Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Pekerjaan Relly



“Ini, kan?” Rose menunjuk waktu di sudut layar pada video yang sedang dilihatnya saat ini.


“Benar! Hari dan jamnya berbeda!” Ben menganggukkan kepalan ketika Rose menoleh padanya dan bertanya.


“Waktunya selisih satu bulan dari video yang pertama,” tambahnya lagi tak mengurangi keseriusannya.


“Bagaimana bisa? Siapa yang melakukannya, Ben?” Rose kembali memamerkan wajah bingungnya pada kekasihnya itu.


Wanita itu baru pertama kali melihat hal menakjukan seperti ini. Seperti bagaimana dia menembak penyusup itu. Biasanya dia melihat hal-hal seperti ini hanya dia dalam film saja. Yang mungkin menurutnya, hal istimewa seperti itu tidak mungkin dapat ia temukan secara langsung.


Rose terperangah, takjub, tapi juga ironi bahwa hal ini menjadi alat untuk menyakiti diri kekasihnya. Mungkin yang lain sudah terbiasa, termasuk diri Ben sendiri. Namun baginya, ini adalah yang pertama kali. Bagaimana ini bisa terjadi?! Rose ingin mengetahuinya.


“Seseorang yang menggantinya,” jawab Ben tanpa menoleh. Matanya masih terfokuskan pada layar persegi di depannya.


“Tapi siapa, Ben?” Rose mengikuti gerak kursor di layar laptop yang Ben gerakkan melalui mouse.


“Siapa lagi?!”


“Maksudmu Zayn?”


Rose berusaha menebak, tapi juga tidak ingin tebakkannya ini menjadi benar. Ia masih tak berharap hal itu adalah kenyataan. Lalu bagaimana dengan Anggie? Apakah kekasih dari wanita maskulin itu juga bersekongkol dengannya? Dia juga inginkan memastikan hal ini.


“Apakah ada orang lain yang sedang kita bicarakan lagi, Rose?” Ben menoleh sebentar, lalu tangannya menggerakkan kursor di layar lagi.


“Bagaimana kau tahu?”


“Lihat ini!”


Rose yang sedang menatapnya pun menoleh ke depan lagi, begitu saja. Wanita itu menatap layar yang sudah  menampilkan rekaman video lainnya.


“Kalau tidak salah, bukannya ini waktu kau meminta mereka bertiga memeriksa rekaman CCTV. Lalu bagaimana kau bisa mendapatkan rekaman yang asli?” Rose masih terus memperhatikan rekaman yang menampakkan Relly, Zayn dan Anggie sedang sibuk bekerja di depan beberapa layar komputer.


“Benar! Waktu itu aku belum mencurigai siapa pun. Tapi kemudian Relly melaporkan hal ini padaku. Dan aku mulai menaruh kecurigaan padanya.” Ben mulia bergerak, berdiri di samping wanita itu.


“Bagaimana kau dan Relly tahu bahwa dia yang telah mengubah waktu dalam video tadi? Bagaimana bisa kau jadi mencurigainya?” Biar bagaimana pun otak Rose belum bisa bekerja secepat itu. Dia masih sangat minim pengalaman dalam hal ini.


Rose bukannya tidak mempercayai apa yang Ben katakan. Bukan itu maksud dua pertanyaannya itu. Rose hanya ingin tahu. Kelewat ingin tahu bagaimana Ben bisa menyimpulkan hal itu. Bahwa Zayn adalah pelaku penyusup itu.


“Lihat apa yang sedang dia kerjakan di saat Relly dan Anggie lengah!” perintah Ben. Dan laki-laki itu menghentikan video rekaman itu lalu memperbesar gambarnya.


‘Apa?’ Rose membekap mulutnya dengan tidak percaya. Dirinya masih terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini.


Dalam layar di hadapan Zayn terdapat informasi dari system yang mengatakan bahwa dia telah berhasil mengubah waktu pada video yang telah dipilihnya.


Lalu Ben menjalankan video itu lagi. “Bukan hanya itu!” Pria itu pun kembali menghentikannya.


“Lihat apa lagi yang dia lakukan!” pinta Ben lagi dan Rose membesarkan matanya.


Layar itu menampakkan Zayn yang tengah menghapus beberapa video pada rekaman CCTV. Gerakan tangannya sangat cepat dan bahkan sampai mata telanjang manusia tidak dapat melihat gerakannya dengan cepat.


“Apakah dia memang secerdas itu?” tanya Rose dalam keterkejutannya.


“Aku bahkan tidak tahu dia secerdas itu. Tapi… mereka semua tidak tahu sampai mana batas maksimal kemampuan yang Relly punya.” Ben sedikit tersenyum sinis.


Bagaimana pun juga, pria seram itu masih memiliki amunisi besar yang tidak diketahui semua anggotanya. Sebab hanya dialah yang tahu mengenai seberapa pintar isi otak Relly.


Anggota Harimau Putih memang sangat tahu keahlian Relly dalam mengoperasikan komputer dan meretas komputer lainnya. Tapi ilmu yang dia tunjukkan tidak sepenuhnya merupakan ilmu yang dia punya. Relly sehebat itu sampai Ben kadang lupa jika dia sering menyebutnya asisten bodoh.


“Setelah masuk ke dalam sana, tidak ada juga yang memperhatikan apa yang dia lakukan. Jadi Relly langsung meretas semua komputer di sana. Bocah itu sudah berhasil menyalin semua rekaman yang ada, bahkan yang sudah berhasil dihapus oleh Zayn.” Mendengkus pria itu dalam napas kemenangan sesaatnya.


Rose anggukan kepalanya beberapa kali untuk mengapresiasi pekerjaan Relly. Ternyata dia sehebat itu, ya! Padahal biasanya pria itu terlihat bodoh.


“Lalu apa tujuan dia  mengubah video tadi dan  menghapus beberapa rekaman CCTV? Aku masih belum mengerti, Ben! Apa masalah di gudang logistik juga berhubungan dengan dia juga?” Rose masih berusaha menganalisa. Sedangkan Ben, ia yakin pria itu sudah memiliki jawabannya.


Ben meragu akan hal ini. Dia pun belum mengetahui secara pasti apakah Zayn terlibat dalam masalah di gudang logistik. Apa pula motif anak buahnya itu melakukan sampai sejauh ini?! Dan siapa sosok dalang di baliknya, yang ia yakin pasti Zayn tidak bekerja sendiri.


Karena tidak mungkin hanya individual saja mampu melawan dan membuat masalah dengan geng sebesar geng Harimau Putih. Ben yakin ada sosok lainnya.


“Rekaman video yang pertama kau lihat juga terpotong. Kau belum melihatnya sampai selesai,” ucap Ben sambil mengembalikkan layar pada video yang sebelumnya mereka lihat. Dimana seorang pria paruh baya dengan pakaian berantakan mengacau di gerbang utama.


Rose mengernyit bingung. Kenapa semakin rumit teka-teki ini?! Rasanya dia ingin bertanya langsung pada Zayn, mengapa dia sampai melakukan semua hal ini. Mengapa?


“Apa kau sudah menebak apa tujuannya?” Lalu dia bertanya karena tidak tahan dengan rasa penasarannya ini.


“Aku belum membicarakannya lagi dengan Relly karena mendadak penyusup datang dan menyerang kami.”


Rose merasa makin sulit mencerna itu semua. Waktu pertama kali dia mencetuskan bahwa terdapat pengkhianat di tempat ini. Mungkinkah sejak itu Zayn mulai waspada dengan mengecek rekaman CCTV yang dapat mengarahkan kecurigaan padanya? Mungkin saja maksud Zayn waktu itu meninggalkan dia dan Anggie di lapangan berdua adalah untuk melakukan hal itu? Sementara mereka tidak tahu.


“Lihat rekaman ini sampai akhir!” pinta Ben setelah mengatur waktu video pada durasi yang diinginkannya. Lalu mereka akan membuat solusi bersama.


Apa pun yang dikatakan Zayn tadi mengenai alibinya yang terus berada di kamar tidak dapat ia percayai sama sekali setelah ini semua terjadi. Dan kenapa dia tak banyak bicara dan hanya memberti mereka tugas adalah supaya mereka lekas pergi, juga untuk membuat Zayn tak berfokus padanya yang sudah mengetahui sebagian besar masalah ini.


Seakan-akan Ben dan yang lainnya belum menyadari hal ini sama sekali. Mereka pun harus membuat alibi akan hal ini. Agar orang itu percaya bahwa dia telah mampu membodohi  mereka semua.


“Ben, ini Zayn, kan? Sepertinya mereka saling kenal!” seru Rose dengan nada antusias.


Bersambung…


Ayo,, ayo,,, terus dukung karya aku ya,, kasih like, vote


sama komentar sebanyak-banyaknya,,, hehe


Keep strong and healthy ya semuanya