Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Mengikuti jejak



“ROSE!!!”


Mulutnya berteriak tapi refleksnya juga bergerak dengan cepat. Ben melesat bersama angin ke arah Rose akan mendaratkan dirinya dengan sengaja.


Setelah memanggil Ben beberapa kali dan pria itu tidak mendengarnya, maka Rose memutuskan untuk nekat terjun sama seperti yang Ben lakukan, menurut perkiraannya. Lagi pula Ben saja tidak apa-apa, berarti dia juga akan baik-baik saja.


Akal sehatnya sudah ia buang jauh kemana. Ia sudah terlalu mengkhawatirkan kekasihnya itu. Inginnya, Rose ikut dalam situasi apa pun yang akan dihadapi Ben kali ini.


Rose juga bukan wanita manja dan tidak punya pikiran sama sekali. Dia tahu jika masalah kali ini benar-benar sangat serius. Sebuah markas geng mafia besar bisa dibobol masuk oleh musuh, sudah pasti keadaannya di atas ambang batas darurat.


Sungguh ia tidak ingin terjadi sesuatu pada Ben, maka dari itu ia menyusulnya. Untuk memastikan sendiri keadaan tuan seramnya itu. Dan… meskipun tidak banyak yang bisa ia bantu, atau mungkin ia tidak bisa berbuat apa-apa nantinya. Paling tidak ia bisa menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri jika Ben baik-baik saja sampai akhir.


Rose pun juga penasaran dengan pelaku, motif dan dalang di balik semua masalah ini.


Hap!


Beruntungnya, Ben sampai tepat waktu. Tubuh Rose mendarat sempurna pada kedua tangan Ben.


Padahal dia sudah memejamkan matanya, pasrah jika memang harus merasakan sakit apa pun di tubuhnya ketika mendarat nanti.


“Ehh!” Rose membuka matanya sambil menyadari bahwa ia tidak merasakan sakit apa pun. Malahan seperti mendarat di sebuah sarang burung yang nyaman dan empuk.


“Ben!” Ditatapnya pria itu dengan tatapan tak percaya. Senyum pun perlahan terukir di bibir merah mudanya.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Ben tak hangat sama sekali.


Tuan seramnya itu sedang kembali ke mode harus dijauhi. Ekspresi horor dan juga aura dingin merebak begitu ia mendapati Rose di tangannya.


Wanitanya ini dari dulu kenapa sulit sekali diatur! Masalah Rose yang ceroboh ini sudah terjadi berulang kali. Jadi saat ini pria itu sedang menahan geramannya.


Berbeda dengan dulu yang merupakan masalah sepele saja. Kali ini situasinya tidak terbaca sama sekali. Dan tentu saja sangat berbahaya untuk kekasihnya itu.


Rose yang sekarang belum cukup kuat, belum cukup mampu untuk menangani keadaan darurat seperti ini. Ben tidak mau terjadi sesuatu yang buruk apa pun padanya. Maka dari itu tadi dia memintanya untuk tetap berada di kamar.


Relly, ini pasti ulah dia!


“Jangan salahkan Relly! Ini salahku, karena mengkhawatirkanmu!” Segera Rose peluk pria yang masih menggendongnya di depan itu.


Ia tumpahkan sedikit perasaan leganya di sana, sambil berusaha mengalihkan kemarahan Ben padanya.


“Ck!” Tak berdaya dia, jika sudah seperti ini! Ben terus belajar untuk bersabar. Tidak termakan amarahnya dengan mudah. Tapi nanti… Rose tetap harus mendapatkan hukuman karena telah membangkang.


“Di sini berbahaya!” ucap Ben sambil menurunkan Rose ke tanah. Dibiarkannya Rose berdiri di hadapannya.


“Aku tidak takut!” jawab wanita itu dengan wajah meyakinkan.


Ben menarik napasnya yang terasa berat, karena ini adalah pertama kalinya Rose terjun langsung dalam sebuah masalah pelik dan pasti akan berdarah-darah. Entah wanitanya itu sudah siap atau belum untuk mulai masuk ke dalam dunianya yang kejam dan kotor ini?!


“Baiklah!” Diangkat Ben pisotlnya ke depan wajah. Dia sudah bersiap maju lagi sekarang. Tidak bisa ditunda lagi dengan memikirkan keadaan wanitanya saja.


“Tetap di belakangku, mengerti?!” katanya lagi, memerintah sambil menoleh pada Rose yang berbinar matanya.


Melihat bos mereka dan kekasihnya baik-baik saja setelah sampai di bawah sana, maka anak buah Ben yang masih berdiri di atas atap pun berusaha keras meyakinkan diri untuk ikut terjun ke bawah juga.


Sayangnya, nyali mereka tak cukup banyak seperti yang Rose dan juga yang Ben miliki. Mereka mengkhawatirkan kemungkinan jika kaki atau tulang rusuk mereka bisa patah jika terlalu memaksakan diri dan tidak siap.


“Tapi aku malu pada Nona Rose jika tidak melakukannya!” gumam salah satu dari mereka, kemudian dia menerjunkan diri tanpa mau membuka matanya.


Mereka yang masih berada di atas pun jadi memikirkan apa yang rekannya itu katakan. Benar! Mereka ini adalah seorang laki-laki, masa kalah dengan seorang wanita!


Pada akhirnya, semua orang terjun satu persatu.


Bag… bug… Tak… dak…


Ada yang mendarat sempurna tanpa cedera, ada juga yang harus berguling setelah mencapai tanah.


“Tuan, Nona!” teriak Relly dari atas sana. Dia baru saja sampai di atap gedung. Tangannya melambai pada bos dan juga kekasih bosnya itu. Dia begitu senang karena akhirnya bisa menyusul mereka. Relly sudah membayangkan akan berperang bersama lagi dengan bosnya. Momen yang sudah sangat  lama tidak ia lakukan.


“Hkk!” Relly merasa tercekik ketika ditatap oleh sepasang bola mata menyeramkan milik Ben.


“Bukan aku yang melakukannya, Tuan! Nona Rose sendiri yang malahan kabur saat saya menghadangnya!” Dia langsung sadar dengan dosa apa yang dimilikinya terhadap Ben. Wajah Relly sudah pias sebenarnya sekarang, takut Ben akan  menghabisi nyawanya.


“Ck!” Ben tak peduli dengan apa pun alasan Relly. Namun keadaan ini jauh lebih penting dari pada apa pun sekarang. Ben harus segera menyelesaikan masalah ini. Orang dengan pakaian serba hitam yang ia lihat harus segera ia temukan.


“Kerahkan lebih banyak orang lagi dan perketat penjagaan. Aku menginginkan orang itu hidup-hidup!” Titah Ben pada asistennya yang masih berdiri di atas sana.


“Tapi, Tuan-“ Relly ingin pergi bersama dengan bosnya.


Ben menggelengkan kepala, dia mengerti keinginan pria itu. Tapi saat ini lebih baik jika mereka mengerahkan kemampuan mereka masing-masing dengan menyebar.


Akhirnya Relly mengangguk mengerti, dan setelah itu berlalu pergi dari atap. Dia tahu apa yang harus dilakukannya.


“Ayo, jalan!” ajak Ben pada Rose.


Wanita itu pun mengangguk. Ada segumpal keyakinan dan keberanian terbentuk pada kedua bola mata abu-abu milik Rose. Hal ini pun mengurangi beban kekhawatirannya pada kekasihnya ini.


Semua anak buah Ben terus bergerak mengekori bosnya yang sudah lebih dulu berjalan di depan. Tidak karena dia adalah pemimpin geng mafia ini, jadi dia yang harus dilindungi. Menurut Ben, jika bisa, dia yang akan selalu berada di barisan depan dalam setiap kali peperangan mereka.


Jangan tanya Rose takut atau tidak saat ini! Meksipun kelihatannya wanita itu begitu yakin dan berani, tapi lubuk hatinya juga gemetar dan berdebar menghadapi situasi seperti ini secara langsung. Untung saja ada Ben di sisinya, jadi dia tidak perlu terlalu takut dalam banyak hal.


Mereka terus bergerak mengikuti jejak sepeda motor di tanah yang agak basah itu. Hingga suara baku tembak menarik atensi mereka semua.


Bersambung…


Ada apa ya,,, siapa yang main tembak-tembakan sih?!


Jangan lupa kasih like, vote sama komentar kalian ya


Keep strong and healthy semuanya