Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Terpojok



Hey! Itu bukan sapaan!


Relly dan Anggie sama-sama melirik ke arah Rose. Keduanya


memiliki pemikiran yang sama. Persis.


Nada bicara Rose terdengar sinis dan menyindir. Bahkan dari


sudut pandang mereka di belakang saja, nampak jelas kilatan menusuk di matanya.


Dapat dilihat, jika kekasih bos mereka saat ini sedang menunjukkan taringnya


kembali. Sama seperti pagi tadi.


Mereka yang berbaris dan kembali membentuk dua kubu pun


mengangkat pandangan. Tahu siapa yang berbicara, tapi asing dengan cover luar


yang dikenakannya saat ini. Untuk beberapa detik, mereka kembali terpana oleh


wujud Rose yang kali ini benar-benar berbeda ketimbang biasanya.


Cara Rose berbicara barusan, serta penampilan baddasnya yang


sekarang, sungguh pun mereka seperti melihat versi lain dari diri wanita itu.


Rasa yang sampai pada diri mereka pun menjadi lebih pekat dan mencekik.


Benar! Rose bukan sedang menyapa mereka dalam artian yang


sebenarnya. Wanita itu lebih seperti sedang bertanya bagaimana keadaan mereka


setelah ini. Siapkah mereka semua dengan apa yang Rose ingin mereka bawakan ke


hadapannya?! Wanita itu benar-benar sedang menyindir mereka saat ini.


“Heh!” Seringai kecil muncul di bibirnya, kala Rose


mendapati tatapan orang-orang itu makin benci dan waspada terhadapnya.


Anggie di belakang dapat melihat dan mendengar hal kecil


itu. Sebab, netranya tak lepas memandangi wanita itu sejak pertama. Anggie


rasa, Rose benar-benar memikirkan apa yang diucapkannya tadi. Bahwa dia harus


bisa membawa dirinya, agar tak diremehkan orang lain lagi.


Seringai kecil itu pun seolah menular padanya. Jika begini,


puas dan tidak ada rasa bersalah lagi hinggap pada dirinya. Karena telah


membuat penampilan Rose menjadi sememuaku ini. Andai saja Tuan Ben ada di


sini….


“Jadi… bagaimana… apakah kalian sudah mendapatkan apa yang


aku inginkan? Oh tidak… bukan aku… tapi apa yang kalian inginkan.” Ada senyum


remeh Rose sematkan di akhir kalimat.


Tak mau menunggu lebih lama lagi, Rose bertanya langsung


kepada intinya. Meski pun di luar, wajahnya saat ini terlihat tegas dank eras.


Namun sebenarnya, Rose sudah ingin semua ini selesai. Lalu, mereka semua bisa


beristirahat. Termasuk juga dengan dirinya.


Rose hanya ingin keadaan jadi kondusif lagi. Sehingga ia


bisa sepenuhnya merawat dan menjaga kekasihnya yang belum sadarkan diri itu.


Jangan khawatir! Ketika Rose tidak ada di sisi pria itu, selalu ada orang yang


siap berjaga di depan pintu.


Benar! Dalam situasi krisis seperti ini, keadaan kelompok


mereka bisa dalam bahaya kapan saja. Maka dari itu sistem pengamana diperketat,


termasuk dengan keberadaan Ben yang tak berdaya.


Musuh, atau siapa pun dapat menargetkan dan menyerangnya


kapan saja. Jadi, beberapa orang ditempatkan di dalam dan di luar pintu, ketika


tak ada Rose atau pun Relly di sekitar sana.


Mereka yang tidak menyukai Rose, mereka yang kontra terhadap


kehadiran dirinya, saling lirik, saling pandang. Nampak ragu untuk


mengungkapkan. Nampak gentar tatapan mereka. Salah seorang di antaranya pun


menggeleng. Mengingatkan jika mereka tidak bisa kalah seperti ini.


Sungguh, ego dan harga diri seorang lelaki memang setinggi


langit. Apa lagi jika digabungkan dengan begitu banyaknya orang, harga diri


mereka mungkin sudah menembus angkasa bahkan galaksi yang lainnya.


Tiba-tiba salah satunya maju. Tak menghiraukan tangannya yang


diperban dan digips, ia maju , dengan sisa kepercayaan diri yang ia punya


mungkin. Sepertinya tidak ingin kelompok mereka terlihat malu dan mengenaskan.


“Kami tidak menemukan bukti apa pun,” sahutnya lantang.


Bahkan kepalanya mendongak, menatap Rose dengan berani.


“Tapi… bukan berarti kami menyerah dan  mengakui jika kau bukan pengkhianat di sini!”


tambahnya lagi menekankan. Masih sama lantangnya.


“Heh….” dengkus Rose seraya mencibir.


Wajah yang kelihatan layu dan sayu itu bahkan tidak dapat


membawakannya apa pun untuk membuktikan dirinya bersalah. Sungguh pun Rose


merasa ironi, ia merasa kasihan dengan mereka yang sudah berusaha sekeras itu


tapi tidak membuahkan hasil.


Kontras dengan dirinya, yang bahkan tidak melakukan apa pun.


Yang dilakukannya hanya tidur, bangun, makan dan mandi. Hanya kegiatan manusia


normal yang seakan tidak memiliki beban.


Paling-paling hanya penampilannya yang ia maksimalkan. Itu


pun Anggie yang melakukannya. Sungguh, Rose seperti tidak melakukan apa pun


untuk perjuangannya sendiri. Wanita itu merasa konyol dalam hati.


“Kalian tidak mendapatkan bukti apa pun tapi kalian masih


bersikap angkuh terhadap Nona Rose! Heh!” Kali ini kelompok pendukung Rose


mulai menyerang.


Rose tidak ingin ini terjadi. Tapi, ya, sudah lah! Seperti


biasanya, ia akan menunggu sampai suasana agak tenang. Tidak lagi bising dan


menyakiti telinga.


Dilipat tangannya di depan dada sambil menikmati drama


perdebatan yang terjadi di hadapan matanya saat ini.


“Sungguh tidak tahu diri!” celetuk yang lainnya lagi, mulai


“Bagaimana pun juga, semenjak kedatangan wanita itu di sini,


masalah mendadak datang bertubi-tubi.  Jadi wajah jika dia patut kita curigai!”


“Jangan bawa kita dalam ucapanmu! Sebut saja kalian! Karena


kami tidak menaruh kecurigaan sedikit pun pada Nona Rose!”


Dua kubu saling berhadapan, saling memandang dengan hawa


permusuhan yang kental. Genderang perang seakan sedang ditabuh di antara


mereka. Dengan keras, sehingga membangkitkan adrenalin untuk saling menyerang.


Berbicara dengan argumen yang mereka punya.


“Heh! Kau tidak ingat kejadian tadi malam? Gara-gara dia,


Tuan Ben jadi mengamuk! Gara-gara dia juga markas kita jadi hancur berantakan!”


Seseorang dengan berani mengacungkan telunjuknya ke wajah Rose. Dia belum


menatapnya.


Namun… ketika pandangan mata mereka saling bersirobok,


nyalinya menciut. Sebab Rose tengah menatapnya dengan senyum miring yang


menyeramkan. Padahal wanita itu tak berkata-kata. Tapi sepertinya, wanita itu


menyuruhnya untuk segera diam.


“Relly, bagaimana ini? Keadaannya malah jadi runyam.


Bisa-bisa… kita akan mengalami yang namanya perang saudara!” desah Anggie


khawatir. Ditarik-tarik ujung jaket yang pria itu kenakan.


“Tenang saja! Aku sudah punya rencana!” Disenyumi Relly


dengan misterius wanita seksi di sampingnya.


“Rencana apa? Kau, kan, dari tadi hanya bermain game saja!”


bisik Anggie penasaran sekaligus geram. Ia pikir Relly hanya sedang berusaha


menenangkannya saja. Sementara pria itu sebenarnya tidak tahu harus berbuat


apa.


“Kau tidak percaya padaku?” Ditunjuk Relly dirinya sendiri,


seolah meyakinkan.


“Hah… wajahmu sulit untuk dipercaya!” Anggie mendesah lagi.


Kali ini lebih lemah dari pada yang tadi.


Meskipun dia mempercayai dan mendukung Rose, tapi dia juga


tidak ingin keluarga dan rumahnya hancur karena suatu masalah. Harapnya semua


keadaan ini masih bisa diperbaiki tanpa perlu perpecahan atau pun peperangan.


Sebenarnya, masalah ini sebenarnya hanya sebuah


kesalahpahaman semata, kan?! Hanya perlu ada bukti dan jalan untuk meluruskan


keadaan. Sehingga semuanya menjadi jelas. Tidak ada keributan lagi di antara


kedua belah pihak.


“Baiklah! Baiklah! Lihat saja nanti! Jika rencanaku


berhasil, kau harus menciumku! Bagaimana?” ujar Relly sambil menghadap ke depan


lagi dengan santainya.


“Jika kau berani…!” ancam Anggie sambil meletakkan tangannya


di pinggir dahi, seolah sedang menembak kepalanya sendiri. Tapi nanti, yang


akan ia tembak adalah kepala Relly.


“Katakan saja kau jika kau takut!” Relly pamer senyum


meremehkan yang kurang ajar pada Anggie. Sungguh memprovokasi wanita seksi itu


agar lekas geram dan marah.


Dibalikkan tubuhnya dengan cepat menghadap kea rah Relly.


Anggie membusungkan dadanya yang montok dan besar sebagai tanda bahwa dia


kesal. Pria itu berani menantangnya? Heh!


“Baik! Aku terima!” tantang Anggie balik. Wajah garang itu


pun lekas berpaling. Menghadap ke depan lagi, enggan berlama-lama menatap wajah


si bododh, Relly.


Kembali ke sisi yang ribut di bawah sana,


“Jaga sikap kalian!” sembur salah satu pendukung Rose, tidak


terima nona mereka diperlakukan dengan tidak sopan.


“Apanya yang tadi malam? Apanya yang gara-gara Nona Rose?”


Yang lainnya menambahkan.


“Harusnya kalian sadar diri! Bukannya Anggie sudah


memberitahukan kepada kalian tadi pagi?! Karena mulut kotor kalian yang terus


menerus menghina dan menuduh Nona Rose, makanya Tuan Ben sampai jadi seperti


itu!”


“Harusnya kalian sadar!”


Saat ini, pihak kontra benar-benar terpojok. Mereka belum


menemukan kata yang tepat untuk membalas semua ucapan yang menyudutkan. Mereka


menampik hal itu, namun isi hati mulai membenarkan. Perlahan, sanubari mereka


disentuh untuk lekas sadar.


Sayangnya… ego mereka terlalu tinggi untuk mau mengakui


kekalahan.


“Memang ini semua adalah karena dia!” Rose kembali ditunjuk


dengan berani.


“Karena dia Tuan Ben jadi mengamuk dan hilang akal. Karena


dia juga, rekan kita banyak yang terluka, markas kita juga porak-poranda-“


Kriet…


Pintu aula itu tiba-tiba dibuka dari arah luar. Sehingga


ucapan orang itu pun harus berhenti. Sebab mendadak, atensi mereka seakan


tersedot ke arah sana. Untuk melihat siapa yang datang.


“Dan karena Rose…”


Bersambung…