
Dikarenakan perutnya yang kian membesar, juga bobot tubuhnya yang semakin meningkat, sejak kehamilannya, Rose sudah tidak melakukan beberapa latihan lagi. Yang sekiranya, akan membahayakan bagi kandungan.
Meskipun begitu, ia tetap melakukan olahraga. Agar tubuhnya tetap fit, dan kondisi fisik dirinya, juga janinnya tetap sehat.
Di samping itu, ia juga melakukan beberapa kegiatan favorit lamanya. Untuk mengisi hari-hari Rose, yang kadang terasa hampa. Wanita itu mulai memasak dan bertanam lagi.
Membuat kue adalah favoritnya. Terutama membuat strawberry cheese cake kesukaan Ben. Wanita itu berusaha membuat cita rasa yang sama persis, seperti yang Ben ajarkan padanya.
Juga, saat ini, beberapa spot lahan kosong pun Rose tanami. Dengan beberapa tanaman hias, juga bunga berwarna-warni.
Markas Harimau Putih yang dulunya nampak gersang dan kaku, saat ini, menjadi terlihat lebih hidup. Rindang pohon-pohon besar, tidak cukup untuk menentukan suatu tempat menjadi asri. Namun, berkat tangan dingin Rose, tempat itu kini, menjadi sedap dipandang mata.
Anggota Harimau Putih yang baru saja selesai bertugas, bisa melihat asrinya halaman mereka, seperti mereka benar-benar berada di rumah.
Seperti ada seorang ibu, yang begitu rajin, mengurusi halaman rumah yang biasanya kosong dan kaku.
Yah, begitulah Rose! Meski, sekarang tidak banyak bicara dan tidak ceria lagi seperti dulu, wanita itu tetap menjadi pembeda, di antara puluhan bahkan ratusan laki-laki kaku, di sana.
Pada saat ini, usia kehamilan Rose sudah memasuki minggu ke 38. Bayi di dalam perutnya sudah siap untuk launching ke dunia ini. Tinggal hanya menunggu kapan waktu yang tepat, baginya untuk keluar, dari dalam perut ibunya.
Beruntung sekali, tidak ada masalah berarti selama kehamilannya ini. Seperti Tuhan sangat mengerti akan kesulitannya, menjalani masa kehamilan tanpa seseorang yang ia cintai.
Diperkirakan, Rose akan menjalani proses melahirkan dengan cara normal. Bayi di dalam kandungan sehat, meskipun diperkirakan bobotnya agak besar, namun hal itu, tidak menghalangi jalan Rose, untuk melakukan prosesi normal dalam melahirkan.
Air ketuban sangat ia jaga. Rose banyak belajar dalam diamnya. Dengan gawai yang ia punya, mencari tahu di situs online, juga dari dokter Tania yang selalu sabar memberi informasi detail, seputar kehamilannya.
Wajar saja, tidak ada ibu, atau pun sosok orang tua yang biasa menemani juga mengayomi di masa-masa di mana, banyak hal yang tidak ia ketahui. Jadi, Rose harus banyak berinisiatif, dengan mencari tahu sendirii.
Beruntungnya, ada Baz di sisinya. Pengalaman yang dia punya ketika menjaga Bella dulu, ia pergunakan dengan baik. Sehingga, meskipun Rose tetap diam, namun ia sebisa mungkin menjaga mood baik juga pikiran positifnya.
Sejak kemarin sore, **** ************* sudah mengeluarkan jejak merah muda. Yang mana, hal itu merupakan salah satu tanda bahwa tak lama lagi, waktunya untuk melahirkan.
Memang, tidak ada tenggat pastinya. Bisa jadi hari itu juga, atau dua hari lagi, atau seminggu setelahnya. Yang jelas, waktunya pasti tidak akan lama lagi.
Pun, karena Rose tidak merasakan kontraksi apa pun, maka dia hanya menjalani hari dengan seperti biasanya. Sampai di pagi hari ini.
Tidak usah khawatir! Segala persiapan melahirkan, sudah dipersiapkan, oleh dirinya dan juga Baz yang selalu membantu.
Jadi, apabila mereka harus segera berangkat, karena waktu melahirkan Rose sudah dekat, mereka hanya perlu menyambar sebuah koper yang sudah dipersiapkan.
Pagi ini, seperti biasa, setelah menyelesaikan sarapannya, Rose menuju ke halaman dengan sarung tangan karet yang sudah ia kenakan.
Ada memang, kontraksi-kontraksi palsu yang beberapa kali ia rasa. Namun, Rose hiraukan, karena hal itu berlangsung hanya beberapa detik saja. Dan jaraknya pun terlampau lama.
“Rose!” panggil Baz dari suatu arah. Sepertinya, pria itu juga baru saja menyelesaikan sarapannya.
Begitu mengetahui Rose sudah mengeluarkan tanda, maka Baz tidak bisa santai. Bagi pria itu, memantau Rose dari dekat, dengan kedua matanya langsung, adalah obat dari segala kekhawatirannya.
“Kau mau ke mana?” tanyanya saat ia sudah berhasil mencapai wanita hamil itu.
“Aku ingin mengecek tanamanku di dekat lapangan tembak,” jawab Rose. Ia membenarkan posisi sarung tangan karet agar lebih nyaman ia kenakan.
“Tapi… apa tidak sebaiknya, kau beristirahat saja? Siapa tahu, waktunya sudah sangat dekat?” Baz benar-benar bertingkah seperti, seorang ayah bagi anak di dalam kandungannya.
Tidak! Mungkin juga, bisa digambarkan, seperti seorang ibu yang khawatir karena anak perempuannya, sebentar lagi akan melahirkan.
Heeehh…. Rose mengembuskan napas malas seraya memutar bola matanya. Enggan menjawab, tidak mau juga menanggapi saran Baz yang menurutnya, akan terasa sangat membosankan.
Lalu, apakah ia harus berdiam diri di kamar saja? Atau mungkin, hanya tidur, begitu?
Tidak, tidak! Itu bukan dirinya sama sekali. Rose tidak bisa, tidak menggerakkan tubuhnya. Setiap hari. Bahkan ia sudah terbiasa melakukan banyak hal, semenjak dirinya masih remaja.
Sejak dahulu kala, saat dirinya masih menjadi seorang upik abu untuk ibu dan saudara tirinya. Rose sudah biasa melakukan banyak kegiatan, tubuhnya pun sudah biasa merasa kelelahan.
Namun, hal itu pula yang membuat dirinya, yang seorang wanita biasa, bisa kuat menjalani pelatihan yang Ben jadwalkan, ketika ia pertama kali datang.
Hey! Itu adalah sebuah penyiksaan, bukan latihan seperti yang kebanyakan orang bicarakan.
Tapi Rose bisa bertahan, bahkan mampu menjalaninya, meski sedikit kualahan.
Maka dari itu, ketika Baz memintanya untuk tetap diam. Mana mungkin bisa?! Rose tidak bisa hanya berdiam diri saja!
Wanita itu pun mengambil langkah, tanpa memedulikan Baz lagi. Ia berjalan sambil memegangi perutnya yang sudah sangat besar. Memberikan penopang tambahan, untuk membawa si jabang bayi, ke mana pun ibunya pergi.
“Rose!” seru Baz lagi, namun kali ini terdengar agak kencang.
Wanita itu hanya menghela napas dengan begitu berat, sampai kedua bahunya naik, dengan nyata, menyampaikan rasa lelahnya, menanggapi pria di belakangnya.
“Rose, tunggu-!” Tangan Baz terulur, raut wajah itu berubah panik. Rasanya, ia hendak mengejar langkah wanita itu, namun kakinya serasa mengunci.
Ia sudah cukup merasa jengah, dengan overprotektif Baz padanya. Maka, Rose berbalik seraya menyerukan protesnya. “Tapi, kau tahu, kan, kalau aku tidak suka jika hanya disuruh diam saja!”
“Bukan itu!” Baz menggeleng. Dan tangannya masih terulur ke depan.
Sekarang, ia berusaha mengepalkan tangan, kemudian membuat jarinya menunjuk ke suatu arah. “Itu-!”
“Ha-?” Dibuka setengah mulut Rose dengan kebingungan di wajah. “Heh!” Kemudian ia mendengus, mencibir sinis, berpikir, jika saat ini Baz hanya sedang bercanda dengannya.
Wanita itu pun berbalik. Berniat pergi dari sana, lalu meneruskan niatannya yang semula.
“Tidak, Rose! Tunggu!”
Glup~!
Ditelan Baz ludahnya dengan susah payah. Kali ini, ia sudah bisa menguasai dirinya lagi. Ia pun mulai mengejar wanita, yang selalu tersimpan namanya, di lubuk hati.
“Apa lagi?” Rose memutar badan dengan pertanyaan yang tidak sabar.
“Air! Itu… ada air di kakimu! Ketubannya pecah Rose! Ketubannya pecah!” seru Baz lantang dengan susah payah.
Ada aliran yang ia lihat, bersumber dari bagian bawah perut wanita itu, sedang menganak sungai di kakinya yang telanjang. Karena, saat ini, Rose mengenakan baby doll dress, yang panjangnya sampai di atas lutut.
Lantas, Rose menundukkan kepala, menurunkan pandangan ke arah yang Baz katakan.
Memang benar! Sekarang ia merasakan aliran itu terasa hangat di sepanjang tungkai dan sudah berhulu di telapak kaki.
“Baz!” teriak Rose panik. Seraya melihat air itu terus mengalir di kakinya.
Bersambung…