Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Bukti



“Kukatakan sekali lagi… di-am!”


Suara itu pun lantas membelah lautan yang riuh ramai, oleh


gelombang perdebatan. Semuanya menatap Rose dengan mulut ternganga.


Benar! Yang dirasakan Anggie kini menular pada semua orang.


Mereka semua saat ini seperti sedang melihat aura Ben, bos besar mereka pada


diri wanita itu.


Rose yang biasanya terang akan cahaya, dan berkilau sampai


membuat silau. Kini nampak gelap, suram dan menyeramkan. Relly pun ikut


merasakannya. Pria itu merinding di samping Anggie.


“Diam!” Sekali lagi suara dalam itu terdengar, bak sapaan


malaikat maut di telinga semua orang.


Padahal suara Rose tidak besar, tidak kencang, tidak juga menggelegar


ke penjuru ruangan. Memang, belum cukup kental seperti aura suram yang Ben


miliki, tapi instruksi Rose yang dalam tadi sudah cukup mampu menghipnotis


semua orang untuk menuruti perintahnya.


Keheningan pun tercipta di antara semua manusia di sana.


Rata-rata merasa tertekan. Terutama di bagian tenggorokan, sehingga mereka


sulit mengungkapkan kata-kata lagi.


“Atas dasar apa kalian menyebutku sebagai pengkhianat? Atas


dasar apa kalian menyalahkan aku untuk semua masalah yang ada?” Dibuka Rose suaranya


dengan nada rendah dan dalam. Dia menurunkan pandangan.


“Atas dasar apa?” Wanita itu kembali menaikkan pandangan


matanya. Dan suaranya pun makin bertekanan.


Melodi yang mengalun bernada rendah dan terasa suram.


Seperti musik latar belakang pada sebuah film horor, membuat jantung berdebar.


Disisipi nada kekecawaan yang mendalam, juga marah lantaran sakit hati telah


difitnah. Sedih karena tidak diterima.


Diusap mereka bulu kuduk yang kini berdiri. Merinding mereka


semua dengan pertanyaan Rose barusan. Bola mata mereka mulai berputar-putar,


memikirkan jawaban yang pas untuk pertanyaan itu. Mereka juga jadi berpikir


keras atas tanya yang Rose ajukan.


Mereka… mereka yang sejak awal tidak suka dengan


kehadirannya. Lalu termakan hasutan seseorang. Sehingga menggiring opini untuk


terus menyudutkan Rose bahwa dia adalah masalah di dalam kelompok itu.


“Apakah aku terlihat seperti seseorang yang mampu melakukan


apa pun? Bahkan berlari sepuluh putaran saja napasku sudah hampir habis!”


Digulirkan Rose netranya menatapi semua orang. “Apakah aku terlihat mampu untuk


melakukan semua hal yang kalian tuduhkan kepadaku?”


Telunjuknya… Rose menggunakan jari telunjuknya untuk menyentuh


dahinya di bagian samping. Dengan tekanan, dengan menekan di bagian itu dan tak


melepas pandangan pada semua orang.


“Gunakan otak kalian dengan benar! Jangan hanya karena omong


kosong satu dua orang, kalian lalu percaya begitu saja. Dan mengorbankan


segalanya.


“Kepercayaan yang kalian jaga pada satu sama lain,


solidaritas yang kalian junjung tinggi selama ini. Semuanya kalian korbankan.


Termasuk rekan yang seperti keluarga dan markas yang seperti rumah bagi kalian.


Semuanya hancur hanya karena isu seperti itu.”


“Heh!” cibirnya sinis. Rose menatap mereka semua dengan


pandangan kecewa. Dengan sedih karena semua ini bisa terjadi.


“Jika kau tidak datang ke sini, semua masalah ini pasti


tidak akan terjadi!”


Ternyata masih ada yang berani untuk bersuara. Dengan


lantang, dengan nada menantang. Sehingga Rose berdecak untuk respon cepat.” Ck!”


Miris. Disenyumi orang beserta pertanyaan itu dengan penuh


ironi di bibir. Padahal dia begitu semangat datang ke sini untuk berlatih.


Berharap semua orang yang ada di sana mau menerimanya sebagai bagian dari


keluarga mereka.


Tapi apa yang ia dapati? Hanya penyalahan demi penyalahan.


Tuduhan tidak masuk akal serta penolakan terhadap dirinya. Dan yang lebih parahnya


lagi, hinaan yang begitu kejam mereka lontarkan tanpa berpikir panjang.  Tidak peduli apakah dia akan terluka atau


tidak.


Andai saja dia masih Rose yang lemah, andai saja dia belum


bertemu dengan Ben, mungkin Rose tidak akan kuat menghadapi hinaan bertubi-tubi


yang ia terima tadi malam. Entah apa yang akan dia lakukan. Entah menangis atau


mungkin melarikan diri karena tidak tahan.


“Masalah yang mana?” Kakinya maju setengah langkah.


Bersedekap dada sambil mengangkat wajah. Ditantang mereka semua dengan tatapan


Benar-benar menantang. Benar-benar berani menatap semua


orang dengan nyalang di netra abunya.


“Masalah yang terjadi di gudang logistik? Tuduhan


pengkhianat yang kalian tujukan kepadaku? Heh! Kalau begitu, terima kasih


karena kalian sudah memandangku sehebat itu!” geram Rose bersama seringai.


Tidak menyangka akan sampai seperti ini mereka semua menguras


emosinya! Dari mana pemikiran itu datang ke otak bodoh mereka? Sungguh, Rose


tak habis pikir!


“Bukannya sangat mudah bagi seorang wanita, untuk


menggunakan topeng lemah lembut seperti yang lakukan?!” sahut seseorang lagi


dengan nada menyindir. Seakan tiada habisnya mereka ingin menang atas argumen


mereka sendiri.


Sambutan yang ia dapatkan pun cukup ramai. Yang satu pihak


dengannya, menyetujui seratus persen. Mengiyakan dengan frontal, dengan seruan


yang tanpa malu-malu. Rose kembali dihina, ia kembali dicibir dengan sapaan


wanita murahan seperti yang tadi malam mereka katakan.


“Hey, jaga ucapan kalian!” Diteriaki Anggie mereka semua.


Wanita itu langsung maju karena sudah tidak tahan lagi.


Ia masih bisa menahan diri jika hal itu masih seputar


masalah kelompok mereka atau pun isu pengkhianat yang Rose sandang saat ini.


Tapi jika sudah dihina tentang hal kotor seperti itu, sebagai sesama wanita,


Anggie merasa harus turut campur tangan di dalamnya. Ia tidak terima jika Rose


dihina sampai separah itu.


“Apa kalian tahu kenapa Tuan Ben sampai seperti itu tadi


malam? Tuan Ben marah, dia murka sampai tidak bisa menahan diri karena hinaan


kalian terhadap Rose!” Wanita seksi itu tak memberikan kesempatan untuk Rose


menjedanya. Anggie langsung berbicara panjang sambil memandang lurus ke depan.


“Mulut kotor kalian benar-benar sudah lancang! Padahal


kalian tidak mengenal Nona Rose sama sekali!” Relly pun ikut maju. Sambil membawa


emosi yang sudah ia tahan sejak tadi.


“Lalu kau mengenalnya?” timpal seseorang menanggapi ujaran


Relly.


“Tentu saja! Dan lagi, bukan Nona Rose yang mencari-cari


Tuan, tapi Tuan Ben sendiri yang mencarinya. Aku adalah saksi dari semenjak


pertemuan pertama Nona Rose dan Tuan Ben!” sahut Relly nyalang.


Sejak beberapa orang nampak memikirkan apa yang Relly


ucapkan barusan. Ditatapi Rose Relly dan Anggie. Dua orang yang sekarang


berdiri berjajaran dengannya. Rose terenyuh, ia terharu karena dua orang itu


membelanya sampai seperti ini.


“Semuanya bisa saja sudah direkayasa, kan? Apa yang tidak


mungkin di dunia ini?!” tampik lagi yang lainnya. Masih berusaha menolak


pernyataan siapa pun yang berusaha membela wanita itu.


“Kau-“ geraman Relly terpotong oleh tangan Rose yang


menahannya. Padahal laki-laki itu sudah ingin terjun dan menghajar orang itu.


Otaknya benar-benar bodoh atau apa!


“Hentikan semua omong kosong ini! Tidak akan ada habisnya!”


Sambil menahan tubuh Relly di sampingnya, Rose menatapi semua orang dengan


tatapan tenang namun berbahaya. Seperti sungai yang dalam namun beriak tenang,


padahal terdapat banyak buaya di dalamnya.


Bukan hanya Relly dan Anggie yang ia peringati. Namun apa


yang ia katakan dengan nada setenang itu adalah peringatan bagi semua orang.


Tidak ada habisnya jika mereka terus berdebat seperti ini.


Di satu sisi semua orang terus berasumsi jika Rose adalah


pengkhianatnya. Wanita itu adalah biang masalah. Namun di sisi lain, Rose tidak


akan pernah mengakui hal itu, karena memang dia tidak melakukannya sama sekali.


“Kalau begitu berikan kami bukti! Bukti bahwa kau bukanlah


pengkhianat di dalam kelompok kami!” Suasananya berkembang menjadi ambigu.


Terlalu hening, namun dapat membuat henyak seseorang. Mungkin


ini adalah cara terakhir supaya semuanya jelas. Seharusnya memang mereka


mencari kebenaran mengenai hal ini terlebih dahulu.


“Bukti? Heh….” Dicemooh permintaan itu dengan tawa kecilnya.


“Bukan aku! Tapi kalian yang mesti menemukan bukti bahwa aku


bersalah, bahwa aku adalah pengkhianatnya seperti yang kalian pikir!” Netra abu


itu langsung menajam dan menukikkan tatapannya.


“Bawalah buktinya ke hadapanku!” Dinaikkan Rose dagunya,


berbicara dengan nada menantang dan mengancam.


Bersambung…