
Atas saran yang Baz berikan, Tuan Benneth tidak langsung menerimanya begitu saja. Dia mengatakan membutuhkan waktu untuk memutuskan. Meski pada akhirnya, ia harus menerima tatapan kecewa dari kedua anak kandungnya. Victor dan Rose.
Bagaimana pun juga, selama Tuan Benneth menikah dengan Nyonya Mira, wanita itu bisa dikatakan mengurusnya dengan baik dan telaten. Terlepas dari sifat buruk yang ia miliki. Perannya sebagai istri cukup dihargai oleh Tuan Benneth, sehingga ia perlu mempertimbangkannya.
Tuan Benneth yakin, ketika mereka berbicara, istri dan putri sambungnya itu pasti mendengarkan semua pembicaraan mereka. Dan saran Baz untuk meninggalkan Nyonya Mira, pasti tak akan dilewatkan juga.
Pria paruh baya itu akan menunggu dan menilai, apakah setelah dua wanita beda generasi itu kedoknya dibongkar, mereka akan tetap sama manis dan baiknya sebelum hal ini diketahui. Maka Tuan Benneth akan memutuskan saat itu, di waktu yang tepat.
Terserahlah!
Rose juga sudah tidak terlalu peduli dengan keputusan apa pun yang diambil ayahnya. Karena memang, setiap keputusan yang ayahnya ambil, tidak selalu tentang dirinya. Ayahnya biasa hanya memikirkan dirinya saja seorang.
Yang perlu Rose pikirkan hanya masa depannya kini. Tak perlu kepalanya penuh dengan masalah-masalah yang tidak penting.
Wanita itu hanya perlu memikirkan bagaiaman ia menjadi kuat, kemudian bersanding dengan Ben di pelaminan. Lalu merajut kehidupan sesuai dengan apa yang mereka inginkan, bersama anak-anak mereka kelak.
“Tuan, kau mau kopi? Aku bisa membuatkannya untukmu!” tanya Mirabel dengan ekspresi malu-malu menjijikkan.
Dan ini adalah salah satu hal yang harus Rose perhatikan dan pikirkan. Bagaimana menyingkirkan wanita benalu ini dari hadapan kekasihnya.
Rasanya muak sekali, ketika melihat saudara tirinya itu pamer kecantikan di depan Ben. Tangan Rose sudah gatal sekali ingin menyiram jus mangganya ke wajah menjijikkan itu.
Ya! Malam telah bergulir menggantikan senja yang tadi datang, bersama semburat jingga. Dan di sinilah semua orang! Mau tidak mau, suka tidak suka, mereka harus terlibat makan malam bersama.
Mereka membiarkan makan malam bersama itu dikuasai kesunyian. Kecanggungan tak dapat terelakkan setelah semua rasa bersalah mencuat di dada masing-masing manusianya.
Dan mungkin, hanya Nyonya Mira dan Mirabel yang paling menikmati makan malam itu, dimana bagi yang lain terasa hambar. Ibu dan anak itu menghabiskan makan mereka dengan rakus, seperti sudah tidak makan berhari-hari.
Tuan Benneth sempat ingin menegur tingkah istri dan putri sambungnya itu, namun ia urung kala melihat tatapan yang menghunus dari Victor.
Karena laki-laki itu merasa, jika ayahnya itu terlihat sangat peduli dan khawatir kepada mereka berdua. Dan Victor, tidak suka! Seharusnya, ayahnya itu lebih memperhatikan Rose, dimana ia memiliki perasaan bersalah yang besar terhadap putri bungsunya itu.
Harusnya, ayahnya itu memperbaiki keadaan. Bukannya malah membuat Rose makin berjarak dengan dirinya!
Meskipun bersikap tidak acuh di hadapan semua orang, tapi Victor dapat menangkap tatapan jengah dari mata adiknya. Rose juga pasti tidak suka melihat betapa ayahnya begitu memperhatikan Mirabel, ketimbang dia yang putri kandungnya sendiri.
Bahkan, setelah semua yang terjadi!
Semuanya sudah menyelesaikan makan mereka. Satu persatu pun mulai beranjak meninggalkan meja makan. Mereka memiliki arah masing-masing yang ingin mereka tuju.
Terisisa, Ben, Rose dan Mirabel di sana.
Sebab Nyonya Mira sedang sibuk mencari muka pada suaminya itu. Ia sedang berusaha meluluhkan hati Tuan Benneth agar tidak mempunyai niatan untuk mengusir mereka.
Dengan setia, Ben menunggu Rose yang sedang menghabiskan jus manga favoritnya. Karena mangga matang itu dipetik langsung dari pohon besar, di halaman belakang rumah kakaknya ini. Pohon besar, yang memiliki kenangan tersendiri bagi mereka berdua.
Maka, kesempatan ini dimanfaatkan oleh Mirabel untuk mencoba mendekatkan diri dengan lelaki eksentrik yang sudah mencuri hatinya baru-baru ini.
“Teman-temanku sangat tahu, kopi buatanku adalah yang paling enak!” seru Mirabel lagi berusaha keras.
Padahal Ben mengacuhkannya, tidak menoleh kepadanya sedikit pun, bahkan! Sungguh, wanita itu sudah menginjak harga dirinya sendiri. Karena biasanya, laki-laki yang akan mendekati dia lebih dulu.
“Memang perutmu masih cukup untuk menampung jus itu?” Dengan sengaja, Ben malah bertanya pada Rose. Gesture tubuh yang pria itu berikan, terlihat enggan untuk menanggapi Mirabel. Dan malahan, ia menganggap wanita itu tidak ada di hadapan mereka berdua.
“Masih!” tukas Rose cepat dan bersemangat. Ia memang sedang membutuhkan banyak asupan, karena energinya baru saja terkuras habis karena beban perasaan.
“Baiklah, kalau begitu habiskan! Aku akan menunggumu,” jawab Ben lembut sambil mengusap puncak kepala kekasihnya.
Hal itu makin membuat Mirabel iri dan kesal. Bagaimana bisa Rose meluluhkan pria yang dari tampangnya saja terlihat menyeramkan?!
Dan ia yakin, jika pria itu bukanlah pria sembarangan. Sebab, baik Mirabel maupun Nyonya Mira, mereka belum mengetahui identitas Ben yang sebenarnya.
“Nah, sambil menunggu kakakku, bagaimana jika Tuan mencicipi kopi buatanku?” Mirabel pikir ia menemukan celah. Maka dari itu, ia tetap gencar menawarkan, sambil berusaha mengambil hati laki-laki di sebelah Rose.
“Aku bukan kakakmu! Dan aku juga tidak sudi punya adik sepertimu. Ingat itu!” tatap Rose tajam kemudian menyeruput jus mangga di depannya.
“Hha… ha! Mungkin Rose sedang datang bulan, makanya dia agak emosi!” Mirabel tersenyum hambar pada Ben yang terus memperhatikan.
Jujur saja, dia kesal, sangat kesal malah, dengan tingkah sombong dan ucapan kasar Rose padanya. Tapi dia ingat jika harus mengontrol emosi, demi mencuri hati pria incarannya saat ini.
Rose memandang benci pada tatapan Mirabel yang penuh harap pada Ben. Alisnya mengernyit, kala ia mengingat jika dulu saudara tirinya itu begitu menyukai Eric.
Hingga bahkan, dulu, Mirabel sering mengancamnya untuk tidak dekat-dekat dengan teman sekolahnya itu.
Tapi sepertinya sekarang Rose menyadari, bukan Eric yang Mirabel suka. Wanita itu hanya iri pada apa yang melekat pada dirinya. Termasuk saat ini, seperti sudah instingnya sejak lahir untuk merebut milik orang lain.
Mirabel pun terlihat sekali ingin merebut Ben darinya. Maka posisi Eric kini sudah disisihkan secara tidak langsung, oleh Mirabel sendiri.
“Kau ingin membuatkan aku kopi?” tanya Ben datar.
Rose pun langsung menoleh ke arahnya dengan ekspresi bingung dan kesal.
Apa maksud kekasihnya itu? Apa yang akan dilakukannya? Apakah mungkin Ben sudah tersihir oleh pesona wanita itu?
Memikirkan hal ini, dia pun menjadi tambah kesal.
Tap~!
“Tck!” Sengaja Rose menghentak kakinya dengan keras sambil berdecak. Sebagai tindakan protesnya. Walau sebenarnya, ia belum tahu dengan apa yang akan kekasihnya itu lakukan.
“Y-ya! Jika Tuan mau!” Mendadak kembang api meledak di dadanya. Mirabel sampai merasa gugup ketika mendapatkan tanggapan yang tak diduga-duga. Pria itu cepat sekali meresponnya!
“Kalau begitu kembalilah ke kamar!”
“Ben!” teriak Rose marah. Namun segera diredam oleh pegangan tangan Ben di atas pahanya. Apakah pria itu memiliki sebuah rencana?
Meskipun begitu, Rose tetap kesal. Karena tindakan Ben hampir saja membuatnya salah paham.
“Apa maksudnya, Tuan?” tanya Mirabel dengan malu-malu. Ia selipkan sedikit anak rambutnya ke belakang telinga, sambil sesekali melirik ke arah Ben dengan senyum yang dibuat semanis mungkin.
Mirabel berpikir, jika Ben sudah takluk pada pesonanya. Dan bahkan sudah tidak sabar untuk saling mengenal lebih dalam, satu sama lain.
Hatinya pun kegirangan, melihat Rose yang bersungut-sungut ketika membentak Ben barusan.
Yes! Dia berhasil! Mirabel hanya tidak menyangka, jika usahanya akan berjalan semudah ini.
Dia hanya tidak tahu, jika saat ini Ben benar-benar sedang menahan diri untuk tidak muntah sekarang juga. Sebenarnya, dia sangat muak dan jijik untuk melakukan hal ini.
“Sebelum membuatkan kopi untukku, kau berdandanlah secantik mungkin lebih dulu! Aku akan menunggu di sini!” lanjut Ben memberi arahan pada Mirabel yang ditangkap berbeda maksud oleh wanita itu.
Sementara Rose mesti menahan geram. Ia singkirkan tangan Ben yang menggenggamnya di bawah meja. Ia tepis dengan kasar sambil memalingkan tubuhnya, membelakangi pria itu.
Dan Mirabel, makin ingin bertepuk tangan melihat hal ini. Apakah ia sudah berhasil memisahkan mereka berdua?
“Baiklah, kalau begitu! Tunggu aku, Tuan! Jangan kemana-mana! Aku akan membawakan kopi nikmat beserta gula dan ‘su-sunya’, jika kau menginginkan!”
Mirabel berdiri. Kemudian ia melambai kecil dengan senyum genit pada Ben. Bahkan ia tatap pria itu dengan tatapan sensual dan menggoda sembari memberi penekanan pada satu kata yang membuat Rose makin murka.
“Kau!” geram Rose. Rasanya, ia sudah ingin maju dan menarik rambut Mirabel sampai copot dari kulit kepalanya.
Dia menang lagi! Dan akan selalu menang! Semua yang Rose miliki pasti akan menjadi miliknya! Ayahnya, Eric, lalu rumahnya. Semua hal itu sudah berhasil Mirabel miliki, sekarang giliran pria gagah dan tampan itu yang mesti ia miliki juga.
Dret~! Brak~!
Saat Mirabel sudah tidak nampak bayangannya di sana, Rose segera bangun dengan terburu. Sampai kursi yang ia duduki bergeser ke belakang karena dorongan kakinya. Juga sambil memukul meja dengan keras, sebelum ia berniat pergi dari sana.
Muak! Rose benar-benar muak! Ia berpikir jika kekasihnya itu akan mempunyai rencana dan berniat akan mempermainkan Mirabel. Sebab Rose percaya kepada Ben. Kekasihnya pasti tidak akan mudah jatuh pada pesona wanita murahan seperti saudara tirinya itu.
Dia hendak melangkah dengan menghentak lantai, sampai ubin pipih putih itu menjerit kesakitan. Sebagai bahan pelampiasannya. Namun mendadak tubuhnya oleng, lalu seperti melayang di udara.
“Ben!” pekik Rose, ketika menyadari tubuhnya saat ini sudah berada dalam gendongan Ben.
Digendong Ben wanita itu di depan ala pasangan pengantin baru. Dia membopong wanita yang terus meronta dan protes itu, dengan mudahnya. Segala bentuk perlawanan yang Rose berikan, sama sekali tidak mempan kepadanya.
Gendongan itu tidak goyah sedikit pun. Kedua tangannya sangat kokoh menopang berat seluruh tubuhnya, juga sambil melindunginya agar tidak terjatuh.
Wajah datar Ben, tidak menunjukkan sama sekali, bahwa ia sedang terbebani atau merasa merepotkan dengan ulah Rose yang terus menendang. Meronta minta dilepaskan.
Sambil terus menjaga kekasihnya tetap di tangan, Ben membawa Rose ke halaman belakang. Berjalan menuju sebuah bangku taman panjang, yang cukup untuk diduduki dua orang.
Namun Ben tidak mendudukkan Rose di sebelahnya. Ia hanya mendudukkan dirinya sendiri, lalu membiarkan Rose duduk di pangkuannya dengan kaki menyamping. Sisa posisi gendongannya tadi.
“Ben-!”
Rose sudah akan mengeluarkan protesnya lagi, namun sesuatu yang lembut sudah menyumpal mulutnya. Bibir Ben yang seksi dan bervolume sudah lebih dulu menguasai bibirnya.
Mengecupnya dalam dan menjajah supaya bibir Rose terbuka. Bibir mereka bersatu, berpadu dalam kecupan-kecupan nikmat. Dengan rasa dan gairah yang dibakar oleh api amarah. Rose lantas mengambil alih kekuasaan.
Ia tangkup kedua sisi rahang keras dan tegas itu dengan tangannya. Tidak ingin melepaskan pertemuan bibir mereka, Rose bangun dari pangkuan Ben lalu melutut di atas bangku taman. Sehingga posisinya lebih tinggi daripada wajah kekasihnya.
Rose berusaha mendominasi ciuman mereka dengan rasa kesal yang dia punya. Berani-beraninya, kekasihnya itu merayu seorang wanita, tepat di hadapannya langsung!
Memangnya hanya tuan seramnya saja yang bisa memberi hukuman?! Dia pun bisa! Rose menciumi bibir Ben dengan rakus. Kepalanya pun sampai bergerak seirama dengan keserakahan yang menguasai hasratnya ingin menang dalam ciuman ini.
Ben tersenyum, ketika pasrah bibirnya dijajah, oleh kekasihnya yang sedang cemburu. Dia malah senang, jika Rose bertindak agresif seperti ini. Pria itu pun membiarkan saja wanitanya melakukan apapun sampai dia puas.
Di sisi lain, di kamar yang letaknya di ujung lorong lantai dua, Mirabel baru saja selesia bersolek. Menambah riasan di wajah, agar ia terlihat semakin cantik bak seorang dewi.
“Untuk apa kau berdandan malam-malam begini?! Harusnya kau membersihkan sisa riasanmu itu!” tegur Nyonya Mira yang baru saja masuk ke dalam kamar.
Benar! Mereka tidur berdua semenjak datang ke rumah ini. Karena Tuan Benneth memilih untuk satu kamar dengan Eric. Pria paruh baya itu agak menjaga jarak dengan istrinya, semenjak Eric datang dan mengajak mereka semua datang ke sini.
Tapi Nyonya Mira tak peduli! Anggap saja ia sedang mendapatkan liburan gratis ke luar negeri. Karena seluruh akomodasinya ditanggung oleh orang lain. Jadi, dia tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun.
“Aku sudah berhasil meluluhkan pria itu, Ma!”
“Pria yang selalu ada di samping Rose, maksudmu? Kekasihnya?”
Anggukkan Mirabel makin bersemangat kala ibunya itu menebak dengan tepat.
“Iya, Ma!”
“Secepat itu? Bagaimana bisa?” Nyonya Mira merasakan ada yang aneh dengan hal ini.
“Aku hanya menawarinya kopi, dan dia terus memandangku. Dia tidak memedulikan Rose sama sekali, bahkan saat Rose sudah marah. Dia terus menatap ke arahku!”
“Lalu?” Nyonya Mira mencoba menerka apa maksud dari semua ini.
“Sepertinya, dia ingin menghabiskan malam denganku, Ma! Ya, ampun! Aku sungguh tidak percaya! Malam ini pasti tidak akan terlupakan untukku! Lalu, dengan begitu, aku sudah berhasil menyingkirkan Rose dari sisinya!” Ada kilatan ambisi pada netra Mirabel.
“Sudah dulu, ya, Ma! Aku harus buru-buru menemui tuan itu! Daahh…”
“Hh…!” Mulut Nyonya Mira mengatup lagi, karena tidak dapat mencegah putrinya itu pergi. Ia hanya ingin mengatakan pada Mirabel untuk berhati-hati. Siapa tahu, jika ini hanya sebuah jebakan untuknya.
Mirabel selesai membuat secangkir kopi panas. Pada nampan bulat, sudah ia siapkan toples gula beserta cangkir creamer jika nanti pria itu menginginkannya.
Karena tak menemukan Ben di meja makan, maka Mirabel berinisiatif pergi ke halaman belakang, karena pintu menuju ke sana sudah terbuka. Rasanya sudah tidak sabar ingin melakukan kencan pertamanya dengan pria itu!
“Tuan!” seru Mirabel lemah dan kecewa. Karena apa yang ia lihat tidak sesuai dengan ekspektasinya. Karena ia berpikir, jika Ben dan Rose pasti sudah bertengkat hebat. Dan dia hanya tinggal memuluskan jalan untuk memisahkan mereka berdua.
Tapi kakinya seperti memiliki magnet untuk tetap menghampiri, pasangan kekasih yang tengah bermesraan di bangku taman. Ben merangkul Rose, sementara saudara tirinya itu nampak nyaman bersandar pada dada bidang, yang ingin sekali ia sentuh.
Mirabel sampai di hadapan mereka berdua dengan tatapan nanar dan marah. Harusnya saat ini hanya ada tuan itu saja di sini, lalu mereka bisa berduaan. Tapi ini-
“Oh, kau sudah datang!” ucap Ben acuh dan dingin.
“Ini kopinya, Tuan!” Disodorkan Mirabel nampan bulat yang ia bawa. Wajahnya mulai nampak pias.
“Ahh, sepertinya aku lupa mengatakan untuk membawakan air putih juga untukku! Kau bisa mengambilkannya, kan?”
Senyum di wajah Ben terlihat menyeramkan, sehingga Mirabel tak mampu untuk menolaknya sama sekali. Wanita itu hanya baru merasakan, jika apa yang keluar dari mulut Ben adalah titah.
“Aku sudah membawakan air putihnya, Tuan!” ucap Mirabel ketika dia sudah kembali lagi dari dalam. Ada segelas air putih bersisian dengan secangkir kopi hitam, yang masih mengepulkan asap.
“Terima kasih!” Dilepas Ben rangkulannya pada Rose, dan hal ini mulai membuat Mirabel senang. Ia berpikir, melihat Ben yang sekarang berdiri, pasti pria itu akan meninggalkan Rose dan berpaling kepadanya.
Pria eksentrik itu mengambil cangkir kopi yang sudah dibawakan. Tapi Ben malah menuang cairan hitam pekat itu ke tanah, dengan perlahan.
Kepalanya meneleng, memperhatikan, menikmati setiap kopi yang terjun bebas ke bawah. Juga, jeritan Mirabel yang kesakitan karena kecipratan suhu panas kopi yang ia buat itu. Ben menikmati suara rintihan itu, dengan tatapan mata yang berubah kejam.
“Panas? Kalau begitu aku akan mendinginkannya!” Kala Mirabel mengangguk, pria itu lantas menyiramkan isi gelas bercairan bening ke atas kepalanya.
Mulut wanita itu terbuka, memberikan kesempatan bagi mulutnya mengambil udara, saat hidungnya tertutup aliran air, sebab Ben mengguyurnya. Membuat kepalanya basah kuyup dan nampak buruk, seperti baru tikus got.
“Tenang saja, aku tidak akan lupa mengucapkan terima kasih kepadamu!” tutur Ben dengan nada tidak ramah sama sekali.
Sedangkan Mirabel masih nampak terkejut dengan semua ini. Tubuhnya basah kuyup, dandanannya luntur. Dan semua hal tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya.
Ada pula, Rose yang duduk manis, menikmati pertunjukkan yang Ben berikan. Spesial untuknya.
“Terima kasih karena kau sudah datang ke sini! Aku jadi dapat melihat secara langsung, wajah-wajah yang sudah berani menyakiti kekasihku.”
“Ini adalah peringatan pertama! Jika kau berani memiliki pemikiran jahat lagi pada Rose, maka… aku akan menjadi malaikat pencabut nyawa untukmu!” ancam Ben seraya memajukan tubuhnya ke depan. Pria itu berbisik dengan seringai, yang nampak kejam dan menyeramkan di mata Mirabel.
“Harusnya kau berkaca! Kau tidak dapat dibandingkan dengan Rose sama sekali! Kau tidak mempunyai nilai untuk bersaing dengan kekasihku!” cemooh Ben untuk terakhir kalinya, setelah ia mengajak Rose untuk masuk ke dalam.
“Ayo, Sayang!” Dirangkul Ben bahu Rose dengan lembut. Mereka berdua melewati Mirabel yang masih mematung di tempat dengan wajah kaku.
“Tadi itu-“ gumamnya setelah kedua orang itu pergi. Sangat-sangat menyeramkan!
Bersambung…
Maap ya, pelakornya yang ecek-ecek dulu.. yang kelas kakap menyusul datangnya.
Ah,, aku mah mau nyiram cewe gatel itu pake air seember deh, baru puas. Satu gelas mah mana cukup, bang!