
Dengan kekuatan mulut pintar sang keponakan, Rose, akhirnya, mulutnya mau menerima makanan, juga. Dan, Bervan pula yang bertugas menyuapi bibi kesayangannya itu.
Sementara ibunya, Bella, tengah mengompres dahi juga hidung Paman Baz-nya yang memerah dan agak memar, karena ulah si bocah. Juga sang ayah.
Untunglah, dahi pamannya tidak sampai benjol. Meskipun begitu, siapa juga yang bisa marah, pada anak kecil yang pintarnya bukan main itu?!
Tadi saja, Bervan malah memutar-balikkan fakta, seolah, malah, Paman Baz-ny ayang bersalah. Dan Victor tidak bisa menghentikan putranya itu, berkata demikian. Karena, dalan hal ini, dia pun ikut terlibat.
Akan tetapi, jika ditelisik, memang ini bukanlah salah siapapun. Hanya ketidaksiapan Baz di belakang pintu, juga ketidaksengajaan Bervan juga sang ayah, dari arah depan.
Victor, yang tak dapat berkata apapun, memilih untuk diam. Tidak ingin juga membela diri, lebih baik ia membungkam mulutnya. Seraya menatapi adiknya, yang terlihat, sangat menyedihkan.
“Ayo Bibi, buka mulutnya! Aaa…!” pinta Bervan pada bibinya. Sesendok makanan sudah berada di depan mulut Rose yang mengatup.
Dan, wanita hamil itu pun menurut. Ia membuka mulutnya dengan ragu. Lalu, membiarkan makanan itu memasuki rongga mulutnya. Rose lantas mengunyahnya dengan pelan.
Ini sudah suapan ketiga, meskipun baru sedikit, namun semua orang sudah merasa sangat bersyukur. Paling tidak, sudah ada makanan yang masuk ke dalam perut ibu hamil itu.
Terutama Anggie. Walau, tadi usahanya gagal, tak satu pun sendok makanan yang ulurkan, mau diterima oleh temannya itu. Namun, melihat hal ini, ia jadi merasa lega. Sebab Rose, tidak membatukan hatinya lagi.
Tanpa sengaja, wanita seksi itu, pandangannya saling bersirobok dengan Relly. Ditatapnya, senyum hangat yang turut lega, melihat nona mereka, pada akhirnya mau makan.
Senyum penuh syukur itu pun ia balas. Anggie dan Relly tersenyum bersama. Dalam kelegaan, juga penerimaan terhadap kehadiran satu sama lain.
***
“Apakah… apakah belum ada kabar tentang Ben?” tanya Rose. Yang akhirnya buka suara. Setelah sejak makan tadi, wanita itu hanya terdiam. Rose hanya menerima setiap suapan dari Bervan, dengan tenang.
Ditanya seperti ini, suasana cengkerama beberapa orang mendadak hilang. Menjadi sunyi senyap, dan semua pasang mata saling berpandangan. Saling meminta jawaban.
Jawaban apa yang tepat, untuk mereka berikan pada Rose. Sementara hal itu, tidak akan menyakiti atau pun membuat Rose yang sedang hamil, menjadi resah dan gelisah lagi.
Victor pun akhirnnya maju, di antara semua manusia yang meragu, di dalam ruangan itu. Bella membungkam, mulut putranya, yang sudah terbuka, ingin mengatakan sesuatu.
Biarlah, sang kakak mengambil perannya. Menenangkan adiknya, yang saat ini, memang membutuhkan dukungan, dari siapapun. Dari semua orang, tak terkecuali.
Memang, hari sudah malam, jadi, mereka pun, mempunyai alasan. Yang faktanya, memang belum ada kabar positif, untuk mereka dapatkan.
Pria itu, sang kakak, menduduk di samping ranjang adiknya. Kemudian membelai lembut, kepala yang mulai tertunduk lesu, karena semua orang diam. Tak ada yang memberikannya jawaban. Yang jelas, jawaban yang diinginkannya.
“Rose!” sebut nama sang adik, dengan nada penuh kasih sayang. Tangan Victor masih belum berhenti memberi asupan cinta kasih dan kekuatan, melalui usapan lembut di kepala sang adik.
“Jangan katakan apapun, Kak! Jika yang ingin Kakak sampaikan, bukan berita baik,” sambut Rose dengan nada dingin, bahkan sang adik, memalingkan wajahnya ke samping.
Kesakitan di dalam dirinya tidak ada yang tahu. Betapa dia sangat menginginkan lelakinya kembali, atau bahkan dalam keadaan baik-baik saja, begitu besar. Walau, ada yang berbisik ke dalam lubuk hati, bahwa semua yang dia inginkan tidaklah mungkin.
Jatuh dari ketinggian itu, dalam keadaan terluka parah, juga harus meraskan hantaman ombak yang begitu besar. Yang jelas, tidak tahu pula, raga kekasihnya itu ada di mana saat ini.
Akan tetapi, hatinya memang tengah egois saat ini. Rose sedang sangat menginginkan kehadiran Ben. Walau dalam keadaan sekarat, sekali pun, ia akan menerimanya.
“Oh, ya! Selamat! Kakak akan menjadi seorang paman, sebentar lagi!” tambahnya sambil menolehkan kepalanya, sebentar. Kemudian ia memalingkan wajahnya lagi.
Membuang pandangannya, kepada siapa pun. Mungkin, hanya tembok putih yang bisa memahami kekosongan hatinya, saat ini.
“Oh, ya! Kakak belum mengucapkan selamat, atas kehamilanmu,” sambut Victor, atas ucapan adiknya barusan itu.
Mulutnya, hendak terbuka lagi. Hampir saja, ia kelepasan, mengatakan tentang Ben, yang pasti, akan sangat-sangat bahagia jika mendengar kabar ini.
Maka dari itu, ia mengatupkan mulutnya kembali. Dengan helaan napas yang berat. Lantaran hatinya, masih dipukul, oleh keadaan dan takdir yang sedang dihadapi adiknya saat ini.
“Tapi kau harus berjanji untuk selalu menjaga diri. Untukmu dan calon anakmu. Kalian harus tetap kuat, karena menunggu pun membutuhkan tenaga dan menguras energi”
“Kau harus selalu tegar dan kuat. Sebab, jika kau lemah seperti ini, maka, bagaimana dengan calon bayimu?! Sedangkan, dia selalu membutuhkan energi positif dari ibunya,” lanjut Victor, mencoba menasehati.
Bella, lantas maju. Ikut menghampiri suami dan adik iparnya. Sebagai seorang wanita, sebagai seorang ibu, dia pun ingin memberikan semangat pada Rose.
Terlebih, dulu, Bella pernah merasakan hal yang sama. Menjalani masa kehamilan, tanpa seseorang yang ia cintai di sisinya. Meski, hal ltu adalah, pilihannya sendiri.
Kala sang ibu maju, pasti sang anak juga mengikuti langkah ibunya. Dia yang sedang sangat ingin tahu dan sok tahu, juga selalu ingin ikut menyemangati bibi kesayangannya.
Sekarang, saat ini, semua orang seperti ingin berlomba-lomba untuk memberikan beribu dukungan, terhadap Rose.
Namun, saat Bella sudah sampai di pinggir ranjang, berdiri di sisi suaminya. Padahal, ia sudah menarik napas untuk mengeluarkan segenap ucapan positif, yang sudah ia rangkai sembari berjalan. Namun, ucapan Rose, segera memutuskan segalanya.
“Berbicara adalah hal yang mudah. Tapi melakukannya, lebih dan sangat sulit daripada hanya mengucapkan.” Mendadak, wanita hamil itu menoleh, dengan nada berikut pandangannya yang dingin.
“Jika, kalian masih mengetahui kabar tentang orang yang kalian cintai, meskipun kalian tidak dapat melihatnya secara langsung. Itu masih lebih baik, meskipun rasanya pasti sulit. Tapi…,” Rose mengedarkan pandangan pada semua orang, dengan tatapan dinginnya.
Ia embuskan napasnya yang membekukan, lantas lanjut berbicara. “…tapi, rasanya lebih sulit lagi, jika bahkan, kalian tidak mengetahui kabar dan keberadaannya.”
Setelah mengucapkan hal itu, Rose langsung merebahkan diri. Berposisi menyamping, membelakangi Victor dan Bella juga Bervan.
Seperti, ia menolak berinterkasi dengan semua orang. Lagi. Rose hanya ingin sendiri. Karena dirasanya, tidak satu pun dari mereka, mengerti, tentang apa yang dia rasakan saat ini.
Semuanya, di ruangan itu, menghela napas dengan berat. Bersamaan, dengan kompaknya, tanpa mereka sadari.
Benar memang, apa yang wanita hamil itu katakan. Akan lebih berat memang, jika bahkan, mereka tidak tahu, orang yang mereka cintai itu, hidup atau mati.
Victor hendak mengulurkan tangannya, ingin mengatakan sesuatu kepada adiknya lagi. Namun, Bella segera menahannya. Sang istri menggeleng sembari menipiskan bibir.
Tidak, jangan! Biarkan dia sendiri. Sepertinya, Rose memang butuh waktu lebih banyak, untuk berdamai dengan perasaannya sendiri.
Begitu yang Bella katakan dengan gesture tubuh yang dia berikan. Karena, bagaimanapun juga, dalam hal ini, dia yang paling mengerti apa yang tengah Rose rasakan.
Kalimat yang Rose katakan, seperti menampar dirinya. Seperti Rose sudah tahu apa yang hendak Bella katakan. Namun adik iparnya itu, segera memotongnya, karena situasi mereka berbeda.
Apa yang Rose katakan benar, bahwa apa yang dia alami saat ini, lebih sulit dari sekadar berkata-kata.
Maka, Bella mengajak Victor dan yang lainnya, untuk meninggalkan ruangan itu. Membiarkan Rose sendiri, lebih lama lagi.
Yang terpenting, sudah ada asupan gizi yang mau dia terima. Jadi mereka tidak perlu terlalu mengkhawatirkan keadaan fisik ibu dan bayinya.
Untuk terakhir kalinya, Bella mengintip, ketika pintu benar-benar akan ia tutup.
Heeeh… Bella menghela napas panjang.
Semoga, seiring berjalannya waktu, Rose akan bangkit kembali. Hanya itu harapnya, saat ini. Sedangkan, mengenai Ben yang masih menghilang, semoga lelaki itu lekas ditemukan.
Clek~!
Pintu ruangan rawat itu pun ditutup. Meninggalkan senyap dan luka yang masih terasa sampai ke dalam. Beserta isak tangis, yang kembali menggema. Sebab, ditahannya sejak tadi.
Bersambung…
maap ya, baru update lagi,, author abis refreshing sebentar,, hehe