
Tidak seperti sebelumnya ketika Rose mengatakan hal apa pun
selalu ada jawaban dan sahutan tidak terima dari beberapa orang. Kali ini,
ketika Ben berbicara, semuanya nampak henyak dan diam. Mereka ditampar oleh
ujaran Ben barusan.
Anak buahnya yang mendadak menjadi bodoh mesti Ben peringati
dengan cara yang agak keras. Sebab, begitu pun dengan keras kepalanya mereka,
tidak mau mendengarkan penjelasan Rose sama sekali.
Ben pun bingung, sejak kapan anak buahnya itu mudah sekali
terprovokasi. Padahal mereka merupakan satu kesatuan tim yang solid. Harusnya
tidak perlu sampai terjadi malapetaka serta perpecahan begini.
Pria bertopi koboi itu memang tidak tahu jelas apa yang
sebelumnya terjadi di antara mereka semua. Apa pula yang mereka semua bicarakan
termasuk Rose di dalamnya.
Pria itu hanya menilai jika anak buahnya sudah terbagi
menjadi dua bagian, yang satu mendukung Rose, dan yang satu masih keras kepala
dengan menuduh kekasihnya itu sebagai biang masalah.
Ben rasa, ia perlu meluruskan dan membasuh pikiran kotor dan
kerdil anak buahnya itu. Agar semuanya menjadi jelas setelah ini.
“Baik…! Mungkin ada di antara kalian yang masih mengingat
wajah ini. Aku akan memperkenalkan kepada kalian… dia adalah Victor Benneth.
Dia rekanku, pernah menjadi bagian dari kita beberapa tahun yang lalu.” Tangan
Ben menghela supaya Victor maju.
Ketika Victor sudah berada di sampingnya, pria itu pun
melanjutkan. “Sekaligus kakak dari Rose… yang kalian sebut… sebagai
pengkhianat!” Rahang Ben mengetat kala menyebutkan hal ini.
Begitu pun dengan Victor yang tidak terima adik kandungnya
difitnah sampai seperti ini. Secara garis besar Relly sudah menceritakan
kronologinya ketika mereka melakukan panggilan.
Kesal, marah, murka, kurang lebihnya sama seperti apa yang
Ben rasakan kemarin. Jika tidak ingat kondisi tubuhnya masih dalam masa
pemulihan, mungkin Victor sudah menghajar orang-orang itu, satu persatu.
Beruntunglah Ben masih membiarkan mereka hidup. Victor juga
tahu bagaimana Ben mengamuk dari cerita Relly kepadanya. Beruntung sekali
mereka yang jahanam mulutnya, masih diberikan kesempatan oleh kekasih adiknya.
“Ah… aku memang lupa memperkenalkannya kepada kalian secara
resmi.” Ditarik Ben pegangan tangannya pada Rose, sehingga wanita itu maju dan
bersisian dengannya.
“Dia Rose Benneth. Calon istriku!” Pria itu merengkuh kedua
bahu Rose dari belakang saat akan memperkenalkannya. Tangan itu lembut, namun
tatapan matanya menusuk netra setiap orang.
Victor Benneth?
Rose Benneth?
Jadi mereka benar-benar adik-kakak? Mereka bersuadara?
Beberapa orang mulai resah dan gelisah mendengar pengumuman
ini. Spekulasi yang masih mereka tampik nyatanya adalah sebuah kebenaran. Rose,
wanita yang mereka fitnah, tuduh dan hina adalah benar adik dari orang itu.
Victor, orang yang memiliki tatapan bak mata elang.
Kecakapannya dalam bela diri dan senjata semua orang tidak pernah meragukannya.
Selain Ben, dia yang unggul di sana, kala itu.
Calon istri?
Bahkan bos besar mereka saja sudah memberikan predikat
seberat dan sespesial itu kepada Rose!
Mereka benar-benar dalam masalah sekarang! Ternyata wanita
itu bukanlah wanita sembarangan. Dia bukan wanita yang dipungut bos mereka di tempat
yang acak dan asal.
Tidak mungkin juga, adik dari seorang Victor Benneth adalah
wanita murahan seperti yang mereka elu-elukan tadi malam.
Sebab mereka juga tahu, bahwa Victor bukanlah orang
sembarangan. Karena sampai beberapa waktu lalu pun, orang itu masih menggunakan
jasa mereka untuk berjaga di sekitar rumahnya. Jadi, sedikit banyaknya, Victor
masih berhubungan baik dengan Geng Harimau Putih, meski dia sudah pensiun dari
sini.
Malu! Malu luar biasa mereka saat ini. Semua orang yang
tadinya menghina Rose habis-habisan mulai menundukkan kepala tanpa sadar. Tidak
ingin wajah mereka terlihat. Wajah yang sudah berani bertindak kurang ajar.
Tersentuh hati Rose, kala Ben mengumandangkan pengumuman itu
di depan semua anak buahnya, secara langsung seperti ini. Ia sentuhkan
tangannya ke tangan Ben di bahu. Ditolehkan pula kepalanya ke belakang, sambil memberikan senyum tulus
pada kekasihnya itu.
Ben membalas. Ia berikan satu kecupan singkat pada kening
masalah belum usai. Tapi setidaknya, jalan yang kusut sedang mereka urai.
“Ekhem….” Victor sengaja berdehem keras untuk menyindir dua
insan yang tengah dimabuk cinta. Tolong lihat tempat! Kemudian ia mengambil
alih microphone di depan.
“Halo!” Dia tersenyum ramah, tapi matanya tidak. Tangannya
melambai memberi salam, namun setelah itu turun sambil mengepal dengan erat.
Ada emosi yang dia sembunyikan.
“Jadi, orang itu sudah memperkenalkan diriku pada kalian,
kan?!” Melirik sedikit pada Ben dengan tidak acuh.
“Salam jumpa lagi, bagi kalian yang pernah menjadi rekanku
dulu. Dan… salam kenal untuk kalian yang baru bertemu denganku.” Bibirnya
tersenyum sebentar.
“Ku dengar… ada isu pengkhianat… di sini!” Victor berbicara
pelan dan perlahan. Memberi penekanan pada setiap katanya. Dia langsung
menembus ke intinya.
“Wah… hebat sekali! Sepanjang sejarah Harimau Putih, yang ku
tahu… ini adalah yang pertama kali! Dan pengkhianatnya… adalah… adikku
sendiri?” Bibirnya lantas menyeringai seram.
Victor seolah sedang bertanya pada mereka semua. Nyatanya,
pria itu sedang memastikan beban, sakit dan derita yang dialami adiknya
beberapa hari belakangan. Dia bertanya langsung, menunggu apakah orang-orang
itu mau mengakuinya, di hadapannya saat ini.
Di dalam ruangan itu, di dalam ruang tertutup itu,
suasananya berubah menjadi lebih mencekam. Tidak hanya dari tatapan Ben serta
aura yang dimilikinya. Leher jadi makin tercekik karena tambahan tekanan yang
Victor berikan.
Kepalan tangan di samping tubuh mereka mulai berkeringat
dingin. Peluh juga mulai banjir di balik punggung. Mereka mulai ketakutan saat
ini.
“Benarkah, Rose? Kau telah berkhianat pada rekan-rekanku di
sini?” Pertanyaan itu ditujukan pada Rose, namun sebenarnya mereka tahu jika
Victor tengah menyindir mereka habis-habisan.
“Menurut Kakak?” Dalam rangkulan Ben, Rose hanya sedikit
mengangkat pandangan ke arah kakaknya itu, lalu kembali menatap ke depan.
Dengan seringai tipis dan sinis.
Rose tidak bermaksud angkuh dan congkak saat ini. Tapi
wanita itu memang sudah memberikan kesempatan bagi orang-orang itu untuk
meminta maaf kepadanya.
Dia sudah mengatakan berkali-kali bahwa dia bukanlah
pengkhianatnya. Namun mereka tidak percaya, mereka tidak mau percaya.
Dan lagi… Rose tahu siapa pengkhianatnya. Meski tidak dapat
ia ungkapkan saat ini juga. Nanti… pasti akan ada saatnya.
“Jika kalian mengatakan bahwa Rose adalah pengkhianatnya,
berarti… aku juga adalah pengkhianat. Karena aku adalah kakaknya. Tentu saja
aku bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan!”
“Tidak, Victor! Nona Rose bukan pengkhianatnya! Mereka yang
terlalu bodoh karena termakan hasutan!” Seseorang yang usianya mendekati paruh
baya berseru kencang, tidak terima. Nampak mereka saling kenal.
Pria itu tidak sombong, maka Victor balas dengan senyum
ramah nan tulus. Karena dia memang masih mengingat pria itu. Mereka pernah
menjalankan misi bersama beberapa kali, tahun-tahun lalu.
“Tapi mereka mengatakan begitu, bukan?” Terang-terangan
Victor menunjuk tangannya ke arah pihak yang kontra terhadap Rose sebelumnya.
Acungan itu tidak membawa senjata di tangannya. Namun
orang-orang yang ditunjuk langsung tersentak, seakan mereka baru saja ditembaki
satu persatu.
Pihak yang mendukung Rose sejak awal pun bersuara. Terus
menyudutkan orang-orang itu karena telah salah mengira dan tidak berpikir
dengan benar. Mereka sudah salah menuduh dan menyudutkan seseorang.
Ramai-ramai mereka membela Rose. Suaranya berdengung
menyakiti telinga rekan rasa lawan. Dan mereka yang tadinya bersuara keras
untuk menjatuhkan Rose, nyanyian mereka malah teredam malu saat ini. Tidak ada
satu pun dari mereka yang mampu untuk membela diri lagi.
Victor, juga Ben tentunya, mereka berdua menyeringai
menyaksikan hal ini. Sekarang senjata berbalik menyerang tuannya.
“Maaf menyela, Tuan!” Relly berseru sambil melangkah maju.
Dia mengambil perhatian semua orang.
“Masih ada yang mesti saya undang ke sini!”
Bersambung…