirkannya.


Dipejamkan matanya sejenak sambil menarik napas dalam-dalam,


kemudian diembuskannya melalui mulut. Dia benar-benar… harus berkata dengan


benar kali ini.


Kelopak mata beserta bulu mata yang lentik itu perlahan


memisahkan diri. Rose membuka pandangan matanya yang tegas dan berani.


“Ke sini sebentar, ada yang ingin aku tanyakan padamu!” Rose


menggerakkan dagu ke samping.


Saat dipandanginya Relly, sebagai isyarat bahwa dia sedang memanggil pria itu.


“Ada apa, Nona?” tanya Relly sembari mendekat.


“Apakah kau sudah tahu siapa yang mengiriminya pesan?” Rose


hanya menggeser pandangannya sebentar, pada orang yang masih merintih dan


meringis dengan permohonan ampunnya.


“Sampai saat ini saya belum bisa melacaknya, Nona! Nomor


yang tertera pun, adalah nomor luar negeri!” jawab Relly apa adanya.


Pria itu tidak takut dimarahi. Karena nyatanya, memang lebih


sulit untuk mengidentifikasi seseorang yang berada di luar jangkauan. Relly perlu


menghubungi beberapa koneksi untuk meminta bantuan. Dan sepertinya, memang


membutuhkan waktu lebih lama lagi.


Nomor luar negeri?


Dikerutkan Rose alisnya dalam. Memikirkan hal yang makin


rumit ia rasa. Satu nama yang terpikirkan olehnya adalah Zayn. Menurut


penilaiannya, pasti orang itu yang berada di balik semua hal ini.


Tapi ini… nomor luar negeri?


Dengan bergitu berarti bukan Zayn pelakunya?  Kenapa makin lama, makin terasa seperti benang


kusut?


Apa mungkin Zayn bersekongkol dengan seseorang? Tapi dari


luar  negeri! Siapa orangnya?


Rasa-rasanya tidak mungkin jika Zayn memiliki rencana sampai


sejauh dan sematang itu! Terlalu berlebihan dan tidak mungkin! Pasti ada yang


telah membantunya.


“Lalu apa motifnya melakukan semua itu?” tanya Rose lagi.


“Tentu saja karena uang, Nona! Setelah saya selidiki… orang


itu sejak awal memang sudah tidak menyukai kehadiran Nona. Lalu pesan itu


datang bersama dengan jumlah uang yang diiming-imingi.”


“Hobinya berjudi, makanya dia tidak berpikir panjang lagi


untuk langsung menerima tawaran itu.” Jelas Relly.


Sejak awal?


Sudah tidak suka dengannya?


Baiklah! Rose bisa menerima hal itu! Rose paham jika setiap


orang berhak untu menyukainya atau tidak. Rose tidak bisa memaksakan kehendak


orang lain.


“Jadi bagaimana, Nona? Hukuman apa yang pantas dia


dapatkan?” Relly bertanya lagi untuk mengingatkan. Sementara Rose, pandangannya


tengah menerawang ke arah  lain.


“Hh…” Wanita itu mendengus pelan. Lelah dengan semua ini.


Rasanya, dia tidak ingin peduli lagi dengan semua hal yang menimpanya.


Rose hanya ingin menjalani hari-harinya dengan tenang.


“Nona-!” Relly menegurnya lagi. Mengingatkan,jika belum ada


satu keputusan pun yang Rose buat.


“Ck! Cerewet sekali!” gerutunya setelah berdecak dengan


kesal.  Sepertinya Relly sedang dalam


mode serius, sehingga pria itu tidak menanggapi.


“Aku baru beberapa hari di sini. Aku tidak tahu sistem


hukuman yang kalian terapkan. Lakukan saja sesuai dengan peraturan yang ada.”


Pikir Rose, dia tidak ingin mengacaukan sistem dan regulasi


yang mereka punya. Dia hanya orang baru di sini, maka Rose rasa, ia tidak


mempunyai hak untuk masuk dan mengambil keputusan secara utuh.


Meski masalah ini banyak sekali merugikan dirinya. Bukan


secara materiil, namun mental dan psikisnya sempat terganggu dan terguncang


karena masalah ini.


“Hanya saja… jangan membuatnya mati! Biarkan dia hidup dan


mengabdi untuk markas ini di sepanjang hidupnya. Karena setiap kali dia


mendapatkan misi, penghasilannya mesti kau ambil 60%.”


“Anggap saja upahnya berbuat licik kemarin adalah hutangnya


kepada kalian. Jadi dia harus terus bekerja, sampai hutang-hutangnya itu lu-nas.”


Wanita itu menarik punggungnya kembali setelah selesai mengucapkan kata


terakhirnya yang bertekanan.


Dikibaskan tangan Rose di depan wajah seolah mengusir Relly


dari hadapannya. Rasanya benar-benar lelah sampai dia tidak mau memusingkan hal


ini lagi. Serahkan saja pada aturan yang berlaku di sana. Beres!


“Tidak bisa seperti itu, Nona!” protes Relly tiba-tiba.


Bersambung…