Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Della Mengandung?



Setelah mendengar pemberitahuan itu, Ben dan Rose segera saling berpandangan. Dalam tanya yang begitu banyak, juga dengan tatapan penuh arti yang menyiratkan akan sesuatu.


Sedangkan Berly, anak gadis itu nampak tak acuh dan tetap melahap roti dengan isian cokelat di tangan. Namun, mata tajamnya memandang ke arah pintu masuk yang sekarang sudah dibuka lebar.


Pertama kali yang nampak adalah sepasang sepatu pantofel hitam yang begitu mengkilap. Lantas, si empunya tubuh pun memperlihatkan diri dengan seutuhnya. Dan Ben segera mengenali sosok itu.


Kemudian, muncul dua orang lainnya di belakang. Yang satu berjalan dengan kepala tertunduk dalam. Sedang yang satunya, tetap mengangkat pandangannya yang tegas.


Tiga orang yang Ben kenal, dua di antaranya Rose pun tahu. Terutama pada manusia yang satu itu, yang sudah merenggut kebahagiaannya, beberapa tahun yang lalu.


Ya! Mereka yang datang adalah Felipe August berasama putrinya, Della Moran August, serta pengawal pribadi sang putri, yaitu Emilio.


Pandangan Ben segera menajam dan menyipit. Begitu juga dengan Rose yang segera memangku putrinya dan melayangkan tatapan waspada.


Dua insan itu pun segera berspekulasi bahwa orang-orang yang berada di luar, yang semenjak kemarin menjaga mereka, ternyata adalah anak buah dari pria tegap dengan perut sedikit membuncit itu. Felipe August.


Keduanya tahu, bahwa pria yang umurnya sudah setengah abad itu adalah seseorang yang memiliki kekuasaan tak terbatas di mana pun.


“Halo, Ben!” sapa Felipe pertama, seraya menampilkan senyum ramah. “Aku tidak akan memanggilmu  Daniel lagi, karena memang kau bukan dia. Ku rasa, kau juga sudah mengetahuinya sejak lama, kan?!” Sambil mengungkapkan fakta itu, Felipe tidak menyurutkan senyumnya sama sekali.


Della, yang berdiri di belakang sang ayah pun langsung terkejut mendengar hal ini. Kepala yang sedari tadi menunduk pun, mendadak auto naik.


Menatap belakang kepala sang ayah, dengan bola mata yang terbuka lebar.


“Apa maksud Ayah?” bisik Della dengan perasaan tertekan.


“Kau jadi sangat bodoh, karena sudah terlalu dibutakan oleh ambisimu!” balas Felipe dengan hanya menoleh sedikit.


Ia lantas mengalihkan pandangannya ke depan lagi, lalu menyapa wanita dan seorang gadis cantik yang duduk di pangkuannya. “Halo, Nona Rose! Dan….” Bibir Felipe bergetar, matanya memandang nanar kala menatap gadis kecil di pangkuan wanita yang baru saja ia sapa.


Sampai, bibir itu tak mampu untuk menyebutkan nama yang sudah ia ketahui sejak beberapa waktu belakangan. Nama yang amat indah menurutnya.


“Namanya, Berly!” Rose meneruskan ucapan Felipe yang menurutnya sedang bertanya. Namun, wanita itu tidak mengendurkan kewaspadaannya sama sekali.


Ia malah semakin memeluk putrinya dengan erat. Lalu, mata hitam keabuan, campuran warna netra sang ibu dan sang ayah, mengerjap dengan tatapan polos. Namun, tetap menimbang saat Berly memandangi seorang pria tua di depan.


“Oh, ya! Hai, Berly!” Felipe melambaikan tangan. Berusaha terlihat ramah di depan anak kecil itu.


Akan tetapi, tindakan tersebut  malah membuat Ben dan Rose semakin mawas diri terhadap apa yang hendak orang itu lakukan.


Wajar jika mereka masih menyimpan curiga! Sebab, sampai saat ini, keduanya masih belum mengetahui kenyataan yang sedang Felipe bawa.


“Hai!” Tapi, siapa sangka, jika anak kecil yang baru saja menghabiskan rotinya, malah membalas lambaian tangan orang yang mereka waspadai.


Ben dan Rose pun menatap putri mereka secara bersamaan. Dengan tatapan heran dan bingung.


Sejenak, Felipe menghirup napas dalam. Mencium aroma desinfektan yang kuat khas rumah sakit, yang terasa menyegarkan baginya. Pria itu perlu, sebentar saja untuk merasa lebih rileks.


Sejujurnya, Felipe cukup merasa tertekan untuk mengungkapkan hal ini. Banyak ketakutan dan kekhawatiran merasupi jiwanya, jika realita ini sudah diungkapkan ke depan muka.


“Apa tujuan Anda, datang ke sini?” Ben langsung to the point.


Della pun sempat terhenyak melihat tatapan yang terasa asing baginya, selama beberapa tahun belakangan ini. Namun, wanita itu segera ingat bahwa inilah tatapan asli seorang Benny Callary. Tajam dan kejam, aura seorang tirani yang begitu kental. Sama seperti ayahnya.


Hal menyakitkan ini baru pertama kali ia rasa. Sebab, ketika dulu pertama bertemu dengan sosok Ben. Laki-laki muda itu sudah disetting untuk menjadi bagian terdekat dari dirinya.


Kemudian, Felipe pun mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius. “Ada hal yang harus aku bicarakan denganmu! Aku, kau dan Della!”


Wajah itu pun membuat Ben makin meningkatkan kewaspadaannya. “Apa yang ingin Anda bicarakan?” tanyanya dingin.


“Sesuatu hal yang sangat penting. Dan jika tidak keberatan, bisakah Nona Rose dan Berly keluar sebentar?” Felipe pun mengalihkan atensinya pada wanita di sisi Ben.


“Tidak!” Tapi, Ben sendiri yang langsung memutuskan. Dengan tegas. “Jika ingin bicara, bicara saja! Rose dan Berly akan tetap bersamaku.” Lelaki itu lantas meraih tangan sang kekasih dan menggenggamnya.


Melihat hal ini, hati Della sangat terluka. Bahkan sampai akhir, meski dia adalah saudaranya sendiri sekali pun, sosok Ben, meski sebagai Daniel, tidak pernah memperlakukannya sampai seperti itu. Seposesif itu.


Felipe menghela napas lagi. Seraya tersenyum. Lagi pula, cepat atau lambat, Rose dan Berly akan menjadi bagian dari keluarganya juga.


“Baiklah!” Ia menyetujui. “Oh, ya! Bagaimana kondisimu sekarang? Sudah lebih baik?” Felipe pun ingat untuk menanyakan hal yang paling penting.


“Ya! Sudah lebih baik!” jawab Ben dengan wajah datar, seperti seorang robot.


Laki-laki itu tak mengeluarkan ekspresinya sama sekali. Tak ingin menunjukkan pada siapapun. Terlebih, ia masih belum mengetahui apa tujuan orang-orang berbahaya itu, datang ke sana.


“Syukurlah!” Felipe bernapas lega. Meskipun ia dapat melihat, mata pria muda itu masih nampak sedikit sayu, dan kulit wajahnya pun belum benar-benar terlihat cerah.


“Jadi…, apa tujuan Anda datang ke sini? Dan kalian?” Pandangan menusuk itu pun akhirnya jatuh pada Della dan juga Emilio, yang sejak awal berposisi di belalakang Felipe.


Sekujur tubuhnya, Della langsung merasakan bergidik ngeri. Entah karena dia telah banyak berbuat salah pada Ben, atau karena memang tatapan Ben memang selalu dapat meruntuhkan nyali setiap orang.


Begitu juga dengan Felipe. Biar pun wajah itu tetap terlihat tenang, tapi sebenarnya, pengawal Della itu sedang merasakan krisis dengan tatapan yang Ben layangkan.


Tak memedulikan dua orang lainnya yang sedang Ben tatap, Felipe maju dua langkah ke depan. Memandang Ben lurus dengan tatapan penuh makna.


“Ada sebuah kenyataan yang mesti kau ketahui, Ben!”


Mendengar hal itu, Rose dan Ben saling berpandangan kembali. Terutama Rose, yang mulai berpikiran buruk. Mungkinkah, sesuatu telah terjadi pada Della? Mungkinkah…, wanita itu segera menatap kekasihnya dengan tajam.


Apa yang sudah kau lakukan?! Begitu, cara Rose memarahi sang kekasih dengan matanya yang melotot.


Apa? Ben pun bertanya dengan kedikan kecil kepala disertai ekspresi bingung.


“Aku tidak tahu, ini kabar bahagia atau kabar buruk bagimu, Ben! Tapi, bagaimanapun juga, ku rasa kau harus mengetahuinya!”


Ucapan Felipe malah membuat Rose semakin salah paham. Mata yang melotot semakin membola dan hampir keluar.


Apa? Ben pun mengerutkan alisnya semakin dalam. Hidung dan mulut pun terikut berkerut sembari terus bertanya dengan tatapannya.


Bukannya menjawab, Rose malah mendengkus seraya memalingkan wajah.


Apa dia sudah membuat kesalahan? Kenapa Rose terlihat seperti sedang marah padanya?


Bersambung…