Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Masih ada



Tidak seperti sebelumnya ketika Rose mengatakan hal apa pun


selalu ada jawaban dan sahutan tidak terima dari beberapa orang. Kali ini,


ketika Ben berbicara, semuanya nampak henyak dan diam. Mereka ditampar oleh


ujaran Ben barusan.


Anak buahnya yang mendadak menjadi bodoh mesti Ben peringati


dengan cara yang agak keras. Sebab, begitu pun dengan keras kepalanya mereka,


tidak mau mendengarkan penjelasan Rose sama sekali.


Ben pun bingung, sejak kapan anak buahnya itu mudah sekali


terprovokasi. Padahal mereka merupakan satu kesatuan tim yang solid. Harusnya


tidak perlu sampai terjadi malapetaka serta perpecahan begini.


Pria bertopi koboi itu memang tidak tahu jelas apa yang


sebelumnya terjadi di antara mereka semua. Apa pula yang mereka semua bicarakan


termasuk Rose di dalamnya.


Pria itu hanya menilai jika anak buahnya sudah terbagi


menjadi dua bagian, yang satu mendukung Rose, dan yang satu masih keras kepala


dengan menuduh kekasihnya itu sebagai biang masalah.


Ben rasa, ia perlu meluruskan dan membasuh pikiran kotor dan


kerdil anak buahnya itu. Agar semuanya menjadi jelas setelah ini.


“Baik…! Mungkin ada di antara kalian yang masih mengingat


wajah ini. Aku akan memperkenalkan kepada kalian… dia adalah Victor Benneth.


Dia rekanku, pernah menjadi bagian dari kita beberapa tahun yang lalu.” Tangan


Ben menghela supaya Victor maju.


Ketika Victor sudah berada di sampingnya, pria itu pun


melanjutkan. “Sekaligus kakak dari Rose… yang kalian sebut… sebagai


pengkhianat!” Rahang Ben mengetat kala menyebutkan hal ini.


Begitu pun dengan Victor yang tidak terima adik kandungnya


difitnah sampai seperti ini. Secara garis besar Relly sudah menceritakan


kronologinya ketika mereka melakukan panggilan.


Kesal, marah, murka, kurang lebihnya sama seperti apa yang


Ben rasakan kemarin. Jika tidak ingat kondisi tubuhnya masih dalam masa


pemulihan, mungkin Victor sudah menghajar orang-orang itu, satu persatu.


Beruntunglah Ben masih membiarkan mereka hidup. Victor juga


tahu bagaimana Ben mengamuk dari cerita Relly kepadanya. Beruntung sekali


mereka yang jahanam mulutnya, masih diberikan kesempatan oleh kekasih adiknya.


“Ah… aku memang lupa memperkenalkannya kepada kalian secara


resmi.” Ditarik Ben pegangan tangannya pada Rose, sehingga wanita itu maju dan


bersisian dengannya.


“Dia Rose Benneth. Calon istriku!” Pria itu merengkuh kedua


bahu Rose dari belakang saat akan memperkenalkannya. Tangan itu lembut, namun


tatapan matanya menusuk netra setiap orang.


Victor Benneth?


Rose Benneth?


Jadi mereka benar-benar adik-kakak? Mereka bersuadara?


Beberapa orang mulai resah dan gelisah mendengar pengumuman


ini. Spekulasi yang masih mereka tampik nyatanya adalah sebuah kebenaran. Rose,


wanita yang mereka fitnah, tuduh dan hina adalah benar adik dari orang itu.


Victor, orang yang memiliki tatapan bak mata elang.


Kecakapannya dalam bela diri dan senjata semua orang tidak pernah meragukannya.


Selain Ben, dia yang unggul di sana, kala itu.


Calon istri?


Bahkan bos besar mereka saja sudah memberikan predikat


seberat dan sespesial itu kepada Rose!


Mereka benar-benar dalam masalah sekarang! Ternyata wanita


itu bukanlah wanita sembarangan. Dia bukan wanita yang dipungut bos mereka di tempat


yang acak dan asal.


Tidak mungkin juga, adik dari seorang Victor Benneth adalah


wanita murahan seperti yang mereka elu-elukan tadi malam.


Sebab mereka juga tahu, bahwa Victor bukanlah orang


sembarangan. Karena sampai beberapa waktu lalu pun, orang itu masih menggunakan


jasa mereka untuk berjaga di sekitar rumahnya. Jadi, sedikit banyaknya, Victor


masih berhubungan baik dengan Geng Harimau Putih, meski dia sudah pensiun dari


sini.


Malu! Malu luar biasa mereka saat ini. Semua orang yang


tadinya menghina Rose habis-habisan mulai menundukkan kepala tanpa sadar. Tidak


ingin wajah mereka terlihat. Wajah yang sudah berani bertindak kurang ajar.


Tersentuh hati Rose, kala Ben mengumandangkan pengumuman itu


di depan semua anak buahnya, secara langsung seperti ini. Ia sentuhkan


tangannya ke tangan Ben di bahu.  Ditolehkan pula kepalanya ke belakang, sambil memberikan senyum tulus


pada kekasihnya  itu.


Ben membalas. Ia berikan satu kecupan singkat pada kening


masalah belum usai. Tapi setidaknya, jalan yang kusut sedang mereka urai.


“Ekhem….” Victor sengaja berdehem keras untuk menyindir dua


insan yang tengah dimabuk cinta. Tolong lihat tempat! Kemudian ia mengambil


alih microphone di depan.


“Halo!” Dia tersenyum ramah, tapi matanya tidak. Tangannya


melambai memberi salam, namun setelah itu turun sambil mengepal dengan erat.


Ada emosi yang dia sembunyikan.


“Jadi, orang itu sudah memperkenalkan diriku pada kalian,


kan?!” Melirik sedikit pada Ben dengan tidak acuh.


“Salam jumpa lagi, bagi kalian yang pernah menjadi rekanku


dulu. Dan… salam kenal untuk kalian yang baru bertemu denganku.” Bibirnya


tersenyum sebentar.


“Ku dengar… ada isu pengkhianat… di sini!” Victor berbicara


pelan dan perlahan. Memberi penekanan pada setiap katanya. Dia langsung


menembus ke intinya.


“Wah… hebat sekali! Sepanjang sejarah Harimau Putih, yang ku


tahu… ini adalah yang pertama kali! Dan pengkhianatnya… adalah… adikku


sendiri?” Bibirnya lantas menyeringai seram.


Victor seolah sedang bertanya pada mereka semua. Nyatanya,


pria itu sedang memastikan beban, sakit dan derita yang dialami adiknya


beberapa hari belakangan. Dia bertanya langsung, menunggu apakah orang-orang


itu mau mengakuinya, di hadapannya saat ini.


Di dalam ruangan itu, di dalam ruang tertutup itu,


suasananya berubah menjadi lebih mencekam. Tidak hanya dari tatapan Ben serta


aura yang dimilikinya. Leher jadi makin tercekik karena tambahan tekanan yang


Victor berikan.


Kepalan tangan di samping tubuh mereka mulai berkeringat


dingin. Peluh juga mulai banjir di balik punggung. Mereka mulai ketakutan saat


ini.


“Benarkah, Rose? Kau telah berkhianat pada rekan-rekanku di


sini?” Pertanyaan itu ditujukan pada Rose, namun sebenarnya mereka tahu jika


Victor tengah menyindir mereka habis-habisan.


“Menurut Kakak?” Dalam rangkulan Ben, Rose hanya sedikit


mengangkat pandangan ke arah kakaknya itu, lalu kembali menatap ke depan.


Dengan seringai tipis dan sinis.


Rose tidak bermaksud angkuh dan congkak saat ini. Tapi


wanita itu memang sudah memberikan kesempatan bagi orang-orang itu untuk


meminta maaf kepadanya.


Dia sudah mengatakan berkali-kali bahwa dia bukanlah


pengkhianatnya. Namun mereka tidak percaya, mereka tidak mau percaya.


Dan lagi… Rose tahu siapa pengkhianatnya. Meski tidak dapat


ia ungkapkan saat ini juga. Nanti… pasti akan ada saatnya.


“Jika kalian mengatakan bahwa Rose adalah pengkhianatnya,


berarti… aku juga adalah pengkhianat. Karena aku adalah kakaknya. Tentu saja


aku bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan!”


“Tidak, Victor! Nona Rose bukan pengkhianatnya! Mereka yang


terlalu bodoh karena termakan hasutan!” Seseorang yang usianya mendekati paruh


baya berseru kencang, tidak terima. Nampak mereka saling kenal.


Pria itu tidak sombong, maka Victor balas dengan senyum


ramah nan tulus. Karena dia memang masih mengingat pria itu. Mereka pernah


menjalankan misi bersama beberapa kali, tahun-tahun lalu.


“Tapi mereka mengatakan begitu, bukan?” Terang-terangan


Victor menunjuk tangannya ke arah pihak yang kontra terhadap Rose sebelumnya.


Acungan itu tidak membawa senjata di tangannya. Namun


orang-orang yang ditunjuk langsung tersentak, seakan mereka baru saja ditembaki


satu persatu.


Pihak yang mendukung Rose sejak awal pun bersuara. Terus


menyudutkan orang-orang itu karena telah salah mengira dan tidak berpikir


dengan benar. Mereka sudah salah menuduh dan menyudutkan seseorang.


Ramai-ramai mereka membela Rose. Suaranya berdengung


menyakiti telinga rekan rasa lawan. Dan mereka yang tadinya bersuara keras


untuk menjatuhkan Rose, nyanyian mereka malah teredam malu saat ini. Tidak ada


satu pun dari mereka yang mampu untuk membela diri lagi.


Victor, juga Ben tentunya, mereka berdua menyeringai


menyaksikan hal ini. Sekarang senjata berbalik menyerang tuannya.


“Maaf menyela, Tuan!” Relly berseru sambil melangkah maju.


Dia mengambil perhatian semua orang.


“Masih ada yang mesti saya undang ke sini!”


Bersambung…