Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Rahasia Relly



“Lepas!” sentak Anggie. Tangan yang lain ia gunakan untuk mencopot cekalan Relly di pergelangan tangannya.


Cengkeraman tangan itu terasa amat keras dan mengunci. Tapi ekspresi yang Relly tunjukkan malah biasa saja, seakan dia tidak mengeluarkan tenaga yang besar sama sekali.


Malahan, Relly menjepit bibir bawahnya dengan mata berbinar. Sengaja, pria itu menunjukkan ekspresi menikmati, perlawanan Anggie.


“Kau bodoh atau tuli?! Ku bilang… lepas!” Ia lepaskan ******* amarahnya yang bercampur frustasi.


Meskipun Anggie tetap berusaha mengerahkan tenaganya, ia tetap kalah oleh pria itu. Ia bahkan sampai mengangkat pergelangan tangannya, agar lebih mudah terlepas. Tapi tetap saja, rasanya sulit sekali terbebas dari kuncian ini.


Dan semakin Anggie menggeram, semakin pria itu merasa senang. Wajah kesal dan putus asa itu, seperti mengisi suatu lorong kepuasan yang biasanya kosong melompong.


Relly tersenyum penuh totalitas, sambil pula meledek Anggie dengan lengkung bibirnya itu.


Jadi… wanita itu pikir… dia akan lupa… dengan apa yang telah mereka sepakati?! Heh! Jangan harap!


Seringai lagi, muncul di bibir Relly.


“Kau belum melunasi utangmu padaku!” tegas Relly memperingati.


Pria itu juga memberikan tatapan tidak biasa bagi Anggie. Ada kesan meledek, konyol, seram, juga menekan. Rasa-rasanya, ia seperti baru saja mengenal orang ini. Bukan yang sudah mengenal bertahun-tahun lamanya.


Bukan Relly si bodoh yang biasa ia kenal!


“Utang apa? Aku merasa tidak punya utang padamu!” sengit Anggie dengan wajah meyakinkan. Seolah memang dia tidak pernah melakukan apa pun. Padahal dia mengingatnya.


“Lepas!” Dan tak berhenti usahanya untuk melepaskan diri.


Relly mencibir melalui bibir dan tatapannya. Heh! Memangnya dia tidak tahu jika wanita itu sedang berpura-pura bodoh?!


“Baiklah! Aku akan melakukannya!” putus Anggie dengan wajah kesal, sambil menyentak tangannya yang dicekal. Berharap lepas, tapi juga tetap saja mengikat dengan keras. Pria ini niat sekali tidak ingin melepaskannya!


“Benar,  kan, kau mengingatnya?” Relly tersenyum licik.


“Heh!” dengus Anggie sambil memalingkan wajah ke samping. Enggan, malas dia menanggapi orang itu lebih banyak lagi.


“Jadi… bagaimana kau akan membayarnya?”


Kelopak mata Anggie menyipit sesaat setelah Relly memberikan pertanyaan. Sebuah ide terpikiran olehnya. Bibirnya yang tipis itu tersenyum samar.


“Aku akan melakukannya sekarang!” tegasnya lalu, tanpa keraguan.


“Oh… ho… ho…! Sepertinya kau sudah tidak sabar, ya?!” ledekan Relly tidak memprovokasinya sama sekali. Sebab apa? Sebab dia sudah punya rencana!


“Tutup matamu!” pinta Anggie yang nadanya tidak lembut sama sekali.


Heh! Padahal wanita itu sudah tidak berdaya. Dan bahkan sebentar lagi, ia akan mendapatkan keuntungan besar darinya. Tapi masih saja, bertahan sekali sikap angkuhnya itu!


“Baiklah! Apapun untukmu, Sayang!” ucap pria itu seraya memejamkan mata.


“Jangan panggil aku ‘sayang’!” omel Anggie tidak terima. Lalu, tanggapan yang ia dapat, dari pria yang sudah memejamkan matanya lebih dulu adalah, sebuah cengiran tidak tahu diri.


Wanita seksi itu menoleh ke arah toilet dimana tadi Zayn memasukinya. Semoga kekasihnya itu tidak sempat melihat apa yang akan ia lakukan ini. Bisa-bisa, kekasihnya itu akan salah paham padanya.


Oke! Tidak akan sampai lima menit, jika hal ini berjalan dengan lancar nanti. Sesuai dengan kemauannya. Tunggu dan lihat saja! Wanita itu mulai memajukan diri, makin mendekat ke arah Relly.


Pria itu juga dapat merasakannya. Tangan di cekalannya terasa bergerak, bersamaan dengan embusan napas yang makin hangat ia rasa, ketika si empunya tubuh semakin merapat kepadanya.


“Pukul saja, jika berani! Ku pastikan kau akan membayarnya, lebih!” ucap Relly, ketika ia tak membuka matanya sama sekali. Nada yang terdengar biasa, nyatanya penuh penekanan.


Bibir Anggie mencibir kesal. Memamerkan deretan giginya dengan marah dan kesal. Ia pun menurunkan tangannya lagi.


Awas kau! Namun kemudian, ia naikkan sebelah sudut bibirnya. Ingat apa yang sudah ia rencanakan.


Anggie maju lagi. Seolah tahu, Relly pun mengangkat sedikit dagunya. Sehingga posisi bibirnya jadi lebih maju agar wanita itu bisa leluasa menciumnya.


Relly tersenyum, kala merasakan terpaan napas hangat Anggie di wajahnya. Ia tahu, jika ini sudah sangat dekat. Tapi dia tidak tahu, jika saat ini Anggie juga tengah tersenyum. Tepat di hadapan wajahnya.


‘Rasakan!’ seru wanita itu dalam hati.


“Aaargghh... akh… aarghh…!” Spontan Relly berteriak kesakitan. Sambil merasakan sakit yang menjalar, ia pun membuka mata.


Dilihat Relly pergelangan tangannya sudah memiliki bekas cap gigi, yang menusuk dalam dan rapi. Itu pasti bekas gigi wanita itu! Bekas gigitan yang berlubang dan memerah, sedikit lagi mungkin tangannya sudah berdarah.


“Hish!” Sambil meringis, dia pun melepaskan napas kesalnya melalui hidung. Dengan dengusan kasar, dia ingin memaki wanita sialan itu.


Dan makin marah Relly, ketika menyadari Anggie sudah tidak ada di hadapannya lagi. Wanita itu sudah berada di depan toilet. Bergandengan tangan mesra dengan kekasihnya, Zayn.


“Ayo, Sayang!” ajak Anggie pada Zayn, sambil berlalu begitu saja.


Wanita maskulin itu sempat melirik sebentar ke arah Relly. Melihat pria itu sedang sibuk sendiri akan sesuatu, ia pikir, Relly tidak mencurigainya kali ini. Ia pun ikut saja terbawa ajakan Anggie. Mereka memilih untuk segera enyah, dari hadapan Relly yang masih mengaduh sakit tak jauh di belakang.


Saat melangkah pertama kali, Anggie menoleh ke belakang sebentar. Kemudian ia memamerkan senyum penuh kemenangan. Kepada Relly yang tengah menatap, seolah ingin  menelannya bulat-bulat.


“Bye!” pamitnya tanpa bersuara, tanpa sepengetahuan Zayn. Sambil melambaikan kelima jarinya di belakang punggung kekasihnya itu.


Selamat menikmati! Kerling mata Anggie penuh ledekan pada Relly.


“Dasar wani-ta… akh!” pekiknya kesakitan, ketika tak sengaja ia menggosok bagian tangannya yang terluka.


Relly terus mengaduh dan merintih sambil ditinggal pergi oleh dua orang itu. Penderitaannya terasa lengkap saat ini. Karena sakitnya terasa berkali lipat, kala ia ditinggalkan setelah disakiti. Seperti ini! Hiks...


“Dasar wanita licik!” erangnya kesal sambil melihati cap gigi bekas gigitan Anggie.


“Dia itu manusia atau rubah betina? Giginya tajam sekali!” keluhnya antara kesal dan sedih.


Kemudian, ditatapnya titik bayang punggung Anggie yang sudah menjauh. Relly mengerling licik ke arah itu.


Lihat saja nanti! Bukannya, Relly sudah mengatakannya tadi?!


Jika wanita itu berani macam-macam, maka dia akan membayarnya lebih. Melebihi ekspektasi yang mungkin dia bayangkan.


“Tapi… “ Relly menurunkan tatapannya sebentar, lalu menatap ke depan lagi.


“Tapi kenapa dia cantik sekali! Ya, Tuhan!” Lelaki itu mendesah lemah, seolah tak berdaya dengan kecantikan dan pesona yang Anggie miliki.


Sebagai lelaki normal, bohong jika dia tidak memiliki ketertarikan pada makhluk indah itu. Relly pun bisa saja mengalirkan air liurnya dengan konyol, jika saja dia tidak selalu mengontrol diri.


Tatapan picik, licik dan juga geramnya, kini tergantikan dengan tatapan penuh perasaan. Dia sudah menyukai rekan wanitanya itu sejak lama. Sampai ia sendiri tak menyadarinya, kapan perasaan ini mulai timbul.


Ini adalah rahasianya. Rahasia Relly! Tidak ada satu orang pun, yang tahu mengenai isi hatinya ini. Meski Ben sekali pun.


Bersambung…