Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Suka membuat hukuman



Tak!


Dengan sengaja pula Ben memotong buah merah segar itu dengan hentakan keras. Sampai menimbulkan bunyi yang membuah hati Rose bergetar.


Pria itu memang benar-benar menakutkan!


Bahu dan kepala wanita itu sampai bergedik kaget, ketika mendengar hentakan pisau itu. Gigi Rose berbaris, pamer dengan ringis ngeri.


Ben melanjutkan kegiatannya lagi. Tanpa berucap, hanya suara ******* kasar dari hidungnya yang terdengar. Huh!


Dielus Rose dadanya bersamaan dengan helaan napas lega yang ia tiupkan melalui mulutnya. Kadang dia berpikir, bagaimana bisa dia begitu mencintai pria menyeramkan seperti itu!


Rose menggeleng cepat sambil memfokuskan diri kembali.


Setelah adonan cream cheese jadi, gula dimasukkan dan diaduk rata. Setelah itu Rose memasukkan telur satu persatu sambil dikocok terus. Setelah rata, wanita itu memasukkan vanilla dan maizena lemon zest.


Setelah rata, barulah whipping cream dimasukkan, dan diaduk sebentar. Semua itu dilakukan atas arahan dari Ben. Pria itu memang mengetahui resepnya, namun tidak dapat membuatnya sama sekali!


Bahan cream cheese yang sudah jadi itu, Rose tuangkan ke loyang yang sudah terdapat biskuit tadi. Lalu dipanggang dengan teknik au bain marie dengan suhu oven 180°C selama 30 menit. Lalu Ben memintanya menurunkan suhu ke 150°-160°C selama 45 menit.


“Bibi, kenapa prosesnya merepeotkan sekali!” keluh Bervan yang mulai merasa kelelahan.


Anak kecil itu duduk di atas sebuah kursi bar bulat yang tinggi. Dia menyanggahkan tangannya ke dagu, di wajah yang cemberut.


“Sabar, ya, Sayang! Sebentar lagi kuenya matang!” Diusap Rose kepala keponakan tersayangnya itu.


Seakan tak senang mendengar Bervan yang dimanja, Ben segera memberikan pengumuman yang tidak menyenangkan untuk didengar. “Setelah matang, kita perlu memasukkannya ke dalam pendingin. Lalu menunggunya, minimal 6 jam atau bisa jadi, sampai semalaman!”


“Bibi!” protes anak itu lagi. Makin cemberut pula wajah Bervan saat ini. Padahal dia sudah bersemangat membuatnya. Dan berpikir, jika setelah matang, kuenya bisa langsung dinikmati.


“Nanti malam kita makan kuenya bersama, ya!” bujuk Rose sambil mengusap lembut pucuk kepala anak kecil itu lagi.


“Kita belum membuat sausnya!” cetus Ben sambil menyodorkan strawberry yang sudah dipotong-potong kecil. Untuk yang dibelah menjadi dua bagian, Ben sudah memasukkannya ke dalam pendingin.


“Bagaimana jika kau membantu Bibi membuat saus strawberry-nya?” ajak Rose pada Bervan. Dengan maksud agar anak itu terhibur dengan melakukan kegiatan baru lagi.


“Baiklah!” jawab Bervan lemas.


Rose membantunya turun dari kursi itu. Lalu membimbingnya ke arah kompor. Anak kecil itu berpijak pada sebuah balok yang membuatnya menjadi lebih tinggi. Jadi tangannya bisa pas ketika memasak nanti.


Sekarang Ben yang cemberut di belakang punggung mereka.


Dimana momen romantis yang sudah ia bayangkan sejak tadi? Dimana hal-hal manis yang ia dan Rose bisa lakukan bersama?


Huh! Ini benar-benar di luar rencananya sama sekali! Yang dari tadi memiliki banyak momen bersama, malah Rose dan anak kecil itu, bukan dirinya!


Lagi-lagi, pria bertopi koboi itu cemburu dan iri pada seorang anak kecil!


Cheese cake pun matang. Ben mengeluarkannya dari dalam oven, masih dengan ditekuk wajahnya. Masih menatap sinis pada pasangan bibi dan keponakan yang terlihat harmonis bersama.


Dikenakan Ben sarung tangan tebal untuk mengambil dua loyang yang masih panas itu. Nampak kontras dengan penampilan eksentril beserta topi koboi-nya.


“Masukkan ini ke dalam lemari pendingin!” perintah Ben pada salah satu juru masak yang tak sengaja lewat. Disodorkan kedua loyang itu padanya.


“Sshh… panas!” desis juru masak itu sambil mengibas tangan serta meringis, menahan sakit.


“Ck!” Ben tak banyak bicara untuk meluapkan kekesalannya saat ini. Namun lirikan tajam serta suara decak lidah yang seolah memercik racun itu, sudah cukup untuk membuat juru masak tersebut gemetar.


“M- maaf, Tuan! Tunggu sebentar!” Juru masak itu langsung berlari, mengambil sarung tangan untuk ia kenakan di kedua tangannya.


Yang dia tidak tahu adalah, Ben makin menggeram karena sudah dibiarkan menggantung kedua tangannya.


“Ck!” Ben berdecak lagi, berikut emosi dan rasa sabar yang sudah menipis.


“Bibi! Aku bosan! Aku mau bermain dengan Mama dan Papa saja, ya!” anak kecil itu meletakkan spatula yang sedang dipegangnya. Lalu turun dari balok, dan berpijak sempurna di atas lantai.


“Hati-hati, Bervan! Jangan berlari!” teriak Rose pada anak kecil yang langsung melesat begitu celemeknya terlepas.


Namun apa daya, ia tak mampu menghentikan laju keponakan laki-lakinya yang sangat aktif itu. Rose pun hanya mampu menggelengkan kepalanya tak berdaya.


Tangan Ben juga sudah kosong, sebab kedua loyang itu sudah diambil oleh orang tadi untuk diletakkan di dalam lemari pendingin. Melihat anak kecil itu pergi, maka Ben segera memanfaatkan kesempatan ini untuk berduaan saja dengan kekasihnya.


Meski hanya tinggal sebentar, karena saus strawberry-nya akan segera matang.


Ben mendekap, memeluk Rose dari belakang. Menghidu aroma strawberry yang biasa menguar dari rambut kekasihnya itu, bercampur aroma saus strawberry segar yang sedang ia masak. Rasanya makin  menyegarkan!


Pak!


“Ben!” Dipukul Rose tangan pria itu yang melingkar di perutnya sambil sedikit protes.


Entah karena terkena uap panas dari saus yang sedang ia buat, atau karena tingkah Ben yang membuatnya malu. Rose merasakan wajahnya menghangat.


Jelas saja! Saat ini semua mata di dalam ruangan luas itu tengah memandang ke arah mereka berdua. Rose suka, tapi dia juga malu diperlakukan seperti ini.


Pelukan ini terlalu mesra dan intim untuk mereka lakukan di depan umum seperti ini. Beda halnya dengan Ben yang menggendongnya di belakang tadi.


Kalau cuma hal seperti itu, kan, mereka bisa menganggapnya seperti soerang ayah yang sedang menggendong putrinya saja!


“Ben geli!” protes Rose sambil tersenyum tidak jelas.


Tubuhnya menggeliat menahan senyar yang pria itu berikan. Namun Rose mencoba mempertahankan tangannya yang sedang memegang spatula dan gagang teflon yang ia gunakan untuk memasak saus.


Dengan sengaja Ben menyusurkan hidungnya di sepanjang telinga sampai ke ceruk lehernya. Menggelitik bulu-bulu halus di sana dengan bibir dan napasnya yang panas. Sesekali, Ben menghirup dalam aroma pada leher


wanita itu.


Jiwa Rose seakan ikut tersedot sesaat. Namun segera dia kembali pada kesadarannya. Hey, mereka tidak berada di dalam ruangan yang aman sekarang! Paling tidak mereka bisa melakukan hal seperti ini di dalam kamar,


kan!


Eits… apa yang sebenarnya sedang Rose pikirkan?! Dia merutuki dirinya sendiri. Sempat-sempatnya berpikiran seperti itu!


“B- Ben! Banyak yang melihat, kan!” protesnya lagi sambil menahan geli. Rose benar-benar tidak dapat membuat tubuhnya untuk tetap diam, pasalnya Ben terus menggelitiknya tiada henti.


“Aku tak peduli! Ini adalah hukuman karena kau tidak menghiraukan aku sejak tadi!” Terus menciumi dan menyusurkan hidungnya di sana. Pria itu sampai memejamkan matanya, menikmati hal ini.


“Tapi Ben-. Ck! Kau ini suka sekali menghukum orang, ya!” kesal Rose, namun bibirnya tetap merekah karena geli yang terus menjalar. Ulah siapa lagi? Tentu saja karena ulah Ben yang tidak mau berhenti.


Bahkan pemandangan ini, sudah membuat semua orang yang berada di sana, menghentikan kegiatan mereka, bahkan menghentikan napas mereka juga.


Wah! Semua mulut juga menganga sebab melihat pemandangan ini.


“Tuan-.” Relly yang hendak masuk dan memanggil Ben pun tidak jadi meneruskan seruannya.


Dengan sangat kesusahan, dia menelan ludahnya sendiri. Heh! Mau sampai kapan sebenarnya, tuannya itu akan bertobat dan tidak terus-terusan menyakiti mata orang lain lagi.


“Tutup mata dan lanjutkan pekerjaan kalian!” perintah Relly setengah berbisik. Tapi juga sambil menahan kesal. Bukan pada mereka tentu saja, tapi pada dua sejoli yang selalu merasa dunia adalah milik mereka sendiri.


Orang-orang yang berada di dalam dapur pun melihat kedatangan Relly. Dengan perintah yang Relly berikan pun, mulut mereka mengatup lagi. Lalu melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing, sambil berpura-pura buta dan tuli.


“Ck…! Padahal ada urusan penting yang harus aku sampaikan!” Ditatap sebal sepasang kekasih itu oleh Relly. Dia pun berbalik dan pergi.


Bersambung…


Resep dan cara memasak yang aku cantumkan aku dapat dari salah satu situs ya,


Mohon maaf jika ada yang salah, karena sesungguhnya, aku juga ga bisa buat kue sama sekali…hihi


Keep strong and healthy semuanya,,,