Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Keberangkatan Rose



Merasakan tempat tidur itu bergerak, Ben dan Baz segera membuka mata mereka dengan tatapan waspada. Hal itu refleks mereka lakukan karena dasar mereka yang selalu berkutat dengan bahaya. Keduanya sama-sama menoleh ke kanan dan ke kiri mencari bahaya yang mengintai.


“Kenapa bisa seperti ini? Dia demam?” Keduanya pun menoleh ke sumber suara yang terdengar lembut tapi khawatir. Rose segera menyentuh dahi Bervan untuk mengecek suhu tubuhnya. Dia dapat merasakan jika suhunya cukup tinggi.


Kedua pria itu pun bernapas lega. Sebab yang datang adalah Rose dan bukan bahaya seperti yang mereka bayangkan.


Keponakannya sakit, dan dia baru mengetahuinya sekarang. Rose langsung melayangkan tatapan tajam pada kedua pria yang baru bangun tidur itu.


Mengapa mereka tidak memberitahunya?! Padahal semalam sebelum tidur, Bervan masih baik-baik saja. Apakah sakitnya Bervan ada hubungannya dengan ketiga pria itu?! Rose lalu menatap dua pria yang ada di sana dengan tatapan curiga. Awas saja jika benar!


Brak!


“Nona!” seru Relly yang tiba-tiba membuka pintu dengan keras.


“Apa? Kenapa wajahmu panik? Tidak! Bukan begitu pertanyaan yang tepat! Sebenarnya apa yang terjadi dengan Bervan? Semalam dia masih baik-baik saja!” Rose melotot kepada Relly, tapi kemudian dia melotot kepada mereka semua.


“Ma... Mama... Mama!” Mungkin karena ikut terkejut mendengar suara pintu yang dibuka dengan keras, Bervan jadi bangun dari tidurnya. Namun sepertinya anak kecil itu sedang mengigau sekarang. Pasalnya matanya masih tertutup, sedangkan kedua tangannya mengulur ke atas seperti menanti seseorang memeluknya.


“Menjelang tengah malam tidurnya mulai gelisah. Lalu dia bangun sambil mengeluhkan kepalanya yang terasa pusing dan tubuhnya lemas. Ketika mengetahui dia juga demam, kami langsung memanggil Paman Alex dan memintanya memberikan obat penurun panas pada Bervan.” Baz mendudukkan diri di samping keponakannya itu di pinggir ranjang. Dia menjelaskan sambil mengganti kompres Bervan yang sudah dingin.


“Saat dia masih terjaga, kami memang berniat membangunkanmu! Tapi Bervan melarang, dia tidak ingin kau khawatir. Jadi dia hanya meminta kami untuk memegangi tangannya saja selama dia tertidur,” tambah Ben juga sambil mendudukkan diri di sisi Bervan yang lain.


“Keponakanku!” Rose terharu saat mengetahui jika dalam keadaan sakit pun lelaki kecil itu masih memikirkan dirinya. Dia mengusap pipi anak kecil itu dengan perasaan suka cita.


Kemudian Ben dan Baz secara bergantian menjelaskan bagaimana keadaan Bervan semalam. Sampai pagi ini demamnya masih naik turun. Dan juga anak kecil itu selalu mengigau memanggil-manggil ibunya. Paman Alex menenangkan mereka dengan mengatakan bahwa hal itu biasa terjadi pada anak yang mengalami demam yang cukup tinggi.


Akhirnya mereka merasa tenang. Lalu dengan sepakat mereka bertiga merawat Bervan yang sedang sakit itu tanpa bantuan dari Rose tadi malam. Biarkan wanita istirahat. Mereka sadar bahwa hari-hari biasanya Rose yang paling lelah mengurus anak kecil itu. Jadilah perawat dadakan mereka bertiga itu sambil bergantian mata mereka terjaga.


***


“Terima kasih, Rose! Untunglah kau segera menghubungi kami. Aku tidak menyangka dia akan begitu merindukanku sampai sakit begini!” tutur Bella seraya memegang sebelah bahu adik iparnya.


Mereka saat ini tengah menatap Bervan yang sedang terlelap di atas tempat tidur. Bella merasa begitu menyesal dan bersedih saat ini. Rasanya, keputusannya untuk tidak membawa putranya pergi merupakan hal yang salah.


Pagi tadi, Bella mendapat telepon dari Rose. Adik iparnya itu mengabarkan jika Bervan sakit sejak semalam. Dan lagi anak kecil itu selalu mengigau setiap kali suhu tubuhnya naik.


Mendengar hal ini dia pun tidak bisa tenang. Dia dan Victor pun harus mengakhiri bulan madu yang sudah direncanakan. Victor mengerti hal ini, baginya Bervan juga merupakan segalanya. Dia juga tak ingin sampai terjadi sesuatu apa pun pada putranya itu. Mereka pun segera pulang dan sampai di rumah saat hari mulai sore.


“Aku juga tidak menyangka hal ini bisa terjadi! Setelah kau dan kakak berangkat, Bervan benar-benar menjadi anak baik bersama kami semua. Dan bahkan, aku belum sempat menyiksa mereka!” Rose tergugu di akhir penjelasannya, mengingat dia sama sekali belum memberikan pengalaman baru mengurus seorang anak kecil. Meskipun sebenarnya, para lelaki itu sudah cukup tersiksa semalam!


“Kau ini!” Sejenak Bella ikut tertawa karena ucapan Rose. Ia juga mengingat hal itu.


“Tapi, maaf! Bulan madumu dengan kakak jadi terganggu!” Rose memandang Bella dengan perasaan menyesal.


Semula ia tidak ingin memberitahu Bella dan kakaknya. Dia dan yang lainnya merasa tidak ingin mengganggu acara pengantin baru itu. Mereka merasa bisa menangani hal ini bersama.


Tapi, melihat kondisi Bervan yang terus mengigau dan terus memanggil ibunya, Rose pun menjadi tak tega. Dia akhirnya berinisiatif menghubungi kakak iparnya itu. Rose pikir, dengan adanya Bella di sisinya, pasti Bervan akan segera sembuh. Begitu pun seperti yang dikatakan dokter yang mereka panggil untuk memeriksa kondisi Bervan. Anak kecil itu hanya merindukan ibunya saja.


“Sepertinya dia telah begitu kuat menahan rindunya padamu!” Tatapan mata Rose berubah sendu. Dia tersenyum sambil terus memandangi Bervan.


“Ya, sepertinya begitu! Kami memang tidak pernah terpisah jauh sejak dia lahir!” Bella pun menghangatkan tatapan matanya. Ia sedang mengenang beberapa kilasan memori.


“Mama!” Suara parau Bervan menghentikan lamunan mereka berdua.


“Mama di sini, Sayang!” Bella dan Rose mendekat. Kemudian ibu anak itu mendudukkan dirinya di pinggir ranjang. Sedangkan Rose berlutut agar bisa lebih dekat dengan keponakannya itu.


“Kau sudah merasa lebih baik?” tanya Bella sambil mengusap pipi putranya lembut.


Bervan mengangguk mengiyakan. Ada perasaan gembira di matanya. Dia senang ibunya kembali.


“Bibi!” serunya lagi seraya menoleh kepada Rose.


“Maafkan Bibi karena belum sempat mengajakmu jalan-jalan!” Rose menurunkan pandangan matanya dengan sedih.


“Tidak apa-apa, Bibi! Sudah ada mama di sini. Aku bisa jalan-jalan dengan mama dan papa nanti!” ucapnya lugu meski suaranya masih khas bangun tidur.


“Tentu saja, Sayang! Kita akan jalan-jalan nanti, bersama dengan papa juga!” Anggukan kepala Bervan semakin bersemangat mendengar ucapan ibunya. Rasanya mereka berdua sudah tidak sabar menunggu hari itu datang. Mereka sama-sama merindukan momen keluarga lengkap seperti orang-orang kebanyakan.


“Makanya kau harus cepat sembuh! Oke!” Rose mencubit kecil pipi keponakannya itu seraya mengedipkan sebelah matanya.


“Rose!” Bella menegakkan punggungnya seraya menatap bola mata Rose begitu dalam. Melihat wajah serius kakak iparnya, ia pun ikut menegakkan pandangannya juga.


“Sudah waktunya!” Bella menghela nafas agak panjang.


“Dia menunggumu, Rose! Kau tidak berniat membuatnya menunggu lebih lama lagi, kan?!” sambungnya dengan wajah bijaksana.


Sebenarnya dia belum rela, Bella masih enggan melepaskan adik iparnya itu pergi. Dia sudah merasa sangat cocok sekali dengan Rose. Adanya Rose juga salah satu hal yang membuat Bella dan putranya kerasan tinggal di sini. Rose sudah memberikan warna-warni baru dalam hidup mereka seperti banyak warna bunga mawar itu sendiri.


Tapi Bella sadar, jika adik iparnya itu harus menempuh takdirnya sendiri. Ucapan adalah janji. Hal itulah yang terjadi pada Rose saat ini. Dia telah menjanjikan sesuatu kepada seseorang. Dan sudah saatnya bagi Rose untuk mulai menepati hal tersebut.


Lagipula dia dan Victor cukup memahami hal ini. Meskipun awalnya lelaki itu berat melepaskan adiknya, namun dia masih bisa dibujuk oleh Bella.


Bagaimana mungkin Victor akan sukarela melepaskan adiknya begitu saja?! Tempat yang akan Rose tuju bukanlah sebuah tempat wisata untuk berlibur. Tapi itu adalah sebuah arena tempatnya melatih diri. Victor tahu bahwa hal ini serius dan bukan ajang untuk main-main. Di sana adiknya akan ditempa dan dia tahu akan seberapa menyakitkan hal itu.


Makanya di awal-awal dia mengetahui hal ini, Victor agak keberatan. Dia sangat menyayangi adiknya. Kehidupan di rumahnya dulu sudah menyedihkan. Jadi dia tidak ingin melihat adiknya kesusahan lagi. Dia tidak tega.


Bella bisa mewajari hal itu. Tapi ini adalah keinginan Rose sendiri. Maka dari itu sebisa mungkin Bella memberikan pengertian kepada Victor mengenai hal ini.


Begitu juga dengan Rose yang berusaha untuk membujuk kakaknya. Lagipula ada sosok yang akan selalu melindunginya, bukan?! Dan bukankah sosok itu adalah pilihan kakaknya sendiri?! Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, kan?! Ada Benny Callary di sisinya.


“Ya, aku tahu!” Rose membalas Bella dengan senyum di matanya.


***


Beberapa hari berlalu dan sekarang Bervan sudah benar-benar sembuh dan kembali aktif lagi. Anak kecil itu sudah ceria dan mau hilir mudik ke sana kemari di rumah itu dan pekarangannya. Tapi saat ini ia tengah melengkungkan bibirnya ke bawah lantaran harus berpisah dengan bibi tersayangnya.


“Jadi anak pintar, ya, di rumah! Jaga papa dan mama untukku, okeh!” Rose membuat tanda dengan ibu jari dan telunjuknya. Kemudian dia mengusap kepala anak kecil itu sangat lembut.


Jadi Relly mengambil perannya sebagai bawahan kembali. Dia yang memasukkan koper ke dalam bagasi mobil. Sedangkan yang lainnya sibuk berpamitan.


“Aku titip kakakku!”.


“Jaga dirimu! Aku tak sabar menunggu metamorfosis dirimu yang baru nanti!” Bella memeluk Rose sebelum melepaskannya pergi.


“Aku percayakan Rose padamu!” Victor pun menyampaikan pesannya melalui pelukan hangatnya dengan Ben.


Meskipun itu hanya satu kalimat, tapi Ben merasa Victor seperti sedang memberikan tanggung jawab penuh mengenai Rose padanya. Ben tahu bahwa itu cukup berat untuk ia pertanggungjawabkan. Karena mereka berdua tahu bagaimana medan yang sebenarnya ketika sudah menginjakkan kaki di markas sana.


Namun Ben telah meneguhkan hatinya. Ketika dia meminta Rose untuk menikahinya. Berarti dia juga sudah siap untuk menjaga wanita itu dengan segenap tenaga dan seluruh jiwa raganya, selamanya.


“Aku tahu!” Tetap saja, ketika menjawab Ben tetap mengeluarkan gaya acuhnya. Victor yang sudah hafal pun hanya mendengus pelan.


“Pergilah!” Ketika Rose berpindah dan akan memeluk kakaknya, Victor buru-buru melambaikan tangannya seolah mengusir mereka berdua.


“Kakak mengusir kami?” tanya Rose dengan wajah bingung dan memelas. Tangannya masih menggantung di udara yang tadinya akan memeluk kakaknya itu.


“Anggap saja begitu!” sahut Victor berpura-pura ketus. Sebenarnya dia hanya merasa tidak akan bisa melepaskan Rose pergi jika dia sudah memeluknya. Takutnya posesifnya sebagai kakak ini akan membuat Rose tidak jadi melangkah keluar dari zona nyamannya.


“Ayo, kita berangkat sekarang!” Ben mengerti situasinya. Sedikitnya dia menebak apa yang Victor inginkan. Makanya segera dia menarik tangan Rose dengan sedikit kekuatan.


“Tap- tap- tapi, aku... ” Belum sempat berbicara apa pun Ben sudah menariknya lagi dari belakang. Mereka pun masuk ke dalam mobil.


“Aku pasti akan kembali lagi secepatnya!” Rose menyembulkan kepalanya di jendela ketika mobil itu sebentar lagi melaju. Dia juga melambaikan tangan pada semuanya. Hal itu terus dilanjutkan sampai mobil benar-benar pergi meninggalkan halaman rumah.


“Duduk yang benar! Jangan seperti anak kecil!” omel Ben yang duduk di sampingnya di dalam mobil itu. Wanitanya ini benar-benar tidak bisa diam sebentar!


***


“Sudah! Sebentar lagi juga dia akan kembali!” Dengan penuh pengertian, Bella mengingatkan lagi dengan penuh kasih sayang dan cinta pada suaminya yang masih terdiam.


“Kakak!” Lalu Bella menepuk bahu kakaknya yang memiliki tatapan kosong saat ini. Baz juga masih setia memandangi perginya Rose. Bella tahu jika kakaknya itu masih memiliki perasaan terhadap adik iparnya itu. Maka dia juga harus menghibur kakaknya yang sedang patah hati.


“Bervan! Ayo kita main mobil-mobilan lagi.” Tak ingin menjawab Bella, Baz memutuskan untuk masuk ke dalam terlebih dulu. Seperti hantu dia menghilang di remang suasana di dalam rumah.


Benar memang dia telah patah hati. Namun sama seperti yang lainnya, Baz juga sangat menanti perubahan Rose di masa yang akan datang. Ia ingin tahu bagaimana kuatnya wanita itu nanti.