Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Hukuman Untuk Della



Kamar rawat yang Ben tempati sejak semalam menjadi kosong untuk sementara waktu. Sebab, semua penghuni beserta tamu dadakan yang tadi datang, sedang berpindah tempat ke halaman parkir rumah sakit itu.


Ben yang masih lemah pun mesti menggunakan kursi roda untuk menuju tempat tersebut. Didorong oleh dua bidadari cantiknya, Berly dan Rose.


Sedangkan Felipe, berjalan di belakang mereka. Jangan tanya Emilio, pengawal pribadi Della itu sudah mengekor nonanya begitu Rose mengeluarkan titah.


Selama perjalanan menuju halaman parkir, Felipe memandang sendu pada keluarga kecil di depannya. Andai saja ia bisa memeluk mereka semua.


Ya! Titah apa yang Rose berikan?


Untuk mengetahuinya, maka, di sinilah semua orang berkumpul untuk melihat.


Keluarga kecil Ben beserta Felipe berhenti di ujung lorong yang menghubungkan area parkir dengan jalan menuju UGD.


Begitu sampai, Berly dan Rose tak dapat menahan diri untuk segera tertawa. Bahkan, Felipe sendiri yang merupakan ayahnya pun turut mengulum senyum.


Hanya Ben saja, yang enggan mengeluarkan ekspresi apapun. Meski dalam hati ia juga ikut terhibur dengan pemandangan di depan mata.


“Ma, dia lucu sekali, ya?!” ucap Berly sambil tertawa pada ibunya.


Rose pun mengangguk seraya tersenyum demi menanggapi sang putri.


Anak kecil itu lantas berpindah dari belakang kursi roda, lalu ke samping. Ia berdiri di sisi Ben dan melekat pada lengan ayahnya.


Inginnya, Berly dipangku oleh Ben. Namun, anak perempuan itu sungguh pengertian sekali. Dia tahu bahwa tidak boleh menyakiti sang ayah yang masih lemah dan dalam kondisi terluka punggungnya.


“Menurutmu lucu?” Ben ikut menanggapi seraya menoleh.


Pria itu pun menahan diri untuk tidak mengecup kepala gadisnya. Sebab, jika bergerak sedikit saja, luka tembak di punggungnya jadi terasa amat nyeri.


“Hem…, lucu sekali, Papa!” angguk Berly dengan senyum polosnya.


Demi apa, Ben semakin ingin mengecup anak kecil itu. Manis sekali senyumannya, semanis senyum ibu yang melahirkannya. Wanita yang amat Ben cintai.


Di saat yang sama, Rose memang sedang menatap keduanya. Sehingga, pandangan mata mereka pun saling bersirobok dan mengerling penuh cinta.


“Seumur hidup, baru kali ini aku melihat Della diperlakukan seperti ini!” komentar Felipe demi memecah suasana.


Sesungguhnya, ia turut bahagia dengan berkumpulnya kembali satu keluarga yang sudah terpisah cukup lama. Namun, Felipe juga jadi merasa terasing karena tidak bisa menyelami kebahagiaan itu bersama mereka.


Rose segera menoleh ke arahnya, dengan kernyit dan tanya.


“Uhm, maksudku…, selama ini, dia tidak pernah mau menurut kepada siapapun. Bahkan padaku yang adalah ayahnya sendiri. Dia selalu berbuat sesuka hatinya sejak kecil.


“Lalu sekarang, melihatnya mau mendengarkan perintahmu yang-ah…, kau bisa melihatnya sendiri! Itu terasa aneh bagiku!


“Lucu sekali! Apalagi melihat wajahnya yang sudah kesal setengah mati…, lihatlah!” Felipe meminta Rose menatap ke arah Della. “Siapapun yang mengenalnya, pasti akan merasa lebih terhibur daripada orang-orang yang baru lewat dan melihatnya dalam keadaan seperti ini.” Pria itu merujuk pada pengunjung rumah sakit yang tak bisa menahan tawa ketika melihat wujud putrinya saat ini.


Felipe meluruskan kalimatnya yang pertama tadi. Bukan maksudnya untuk tidak menyetujui permintaan dan perintah Rose tentang hukuman yang mesti ia beri.


Laki-laki itu hanya tidak dapat menahan diri, untuk terkagum pada situasi yang tak pernah dibayangkannya akan hadir pada sosok anak perempuannya yang terlalu pembangkang dan semuanya sendiri.


Rose tak menanggapi, hanya meluruskan dan mengendurkan kembali kernyit di alis yang tadi sempat terbentuk begitu dalam. Ia pun tak berekspresi, hanya mengalihkan pandangan ke arah depan.


Semua pengunjung yang baru saja datang, juga yang hendak pergi atau kembali pulang, sedang diberi penghiburan gratis di dekat pintu gerbang.


Di sana, Della yang sudah di-make over oleh Rose, tengah berdiri dengan sebuah name tag yang menggantung di leher dan menempel di depan dada.


Eye shadow biru menyala Rose bubuhkan pada kelopak mata Della, dipadukan dengan warna cokelat tanah yang kontras. Tak lupa, wanita itu juga menambahkan lebar pada alis Della yang sebenarnya sudah terbentuk rapi. Dibuat menjadi sangat tebal dan hitam pekat sampai naik ke dahi.


Pemulas pipi Rose beri dengan sangat banyak dengan bentuk bulat. Sehingga, pipi mulus Della jadi terlihat menonjol dengan warna merah muda.


Warna putih pekat bak cat dinding, dengan segala warna kontras yang melengkapinya, penampilan Della saat ini sungguh sangat luar biasa, bisa mengocok perut setiap orang yang melihat.


Rose tidak setengah-setengah dalam memberikan hukumannya. Name tag yang terpasang di depan dada, bertuliskan “AKU BERSALAH”. Ditulis sangat besar, sehingga dari jarak Rose dan yang lainnya berada saat ini, mereka masih bisa membaca tulisan tersebut.


Tenang saja! Masih belum selesai!


Rambut panjang Della yang selalu indah itu, Rose kuncir dua di kanan kiri. Dibuat tinggi, lalu diberi cabang tiga.


Wanita berambut pirang itu juga meminta Della merentangkan tangan, sambil memegang dua set bunga vas plastik yang Rose pinjam dari seorang perawat.


Perlengkapan make up yang digunakan untuk mendandani Della juga ia pinjam dari perawat tersebut. Rose pun sangat berterima kasih, karena perawat itu sudah sangat membantunya.


“Dia…, adalah manusia dengan harga diri paling tinggi yang pernah aku temui. Berambisi dan tidak pernah mau kalah.” Kekasih dari Ben itu pun buka suara.


Memandang lurus ke depan dengan tatapan tajam dan dalam. Berdiri tegak sambil melipat tangannya di depan. Menikmati pemandangan yang sudah ia ciptakan dengan tangannya sendiri.


Felipe dan Ben lantas mengalihkan atensi mereka pada asal suara. Sedangkan Berly yang berdiri di samping ayahnya, masih asyik melihati Della yang sedang ditertawai semua orang.


“Dan ini, adalah hukuman yang paling tepat untuknya! Tidak perlu menggunakan kekerasan untuk membuatnya terluka. Karena aku jamin, dia sedang berdarah-darah sampai ke dalam hati.”


Dengan kompak, Felipe dan Ben memandang ke depan lagi. Memikirkan apa Rose katakan, dan membenarkannya dalam diam.


Benar! Seseorang yang merasa dirinya paling berkuasa, paling tinggi dan tidak pernah gagal, harus diberi pelajaran dengan menyerang mental dan psikisnya.


Kekerasan tidak akan membuatnya jera. Hukum formal pun tidak akan mempan pada orang yang berkuasa. Namun, hukuman sosial seperti ini, akan benar-benar memukul mental seseorang.


Dia akan merasa benar-benar sudah jatuh ke bawah, ke jurang yang paling dasar.


“Meskipun aku sudah menghukumnya, tapi bukan berarti aku sudah memaafkannya. Semua itu tidak bisa dilakukan semudah membalikkan telapak tangan.


“Luka dan penderitaan yang sudah dia beri, tidak bisa disamakan hanya dengan hukumannya yang sesaat saja, seperti ini. Jika benar-benar ingin diampuni, itu tergantung dari bagaimana sikapnya di masa depan.”


Selepas mendengar hal itu, Rose merasakan ujung jemarinya di sisi kanan diraih oleh seseorang. Ia menoleh, lalu membalas senyuman Ben yang sedang menatap ke arahnya.


Felipe hanya terdiam. Dia tidak menyangkal semua ucapan Rose sama sekali. Sebab, pria itu pun tahu dan menyadari bahwa apa yang pernah dilakukan putrinya, amat sangat keterlaluan.


“Ayah!” Della merengek dari kejauhan.


Meneriaki Felipe, berharap mungkin saja sang ayah akan memberikannya pertolongan. Namun, sayang sekali karena ayahnya tetap bergeming di tempat. Dan bahkan, tidak menyahutinya sama sekali.


Dari tempat keempat orang itu berdiri, mereka semua dapat melihat bagaimana kesal wajah Della saat ini. Wanita itu bahkan tak henti-hentinya berdecak sambil menghentakkan kaki ke tanah dengan keras.


Siapa juga yang tahan dijadikan bahan olok-olok semua orang?!


Seumur hidupnya, Della selalu dipuja dan dipuji. Wanita itu bahkan dapat dengan mudahnya menempatkan kepala siapa saja di bawah kakinya.


Tapi, apa yang terjadi sekarang?!


Della merasa dunianya akan runtuh sebentar lagi, jika terus saja dalam keadaan memalukan seperti ini.


“Heh! Bukankah dia beruntung, ada pria itu yang selalu setia padanya!” sindir Rose dengan mencibir.


Dua lelaki di sampingnya kembali terdiam, tak menanggapi. Mereka sama-sama tahu bagaimana Emilio selalu setia terhadap Della. Dan bahkan, lebih dari itu.


“Mama! Itu-?” Tiba-tiba Berly berseru sambil mengarahkan telunjuknya ke arah depan.


Bersambung…