
Tidak mau! Rose tidak mau menerima hukuman dari tuan seramnya itu.
Ben adalah lelaki licik, dan Rose mengakui akan hal itu. Tidak ada yang benar keluar dari mulutnya jika sedang tersenyum. Selalu datang firasat buruk jika pria eksentrik itu terlihat begitu senang seperti itu.
Tadi saja, dia mendengar, saat Ben sedang berbicara dengan Zayn juga Anggie.
Kekasihnya itu mengatakan akan memberikan diskon untuk mereka berdua, dan bahkan untuk seluruh anggota yang lainnya. Termasuk juga Relly tentunya. Atas perintah yang ia berikan.
Atas pe-rin-tah! Bukan diskon untuk hu-ku-man, yang mereka akan dapatkan nanti, jika tugas mereka gagal.
Benar saja! Diskon untuk perintah yang tadinya mereka bisa kerjakan sampai esok hari, lalu dipotong waktunya, menjadi hanya sampai nanti malam saja.
Bukankah itu licik namanya!
Diam-diam, sebenarnya Rose mencibir kelakuan kekasihnya itu dari dalam kamar mandi. Ketika dia sedang menunggu tadi.
‘Ahh….’
“Tadi kau bilang kau mengenal pria tua itu. Memangnya dia siapa?” tanya Rose untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
Jangan bahas itu lagi! Jangan bahas tentang hukumannya lagi! Pikiran Ben harus ia arahkan pada fokus yang lainnya. Sebab ia tahu, jika hukuman pria itu selalu tidak biasa.
Ben mendengkus samar. Dia tahu jika Rose berusaha melarikan diri dari pembicaraan mereka mengenai hukuman untuknya.
‘Ingin membuatku lupa? Heh! Jangan harap!’
Meski Ben tertarik untuk membahas pertanyaan Rose ini. Namun dia tidak akan melupakan hukuman itu sama sekali. Tunggu dan lihat saja! Heh!
Dia adalah orang yang berpegang teguh pada prinsip. Aturan adalah aturan. Jika melanggar, maka hukuman harus didapatkan. Walau siapa pun pelakunya. Termasuk Rose sendiri.
“Dia adalah ayahnya Zayn.”
“Apa?!” seru Rose tak percaya. Padahal Ben belum menyelesaikan ucapannya. Tapi wanita itu kadung terkejut dengan fakta barusan.
“Bagaimana kau bisa tahu jika itu adalah ayahnya Zayn?” lanjut dia bertanya untuk mengurai rasa penasarannya.
“Dulu, dia adalah salah satu anggota Harimau Putih juga. Seangkatan dengan Ayah Danu, ketua kelompok ini, sebelum aku.”
“Lalu?”
“Mendadak dia mengundurkan diri setelah aku menjabat sebagai ketua di sini.”
“Kau tahu kenapa?”
“Tidak ada alasan yang jelas. Zayn hanya menjelaskan jika ayahnya mulai sakit-sakitan. Dan mulai saat itu, Zayn jadi lebih menunjukkan kemampuannya. Sampai saat ini, dia menjadi salah satu yang paling hebat dan orang kepercayaanku.”
Ben memalingkan wajahnya ke samping setelah mengatakan kalimat terakhirnya. Lesu dan tak bergairah, berbaur dengan roma kesedihan pada nada suaranya.
“Jadi maksudmu, Zayn sudah lama bergabung dengan kelompok ini?”
Ben pun pada akhirnya mengenang hingga belasan tahun ke belakang.
Bisa dibilang, dia dan Zayn masuk bersamaan. Hanya selang beberapa bulan saja dengannya, barulah Zayn dan Relly bergabung dengan geng Harimau Putih. Sedangkan Anggie, masuk ke dalam kelompoknya baru beberapa tahun kemudian.
Ben, Relly dan Zayn bergabung ke dalam geng Harimau Putih ketika mereka masih remaja. Mereka berlatih dan ditempa untuk menjadi yang terdepan. Begitu Tuan Danu mengetahui kemampuan daya serang dan daya tahan ketiganya.
Waktu itu, Tuan Danu yang menjadi pemimpin di sana. Dan sudah Ben anggap seperti ayahnya sendiri. Sebab selama hidupnya, dia tidak memiliki orang tua kandung. Tidak tahu!
Ben menceritakan jika sudah selama itu mereka bertiga sebenarnya menghabiskan waktu bersama. Memang, di bawah kepemimpinan Tuan Danu, kelompok ini menjadi sangat solid dan saling kekeluargaan.
Markas ini sudah seperti rumah sendiri bagi mereka yang tidak memiliki keluarga di luar sana. Hingga mereka pun menganggap satu sama lainnya sebagai saudara. Termasuk Ben sendiri.
Jadi… sebenarnya, Zayn maupun Relly sudah dianggapnya sebagai keluarganya sendiri.
Itulah yang menjadi berat ia rasa, dalam menghadapi masalah ini. Sebab, yang harus ia hadapi adalah keluarganya sendiri. Masih untung jika orang lain. Dia tidak akan peduli sedikit pun dalam memberi pelajaran kepadanya. Tak akan ada secuil pun perasaan kasihan ketika menghadapinya.
“Hah!” Rose menghirup napasnya begitu dalam ketika mendengar penuturan Ben secara keseluruhan.
Makanya pria itu amat menderita. Karena perasaan kecewa terasa lebih besar saat orang terdekat yang mengkhianati. Ketimbang orang lain, orang jauh yang tak begitu dia kenal.
Rose merasa iba, prihatin dan berempati pada kekasihnya itu. Namun… tidakkah mereka seharusnya memberi kesempatan bagi orang itu untuk mengklarifikasi semua ini?! Seorang penjahat pun masih diberikan waktu untuk
membela diri di pengadilan, kan?!
“Jika tidak salah ingat, tadi dia mengatakan bahwa dia tidak keluar kamarnya sama sekali. Lalu bagaimana mungkin jika dia adalah penyusupnya, Ben?” ditanyakan satu hal yang masih mengganjal di hati Rose.
Juga, tentang persekongkolan itu. Antara Zayn dan Anggie. Apakah terjadi sesuatu seperti yang Rose bayangkan ini? Apakah Anggie ikut terlibat di dalamnya? Atau dia benar-benar tidak tahu apa-apa?
Sepertinya dia perlu membahas hal ini dengan kekasihnya itu.
“Sudah ku katakan, bukan? Apa pun pengakuannya, aku sudah tidak mempercayainya lagi.” Rahang pria itu mengeras dan mengetat. Masih geram dia, dengan pengkhianatan yang Zayn lakukan padanya, juga pada kelompoknya.
Segala tipu muslihat pasti terjadi.
Tidak mungkin seperti apa yang dia katakan. Pasti ada sesuatu. Dan Ben akan mencari tahunya nanti. Relly yang sudah pasti akan dia pertintahkan untuk menjalani misi ini. Karena tidak sembarang orang dapat ia beri tugas rahasia ini.
Sudah cukup dengan pengkhianatan Zayn, tidak ingin dia dikhianati lagi oleh siapa pun. Saat ini, hanya Relly yang bisa ia percaya dan andalkan.
“Mungkin aku akan menyeledikinya. Ku harap Anggie tidak terlibat!” imbuh laki-laki itu setelah tak lama berpikir.
“Bagaimana jika kita menyelidiki kehidupan Zayn dan keluarganya juga? Siapa tahu ada masalah di dalam keluarganya, Ben. Mereka harus mencari tahu ke setiap detailnya, kan? Bisa jadi pengkhianatan Zayn berhubungan dengan ayahnya!” cetus Rose antusias. Tiba-tiba kepalanya dapat berpikir dengan benar.
Ben langsung bangun dari pangkuan Rose. Lalu mendudukkan diri. Matanya menatap Rose dengan antusias dan penuh gelora. Kenapa dia tidak segera berpikir ke arah sana sejak kemarin?!
Mungkin karena dia terlalu larut dalam kemarahannya, juga pada masalah gudang logistik dan stok persenjataan mereka yang menipis. Stok senjata yang jadi komoditi utama pemasukan kas kelompoknya.
“Kalau begitu aku akan meminta Relly untuk segera menyelidikinya!”
Meskipun Ben ragu, sebab masalah yang terjadi di gudang logistik saja, seakan sulit sekali untuk ia korek siapa dalangnya. Semua aksesnya menuju jawaban itu tertutup di tengah jalan.
“Bukannya Relly sedang kau perintahkan untuk menangkap penyusup itu? Lalu jika kau sudah tahu Zayn adalah orangnya, untuk apa kau memerintahkan hal itu padanya?”
Rose menelengkan kepalanya. Bingung dengan maksud kekasihnya itu. Dia masih belum sepenuhnya dapat mengetahui jalan pikiran Ben.
Maka Ben tersenyum miring. Tentu saja itu semua adalah drama yang ia rekayasa agar semua orang percaya. Tidak terkecuali satu orang pun boleh mengetahui apa yang ia pikirkan mengenai orang itu, termasuk Relly.
Walau asistennya itu yang memberikan dengan rekaman CCTV yang didapatkannya. Ben belum memberitahukan anggapannya ini. Baru Rose saja, baru mereka berdua saja yang menerka hal ini.
“Dari pada memikirkan hal itu, bagaimana kalau kita memikirkan hukuman apa yang akan ku berikan untukmu!” Makin miring senyumnya, makin merinding Rose melihat senyuman itu.
Bersambung…