Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Terpesona



“Rose!” seru Ben bingung dan heran,


ketika kekasihnya itu malah berjalan mendahuluinya keluar pintu.


Wanita itu berjalan dengan begitu percaya dirinya melewati


Ben begitu saja. Tidak tahu pria itu, jika ketika berjalan, Rose mengetatkan


rahangnya. Geram dengan tingkah mereka di depan sana.


Sungguh mengganggu ketenangan. Baik ketenangan markas ini,


maupun ketenangan hubungannya dengan kekasihnya itu. Omong kosong mereka semua


membuat Ben tidak bisa ia ajak bicara, tidak bisa ia biarkan untuk


beristirahat. Walau sebentar saja.


Berlatar cahaya lampu sorot yang begitu terang, Rose hadir


ke tengah lapangan itu, bak dewi yang baru turun dari langit. Rambut pirangnya


yang bergelombang berkibar, dibelai angin malam yang tidak begitu kencang.


Dan wajah cantik menawannya itu lama kelamaan terlihat, saat


terangnya lampu sorot di seberang sana menyiraminya dengan banyak cahaya.


Pada saat itu, untuk beberapa detik, semua orang yang tadi


sibuk berteriak dengan mulut mereka, mendadak diam. Bukan lagi mulut mereka


yang sibuk bekerja, tapi sekarang setiap pasang mata menatap indah, menawan,


dan anggunnya sosok Rose yang tengah berjalan ke arah mereka.


Hingga sosok menawan itu sampai di depan mereka, berdiri


tegak dan anggun di tengah, di antara barisan semua orang. Barulah mereka


tersadar bahwa yang mereka puji di dalam hati adalah sosok yang sejak tadi


mereka teriaki.


Sebagian menganga dengan mulut setengah terbuka, sebagian


benar-benar menganga sampai air liur mereka hampir tumpah ke bawah. Sebagian


lagi mendadak bisu dan tak mampu berkata-kata.


“Rose!” Ben berseru sembari menyusul Rose yang tidak


biasanya berjalan cepat.


Begitu melihat pemandangan tidak menyenangkan itu, wajah Ben


langsung merah padam. Hidungnya juga kembang kempis seperti banteng yang siap


menyeruduk mereka semua.


Ben menggeram marah. Murka pada setiap mata lancang yang


sudah begitu berani menatap wanitanya itu dalam waktu yang cukup lama. Tidak


dengan pandangan menghormati Rose sebagai wanita dari bos mereka. Namun dengan


pandangan kurang ajar yang membuat Ben menjadi sangat muak.


Dor!


Semua orang, tak terkecuali Rose, terperanjat kaget oleh


bunyi suara tembakan yang Ben lesatkan ke udara. Mereka semua itu lalu


mengalihkan atensi mereka pada Ben yang baru saja datang.


Pria itu membenarkan posisi topinya. Dia sedikit menundukkan


kepalanya dengan misterius, sehingga hanya kilatan mata dingin saja yang


terlihat dari pandangan semua orang. Sambil berjalan mendekati Rose, Ben menyimpan


pistol yang biasa ia bawa kemana-mana itu ke tempatnya di pinggang.


“Jika kalian sudah tidak memerlukan mata kalian lagi,


katakan!”


Sebaris kalimat itu diucapkan dengan tegas, lugas dan


sedingin es. Langsung membekukan wajah panas mereka yang semula menatapi dan


mengagumi kecantikan Rose.


Ini persis seperti apa yang Relly peringatkan kepada mereka


ketika Rose pertama kali datang di markas ini. Benar jika siapa pun dilarang


menatap Rose lebih dari tiga detik. Jika bisa, mereka harusnya memalingkan


wajah mereka saja, ketika bertemu dengan Rose.


Sekarang mereka yakin jika ucapan Relly saat itu bukanlah


sekadar lelucon. Itu memang adalah hal yang harus amat mereka perhatikan.


Tapi… mereka juga berpikir bagaimana usaha wanita itu bisa


memikat bos besar mereka sampai menjadi sebegininya. Masih ada cemooh


berlangsung diam-diam di antara lirikan dan bisikan halus dari satu mulut ke


mulut lainnya.


“Apa yang kau lakukan?” bisik pria itu pada Rose.


tangan di depan dada. Tidak ada raut ketakutan dan kekhawtiran sama sekali.


Malah Ben dapat menangkap sebuah keberanian di wajahnya yang menatap lurus ke


depan.


Tetap saja, meski pada mereka semua, Ben mengeluarkan nada


bicaranya yang dingin. Ketika dia berbicara pada Rose, nadanya melembut. Walau pria


agak kesal dengan tindakan gegabah yang Rose lakukan ini.


Berjalan keluar sendiri, di saat genting seperti ini. Tidak


tahu apa yang akan mereka lakukan pada kekasihnya itu. Di tengah kemarahan dan


protes anak buahnya. Ben khawatir salah satu di antara mereka akan bertindak impulsif


dan melukai Rose.


Pada saat ini, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Pasalnya


hasutan itu terlampau dalam menyelubung di tengah kompaknya kelompok mereka. Sehingga


sulit untuk menerima dan mengampuni sosok pengkhianat. Seperti yang mereka


tujukan pada Rose saat ini.


Rose memalingkan tubuhnya, menghadap ke arah wajah Ben lalu


menatapnya dalam. Ditempatkan Rose telapak tangannya yang lembut ke wajah Ben,


tempat dimana rahangnya yang menahan geram itu mengeras.


Ben menyentuh, memegangi tangan lembut itu dengan perasaan


bingung. Apa yang mau wanita itu lakukan?!


“Ben, serahkan ini padaku, ya!” ucap Rose lembut.


Sejujurnya, semua orang yang berada di sana masih dalam


keadaan hening saat ini. Tadi mereka diam sebab kedatangan Rose yang mempesona,


lalu semakin hening dengan hadirnya Ben yang seram dan dingin.


Sekarang mereka henyak dalam adegan romantis yang bisa


mereka catat dalam sejarah. Bahwa ini adalah pertama kalinya mereka melihat bos


besar mereka yang dingin luar biasa itu bersikap lembut pada seorang wanita.


“Tapi, Rose-“


Jari telunjuk lentik Rose tempatkan di bibir seksi pria itu


supaya dia diam. Rose menggelengkan  kepalanya kemudian.


Tidak bisa! Sekarang adalah gilirannya!


Sepasang mata Rose lalu mengerling ke arah belakang Ben. Pria


itu hendak menoleh namun tiba-tiba saja tubuhnya sudah dicekal oleh tiga orang


dari belakang.


Satu memegangi lengan kanannya, satu memegangi lengan


kirinya, dan yang satu lagi menahan  tubuhnya dengan cara memeluknya dari belakang. Ada juga beberapa yang


berjaga, jika saja bos besar mereka itu berusaha keras melepaskan diri.


Lalu datang beberapa anak buah Ben yang lain dari arah yang


sama. Menyusul Relly, Zayn dan Anggie setelah itu.


Rose berjalan mendekati salah satu yang bertugas menjaga


agar Ben tidak lepas dari pegangan mereka. Diurai senyum ramahnya, lalu


berkata. “Tolong kau bawa Tuanmu ke ruangannya. Dan tolong jaga, agar dia tidak


keluar sampai aku selesai bicara!”


Pak!


“Aku tahu, aku bisa mengandalkanmu, kan?” imbuhnya seraya


menepuk bahu orang itu. Rose juga sampai memiringkan kepala saat melebarkan


senyumnya.


‘Matilah kau!’ rutuk Relly dalam hati. Melihat tatapan


mengerikan Ben pada anak buahnya yang sedang diajak bicara oleh Rose. Bahkan


ada kontak fisik di antara mereka.


Sempat tertegun sebentar oleh perlakuan Rose yang ia pikir


akan arogan atau sombong. Mungkin karena Rose adalah wanita dari bos mereka


makanya mereka jadi berpikiran seperti itu.


“B- baik, Nona!” Dia mengangguk mengerti. Lalu diajak


rekan-rekannya yang membawa Ben pergi dari sana.


“Rose! Apa yang akan kau lakukan? Rose!” teriak Ben sambil


terus meronta saat dibawa pergi oleh anak buahnya sendiri.


Bersambung…