
“Nanti, Relly yang akan menceritakannya kepadamu. Waktunya tidak cukup jika aku yang menjelaskan” Ben melihat ke arah jam tangannya. Kemudian melanjutkan. “Kami sudah harus berangkat sebentar lagi.”
Anggie lantas menoleh pada pria di sebelahnya. Dengan tatapan pias dan mengenaskan.
Jadi benar, hanya dirinya saja yang tidak tahu?
Relly tak mampu berkata-kata, melihat kesedihan yang mendalam itu. Ia hanya mampu menghibur Anggie dengan menggenggam tangannya.
Namun… wanita itu segera menampiknya, seraya membuang wajah ke samping.
Anggie kecewa, benar-benar kecewa. Mereka membiarkan dirinya menjadi seorang badut yang nampak bodoh.
Heh! Lantas Relly ikut membuang napas tak berdaya ke arah yang berlawanan. Ia merasa tak dapat berbuat apa-apa untuk memberi penghiburan kepada wanita yang disukainya itu.
Hh… hh… Rose mengulum senyum. Melihat tingkah dua orang di hadapannya, ia seperti sedang melihat sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Atau mungkin, itu penggambaran saat dirinya sedang merajuk pada Ben.
Hem, jadi seperti itu, ya?! Terkekeh dia dalam hati. Ternyata lucu juga jika melihatnya langsung begini.
Baz melirik mereka sebentar, lalu memfokuskan pandangannya lagi pada Ben dan Rose. “Jadi, kalian akan benar-benar pergi? Tidakkah kalian berpikir, jika sesuatu bisa saja terjadi?”
Hhh… Ben menyandarkan punggungnya sembari mendesah bersama dengan senyumnya.
“Jika terjadi sesuatu padaku, maka aku akan menyelamatkan Rose lebih dulu. Lalu, ada kau dan juga Relly yang akan menyelamatkannya, kan?!” ucapnya santai, sambil mengangkat sebelah tangan ke sandaran sofa yang ia duduki.
“Ben!” pekik Rose tidak suka.
Apa-apaan?! Ucapannya itu, seperti orang yang sedang berpamitan saja!
Padahal, kan, ada kabar baik yang belum ia beritahukan kepada kekasihnya itu! Ini tentang anak mereka!
Rose benar-benar tidak rela, jika sampai terjadi sesuatu pada mereka bertiga!
“Baiklah! Aku hanya bercanda, Sayang!” Diusap Ben lembut, kepala wanita itu dengan penuh kasih sayang. Lantas, pria itu memeluknya.
“Tenang saja, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian!” ucap Ben lagi, lalu mendaratkan sebuah kecupan dalam pada puncak kepala Rose.
‘Bukan aku, Ben! Tapi kami! Jangan tinggalkan kami, sendirian!’ batin Rose bergumam. Mengoreksi keadaan yang belum Ben ketahui.
“Yah… meski ada kau sekali pun, aku tetap akan menjaga kekasihmu. Jadi, tidak perlu khawatir!” sahut Baz dengan berani dan tidak acuh. Sekarang menyandarkan punggungnya dengan nyaman.
Jelas, maksud ucapannya itu juga agar pasangan itu lekas memisahkan diri, dari ajang peluk-pelukan. Ini bukan saatnya untuk pamer kemesraan, pikirnya.
“Tapi, Tuan! Ucapan Tuan Baz ada benarnya! Bagaimana jika ini hanya sebuah jebakan? Bukannya sudah jelas, jika dia mengincar Tuan dan Nona Rose juga.” Relly bersuara.
“Jika… kau jadi aku, apakah kau akan menemuinya?” Pertanyaan Ben lantas membungkam mulut Relly. Tatapan asistennya itu pun berubah sendu, saat ia mengalihkan pandangannya ke bawah.
“Ada hal juga, yang harus aku tanyakan langsung padanya,” imbuh Ben setelah melihat pemahaman Relly sampai mana.
Tentu saja ini harus dilakukan! Mereka bertiga tumbuh dan berkembang bersama. Adanya hal ini, pengkhianatan ini, tentu Ben ingin bertatap muka langsung, meski entah apa yang ingin rekannya itu ‘akui’.
“Bisakah kau tidak ikut?” Kini Baz yang mengajukan pertanyaan pada Rose. Ben pun ikut menoleh. Ia menunggu jawaban dari kekasihnya itu.
“Tidak bisa! Aku harus ikut!” jawab Rose dengan lantang dan yakin. Seakan dia adalah sebuah tiang bendera yang tak tergoyahkan. Meski sudah tahu, jika bahayan akan selalu datang menghantui.
“Aku tidak bisa mencegah wanita pembangkang ini! Dari pada nanti dia nekat dan pergi sendiri, lebih baik terang-terang ikut bersamaku,” timpal Ben dengan nada lelah dan menyindir. Bahkan, terang-terangan pria itu meliriknya dengan tatapan sebal.
Ben sudah belajar dari beberapa pengalaman belakangan ini, mengenai kekasihnya. Rose tidak bisa dilarang, maka dari itu, biarkan dia yang menjaganya secara langsung. Yang jelas, Rose masih nampak di pelupuk matanya.
Ini tentang Della Moran August yang selama ini hilang kabar seperti angin. Tidak ada lagi, hal-hal mencurigakan yang berkaitan dengannya.
Dan ia berpikir, jika semakin sungai itu tenang, maka akan semakin berbahaya. Karena mereka jadi tidak tahu, hal-hal membahayakan apa yang terdapat di dalamnya.
Anggie yang sedari tadi membuang pandangan, karena merasa asing dan paling tidak mengerti pun menoleh dengan cepat. Wanita itu? Siapa wanita itu?
Bukan lantaran cemburu karena Zayn berurusan dengan wanita lain. Tapi Anggie penasaran dengan sosok lain yang dimaksud.
***
Pukul 9, setelah selesai dengan pembicaraan mereka, maka Ben dan Rose pun memutuskan untuk berangkat. Karena, pria dengan topi koboi itu menginginkan untuk lebih dulu, tiba di lokasi tempat mereka bertemu nanti.
Sedangkan tiga orang yang ditinggal, mulai sibuk dengan perasaan dan tugas mereka masing-masing.
“Relly!” panggil Baz tiba-tiba. Yang diserukan namanya pun segera menoleh.
“Kita harus segera mencari tahu apa yang terjadi pada pengkhianat itu!” ucap Baz dengan nada dingin, dan tak pandang bulu.
Tidak peduli jika masih ada Anggie bersama dengan mereka. Sebab, sebentar lagi pun wanita itu akan mengetahui kebenarannya.
Sama ketika ia memimpin geng mafianya, di negaranya sana. Baz tidak menolerir aksi pengkhianatan. Ia paling benci hal itu.
Makanya, dulu, ketika dia tahu bahwa Victor mengkhianatinya, Baz begitu sangat marah.
“Pengkhianat?” Anggie membeo dengan suara pelan.
Bola matanya membulat begitu besar. Bersamaan dengan dentuman keras yang memukul dadanya. Anggie merasakan, jantungnya diremas dengan sangat kuat. Sehingga menimbulkan efek kejut yang menyakiti luar biasa.
Ketika Relly dan Baz sibuk membicarakan perencanaan mereka. Anggie nampak menghentikan langkah sambil berusaha memroses, apa yang baru saja ia dengar.
Ini semua adalah kenyataan, kan?
Plak~!
Bahkan, wanita itu menampar pipinya sendiri dengan keras. Sampai, cap tangannya sendiri membekas, memerah di sana.
Ingin membuktikan, bahwasanya, ini benar-benar adalah sebuah realita.
Penyusup? Pengkhianat?
Apalagi sebenarnya yang kekasihnya itu lakukan?
Ia mendongak, memejamkan mata, seraya mengembuskan napas lelah dari mulutnya. Kemudian, ia menurunkan kepalanya dengan begitu lemah.
Seakan energinya habis terkuras, hanya dengan mendengar seklumit, hal yang telah Zayn perbuat.
Dia bahkan belum mendengarkan segalanya dari Relly! Oh, astaga! Anggie benar-benar tidak tahu, apakah nanti ia akan kuat mendengarkan penuturan Relly, mengenai tindak tanduk Zayn selama ini.
Sembari membawa ketidak berdayaan pada pundaknya yang sudah melengkung ke bawah. Anggie mengikuti langkah dua pria, yang sudah berjalan menjauh.
Walau, sekarang ia sedang merasa bodoh. Namun, Anggie tetap perlu mengejar penjelasan dari Relly. Agar semua jelas, duduk permasalahannya. Agar ia tidak semakin bodoh juga, karena tidak tahu apa-apa.
Oh, Zayn! Apa yang telah kau lakukan? Mengapa kau melakukan semua ini?
Bersambung…