
“Mari bicara, setelah kita selesai makan siang!” tutur Zayn ketika mereka berjalan ke arah meja makan.
Ben dan Rose yang berjalan mengekori, memilih untuk tak menanggapi. Sepasang kekasih itu hanya saling memandang. Lalu, Ben mengangguk sebagai sebuah keputusan.
Namun… entah karena terlalu banyak menonton film, mungkin! Pikiran Rose sedang tercemar oleh segala kemungkinan buruk yang akan terjadi di meja makan.
Ya, itu! Seperti tadi yang ia pikirkan. Mungkin saja, kan, Zayn telah merencanakan sesuatu dengan makanan atau pun minuman mereka?!
Semakin dipikirkan, semakin Rose mengeratkan pelukannya pada lengan kekar Ben. Sepertinya, kekhawatiran yang membalut pikirannya terlalu kental, ia rasa.
Ben melihatnya. Pria itu tersenyum bersama dengusan pelan. Nampaknya Ben tahu apa yang sedang dialami kekasihnya ini.
Pasti, Rose sedang khawatir berlebihan saat ini!
Walau, ia juga tidak tahu, rencana apa yang sudah Zayn siapkan. Jadi sekarang, ia hanya bisa bersiap siaga, demi menjaga kekasihnya.
“Kau menempel terus! Memangnya aku sudah tidak bau?” tanya Ben dengan berbisik.
Sengaja Ben lakukan untuk mengalihkan pikiran Rose, yang sedang terlampau khawatir.
Ah, ya! Saking sibuk memikirkan rencana yang Zayn siapkan untuk mereka, Rose sampai tidak terpikirkan mengenai kebiasaan barunya, yang selalu saja tidak suka, dengan aroma apa pun, yang keluar dari tubuh kekasihnya itu.
“Hmph…” Ia menjepit bibirnya pertama seraya mendengus pelan. “… ini saja, aku sedang tahan napas!”
Rose jadi ingat lagi, kan! Jika, kekasihnya itu bau!
Heh! Ya, ampun!
Ben memutar bola matanya jengah, sembari melepaskan napas lelah. Ia pikir, hal itu hanya berlangsung sementara saja. Namun ternyata, masih berlanjut sampai sekarang.
Sebenarnya, di bagian tubuhnya yang mana, yang tercium aroma tidak sedap? Benar-benar!
***
Di dalam mobil yang masih melaju, saat ini, tiga orang tengah sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Relly sibuk menyetir, sambil sesekali menjawab pertanyaan Anggie, mengenai Zayn. Wanita di sebelahnya pun sudah selesai membaca berkas yang Relly berikan.
Dan kini, sedang menelaah apa saja yang sudah Zayn sembunyikan darinya, selama ini. Juga beberapa sikap aneh yang ia rasa sebelumnya, namun pikiran positif selalu menguasai. Sehingga, tak pernah sedikit pun, Anggie sampai mencurigai kekasihnya itu.
Lalu, pria yang berada di bangku belakang, yang sejak tadi, duduk diam berbalut kedamaian. Nyatanya di dalam hatinya tidak sedamai bangku kosong di sisinya.
Baz begitu memikirkan keadaan Ben dan Rose saat ini. Terutama Rose, karena ia masih menyimpan rasa terhadap wanita itu. Meski Rose tidak tahu.
Pria itu khawatir setengah mati. Pun, tidak ingin memikirkan hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi pada dirinya, pada mereka.
Sebab, tidak satu pun dari mereka, mengetahui, rencana apa yang Zayn miliki. Tidak ada, sama sekali.
Dan hal ini, membuat jantung mereka semakin berdebar dengan kencang. Dipacu dengan rasa cemas yang terlampau banyak.
Jika, Zayn hanya menjalankan rencana ini sendiri, mereka masih yakin, tidak akan terjadi sesuatu yang besar, akan menimpa Ben dan Rose.
Sebab, mereka masih yakin, Ben sendiri, pasti masih bisa, masih sanggup menangani hanya Zayn seorang.
Namun, yang lebih parahnya, Zayn bekerja sama dengan wanita luar biasa, yang kekuatannya jauh, melebihi mereka semua. Sumber daya yang dia punya tidak terbatas, seperti milik mereka.
Gudang senjata Harimau Putih saja bisa dikosongkan, tanpa jejak pula. Apalagi ini, yang hanya bersangkutan dengan dua nyawa manusia.
Itu pasti, hanya seperti menjentikkan ibu jari dan kelingking, baginya.
Maka dari itu, Baz tak dapat berhenti khawatir.
“Apa kau sudah menghubungi anak-anak buahmu?” Ia pun membuka suara. Bertanya pada Relly, demi mengurai kekhawatirannya. “Kau sudah mengerahkan mereka semua?”
Tapi, jika dipikirkan, ia sudah seperti seorang ayah yang sedang mengkhawatirkan anak-anaknya saja!
Padahal, yang sedang dikahawtirkan adalah, wanita yang ia sukai, juga pesaing cintanya.
Sungguh, lucu sekali!
“Sudah, Tuan!” Relly menoleh sebentar, kemudian berkonsentrasi menyetir lagi sambil melanjutkan jawabannya. “Sudah ada dua mobil, di depan kita.”
Hehhhh… Baz perlu menghela napasnya dengan amat panjang terlebih dahulu, untuk melepaskan, sedikit, kelegaannya. “Baguslah! Semoga, mereka lebih cepat sampai, dari pada kita!”
“Ya!” angguk Relly. Juga berharap yang sama.
Meski, jika, Zayn memang sudah merencanakan sesuatu dengan amat matang. Namun, apabila, mereka datang berbondong-bondong untuk memberi penjagaan serta perlindungan, bagi Tuan Ben dan Nona Rose, kemungkinan buruk yang terjadi, masih bisa mereka minimalisir dengan banyaknya orang.
Begitu juga dengan Anggie, ia pun berharap hal yang sama. Tapi, ia lebih mengharapkan, jika, tidak ada satu orang pun yang akan terluka, nantinya.
Anggie, masih ingin berbicara dengan Zayn. Membujuknya untuk insyaf, bertobat lalu menebus dosa yang telah ia perbuat selama ini.
Meski terdengar naïf, namun memang inilah yang masih Anggie harapkan. Tidak ingin wanita itu, ada pertumpahan darah di antara mereka semua.
***
Kembali ke villa di pinggir pantai,
Dimana saat ini, Ben bersama Rose, juga Zayn, baru saja menyelesaikan makan siang mereka.
Nampaknya, hanya Zayn seorang, yang mempunyai selera makan paling bagus, di antara ketiganya.
Padahal, hidangan yang tersaji begitu banyak, dan amat menggiurkan hanya dengan melihati penampilannya saja.
Tapi rasanya, Ben dan Rose, tidak berselera sama sekali. Apalagi Rose, yang terus saja terpikirkan, dengan spekulasinya sendiri.
Takut sekali, Zayn meracuni mereka berdua di sini.
Namun, karena Ben meyakinkannya berulang kali, maka, Rose mau menyentuh makanan. Meski yang masuk ke mulut, hanya beberapa suap saja.
Bahkan rasanya, untuk meminum air putih saja, Rose merasa amat khawatir dan waspada. Tidak tahu juga, kan, jika sesuatu telah dicampurkan ke dalam cairan bening di dalam gelas itu!
Dan yang terjadi, tenggorokannya terasa susah sekali, hanya untuk menyalurkan air putih itu ke dalam tubuhnya.
“Jadi…” Ben mengelap mulutnya, dengan serbet yang tersedia. Lalu to the point pada pertanyaan utamanya. Sambil meletakkan kembali, serbetnya di paha. “Apa yang ingin kau bicarakan? Apa yang ingin kau akui?”
Heh! Zayn lantas tersenyum sinis. Ternyata, pria itu tidak berniat untuk basa-basi, sama sekali.
Sementara Rose, mendadak menegang punggungnya, mendengar pertanyaan kekasihnya itu. Bersamaan dengan itu pula, ia mengepalkan tangannya di atas paha.
Kepalan itu kuat, mendorong paha serta membuat punggungnya menjadi semakin tegak, sampai menempel ke sandaran kursi yang ia duduki, saat ini.
Rose jadi ikut gugup, menanti jawaban apa yang akan Zayn berikan kepada Ben, kepada mereka.
“Melihat wajah tenangmu… “ Zayn lantas mencondongkan tubuhnya ke depan. Menekuk tangannya di atas meja, lalu menautkan jemarinya untuk menyanggah dagu.
Ia buat, ekspresinya semenjengkelkan mungkin. Pasti, untuk membuat Ben terprovokasi.
“… sepertinya, kau sudah tahu, apa yang akan aku katakan!” Dinaikkan Zayn kedua alisnya seray tersenyum lebar, bak seorang joker.
Heh! Kini giliran Ben, yang tersenyum sinis padanya.
“Aku… mana aku tahu apa yang akan kau katakan! Memangnya, kau pikir, kau siapa?! Heh!” Lagi, Ben mengeluarkan lengkung sinis di bibirnya, dengan nuansa meremehkan.
Brak!!!
“Kau-!” teriak Zayn marah seraya menggebrak meja dengan keras.
Bersambung…