
“Halo, semuanya!”
Setelah itu hening sesaat. Semua pandang mata tertuju pada
sumber suara. Rose yang cantik nan anggun tengah menempatkan pengeras suara
bercorong di depan mulut.
Tak lama, dan keadaan menjadi ramai kembali.
“Lebih baik usir wanita itu dari sini!”
“Kami tidak menerima pengkhianat!”
“Jangan membuat masalah di dalam kelompok kami!”
“Sebaiknya kau kembali saja ke tempat asalmu di sana… di
tempat para mucikari!”
Lalu suara gelak tawa menggema dari mulut semua orang itu.
Tidak terkecuali satu pun dari mereka tidak tertawa. Mengejek, mencemooh dan
menghina dengan kekehan geli yang menyenangkan hati.
Rose menurunkan pengeras suara itu sedikit ke bawah. Rahang
halusnya mengetat dengan erangan kasar. Tangannya di samping, menggenggam erat
sampai buku-bukunya memutih.
“Diam kalian!” teriak Relly begitu marah sampai maju
beberapa langkah.
Mereka kembali diam, namun kemudian melanjutkan gelak tawa
itu lagi.
Rose geram, rasanya sangat marah. Namun dia mencoba menahan
diri.
Ini adalah ucapan yang sama, yang dia dengar pagi tadi
setelah selesai latihan. Tadi hatinya sudah sakit mendengar mereka yang
berbicara di belakangnya. Dan sekarang… dengan terang-terangan mereka semua
berani membicarakannya di depannya langsung.
Hati wanita mana yang tidak terluka karena hal ini! Hati wanita
mana?! Bahkan Anggie saja bisa merasakan sakit walau bukan dia yang ditujukan
oleh mereka.
“Kalian semua lebih baik diam! Sebelum Tuan Ben merobek
mulut kalian satu persatu!” Anggie maju, mencoba menghentikan semua tawa renyah
yang makin meremukkan hati Rose.
Dan Zayn tetap diam. Berdiri tenang di posisinya, tanpa
mengeluarkan suara atau pergerakkan satu senti pun. Hanya bibirnya saja
tersenyum samar.
“Jelas saja, wanita ini memang hanya bisa mengandalkan Tuan
Ben saja, kan?!”
“Beraninya bersembunyi di balik punggung Tuan kami! Jika
Tuan Ben sudah melihat wajah aslinya, paling-paling dia yang akan dihabisi!”
Pembenaran dan persetujuan atas semua kalimat itu terdengar
serempak dan memuakkan di telinga Rose. Apa yang sebenarnya mereka bicarakan?!
Rose pikir, sebenarnya mereka sendiri tidak mengerti semua ucapan mereka sama
sekali.
Diembuskan Rose napasnya yang terasa berat. Sembari membuang
gelisah dan marahnya. Rose tahu, bahwa dalam keadaan seperti ini, dia tidak
boleh gegabah dan terbawa emosi.
Rose harus benar-benar bisa membungkam mulut mereka semua.
Di waktu yang tepat.
Dia menurunkan tangannya yang memegang pengeras suara.
Menunggu dengan sabar, sampai semua ocehan tidak jelas itu selesai keluar dari
mulut jahanam mereka semua.
Di balik kaca jendela yang berlubang, tidak ada yang melihat
jika Ben sedang menahan geram. Menahan gunung merapinya agar tidak erupsi saat
ini juga. Meski begitu, dia sudah menggeram sangat keras. Layaknya harimau yang
sedang marah. Keluarganya diusik, tidak ada satu makhluk pun menyukai hal itu.
Wanitanya dihina di depan matanya sendiri. Dan dia tidak
bisa berbuat apa-apa. Bukankah dia terlihat seperti pecundang?!
Dipejamkan Ben matanya dengan sangat kuat sampai urat-urat
di sekitar matanya menonjol dan terlihat. Saat ini, pria itu sedang berperang
dengan dirinya sendiri. Antara memaksa keluar dan menghancurkan mulut mereka
semua. Atau berdiam di sini sesuai dengan apa yang Rose katakan.
Itu antara dia harus menghargai keputusan atau tidak. Memang
berat karena saat ini juga merupakan proses. Proses penggojlokan mental Rose,
agar lebih siap dalam menghadapi sebuah tekanan.
memejamkan matanya. Sudah cukup telinganya mendengar semua penghinaan itu. Ia
tidak ingin melihatnya secara langsung.
Di lapangan,
Relly bertukar pandang dengan Anggie melewati punggung Rose.
Mereka sama-sama bingung harus berbuat apa. Sedangkan mereka sendiri sudah
sangat geram dengan semua ocehan kurang ajar itu.
Menatap Rose yang berdiri tenang sambil memandang ke depan,
malah membuat keduanya semakin pusing. Sedang mereka sendiri juga tidak mau
kalau sampai bos besar mereka sampai turun tangan, karena mendengar kekasihnya
dihina sedemikian rupa.
Tidak hanya satu mulut kotor yang menghina Rose, tapi banyak
orang, puluhan. Mereka semua dengan tidak berperikemanusiaan terus meneriaki
Rose sebagai wanita murahan.
Kadung emosi Relly dan Anggie, sedangkan yang berhak
memutuskan untuk berbuat sesuatu adalah Rose sendiri.
Pada akhirnya dua orang itu saling menggeleng lemah. Mereka
biarkan dan menanti Rose mengeluarkan reaksinya. Jika saja nona mereka itu
tidak kuat akan semua hal ini. Keduanya berjanji melalui tatapan mereka, akan
memusnhakan semua mulut kejam itu dengan tangan mereka sendiri. Mewakili Ben
yang sekarang ditahan di dalam ruangannya.
“Mereka benar-benar kurang ajar! Padahal mereka sendiri
belum mengenal Nona Rose sama sekali, tapi sudah seenaknya menilai orang
seperti itu!”
Di sisi lain, kelompok yang datang bersama Relly dan Anggie
pun berargumen. Mereka memiliki pendapat mereka sendiri, tidak sama dengan
rekan mereka yang itu. Meski mereka mendengar desas desus mengenai pengkhianat
itu juga, namun sampai saat ini semuanya masih belum jelas, kan?!
Tidak bisa saling tuduh, atau malah memojokkan seseorang
seperti ini. Lebih parahnya mereka sampai menghina Nona Rose sampai
sebegitunya. Mereka tidak berhak sama sekali untuk melakukan hal ini.
Rose tidak tuli, telinganya masih normal untuk mendengar
pendapat yang bersahutan, yang mendukung dirinya. Ada sesuatu yang hangat yang
menyirami hatinya. Hati yang saat ini tengah kedinginan sampai mau membeku
rasanya.
Ternyata masih ada orang-orang yang berpikir rasional. Mereka
tidak termakan gosip itu bulat-bulat. Mereka masih memikirkan masalah ini
dengan otak jernih mereka.
Rose memang tidak minta dibela. Tapi mendengar hal ini,
ketegangan di wajahnya sedikit berkurang. Dia sudah bisa meredakan emosi yang
tadi membuncah dan siap dimuntahkan. Hatinya menghangat, bukan hanya Ben, tapi
masih ada orang lain yang mendukung dirinya.
“Katakan! Bagaimana kau merayu Tuan Ben sampai Tuan begitu
perhatian padamu?! Kau pasti merayunya di ranjang, kan?!”
Orang-orang itu melepaskan tawa mereka tanpa filter sama
sekali. Tertawa dengan begitu geli sambil memandangi satu sama lain.
“Hh….” Wajah Rose menegang lagi. Ditundukkan kepalanya
sambil mendengkus dengan napas berat. Dicengkeramnya pengeras suara di
tangannya itu dengan sangat kuat. Lampiasan emosinya saat ini.
Andai ia sudah menjadi lebih kuat. Andai ia sudah menjadi
wanita hebat saat ini. Bukan dengan kata-kata Rose akan membungkam mulut kurang
ajar dan brengsek mereka. Tapi dengan tindakan. Mungkin laras panjang adalah
pilihan yang tepat untuk memberondong semua orang dengan sederet peluru yang dikalungkan
ke leher.
‘Mati saja kalian semua!’
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
Suara tembakan yang begitu banyak memberondong indera
pendengaran semua orang untuk teralihkan ke arahnya.
Termasuk Rose yang terkejut mendengar hal itu. Ia pikir ada
musuh yang berusaha menyerang mereka. Mungkin pikiran yang lain sama dengannya.
Makanya mereka semua menoleh dengan pandangan waspada.
Namun ternyata bukan. Itu adalah….
Bersambung…