Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Mulut jahanam



“Halo, semuanya!”


Setelah itu hening sesaat. Semua pandang mata tertuju pada


sumber suara. Rose yang cantik nan anggun tengah menempatkan pengeras suara


bercorong di depan mulut.


Tak lama, dan keadaan menjadi ramai kembali.


“Lebih baik usir wanita itu dari sini!”


“Kami tidak menerima pengkhianat!”


“Jangan membuat masalah di dalam kelompok kami!”


“Sebaiknya kau kembali saja ke tempat asalmu di sana… di


tempat para mucikari!”


Lalu suara gelak tawa menggema dari mulut semua orang itu.


Tidak terkecuali satu pun dari mereka tidak tertawa. Mengejek, mencemooh dan


menghina dengan kekehan geli yang menyenangkan hati.


Rose menurunkan pengeras suara itu sedikit ke bawah. Rahang


halusnya mengetat dengan erangan kasar. Tangannya di samping, menggenggam erat


sampai buku-bukunya memutih.


“Diam kalian!” teriak Relly begitu marah sampai maju


beberapa langkah.


Mereka kembali diam, namun kemudian melanjutkan gelak tawa


itu lagi.


Rose geram, rasanya sangat marah. Namun dia mencoba menahan


diri.


Ini adalah ucapan yang sama, yang dia dengar pagi tadi


setelah selesai latihan. Tadi hatinya sudah sakit mendengar mereka yang


berbicara di belakangnya. Dan sekarang… dengan terang-terangan mereka semua


berani membicarakannya di depannya langsung.


Hati wanita mana yang tidak terluka karena hal ini! Hati wanita


mana?! Bahkan Anggie saja bisa merasakan sakit walau bukan dia yang ditujukan


oleh mereka.


“Kalian semua lebih baik diam! Sebelum Tuan Ben merobek


mulut kalian satu persatu!” Anggie maju, mencoba menghentikan semua tawa renyah


yang makin meremukkan hati Rose.


Dan Zayn tetap diam. Berdiri tenang di posisinya, tanpa


mengeluarkan suara atau pergerakkan satu senti pun. Hanya bibirnya saja


tersenyum samar.


“Jelas saja, wanita ini memang hanya bisa mengandalkan Tuan


Ben saja, kan?!”


“Beraninya bersembunyi di balik punggung Tuan kami! Jika


Tuan Ben sudah melihat wajah aslinya, paling-paling dia yang akan dihabisi!”


Pembenaran dan persetujuan atas semua kalimat itu terdengar


serempak dan memuakkan di telinga Rose. Apa yang sebenarnya mereka bicarakan?!


Rose pikir, sebenarnya mereka sendiri tidak mengerti semua ucapan mereka sama


sekali.


Diembuskan Rose napasnya yang terasa berat. Sembari membuang


gelisah dan marahnya. Rose tahu, bahwa dalam keadaan seperti ini, dia tidak


boleh gegabah dan terbawa emosi.


Rose harus benar-benar bisa membungkam mulut mereka semua.


Di waktu yang tepat.


Dia menurunkan tangannya yang memegang pengeras suara.


Menunggu dengan sabar, sampai semua ocehan tidak jelas itu selesai keluar dari


mulut jahanam mereka semua.


Di balik kaca jendela yang berlubang, tidak ada yang melihat


jika Ben sedang menahan geram. Menahan gunung merapinya agar tidak erupsi saat


ini juga. Meski begitu, dia sudah menggeram sangat keras. Layaknya harimau yang


sedang marah. Keluarganya diusik, tidak ada satu makhluk pun menyukai hal itu.


Wanitanya dihina di depan matanya sendiri. Dan dia tidak


bisa berbuat apa-apa. Bukankah dia terlihat seperti pecundang?!


Dipejamkan Ben matanya dengan sangat kuat sampai urat-urat


di sekitar matanya menonjol dan terlihat. Saat ini, pria itu sedang berperang


dengan dirinya sendiri. Antara memaksa keluar dan menghancurkan mulut mereka


semua. Atau berdiam di sini sesuai dengan apa yang Rose katakan.


Itu antara dia harus menghargai keputusan atau tidak. Memang


berat karena saat ini juga merupakan proses. Proses penggojlokan mental Rose,


agar lebih siap dalam menghadapi sebuah tekanan.


memejamkan matanya. Sudah cukup telinganya mendengar semua penghinaan itu. Ia


tidak ingin melihatnya secara langsung.


Di lapangan,


Relly bertukar pandang dengan Anggie melewati punggung Rose.


Mereka sama-sama bingung harus berbuat apa. Sedangkan mereka sendiri sudah


sangat geram dengan semua ocehan kurang ajar itu.


Menatap Rose yang berdiri tenang sambil memandang ke depan,


malah membuat keduanya semakin pusing. Sedang mereka sendiri juga tidak mau


kalau sampai bos besar mereka sampai turun tangan, karena mendengar kekasihnya


dihina sedemikian rupa.


Tidak hanya satu mulut kotor yang menghina Rose, tapi banyak


orang, puluhan. Mereka semua dengan tidak berperikemanusiaan terus meneriaki


Rose sebagai wanita murahan.


Kadung emosi Relly dan Anggie, sedangkan yang berhak


memutuskan untuk berbuat sesuatu adalah Rose sendiri.


Pada akhirnya dua orang itu saling menggeleng lemah. Mereka


biarkan dan menanti Rose mengeluarkan reaksinya. Jika saja nona mereka itu


tidak kuat akan semua hal ini. Keduanya berjanji melalui tatapan mereka, akan


memusnhakan semua mulut kejam itu dengan tangan mereka sendiri. Mewakili Ben


yang sekarang ditahan di dalam ruangannya.


“Mereka benar-benar kurang ajar! Padahal mereka sendiri


belum mengenal Nona Rose sama sekali, tapi sudah seenaknya menilai orang


seperti itu!”


Di sisi lain, kelompok yang datang bersama Relly dan Anggie


pun berargumen. Mereka memiliki pendapat mereka sendiri, tidak sama dengan


rekan mereka yang itu. Meski mereka mendengar desas desus mengenai pengkhianat


itu juga, namun sampai saat ini semuanya masih belum jelas, kan?!


Tidak bisa saling tuduh, atau malah memojokkan seseorang


seperti ini. Lebih parahnya mereka sampai menghina Nona Rose sampai


sebegitunya. Mereka tidak berhak sama sekali untuk melakukan hal ini.


Rose tidak tuli, telinganya masih normal untuk mendengar


pendapat yang bersahutan, yang mendukung dirinya. Ada sesuatu yang hangat yang


menyirami hatinya. Hati yang saat ini tengah kedinginan sampai mau membeku


rasanya.


Ternyata masih ada orang-orang yang berpikir rasional. Mereka


tidak termakan gosip itu bulat-bulat. Mereka masih memikirkan masalah ini


dengan otak jernih mereka.


Rose memang tidak minta dibela. Tapi mendengar hal ini,


ketegangan di wajahnya sedikit berkurang. Dia sudah bisa meredakan emosi yang


tadi membuncah dan siap dimuntahkan. Hatinya menghangat, bukan hanya Ben, tapi


masih ada orang lain yang mendukung dirinya.


“Katakan! Bagaimana kau merayu Tuan Ben sampai Tuan begitu


perhatian padamu?! Kau pasti merayunya di ranjang, kan?!”


Orang-orang itu melepaskan tawa mereka tanpa filter sama


sekali. Tertawa dengan begitu geli sambil memandangi satu sama lain.


“Hh….” Wajah Rose menegang lagi. Ditundukkan kepalanya


sambil mendengkus dengan napas berat. Dicengkeramnya pengeras suara di


tangannya itu dengan sangat kuat. Lampiasan emosinya saat ini.


Andai ia sudah menjadi lebih kuat. Andai ia sudah menjadi


wanita hebat saat ini. Bukan dengan kata-kata Rose akan membungkam mulut kurang


ajar dan brengsek mereka. Tapi dengan tindakan. Mungkin laras panjang adalah


pilihan yang tepat untuk memberondong semua orang dengan sederet peluru yang dikalungkan


ke leher.


‘Mati saja kalian semua!’


Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!


Suara tembakan yang begitu banyak memberondong indera


pendengaran semua orang untuk teralihkan ke arahnya.


Termasuk Rose yang terkejut mendengar hal itu. Ia pikir ada


musuh yang berusaha menyerang mereka. Mungkin pikiran yang lain sama dengannya.


Makanya mereka semua menoleh dengan pandangan waspada.


Namun ternyata bukan. Itu adalah….


Bersambung…