
Masih di markas Harimau Putih, di sisi lain tempat itu, Zayn dan Anggie baru saja kembali ke kamar mereka.
Benar! Dua wanita dengan status sepasang kekasih itu, tinggal di dalam kamar yang sama. Ada dua single bed di dalam kamar yang lumayan luas itu.
Meskipun mereka memiliki ketertarikan yang berbeda daripada manusia normal lainnya. Hubungan mereka masih dibilang bersih. Tidak ada hal-hal melenceng yang mereka lakukan selama ini.
Keduanya tidur terpisah. Paling jauh, mereka hanya mencium pipi. Sampai di situ saja, perasaan keduanya sudah berbunga-bunga.
Beda halnya dengan sikap manja Anggie yang selalu bergelayut manja di lengan Zayn. Hal itu sudah seperti kebiasaan. Bahkan sebelum mereka resmi menjadi pasangan kekasih.
Jika dibandingkan dengan pasangan pada umumnya, hubungan kedua insan itu sebenarnya tergolong sehat. Mereka biasanya, hanya melakukan apa yang para wanita lakukan. Melakukan perawatan bersama, bercerita mengenai banyak hal, atau saling menyemangati jika salah satunya sedang down.
Hanya itu-itu saja, namun kebanyakan, Anggie memang menonjolkan sifat keibuannya. Jadi Zayn merasa nyaman. Juga sikap Zayn yang cenderung cool dan tegas seperti lelaki, membuat Anggie merasa terlindungi.
Tidak mentang-mentang Anggie selalu berpakaian seksi, lantas kehidupan pribadinya juga mengarah ke sana. Dimana orang langsung menilai seseorang dari apa yang dipakainya.
Anggie tahu, dia paham akan semua hal itu. Namun tidak sekali pun, ia berani melakukannya. Tindakannya yang berani, sebenarnya hanya tameng, juga senjata untuk menyerang musuh. Biasanya, pria memang paling lemah dengan wanita seksi, kan!
Bisa dibilang, sebenarnya, Anggie masih murni!
Dua wanita berbeda penampilan itu baru saja masuk ke dalam kamar mereka. Anggie tengah duduk di atas tempat tidurnya. Single bed dengan sprei salem, dan nuansa feminin di sekitarnya. Berbeda dengan tempat tidur Zayn yang nuansanya cenderung kaku, seperti laki-laki.
“Kau terluka?” tanya Anggie khawatir saat ia sedang membuka angkle boots-nya. Ia melihat bahu kanan Zayn seperti terdapat luka lecet.
Wanita maskulin itu baru saja membuka jaketnya. Kaus tak berlengan yang ia kenakan, membuat sedikit bahu Zayn yang terluka jadi terlihat.
“Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil!” jawab Zayn sambil tersenyum kaku. Untung saja, bekas luka tembak ada di lengan kiri, jadi dia masih bisa menutupi hal ini dari kekasihnya itu.
Lalu Anggie, hanya ber’oh ria saja, seraya membanting diri ke atas tempat tidurnya. Langsung asyik wanita seksi itu dengan gawainya.
Meskipun mereka wanita, namun terluka adalah hal yang biasa mereka dapatkan, jika sedang menjalankan sebuah tugas.
Hah! Zayn jadi mengingat wanita mengerikan itu lagi. Wajah cantiknya menggambarkan sebuah kekejaman yang lain. Yang pernah ia temui selama bersama dengan Ben.
Ben! Sepertinya ada hal lain juga yang perlu ia konfirmasi mengenai Ben, kepada wanita mengerikan itu. Zayn jadi mengingat bagaimana tadi perilaku aneh Ben, ketika dia akan meninggalkan ruangannya.
“Aku yang menggunakan kamar mandi dulu!” seru Zayn pada Anggie, sambil merogoh saku jaketnya.
“Oke!” sahut Anggie sekilas, lalu asyik dengan gawainya lagi. Dia sedang men-scroll akun media sosialnya. Ia tidak boleh ketinggalan berita gosip setiap harinya.
Lagipula, Anggie juga menyadari, jika Zayn yang lebih membutuhkan untuk menyegarkan diri terlebih dahulu. Kekasihnya itu pasti sangat lelah dan berkeringat, setelah melakukan perjalanan jauh.
Sedangkan dia bisa nanti saja. Mandinya juga agak… lama. Jadi memang lebih baik ia mempersilahkan yang lain dulu. Daripada nanti, ketika dia mandi, waktu menyenangkannya diganggu. Anggie tidak suka!
Yah! Namanya juga wanita!Heh….
Setelah mendapatkan jawaban, Zayn segera berlalu seraya melempar jaket bombernya ke atas tempat tidur. Buru-buru dia masuk kamar mandi sambil menggenggam ponsel di tangan.
Sampai di dalam kamar mandi, Zayn tidak langsung mandi. Hanya keran shower yang ia hidupkan, agar orang di luar menyangka dirinya sudah mulai melakukan aktivitasnya di dalam sini.
Padahal, ada hal lain terlebih dahulu, yang mesti ia lakukan. Zayn menyalakan ponselnya. Lalu tangannya mengetikkan sesuatu.
To : Della Moran August
Sepertinya dia mencurigaiku.
***
Hari berganti dengan sendirinya. Sudah satu minggu berlalu dan semua berjalan seperti biasanya. Untuk semua orang, bagi semua orang, tanpa terkecuali.
Hanya mereka yang sebelumnya gencar menuduh dan menghina Rose, yang sekarang berubah. Sekarang mereka menghormati, dan menghargai keberadaan Rose di dalam kelompok mereka.
Tidak ada lagi mulut-mulut yang mencemooh, juga tatapan menghina dari mata-mata kurang ajar. Sekarang, setiap kali bertemu, mereka akan tersenyum dan menyapa Rose. Walau, masih agak kaku, karena belum bisa move on dari perasaan bersalah mereka.
Yang paling senang, tentu saja Rose, karena wanita itusekarang merasa diterima di sana. Ben juga, tentu saja. Pria eksentrik itu akan senang, jika kekasihnya itu juga senang.
Relly dan Anggie pun tidak ketinggalan. Akhirnya, usaha mereka kemarin-kemarin itu tidak sia-sia.
Akan tetapi… tidak dengan Zayn. Ada rasa tidak puas dan kebencian di balik tatapan datarnya. Ini tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.
Kadang… matanya menyipit ketika menatap pasangan itu. Zayn tidak akan menyerah sampai di sini untuk memisahkan mereka berdua. Dan membuat hidup laki-laki itu hancur.
Ben, laki-laki kuat dan hebat, yang tidak memiliki celah, untuk para musuh serang titik kelemahannya. Namun sekarang, dia punya Rose. Wanita itu sudah menjadi titik lemah bagi pria kejam itu. Dan Zayn akan memanfaatkannya.
Nanti! Sebab saat ini, ia mesti membuat keadaan kondusif terlebih dahulu, sambil menilai apakah Ben benar mencurigainya atau tidak.
Seperti sekarang ini, wanita berambut pirang itu tengah melakukan latihan menembak. Yang pelatihnya adalah Ben sendiri. Sudah tiga hari belakangan, Rose mulai melakukan latihan ini.
Tentu atas persetujuan dari Ben. Karena kekasihnya itu lumayan protektif. Takut ini, belum siap itu, padahal, pada akhirnya, siap tidak siap, Rose memang akan memegang senjata api.
Seperti terakhir kali, saat terdapat penyusup di markas mereka. Rose berhasil melesatkan timah panas ke lengan kiri salah satunya. Meski ia tidak menyangka, jika tembakannya akan berhasil.
Pak~!
“Kuatkan kuda-kudamu!” Pria bertopi koboi itu menampar paha Rose di bagian luar.
“Ben!” protes Rose keras sambil menoleh pada pria yang kini berada tepat di belakang punggungnya. Bibirnya mencebik kesal atas tindakan yang kekasihnya itu lakukan.
Padahal Ben tidak bermaksud fulgar. Sebab ia hanya bermaksud mengecek, seberapa kencang otot di paha wanita itu. Jadi dia bisa menilai bagaimana kuat kuda-kuda Rose saat ini.
Jangan sampai wanita itu terhentak ke belakang, ketika pelurunya di tembakkan.
Headphone sudah Rose kenakan. Untuk pemula, dengung suara tembakan dari senjata yang ia pegang, cukup memekak telinga. Jadi ia perlu pelindung untuk telinganya.
Tidak dengan Ben, karena pria itu sudah terbiasa dengan suara-suara bising itu. Sebagian besar hidupnya, yang terdengar di telinga, kebanyakan memang ledakan suara senjata api.
“Lalu… kau ingin aku memukul di bagian yang mana?” bisik pria itu di belakang telinga Rose. Yang banyak terdapat anak-anak rambut menjuntai, dari rambutnya yang dikuncir kuda.
Bulu kuduknya langsung berdiri. Rose langsung bergidik seraya menoleh ke arah pria itu, dengan maksud ingin protes.
Bisa tidak, pria itu tidak selalu menggodanya? Dimana pun!
Tidak di kamar, tidak di lapangan, tidak di dapur, dimana pun! Makin ke sini, makin tidak tahu malu pria itu!
Diturunkan Rose kedua tangannya yang tadi sudah merentang ke depan. Dia tidak jadi menembak. Wanita itu malah berbalik, menghadap Ben dengan wajah kesal.
“Heh!” Bibirnya mengapit kekesalannya, sambil melepaskan napas dengan cepat.
“Dan kau… ingin aku pukul dimana?” sungut Rose pada kekasihnya itu. Dadanya naik turun penuh emosi.
Terserah jika pria itu sudah tidak tahu malu! Tapi dia tidak! Rose masih punya muka untuk ditutupi.
“Ter-serah…!” kata Ben sambil merentangkan tangannya. Pria itu malah melebarkan pandangan dengan kepala yang menggeleng pelan.
Seakan dia rela, dia pasrah, jika Rose ingin melakukannya dimana saja, di bagian mana pun yang kekasihnya itu inginkan. Ben rela merasakan pukulan Rose, karena sensasi yang ia dapatkan akan terasa sangat berbeda.
“Ben!” amuk Rose dengan suara kencang. Mungkin karena memakai headphone, wanita itu jadi tidak tahu seberapa tinggi intonasi suaranya.
Dan, Rose juga tidak menyadari, jika orang-orang di sekitarnya, saat ini, berhenti dari kegiatan mereka dan mengalihkan pandangan padanya.
Bola mata abunya bergulir ke kanan dan ke kiri, ketika menyadari bahwa dunia di sekitarnya seakan sedang berhenti bergerak. Rose mendadak memaku wajah, mematung tubuhnya di tempat.
Ini semua gara-gara…
“Ben!” pekiknya lagi bertambah kesal. Sekarang dia jadi tambah malu, kan!
“Ha… ha… ha…!” Terbahak, terpingkal pria bertopi koboi itu sampai ia memegangi perutnya. Dan tidak berhenti meski Rose sudah meneriakinya beberapa kali.
Bahkan, ini adalah pemandangan baru bagi semua penghuni lapangan tembak itu. Mereka tidak mengira, jika pemimpin mereka yang kaku, bisa tertawa lepas seperti itu.
Sungguh! Nona Rose memang adalah sebuah keajaiban bagi Tuan Ben, pemimpin mereka. Juga, untuk mereka sendiri.
“Tuan!”
Tawa Ben diganggu oleh sebuah seruan.
Sambil meredakan tawa, Ben juga mengontrol ekspresi di wajahnya kembali. Ketika menoleh, yang tampak adalah wajah seramnya kembali.
Seorang anak buah yang datang, menjadi kesusahan menelan ludahnya sendiri. Dia selalu merasa tertekan, setiap kali berhadapan dengan pemimpinnya secara langsung.
“Ada apa?” tanya Ben dingin.
“Tuan kedatangan seorang tamu!”
Dahi Ben mengernyit, sedang Rose mengintip dari balik punggungnya. Mereka berdua sama-sama penasaran dengan berita yang baru saja disampaikan.
Bersambung...