Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Menunggu Papa



Daniel baru saja selesai mandi. Begitu masuk ke dalam kamar, ia langsung menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda, akibat perjalanannya yang lumayan panjang.


Ia pun masih harus tetap terjaga, sebab dini hari nanti, masih ada rapat yang mesti ia hadari. Meski secara daring. Karena perbedaan waktu, di tempatnya bekerja, dini hari nanti, bahkan sudah hampir siang hari.


Segar yang ia rasa dari efek guyuran air, benar-benar mengusir lelah dan penat yang tadi ia rasakan. Berada di tempat itu pun adalah sebuah kenikmatan yang sangat lengkap.


Perutnya sudah kenyang terisi, karena, sembari menyelesaikan pekerjaan, ia pun menyempatkan diri untuk memesan makan malamnya.


Tubuhnya juga sudah terasa segar dan bersemangat kembali. Rasanya, yang cocok adalah tidur setelah ini. Tapi, hal itu tidak mungkin ia lakukan, mengingat, masih ada jadwal yang mesti ia lakukan.


Rambut pria itu sudah hampir kering. Mungkin, karena Daniel adalah seoran pria. Ia tak lantas menyisir rambutnya, yang sehabis di keramas. Dibiarkan saja olehnya rambut itu nampak berantakan tak tertata.


Eits! Jangan salah! Hal itu, tidak mengurangi tingkat ketampanannya sama sekali. Malahan, sebenarnya… Rose paling suka, penampilan Ben yang seperti ini. Dulu ketika Daniel masih menjadi Ben yang sesungguhnya.


Kamar dengan lantai kayu itu sejuk terasa di telapak kaki. Ia pun ingin serakan menikmati kesejukan lainnya, dengan keluar kamar. Ada sebuah teras kecil, dengan dua kursi rotan dan satu meja kecil di sana.


Clek~!


Begitu pintu terbuka, aroma segar angin laut, serta sepoinya, langsung menyapa wajah serta tubuhnya, yang saat ini terbalut kaos oblong abu-abu polos, juga celana pendek rumahan. Penampilan yang cukup santai, untuk menikmati sejuk dan segarnya malam.


Daniel mendudukkan diri pada salah satu kursi rotan itu. Beruntungnya, karena teras kamarnya, langsung berhadapan dengan pesisir pantai. Sehingga, keheningan yang tercipta ini, dilatarbelakangi oleh merdu suara debur ombak yang kencang.


Dihirupnya udara malam itu dalam-dalam. Membuat tubuhnya terasa semakin segar, sampai ia menengadahkan kepalanya. Mencoba meraup aroma khas itu dengan begitu rakusnya.


Ada sekelebat bayangan muncul. Berkaitan dengan rasa sejuk yang sama, seperti yang sedang ia rasakan saat ini. Akan tetapi, dalam siluet itu, terdapat dua insan, tengah memadu kasih.


Entah siapa! Daniel tidak tahu! Bayangannya nampak buram dan hanya berbentuk garis-garis kasar. Tidak ada penampakan wajah atau terdapat warna sekali pun.


Digelengkan kepalanya dengan cepat, karena lantas, ia merasa pening secara tiba-tiba.


Pada akhirnya, ia membuka mata. Menampakkan iris hitam yang kelam, seperti langit malam.


Lalu, ada titik kecil nun jauh di sana, yang menganggu pandangan matanya.


“Itu… seperti seorang anak kecil!” tebaknya dengan nada ragu seraya menyipitkan mata. Karena, bisa saja, kan, ia salah liha.


“PAPAAA!!!” Terdengar… anak kecil itu berteriak kencang. Yang nampaknya, anak kecil itu, adalah seorang anak perempuan.


“Benar! Berarti aku tidak salah lihat! Itu memang seorang anak kecil!” Diusap Daniel dagunya sembari berpikir. “Tapi, sedang apa anak kecil itu di luar, malam-malam begini?”


Lantas, Daniel melihat ke arah jam tangan, yang tak pernah lepas dari tangan. Selain, jika ia sedang tertidur.


“Ya, ampun! Ini sudah jam sembilan malam!” Ia mendesah berat berikut rasa terkejutnya.


“Hhmm… bukannya akan sangat berbahaya, jika anak kecil berkeliaran malam-malam begini?! Apalagi, dia seorang anak perempuan!”


“Ke mana orang tuanya? Mengurus anak kecil begitu saja tidak becus! Harusnya, jam segini, seorang anak sudah pergi tidur, kan?!”


“Orang tuanya ini, benar-benar!”


Sepanjang kakinya melangkah, Daniel tidak berhenti mengomel. Tidak tahu bagaimana, sepasang kaki kekar yang berbulu lebat itu, bergerak sendiri ke arah si bocah. Malah, ia terlihat begitu bersemangat dan menggebu-gebu untuk segera menghampiri dan memberikan perlindungan.


Di mana, Daniel yang biasanya, akan tidak terlalu peduli dan urusan orang lain. Mungkin karena rasa kemanusiaan. Tapi sepertinya, masih ada cara lain, tanpa harus dia sendiri yang turun tangan.


Daniel masih bisa menghubungi pihak resort, agar segera melakukan tindakan. Menyelematakan anak perempuan itu, lalu mengembalikan kepada orang tuanya.


Pada punggung rapuh dan kecil yang sedang duduk sambil menekuk lutut di atas pasir. Seperti orang dewasa, anak kecil itu menatap lautan, yang sedang pamer kekuatan dengan suara debur ombak yang kencang.


“Hey, nak! Kau sendirian? Di mana orang tuamu?” Sapaan Daniel berupa sebuah pertanyaan yang menuntut. Namun, ia menyentuh kepala anak itu, dengan lembut.


Kemudian, pria itu ikut mendudukkan diri, di samping sang bocah. Berpose sama, menekuk lutut, lalu, melingkarkan kedua tangan di atasnya. Dipandanginya pula, debur ombak di lepas pantai, tak jauh dari mereka.


“Kau siapa?” tanya anak kecil itu dengan hanya menolehkan kepalanya saja. Dengan berani, seolah ia tidak takut sama sekali, pada sosok orang asing. Apalagi, yang sudah dewasa, seperti dirinya.


Malah, anak kecil itu, memandangnya dengan sinis. Seolah, kehadiran Daniel adalah sebuah gangguan baginya. Ia lalu melirikkan bola matanya, ke depan lagi.


“Aku…,” Pria itu nampak berpikir sejenak. “Namaku Daniel!” Lalu, ia menjawabnya tanpa ragu.


Lagipula, kenapa juga ia harus ragu?! Yang bertanya adalah seorang anak kecil! Bukan wanita yang akan berpikir, jika kedatangannya adalah hanya untuk menggoda.


“Dan, siapa namamu? Apa yang kau lakukan di sini? Sendirian dan malam-malam begini?” tanyanya balik dengan memberondong.


“Hh…!” Nampak, anak kecil itu, menghela napas seraya menjepit bibirnya. “Cerewet sekali!” sahutnya ketus.


“Hng?” Daniel nampak bingung dan heran. Anak perempuan ini, tidak ada manis-manisnya sekali. Hanya wajah dan gaun yang ia kenakan saja, yang terlihat cantik dan sedap dipandang.


Perangai juga nada bicaranya, tidak ada baik-baiknya sama sekali. Selalu ketus dan sinis ketika berbicara dengannya. Apakah… anak kecil ini tidak diajari sopan santun di rumahnya? Bagaimana dia harusnya bersikap, ketika berhadapan dengan seseorang yang sudah dewasa?!


“Kau tahu ini jam berapa? Ini sudah jam sembilan! Lalu, kau seharusnya sedang bersama ayah dan ibumu sekarang! Atau mungkin, kau sudah tertidur! Apa kau tidak sedih, sudah membuat orang tuamu khawatir?”


“Aku tidak punya papa! Aku cuma punya mama!” ungkapnya dengan nada sedih.


Baru saja, Daniel akan turut menyesal karena hal menyedihkan itu, ia pun menutup mulutnya lagi. Karena setelah itu, si anak perempuan mengubah sikap tak acuhnya lagi.


“Namaku Berly!”


Perasaan, ia sudah bertanya dari tadi. Kenapa baru dijawab sekarang?! Gumam Daniel dalam batinnya.


Ya! Itu adalah Berly, anak perempuan Rose dan Ben. Di mana, itu adalah diri Daniel sendiri. Sayangnya, ia tidak mengetahui hal ini, sama sekali. Bahkan, Della pun tidak tahu. Jika, Rose tengah mengandung saat itu.


“Apakah… Paman punya seorang ayah?” tanya anak kecil itu, seraya menoleh dengan cepat.


Daniel belum sempat memberikan jawaban. Padahal mulutnya sudah setengah terbuka. Namun, anak kecil itu sudah berbicara lagi. Jadilah, Daniel hanya menggunakan mulutnya yang terlanjur terbuka, untuk menghirup napas sebanyak mungkin.


“Mama bilang, Papaku ada di sana!” tunjuk Berly dengan berani, pada lautan yang debur ombaknya terdengar amat kencang.


Pria itu mengikuti arah telunjuk Berly. Kemudian mengernyitkan alis, sebab bingung dengan maksud si bocah perempuan.


“Makanya, sekarang, aku sedang menunggu Papa, siapa tahu saja, Papa akan segera kembali!”


Deg~!


Daniel tidak tahu mengapa?! Yang jelas, mendadak, hatinya terasa sangat terusik, mendengar kata-kata bocah itu.


Dan, Berly juga tidak tahu, jika, usahanya menunggu papanya itu, tidak berakhir sia-sia.


Bersambung…