Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Mengkhawatirkannya



Rose tengah berlari mengelilingi lapangan tengah. Tubuhnya basah kuyup dilapisi peluh yang bercucuran deras. Baru 5 putaran dia lakukan, menyusuri pinggiran lapangan yang luasnya seukuran lapangan bola. Dan masih tersisa 5 putaran lagi. Berarti dia baru saja melakukan setengahnya, bukan?!


Wanita berambut pirang itu sebelumnya tentu sudah melakukan pemanasan. Sesi wajib agar tidak terjadi cedera ketika melakukan latihan inti yang berat. Anggie yang memimpin sesi pemanasan tadi.


“Ayo, Nona! Semangat! Sebentar lagi selesai!” Si wanita seksi itu bersorak menyemangati calon nyonya bos mereka dari pinggir lapangan. Di tangannya terdapat stopwatch. Sedangkan Zayn yang mencatat pencapaian waktu di setiap putarannya.


“Sebentar katanya?! Jelas-jelas ini belum apa-apa!”


Rose memilih untuk tidak mengacuhkan seruan Anggie. Menurutnya lebih baik dia menghemat tenaga untuk sisa latihan yang masih menanti. Mereka juga tahu, kan, jika Rose sebenarnya tahu semua daftar menyebalkan itu?!


Ya, Tuhan! Apa dia masih tahan?!


Setelah mengembuskan napasnya dengan cepat, Rose kembali memacu langkahnya untuk bergerak cepat. Lebih baik ia lekas menyelesaikan latihannya hari ini.


“Ya, ampun! Mereka tidak tahu diri sekali!” gerutunya ketika melihat Zayn dan Anggie dengan santainya menyeruput jus jeruk di tempat duduk mereka.


Warna nilanya yang cerah sama dengan cahaya mentari yang mulai menyeruak dari balik awan gelap.


Glek!


Rose menelan ludahnya. Jakunnya naik turun merasa tergoda oleh sapaan minuman segar itu. Jelas saja, di saat berkeringat seperti ini tubuhnya berteriak meminta diberi asupan yang menyegarkan.


Pasrah dengan keadaan, wanita itu lalu meneruskan larinya lagi dengan wajah sedih.


‘Awas saja! Aku akan minum dua gelas sekaligus nanti!’ ancamnya dalam hati.


Anggie dan Zayn mana menyadari tatapan mengenaskan Rose, yang sangat tergiur dengan jus jeruk di tangan mereka. Keduanya sibuk bercengkerama dengan begitu mesra.


Namun beberapa saat kemudian, suara derap langkah kaki yang begitu banyak terdengar datang dari arah asrama. Dari kamar-kamar tempat tinggal anggota kelompok yang tak sedang bertugas keluar.


Keduanya menoleh dengan kebingungan. Ada masalah apa gerangan di waktu yang sepagi ini?


Ada sekitar 30 orang berjalan cepat, beberapa ada juga yang berlari. Tujuan mereka sama, ke halaman parkir. Lalu, diberhentikan seorang rekan yang memimpin oleh Anggie.


“Kemana kalian akan pergi?”


“Ada perintah dari Tuan Relly. Kami harus berangkat ke gudang logistik sekarang juga!” jawabnya dan bergegas pergi.


“Tunggu dulu!” Anggie menahan lengan pria itu.


“Aku belum selesai bertanya!”


“Katakanlah! Kami terburu-buru, Tuan Relly mengatakan jika ini adalah masalah darurat!”


“Baiklah! Kau boleh pergi.” Anggie pun terpaksa melepaskan orang itu. Tak ada kesempatan baginya untuk mencari informasi. Sedangkan rasa penasarannya belum hilang.


Dia saling berpandangan dengan Zayn, mencoba menerka-nerka apa yang terjadi. Malam tadi tak ada pembasahan mengenai gudang logistik. Mereka bahkan tahu jika bos besar sudah membawa cukup orang ketika berangkat ke sana. Lalu sekarang bos menginginkan tambahan orang lagi. Jadi sebenarnya ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi?


Kedua wanita itu bertanya-tanya dalam diam.


“Ada apa? Mengapa mereka ramai sekali?” tanya Rose dengan wajah lugu penasaran. Matanya mengedip polos beberapa kali sambil menoleh pada Zayn dan Anggie.


Bukan saja pasangan kekasih itu yang penasaran. Tapi Amber juga, ketika larinya sudah mendekati keberadaan Zayn dan Anggie, Rose juga melihat sekumpulan orang bergerak dengan serempak. Makanya dia bertanya-tanya.


Apa yang akan mereka lakukan? Mungkinkah mereka ingin berolahraga di lapangan seperti prajurit-prajurit yang pernah dilihatnya di televisi? Apa mungkin mereka semua malu karena akan ditonton oleh dirinya? Jadinya mereka latihan di luar?


“Kami belum tahu pasti!” Zayn menjawab dengan


nada tidak yakin.


“Katanya ada masalah di gudang logistik. Tapi belum ada informasi yang bisa kami dapatkan,” jelas Anggie menambahkan.


Rose mencoba memahami. Lalu dia teringat sesuatu.


“Kemana Ben pergi?”


“Gudang logistik!” jawab Anggie cepat.


Tuan seramnya berada di sana sekarang. Dengan mengirim orang sebanyak itu, mungkinkah tuan seramnya dalam bahaya saat ini?! Rose hampir saja menggila karena perasaan kekhawatirannya.


Sebelum dia datang ke tempat ini, perasaan takut dan khawatir yang dimilikinya setiap berjauhan tak sekuat ini. Mungkin karena sekarang Rose berhadapan langsung dengan masalah yang Ben hadapi, dia jadi berpikiran yang macam-macam.


“Kalau begitu... aku ke sana sekarang!”


Yang ada di benaknya saat ini adalah bertemu dengan tuan seramnya. Inginnya dia memastikan langsung keadaan Ben sekarang juga. Tanpa memedulikan Zayn dan Anggie yang tengah berpikir keras, Rose melangkah mengikuti jejak orang-orang tadi.


“Tunggu!” Zayn langsung mencegah langkahnya semakin menjauh. Wanita maskulin itu menahan lengannya dengan kuat.


Rose mendesis menahan sakit sambil menggulirkan bola matanya pada tangan Zayn yang masih mencekal lengannya.


“Kau tidak bisa pergi!” kata Zayn tegas.


“Tapi kenapa? Kekasihku berada dalam masalah, bukankah sudah semestinya aku ke sana untuk memastikan keadaannya!” seru Rose kencang tak terima. Dia sudah terlalu mengkhawatirkan Ben saat ini.


“Lalu apa yang bisa kau lakukan? Apakah dengan kedatanganmu di sana lalu masalah akan terselesaikan?! Kau pikir dirimu sehebat apa sekarang? Baru berlari 5 putaran saja kau sudah terengah-engah.


“Kedatanganmu ke sana hanya akan merepotkan mereka. Dan memperlambat waktu yang mesti digunakan.” Lalu dihempas lengan yang semula dicekalnya. Tapi mata Zayn masih menatap Rose tajam.


“Jangan terlalu keras, Zayn!” tegur Anggie menengahi. Dalam hal ini dia tak berusaha membela siapa pun. Dia di posisi netral.


Anggie tidak menyetujui tindakan yang akan Rose lakukan. Tapi dia juga tidak membenarkan cara Zayn memperingati calon nyonya bos mereka. Metode yang dia lakukan terlalu kasar untuk berbicara dengan seorang wanita.


“Nona!” Anggie mengambil kedua tangan Rose untuk ia genggam, sembari mengukir senyum di bibirnya. Setelah itu barulah dia melanjutkan,”Sebaiknya Nona di sini saja. Percayakan saja semuanya pada Tuan Ben dan Relly. Nona tidak perlu mengkhawatirkan mereka, apalagi Tuan Ben. Dia sangat bisa diandalkan. Dia pasti akan baik-baik saja. Percayalah!”


Melihat keinginan di wajah Rose mulai luntur, Anggie kembali menambahkan.”Lebih baik Nona meneruskan latihan kita. Nona harus cepat-cepat menjadi kuat jika ingin membantu. Dan aku bisa menjamin, Nona akan kuat dengan cepat jika Nona rajin berlatih.”


“Baiklah!” Kepala Rose langsung terkulai lemas. Mau tak mau dia memang harus menyetujui pembimbing latihannya.


Ucapan Anggie memang benar adanya. Memangnya di bisa berbuat apa? Paling-paling dia yang merepotkan semua orang yang berada di sana. Dan perhatian Ben tidak terfokus pada masalah itu, melainkan pada dirinya.


Rose tidak menginginkan hal itu terjadi. Tak ingin ia menjadi beban bagi siapa pun. Dan dirinya yang paling tahu akan hal ini. Sejak awal, niat yang Rose miliki juga adalah untuk tujuan semakin kuat, bukan untuk menjadi beban seseorang. Rose yang paling tahu.


“Kalau begitu, ayo kita selesaikan latihan ini!” Agar bisa lebih cepat juga dia bisa membantu kekasihnya jika sedang memiliki masalah. Seperti saat ini.


Sambil melanjutkan larinya lagi, Rose terus berdoa dalam hati. Semoga kekasihnya itu baik-baik saja. Semoga dia tidak terluka. Semoga di lekas kembali.


Bersambung...