Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Kencan yang keren



Dan bukannya takut, wanita itu malahan melebarkan senyumnya dimana saat ini ia sedang menundukkan kepala.


Rose menyeringai di balik punggung Ben. Dadanya terasa berdebar. Adrenalinnya dipacu dengan kuat. Baginya, ini terasa sangat menegangkan tapi juga seru.


Tapi, hey! Bukannya ini seperti sebuah kencan ala ketua geng mafia?! Kencan yang tidak seperti pada umumnya dan sangat keren!


“Apa yang kau tertawakan?” Desah Ben sedikit menoleh ke belakang.


Di suasana yang sedang tegang-tegangnya ini, sempat-sempatnya ia mendengar kekehan kecil lolos dari mulut manis kekasihnya itu! Sepengetahuan Ben, biasanya seorang wanita akan gemetar ketakuran bila dihadapkan dalam situasi seperti ini.


Tapi kecualikan untuk Zayn dan Anggie. Menurut Ben mereka berdua bukan wanita, tapi lebih seperti iblis wanita, bila digambarkan.


“Berikan dulu sebuah pistol padaku, baru aku jawab!” Tersenyum Rose di belakang pria bertopi koboi itu.


“Kalau begitu lupakan!” Lupakan bahwa dia pernah bertanya tadi. Lebih baik Ben tidak mendengar jawaban apa pun dari pada harus memberikan benda berbahaya ini padanya.


“Huh!” Ingin protes tapi tidak bisa, jadi Rose hanya bisa mengerucutkan bibirnya.


Dor!


Sebuah tembakan melesat dan hampir mengenai lengan Rose, jika saja Ben tidak gesit menarik dan memeluknya.


“Sialan!” umpat Ben murka.


Anak buah Ben yang selalu menjaganya sejak tadi juga  merasa kaget. Dia pun merasa telah lengah dan bersalah.


Dor! Dor! Dor!


Sambil membawa Rose dalam pelukannya, Ben bergerak dengan sangat cepat sambil melayangkan tembakannya ke ara dua penyusup itu.


Sekarang dia tidak boleh lengah lagi. Gara-gara tadi dia bertanya pada Rose, konsentrasinya pun menjadi terpecah. Dan mungkin karena jarak mereka yang kadung dekat, musuh jadi bisa melihatnya.


Sedang si wanita, dia tersenyum-senyum terus sambil terbawa kemana-mana. Rose malah kegirangan mengikuti aksi Ben secara langsung. Dia jadi dapat melihat wajah serius kekasihnya itu ketika sedang bertarung.


‘Oh, tampannya!’


Kekasihnya itu memang keren. Jika saja mereka tidak dalam situasi mendesak seperti ini, mungkin sudah akan Rose cium bibir seksinya. Rose gemas sekali rasanya!


Cup!


Satu ciuman singkat mendarat di bibir merah mudanya. Rose saja sampai terperangah.


“Jangan terus melihatku seperti itu! Aku bisa hilang konsentrasi!” Wajah datar Ben protes setelah seenaknya membuat orang terkejut.


Mereka kini sedang bersembunyi di balik pohon cokelat yang lumayan besar. Jadi Ben manfaatkan kesempatan yang sangat kecil ini untuk memberitahu kekasihnya. Bahwa dia pun tidak akan tahan, jika ditatap seperti itu. Ditatap oleh netra yang seakan ingin melahapnya.


“Sempat-sempatnya!” Di dalam pelukan itu, Rose memukul dadanya pelan. Menunduk dia merasa malu. Jika ada anak buahnya yang melihat bagaimana?!


Dor!


“Aarghh!”


“Ben!”


“Tuan!”


Lengan kanan Ben pun menjadi sasaran empuk salah satu penyusup itu. Pistol yang ia pegang jatuh ke tanah karena tangannya mulai melemah.


Rose menjadi panik bukan main. Dan menjadi merasa sangat amat bersalah. Sebab karenanya, Ben jadi tidak begitu konsentrasi. Tidak fokus pada targetnya di depan. Rose ingin menangis, tapi rasanya air matanya tertahan oleh amarah.


“Kalian tetap maju! Sebentar lagi yang lain akan datang!” perintah Ben pada para anak buah yang menjadi satu kelompok bersamanya.


“Baik, Tuan!” Setelah mengangguk, salah satunya mengalihkan pandangannya pada Rose. “Nona, tolong jaga Tuan Ben!”


“Ya, pasti!” Dianggukkan kepalanya dengan wajah serius dan yakin.


Dor! Dor! Dor!


Kelima anggota Ben pun bergerak lebih dekat lagi, sambil terus memberondong kedua penyusup itu dengan tembakan bertubi-tubi. Mengetahui bos besar mereka tumbang pun, kelompok pertama yang menyergap dua penyusup itu kembali melayangkan tembakan mereka. Mereka semua marah dan murka karena bos besar mereka terluka.


“Ben, kau bisa menahannya?” tanya Rose khawatir karena bekas tembakan itu terus mengeluarkan darah.


Bibirnya gemetar karena perasaan sedih dan bersalah. Ini semua gara-gara dia! Gara-gara dia, Ben jadi terluka begini. Dan gara-gara orang itu kencan kerennya jadi berhenti.


Rose geram, Rose kesal. Awas saja! Dia akan membuat perhitungan dengan kedua orang itu!


“Tenang saja! Ini bukan apa-apa!” Dielus lembut wajah Rose yang tegang itu. Tidak ingin dia melihat kristal bening yang sudah tertahan di pelupuk matanya mencair. Sebab dia juga akan semakin merasa bersalah, karena sudah memutuskan untuk membawa Rose ikut serta.


Kedua penyusup itu makin terhimpit. Tak akan ada jalan keluar lagi bagi mereka. Sedangkan mereka sudah disudutkan dari samping kanan kiri juga depan belakang.


Tak ingin menyerah sampai di sini, keduanya saling memandang dengan satu tatapan penuh arti. Dan hanya mereka berdua saja yang mengetahui.


Penyusup yang tidak terluka, mengeluarkan sesuatu dari kantung rompi hitam yang dia kenakan. Penguncinya ia buka, bentuknya berupa kaleng kecil berwarna delap. Lalu dilemparkan benda itu ke arah depan. Dan ternyata itu adalah sebuah bom asap.


Dia lalu mengeluarkan satu buah lagi untuk dilemparkan ke lain sisi. Hingga tempat mereka berdiri saat ini menjadi tak terlihat karena asap tebal yang mengepul di sekitar mereka. Keduanya berencana melarikan diri dengan mengganggu pandangan musuh.


Cara ini mereka lakukan di saat genting seperti sekarang ini. Ketika keadaan mereka terpojok dan tidak ada jalan keluar lagi bagi keduanya. Ditambah yang satunya lagi terluka, pasti pergerakan mereka akan semakin terhambat jika mereka tidak mengulur waktu.


Semua anak buah Ben yang berada di sana mengibaskan tangan mereka di depan  untuk mengusir asap yang


menghalangi pandangan. Tidak mungkin dilayangkan satu tembakan pun, karena di hadapan mereka pun banyak terdapat rekan mereka sendiri. Bagaimana pun juga mereka tidak boleh melukai satu sama lain.


“Ben, mereka mencoba melarikan diri!” seru Rose untuk memberitahukan hal ini kepada kekasihnya.


Ben melihat hal itu kemudian meringis dengan wajah horor dan rahang yang mengetat. Geramnya dia saat ini ingin sekali menghabisi kedua orang itu.


Tangannya berusaha menggapai pistolnya yang terjatuh di tanah, ketika dilihatnya dua bayangan hitam melesat keluar dari gumpalan asap tebal itu. Keduanya harus dilumpuhkan. Tapi tangan Ben begitu lemah untuk menembak, sedangkan tangan kirinya tidak begitu handal. Tapi dia tetap akan mencobanya menggunakan tangan kirinya ini.


Netra abu Rose dibingkai kilatan tegas juga memancarkan suatu tekad yang amat kuat. Rose bergerak dari sisi Ben yang sedang membungkukkan badan ingin meraih pistolnya.


Pistol itu akhirnya bisa diambil. Bukan oleh tangan Ben, melainkan direnggut oleh tangan ramping Rose dengan cekatan. Pria bertopi koboi itu saja sampai kaget dibuatnya.


“Rose! Apa yang akan kau lakukan?!” seru Ben ketika melihat Rose mulai meletakkan pistolnya di tangan dan mengarahkannya ke depan.


Tak ingin dia menjawab seruan Ben, sebab saat ini ia tengah berkonsentrasi membidik sasaran bergerak yang semakin menjauh.


Dor!


Hingga sebuah tembakan terjadi dan Ben tak dapat mencegahnya.


Bersambung…


Mau dilanjut lagi ga updatenya hari ini?


Kalo mau, hayo atuh kasih like sama komen sebanyak-banyaknya, biar aku tambah semangat


Keep strong and healthy ya semuanya