Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Mengintai



“Maukah kau menjadi pasanganku malam ini?” Baz mengulurkan lengannya yang menekuk pada seseorang di sampingnya.


Siapa lagi? Tentu saja pada Eric! Sosok pria yang menemaninya, sejak mereka berangkat tadi.


Eric nampak bingung. Alisnya mengerut sambil melirik bergantian pada lengan Baz, wajah pria itu, lalu pada wajah Mirabel yang mulai nampak kesal.


Melihat pria itu tak juga mengerti kode yang dia berikan, mulutnya langsung komat kamit. Bergerak-gerak kecil bibirnya yang  mengatup itu, memberi isyarat tambahan pada Eric. Supaya dia lekas memahaminya.


“Hm…!” Eric tertegun sesaat, kala ia mulai menyadari apa yang Baz maksud. Oh, jadi begitu?


“Dengan senang hati, Tuan! Aku akan menjadi pasanganmu malam ini!” Lengan kekar milik Baz langsung ia gaet, langsung ia rangkul dengan senyum lebar.


“Kalau begitu, ayo kita masuk ke dalam!” ajak Baz bersama dengan senyuman. Meski dalam hati dia jijik untuk melakukan hal ini.


Namun, dari pada dia harus sendiri atau menggandeng wanita ular itu, lebih baik dia berpasangan dengan sesama lelaki saja.


“Ayo!” Dibalas Eric senyuman Baz itu.


Tapi… sebelum mereka mulai melangkah, sepertinya ada hal yang perlu mereka lakukan dulu.


“Permisi, Nona!”


Keduanya kompak pamer senyum saat memulai langkah pertama mereka sebagai pasangan. Baz bahkan sengaja menghempas sedikit, tubuh Mirabel yang menghalangi jalan mereka.


Wanita itu sampai mundur beberaapa langkah ke samping. Wajahnya pias mengenaskan, seperti dia baru saja dibuang oleh seseorang.


Tak~!


Dihentakkan Mirabel kakinya, saat kedua pria itu sudah berlalu. Dia menghentakkan kakinya dengan kesal. Sambil terengah-engah karena amarah.


Apa? Jadi dia ditolak? Tidak satu pun dari dua laki-laki itu mau menerimanya?


Oh sungguh! Ini adalah sebuah penghinaan besar baginya!


Ibunya dan ayah tirinya lalu berjalan acuh melewatinya begitu saja. Dan… dia benar-benar sendirian malam ini. Mirabel tertinggal di belakang barisan… seorang diri.


Jadi, mau tak mau dia harus tetap berjalan. Sambil merengut bibirnya, menahan kesal, dia tetap melangkahkah kakinya ke depan. Mengekori ibunya di belakang dengan wajah yang jelek sama sekali.


Namun, saat barisan mereka sudah sampai di pintu masuk acara pesta, Mirabel langsung mengubah ekspresi wajahnya. Ia menampakkan senyum palsu. Agar dia tetap terlihat menawan di mata semua orang.


Bagaimana pun juga, Mirabel harus menjadi yang terbaik malam ini! Walau sebelumnya dia sudah merasa kalah dari penampilan Rose. Dia tetap harus mencuri perhatian banyak orang, dengan kecantikan yang dia punya.


Heh! Dia mengangkat dagunya dengan angkuh, ketika berjalan!


Para tamu undangan terus berdatangan, memenuhi aula tempat pesta diadakan. Keluarga tersebut pun berbaur dengan para tamu, terutama Victor dan keluarga kecilnya yang tidak berhenti mendapatkan ucapan selamat atas kesembuhannya.


Eric dan Baz sudah melepaskan pegangan tangan mereka. Dan kini tengah berbincang santai dengan beberapa tamu pria yang baru mereka kenal. Karena yang dibicarakan adalah bisnis, maka Tuan Benneth cukup tertarik untuk bergabung di dalamnya.


Sedangkan Mirabel dan ibunya, mereka berdiri bersama di depan sebuah meja buffet. Sambil menikmati minuman di tangan, Mirabel menatap sengit pada dua sejoli yang memilih untuk mengasingkan diri dari keramaian.


“Jaga tatapanmu, Mirabel!” Nyonya Mira memperingati putrinya.


“Jika rencanamu ingin berhasil, kau tidak boleh membuat gerak gerik yang mencurigakan.” Bola mata Nyonya Mira berkeliling melihati sekitar.


Ini bukan tempat mereka. Semua orang yang bekerja di sini adalah orang-orangnya Victor. Jika sampai mereka mengetahui putrinya itu memiliki rencana, pasti akhirannya tidak akan baik untuk mereka.


“Jadi, aku harus bersabar sampai kapan, Ma?” rengek wanita muda itu pada ibunya.


“Tunggu sampai Victor selesai memberi sambutan,” ujar Nyonya Mira. Dan pandangan mata mereka pun beralih ke depan.


Victor nampak naik ke atas panggung, setelah dipanggil oleh seorang pembawa acara. Dengan hal ini pun, berarti acara akan segera dimulai.


Begitu pun dengan acara yang akan Mirabel buat. Acaranya juga akan segera dimulai.


Namun Mirabel nampak tidak sabaran. Ditatapnya seorang pelayan yang sedang membawa nampan berisi beberapa minuman. Mirabel lantas menghentikannya.


Diambil wanita itu satu gelas champagne. Ketika ibunya tidak memperhatikan, Mirabel mengeluarkan sebuah botol kaca kecil, sangat kecil, dari dalam clutch hitamnya yang berkelip. Dia membuka penutupnya, lalu menuangkan setetes cairan bening ke dalamnya.


Mirabel menyimpan botol kaca itu kembali. Kemudian ia menggoyangkan minuman itu. Dia tersenyum licik kala menatap liquid yang sudah bersatu, kala minuman itu berputar searah.


“Mari kita mulai!” Ditatap gelas minuman Ben dengan mata menyipit. Pria itu pun tengah memegangi gelas ramping bertangkai dengan isi champagne di dalamnya.


Baik Mirabel dan Nyonya Mira hanya tidak menyadari, jika sesuatu tengah menatap mereka semua satu persatu. Ada sesuatu yang bergerak untuk merekam setiap gerak gerik mereka, sambil ditatap sinis oleh seseorang.


“Ben, biarkan aku mencobanya!” rengek wanita bergaun merah maroon pada kekasihnya. Dia tengah memeluk segelas orange juisce di depan dada, dengan wajah penuh harap.


“Tidak! Sekali tidak, tetap saja tidak!” Ben menggeleng tegas.


“Please!” Makin membuat wajahnya menjadi lebih menyedihkan dari sebelumnya.


“Kau belum pernah minum alcohol, Rose! Dan aku tidak menyarankannya. Jadi, jawabannya tetap TIDAK!” jawab Ben di wajah datar dan tenangnya. Meski dia sedang berusaha menahan diri untuk tidak segera membawa wanitanya ini pulang.


Seseorang yang tidak pernah menyentuh alcohol  sama sekali seperti Rose, pasti akan mabuk dengan hanya sedikit minuman yang masuk. Meski kadar alcohol minuman ini rendah sekalipun. Itu akan tetap berpengaruh padanya.


Dan Ben tidak menginginkan hal itu. Sebab dia pun sedang tidak ingin mabuk malam ini. Ben sedang ingin menikmati indahnya kecantikan Rose dengan mata terbuka, dengan kesadaran penuh.


Jika sampai dia mabuk nanti, Ben takut dia sendiri akan hilang kendali. Lalu malah akan melakukan sesuatu yang akan membuat Rose kecewa. Sebab wanita itu terlampau cantik malam ini. Sampai seluruh jiwa raganya ingin memilikinya.


“Ben! Masa aku harus terus menikmati jus saja! Apalagi di tengah pesta seperti ini! Aku ini sudah dewasa, jadi tidak apa-apa jika kau mencicipinya sedikit saja, kan? Sedi-kit saja!” seru Rose sambil menjentikkan jari telunjuk dan ibu jarinya. Mempertegas bahwa dia hanya akan mencoba minuman itu walau hanya secuil saja.


Rose yang keras kepala, terus berusaha bernegosiasi dengan kekasihnya itu. Ia masih berharap dapat meluluhkan hati Ben dengan segala ketegasan yang dia punya. Wanita itu menggunakan wajah super imutnya untuk melelehkan keteguhan pria itu.


“Ck!” Ben berdecak bukan karena usaha keras Rose untuk mencoba minuman di tangannya. Tapi pada penampilan Rose saat ini.


Gaun tanpa lengan itu menyuguhkan hal yang paling dia suka dari diri kekasihnya itu. Tulang selangka dan sepanjang bahu yang menggiurkan. Plus dengan belahan gaun yang menampakkan kaki mulus Rose sampai ke pahanya.


Sudah berulang kali Ben menelan ludah dengan susah payah. Kala alam liarnya sangat ingin untuk menciumi kaki itu dari ujung sampai ke pangkalnya.


Oh, sungguh! Ben pusing sendiri jadinya.


“Hah!” Diembuskan napasnya yang berat ke udara melalui mulut yang terbuka.


Ben meletakkan gelasnya sebentar di meja buffet di sebelahnya. Lalu ia pun membuka jas hitamnya itu. Kemudian ia menyampirkannya pada kedua bahu Rose yang terbuka.


“Aku, kan, ingin mencoba minumanmu, bukannya jasmu! Aku tahu, tentu ini akan kebesaran di tubuhku!” keluh Rose sambil memperhatikan kanan kiri bahunya yang sekarang sudah tertutupi jas.


Bukannya menjawab, Ben malah menghela napas lagi. Enggan dia memberitahu alasannya menutupi tubuh Rose seperti ini. Yang padahal maksudnya adalah untuk menghindari tatapan dan niat buruknya terhadap kekasihnya sendiri.


Jas itu menutupi lengkap dari bahu telanjang Rose, sampai ke pahanya. Jadi, ketika dia melangkah, Ben atau pun lelaki lainnya, tidak akan bisa melihat hal indah itu. Ini baru bisa dikatakan adil, untuk semua orang!


“Ini, aku ingin mencobanya, kan?” Disodorkan Ben gelas champagne yang tadi ia letakkan.


“Benarkah? Kau sungguh mengizinkannya?” Rose ingin memastikan dengan wajah berbinar.


“Hm…! Sedikit saja!” angguk Ben datar.


Cup~!


“Terima kasih, Sayang!” Sebagai ucapan terima kasihnya, Rose memberikan sebuah kecupan di pipi. Yang membuat wajah kaku Ben memerah.


Lantas ia meletakkan gelas jusnya, lalu mengambil gelas champagne dari tangan Ben.


Slurp~!


“Akh…” pekik Rose kaget. Itu tadi, sungguh tidak ada satu teguk sama sekali. Bahkan minuman itu saja baru mencapai bibirnya.


“Aku, kan, bilang hanya sedikit saja!” tegas Ben saat sudah berhasil merebut gelas champagne-nya dari tangan Rose. Pria itu menaikkan kedua alisnya sebentar dengan ekspresi tak bersalah.


“Ben!” seru Rose kesal.


“Hai!” sapaan seseorang membuat Rose berhenti protes lagi pada kekasihnya.


Rose dan Ben pun menoleh pada seseorang yang baru saja menghampiri mereka.


Bersambung…


Yang dateng siapa ya?? coba tebak!


Mirabel kah? Atau pelakor kah? Upss,, keceplosan! hehe