Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Sisi lemah Ben



“Ben, ini Zayn, kan? Sepertinya mereka saling kenal!” seru Rose dengan nada antusias.  Telunjuknya mengacung lurus ke arah layar, dimana video itu hampir berakhir.


Layar itu menampilkan gambar dimana orang tua yang sebelumnya mengacau di depan gerbang utama, diselamatkan oleh seseorang.


Orang tua itu berjalan dengan terlunta-lunta, karena umur yang sudah memakan tubuh. Langkah kakinya pun berat sehingga dia berjalan agak lambat, bahkan terseok-seok.


Lalu di ujung jalan, seorang pemuda nampak menghampirinya. Terjadi beberapa perdebatan untuk beberapa saat. Namun entah apa yang mereka bicarakan, karena kamera pengawas tidak dapat menangkap suara yang begitu jauh di sana.


Tak lama, pemuda itu memapah orang tua tersebut. Membawanya pergi dan menghilang dari tangkapan kamera CCTV. Dan video rekaman itu pun berakhir.


Pemuda itu tak lain adalah Zayn. Rose dapat mengenalinya.


Wajah, perawakan dan gesture tubuhnya dapat dengan mudah dikenali secara langsung. Mata Rose belum rabun, jadi dia bisa memastikan jika itu pasti benar adalah Zayn.


“Ben, kau juga melihatnya, kan? Itu Zayn, kan?” Rose menoleh lagi dengan begitu antusiasnya. Ingin memastikan jika apa yang dilihatnya tidak salah.


“Hem….” Ben menipiskan bibirnya saja saat menganggukkan kepala.


Benar, dia sudah melihat video itu sebelumnya. Dia juga sudah memastikan sendiri bahwa pemuda itu adalah Zayn.


“Mereka sepertinya saling kenal, Ben! Apa kau mengenal pria tua itu?” tanya Rose sambil menoleh lagi.


Belum menjawab pertanyaan Rose. Kini tangannya sedang bekerja untuk mematikan layar benda persegi di hadapan mereka itu.


“Ayo!” ajaknya sambil menarik tangan Rose supaya mau mengikuti arah langkah kakinya.


Ternyata pria itu membawa Rose kembali duduk ke sofa lagi. Seperti menurutnya lebih nyaman untuk melanjutkan pembicaraan mereka di sofa sambil bermanja-manja.


Ben merasa urat sarafnya terlalu tegang saat ini dengan semua masalah yang ada. Dia memang benar-benar memerlukan Rose sebagai pengobat segala kelelahannya.


“Duduk!” Didudukkan kekasihnya itu di ujung sofa oleh Ben.


Bola mata Rose bergulir mengikuti gerakan Ben yang berpindah dari belakang punggungnya, hingga kini mendudukkan diri di sebelahnya. Lalu… dengan santainya pria itu merebahkan kepalanya di atas pangkuan Rose.


Ben jadikan kedua paha Rose yang lumayan berisi itu sebagai bantalnya. Kemudian dia memejamkan mata.


‘Ugh… nyaman sekali!’ Digesek-gesekan kepalanya pada sepasang paha kenyal itu.


Rose menipiskan bibirnya rapat. Menahan tawa sekaligus menahan geli akibat ulah tuan seramnya.


“Itu, benar adalah Zayn! Itu dia! Dan laki-laki yang bersamanya… aku pun mengenalnya,” jelas Ben tanpa perlu ditanya lagi.


Rose menyugar rambut pria itu. Memainkan untai demi untai rambut depannya, sambil terus membelainya dengan penuh kasih sayang.


Rose memilih untuk membiarkan kekasihnya itu berbicara sendiri. Biarkan dia menumpahkan perasaannya, sesuai dengan keinginannya sendiri. Tanpa perlu Rose paksa meski dia cukup penasaran.


“Tadinya aku tidak mau menceritakan semua ini kepadamu, Rose!”


Jeda cukup lama sampai Ben membuka matanya dan melihat wanita itu tersenyum di atas wajahnya. Ternyata, Rose menantinya untuk lanjut bicara.


“Aku tidak ingin kau terlibat dalam masalah ini. Apa lagi sampai terlibat cukup jauh. Aku tidak ingin kau berada dalam bahaya, Rose.”


“Tapi semuanya sudah terlanjur. Dan aku pikir, bukan hanya aku yang menjadi targetnya. Kau pun sama. Jadi mau tak mau aku harus memberitahumu hal ini.”


Sebab Ben ingat apa yang dikatakan Relly sebelum para penyusup itu memulai aksinya, melesatkan peluru ke arah ruangan pribadinya. Ben ingat, sedang beredar rumor di antara anak buahnya, jika Rose adalah pengkhianat di dalam kelompok mereka.


Ini jelas menyatakan bahwa bukan hanya kelompoknya ini, tapi dia dan juga Rose dijadikan target oleh mereka.


“Dan lagi… sepertinya… aku tak mampu menanggung semua masalah ini sendirian. Biasanya aku sanggup menanggung masalah sebesar apa pun. Biasanya aku mampu menghadapi dan menanganinya sendiri,” sambungnya lagi.


Rose menggeleng sambil tersenyum. “Tidak sama sekali!”


Justru dia sangat senang, karena berarti pria seram dan hebat yang disegani banyak mafia kebanyakan, mau menunjukkan sisi lemahnya ini kepadanya. Rose jadi merasa berguna, bermanfaat bagi kekasihnya itu.


Rose merasa lebih dihargai karena hal ini. Berarti Ben tidak menganggapnya hanya sebagai pajangan saja, atau wanita manja yang tidak dapat diandalkan sama sekali.


Kemudian Ben menutup matanya lagi sambil melanjutkan bicara.


“Entah karena sekarang aku sudah mulai lemah? Atau karena sudah  terbiasa dengan kehadiranmu?” Terselip kekehan di tengah ucapannya itu. Ben pun melanjutkan dengan serius lagi. “Sekarang aku jadi merasa ingin berbagi beban ini denganmu.”


“Rose, mungkin ini kasus pertama yang harus kita jalani bersama, selagi kau banyak belajar di sini. Tapi… apa pun yang terjadi nanti, aku akan terus melindungimu. Sesuai janjiku pada kakakmu, juga janjiku pada diriku sendiri.”


Ya! Sebab… ketika melamar Rose tempo hari, Ben telah mengumandangkan janjinya ini di dalam hati. Bahwa ia akan menjaga dan melindungi kekasih hatinya itu dengan seluruh jiwa raganya. Juga… selama seumur hidupnya.


Ben membuka mata, lalu disentuhnya wajah halus Rose yang sedang menunduk dan tersenyum pada dirinya. “Aku tidak akan membiarkanmu terluka!”


Perkataannya terdengar tulus, penuh penekanan, namun juga sangat lembut menyapa telinga Rose. Hatinya berdesir oleh arus hangat yang sekarang membanjiri kolam hati.


“Aku tahu!” Digenggam tangan besar pria itu di pipinya. Rose ikut memejamkan mata menikmati gelenyar hangat dari sentuhan tangan Ben.


Tentu saja dia bisa mempercayai tuan seramnya yang hebat dan kuat itu. Tentu saja dia tidak perlu takut atau khawatir pada suatu hal jika berada di dekatnya. Sebab Rose tahu, sebab Rose yakin, jika kekasihnya itu pasti bisa selalu diandalkan.


Bukan hanya dirinya yang berbicara mengenai hal ini. Tapi juga semua anak buahnya mengatakan hal yang sama. Mereka selalu percaya bahwa bos besar mereka pasti dapat selalu mereka andalkan.


Diambil tangan kokoh itu lalu ia kecup dengan bibirnya yang ranum. Tapi dia terkejut karena Ben langsung menarik tangannya. Rose pun memisahkan kelopak matanya dengan efek kejut di sana.


Dengan matanya, dia seolah bertanya ‘ada apa’.


“Jangan menggodaku!” seru Ben galak.


“Hey!” Dia yang sudah mengerti arahnya kemana pun memukul bahu pria itu.


‘Apa-apaan!’ Di saat seperti ini, sempat-sempatnya dia berpikir ke arah sana.


“Dari tadi itu, ya! Kau selalu merusak suasana, tahu!” Sekarang Rose yang berseru galak. Bahkan wanita itu sampai berkacak pinggang. Melotot, memandangi wajah pria yang masih betah berada di pangkuannya.


Ben tutup mulutnya yang tergugu riang dengan satu kepalan tangannya. Tak lama, lalu dikembalikan lagi wajah serius dan galak ciri khasnya itu.


“Ingat, kan! Kau belum mendapatkan hukuman dariku?”


“Hukuman apa?”


“Hukuman karena sudah tidak menuruti perintahku untuk tetap berada di kamar. Dan hukuman karena sudah berani melakukan hal berbahaya, seperti terjun dari atas tanpa berpikir.”


“Ahh….” Rose kehabisan kata-kata untuk membantah. Meringis dia seperti kuda jadinya. Namun otaknya tetap ia usahakan untuk mencari alasan yang masuk akal, agar terhindar dari hukuman yang sudah Ben rencanakan.


Tidak mau! Ia tidak mau menerima hukuman dari tuan seramnya itu.


Bersambung…


Ayo.. ayo.. dukung terus cerita ini ya manteman


Kasih like, vote sama komentar penyemangat kalian,, supaya aku makin rajin update lagi, hehe


Keep strong and healthy ya semuanya