
Sudah tiga hari Ben, Rose dan Baz berada di sana, di rumah Victor. Dan sudah selama itu pula, Mirabel belum berhasil menemukan trik yang tepat untuk membuat dia dekat atau bahkan mendapatkan tuan itu, yang tak lain adalah kekasih Rose.
“Sepertinya, kami tidak bisa terlalu lama di sini. Kami harus kembali ke markas,” tutur Ben pada Victor saat mereka melakukan sarapan bersama pagi ini.
Dipandangi Rose yang sedang ia genggam tangannya di bawah meja. Mereka saling melempar senyuman. Sepertinya, mereka sudah membahas hal ini terlebih dahulu sebelum diumumkan kepada semua orang.
Beberapa nampak terkejut dengan keputusan Ben ini. Tapi Victor dan Bella cukup mewajari sebab mereka pun tahu, masalah apa yang sedang terjadi di sana.
“Bagaimana dengan kau? Tetap di sini atau… ikut dengan kami lagi?” Dan Ben sebenarnya agak malas untuk bertanya pada orang yang satu ini.
Pada Baz, yang masih ia anggap sebagai saingan cintanya sampai sekarang. Hingga detik ini, dan mungkin masih akan berlanjut, entah sampai kapan.
“Aku ikut!” Baz malah menjawab dengan santainya, seakan ia bukan beban sama sekali bagi mereka.
Tck! Dasar pengganggu! Ben menggerutu dalam hati.
“Kalau begitu, kita berangkat sore ini!” putus Ben lalu disambut oleh anggukkan Rose dan Baz.
Ada pun Tuan Benneth dan Eric yang nampak kecewa dengan keputusan ini. Sebab mereka jadi tidak bisa berlama-lama bertemu dengan Rose.
Apalagi Tuan Benneth, selaku ayah dia belum bisa memperbaiki hubungannya dengan putri bungsunya itu. Selama di sana, mereka berdua tidak terlibat satu perbincangan pun. Rose hanya akan berbicara padanya jika diperlukan saja.
Lalu sekarang, putri kandung yang sudah lama ingin ditemuinya itu malah sudah mau pergi. Sungguh pun, hatinya terasa sangat sedih!
Nyonya Mira terlihat santai, tapi putrinya nampak lebih tidak terima dibandingkan siapa pun. Wajahnya menggelap karena menahan kesal. Bahkan ia belum bisa mendekati tuan itu, tapi mereka semua sudah mau pergi.
Ini tidak bisa dibiarkan! Kepalanya langsung berpikir keras. Ia mengulik, mencari cara agar bisa menahan orang-orang itu sebentar lagi. Sambil pula memikirkan bagaimana ia bisa merebut tuan itu dari sisi Rose.
Sungguh! Mirabel berambisi sekali ingin memiliki apa yang bukan haknya!
“Apa aku boleh ikut?” tanya Bervan hati-hati sambil menyuap roti panggang ke mulutnya. Ia melirik ke kanan dan ke kiri pada ayah dan ibunya. Tidak mau membuat mereka marah, tapi juga ingin mengutarakan keinginannya.
“Sayang-“ Sebelum Bella sempat memberi pengertian pada putranya itu, Paman Alex datang, mendekat ke arah mereka semua.
“Tuan!” sapanya pada Victor ketika sampai di belakang majikannya itu.
“Ada apa, Paman?” tanya Victor dengan heran. Sepertinya dia tidak memanggil Paman Alex tadi. Mereka sedang tidak membutuhkan hal lainnya saat ini. Semuanya sudah tersedia di meja makan.
“Tuan mungkin lupa, besok malam resort kita akan merayakan ulang tahun yang kelima. Setelah mendengar kesembuhan Tuan, mereka mengharapkan kehadiran Tuan beserta keluarga. Mereka ingin mengucapkan selamat dan rasa syukur mereka secara langsung kepada Tuan,” jelas Paman Alex di belakang. Yang membuat Victor sedikit menoleh untuk mendengar lebih jelas lagi.
Tidak ada yang tidak memperhatikan, semua orang mendengar dengan jelas apa yang Paman Alex sampaikan. Tanpa terkecuali.
Setelah menyampaikan kabar itu, Paman Alex mengedip samar pada Bervan. Dan bocah itu pun langsung tersenyum lebar. Seperti tahu maksud dari kepala pelayan rumah ayahnya itu.
Dia sudah menjalankan tugasnya! Paman Alex selalu senang jika tuan mudanya pun senang. Untungnya dia mengingat hal ini, jadi dia punya cara untuk menahan Nona Rose sedikit lebih lama. Jadi Bervan mempunyai waktu lebih lama lagi untuk bermain bersama bibi kesayangannya.
“Kakak punya resort? Wooww!!” seru Rose agak kencang. Dia tidak percaya. Ini sungguh luar biasa! Selama itu dia tinggal di sini, Rose sama sekali tidak tahu jika kakaknya itu ternyata, kaya raya.
“Kau pikir bagaimana Kakak hidup selama ini? Bagaimana dengan pengobatan Kakak yang mahal? Dan bagaimana pula Kakak membayar orang-orang kekasihmu untuk berjaga di sekitar rumah ini?!”
Dan melihat wajah tenang Bella, sepertinya, istri dari kakaknya itu sudah tahu.
“Kau sudah tahu?!” tanya Rose pada wanita itu. Ia hanya mencoba memastikan.
Bella menjawabnya dengan senyum tak berdaya.
“Kau juga tahu?” Sekarang giliran Ben yang ia tanya. Pria itu pun mengangkat alis seraya menganggukkan kepalanya.
“Kau juga?” Baz pun tak luput dari pertanyaan Rose. Yang langsung dijawab dengan anggukan pula.
“Jadi hanya aku yang tidak tahu?” tunjuknya pada diri sendiri dengan wajah setengah polos dan bodoh.
“Heh!” Dari seberang, Mirabel tersenyum sinis. Namun girang juga di dalam hati. Ia akan memanfaatkan momen ini untuk mendapatkan tuan itu aka kekasih saudara tirinya.
“Bagaimana kau bisa tahu, jika pekerjaanmu hanya membuat ulah saja selama di sini?!” cibir Ben dari samping. Ia betul-betul mengingat setiap masalah yang dibuat kekasihnya yang pembangkang itu.
“Hhe… he!” Rose tak berdaya untuk menanggapi mengingat kenakalannya itu. Jadi dia hanya bisa tersenyum lebar bagai kuda.
“Kalau begitu, tunggulah beberapa hari lagi! Kita bersama-sama datang dan rayakan ulang tahun resort-ku, sekaligus perayaan karena aku sekarang sudah sembuh,” pinta pada tida orang yang akan pergi sore nanti.
Meskipun begitu, tujuan tatapan matanya tetap mengarah pada Ben. Karena bagaimana pun juga, temannya itulah yang mempunyai hak untuk mengambil keputusan.
Inginnya Ben menolak, karena mengingat banyaknya urusan di markas yang mesti dia selesaikan. Tapi, karena ini menyangkut dengan Rose, maka ia kembalikan keputusan ini pada kekasihnya itu.
“Aku terserah adikmu saja!” jawab Ben sambil mengedikkan kedua bahunya.
“Aku?” Wanita itu membeo supaya ia tidak salah dengar. Wajahnya pun langsung berubah senang kala mendapatkan anggukan dari Ben.
“Tentu saja aku mau!” seru Rose kemudian.
“Yeay! Bibi tidak jadi pergi hari ini!” Dan Bervan pun kelepasan.
Saking senangnya, ia bersorak sendirian. Lalu berhenti dengan wajah canggung karena semua orang memperhatikan dirinya. Tangannya pun ia turunkan lagi dan kembali diam.
“Yeay! Kita bisa bermain lagi, Bervan!” Tak ingin membuat keponakannya itu kecewa, Rose lantas menyahuti sorakan itu. Lalu, ia dan anak kecil itu pun bersorak bersama, dari bangku masing-masing.
Bella dan Victor saling tatap. Kemudian mengalihkan pandangan mata pada putra mereka. Keduanya pun menghela napas bersamaan. Putra mereka ini, selalu saja paling bersemangat jika sudah berurusan dengan bibinya!
Di antara semua keceriaan yang ada di meja makan itu, Mirabel menatap licik pada Ben dan Rose secara bergantian.
Akhirnya, dia mendapatkan kesempatan! Tunggu dan lihat saja nanti! Dia pasti akan mendapatkan tuan yang gagah itu!
Bersambung…
Bab terakhir tahun ini,,, semoga suka
Selamat tahun baru untuk teman-teman semuanya… semoga resolusi tahun depan tercapai semuanya ya manteman