
“Rose!” seru Ben bingung dan heran,
ketika kekasihnya itu malah berjalan mendahuluinya keluar pintu.
Wanita itu berjalan dengan begitu percaya dirinya melewati
Ben begitu saja. Tidak tahu pria itu, jika ketika berjalan, Rose mengetatkan
rahangnya. Geram dengan tingkah mereka di depan sana.
Sungguh mengganggu ketenangan. Baik ketenangan markas ini,
maupun ketenangan hubungannya dengan kekasihnya itu. Omong kosong mereka semua
membuat Ben tidak bisa ia ajak bicara, tidak bisa ia biarkan untuk
beristirahat. Walau sebentar saja.
Berlatar cahaya lampu sorot yang begitu terang, Rose hadir
ke tengah lapangan itu, bak dewi yang baru turun dari langit. Rambut pirangnya
yang bergelombang berkibar, dibelai angin malam yang tidak begitu kencang.
Dan wajah cantik menawannya itu lama kelamaan terlihat, saat
terangnya lampu sorot di seberang sana menyiraminya dengan banyak cahaya.
Pada saat itu, untuk beberapa detik, semua orang yang tadi
sibuk berteriak dengan mulut mereka, mendadak diam. Bukan lagi mulut mereka
yang sibuk bekerja, tapi sekarang setiap pasang mata menatap indah, menawan,
dan anggunnya sosok Rose yang tengah berjalan ke arah mereka.
Hingga sosok menawan itu sampai di depan mereka, berdiri
tegak dan anggun di tengah, di antara barisan semua orang. Barulah mereka
tersadar bahwa yang mereka puji di dalam hati adalah sosok yang sejak tadi
mereka teriaki.
Sebagian menganga dengan mulut setengah terbuka, sebagian
benar-benar menganga sampai air liur mereka hampir tumpah ke bawah. Sebagian
lagi mendadak bisu dan tak mampu berkata-kata.
“Rose!” Ben berseru sembari menyusul Rose yang tidak
biasanya berjalan cepat.
Begitu melihat pemandangan tidak menyenangkan itu, wajah Ben
langsung merah padam. Hidungnya juga kembang kempis seperti banteng yang siap
menyeruduk mereka semua.
Ben menggeram marah. Murka pada setiap mata lancang yang
sudah begitu berani menatap wanitanya itu dalam waktu yang cukup lama. Tidak
dengan pandangan menghormati Rose sebagai wanita dari bos mereka. Namun dengan
pandangan kurang ajar yang membuat Ben menjadi sangat muak.
Dor!
Semua orang, tak terkecuali Rose, terperanjat kaget oleh
bunyi suara tembakan yang Ben lesatkan ke udara. Mereka semua itu lalu
mengalihkan atensi mereka pada Ben yang baru saja datang.
Pria itu membenarkan posisi topinya. Dia sedikit menundukkan
kepalanya dengan misterius, sehingga hanya kilatan mata dingin saja yang
terlihat dari pandangan semua orang. Sambil berjalan mendekati Rose, Ben menyimpan
pistol yang biasa ia bawa kemana-mana itu ke tempatnya di pinggang.
“Jika kalian sudah tidak memerlukan mata kalian lagi,
katakan!”
Sebaris kalimat itu diucapkan dengan tegas, lugas dan
sedingin es. Langsung membekukan wajah panas mereka yang semula menatapi dan
mengagumi kecantikan Rose.
Ini persis seperti apa yang Relly peringatkan kepada mereka
ketika Rose pertama kali datang di markas ini. Benar jika siapa pun dilarang
menatap Rose lebih dari tiga detik. Jika bisa, mereka harusnya memalingkan
wajah mereka saja, ketika bertemu dengan Rose.
Sekarang mereka yakin jika ucapan Relly saat itu bukanlah
sekadar lelucon. Itu memang adalah hal yang harus amat mereka perhatikan.
Tapi… mereka juga berpikir bagaimana usaha wanita itu bisa
memikat bos besar mereka sampai menjadi sebegininya. Masih ada cemooh
berlangsung diam-diam di antara lirikan dan bisikan halus dari satu mulut ke
mulut lainnya.
“Apa yang kau lakukan?” bisik pria itu pada Rose.
tangan di depan dada. Tidak ada raut ketakutan dan kekhawtiran sama sekali.
Malah Ben dapat menangkap sebuah keberanian di wajahnya yang menatap lurus ke
depan.
Tetap saja, meski pada mereka semua, Ben mengeluarkan nada
bicaranya yang dingin. Ketika dia berbicara pada Rose, nadanya melembut. Walau pria
agak kesal dengan tindakan gegabah yang Rose lakukan ini.
Berjalan keluar sendiri, di saat genting seperti ini. Tidak
tahu apa yang akan mereka lakukan pada kekasihnya itu. Di tengah kemarahan dan
protes anak buahnya. Ben khawatir salah satu di antara mereka akan bertindak impulsif
dan melukai Rose.
Pada saat ini, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Pasalnya
hasutan itu terlampau dalam menyelubung di tengah kompaknya kelompok mereka. Sehingga
sulit untuk menerima dan mengampuni sosok pengkhianat. Seperti yang mereka
tujukan pada Rose saat ini.
Rose memalingkan tubuhnya, menghadap ke arah wajah Ben lalu
menatapnya dalam. Ditempatkan Rose telapak tangannya yang lembut ke wajah Ben,
tempat dimana rahangnya yang menahan geram itu mengeras.
Ben menyentuh, memegangi tangan lembut itu dengan perasaan
bingung. Apa yang mau wanita itu lakukan?!
“Ben, serahkan ini padaku, ya!” ucap Rose lembut.
Sejujurnya, semua orang yang berada di sana masih dalam
keadaan hening saat ini. Tadi mereka diam sebab kedatangan Rose yang mempesona,
lalu semakin hening dengan hadirnya Ben yang seram dan dingin.
Sekarang mereka henyak dalam adegan romantis yang bisa
mereka catat dalam sejarah. Bahwa ini adalah pertama kalinya mereka melihat bos
besar mereka yang dingin luar biasa itu bersikap lembut pada seorang wanita.
“Tapi, Rose-“
Jari telunjuk lentik Rose tempatkan di bibir seksi pria itu
supaya dia diam. Rose menggelengkan kepalanya kemudian.
Tidak bisa! Sekarang adalah gilirannya!
Sepasang mata Rose lalu mengerling ke arah belakang Ben. Pria
itu hendak menoleh namun tiba-tiba saja tubuhnya sudah dicekal oleh tiga orang
dari belakang.
Satu memegangi lengan kanannya, satu memegangi lengan
kirinya, dan yang satu lagi menahan tubuhnya dengan cara memeluknya dari belakang. Ada juga beberapa yang
berjaga, jika saja bos besar mereka itu berusaha keras melepaskan diri.
Lalu datang beberapa anak buah Ben yang lain dari arah yang
sama. Menyusul Relly, Zayn dan Anggie setelah itu.
Rose berjalan mendekati salah satu yang bertugas menjaga
agar Ben tidak lepas dari pegangan mereka. Diurai senyum ramahnya, lalu
berkata. “Tolong kau bawa Tuanmu ke ruangannya. Dan tolong jaga, agar dia tidak
keluar sampai aku selesai bicara!”
Pak!
“Aku tahu, aku bisa mengandalkanmu, kan?” imbuhnya seraya
menepuk bahu orang itu. Rose juga sampai memiringkan kepala saat melebarkan
senyumnya.
‘Matilah kau!’ rutuk Relly dalam hati. Melihat tatapan
mengerikan Ben pada anak buahnya yang sedang diajak bicara oleh Rose. Bahkan
ada kontak fisik di antara mereka.
Sempat tertegun sebentar oleh perlakuan Rose yang ia pikir
akan arogan atau sombong. Mungkin karena Rose adalah wanita dari bos mereka
makanya mereka jadi berpikiran seperti itu.
“B- baik, Nona!” Dia mengangguk mengerti. Lalu diajak
rekan-rekannya yang membawa Ben pergi dari sana.
“Rose! Apa yang akan kau lakukan? Rose!” teriak Ben sambil
terus meronta saat dibawa pergi oleh anak buahnya sendiri.
Bersambung…