
“Ben! Dia-?”
Dilihat keduanya, seorang wanita bergaun hitam tengah berjalan, dengan arah berlawanan tak jauh dari mereka.
Dia adalah Della Moran August. Di belakangnya, Emilio selalu setia. Mengekori sambil menjinjing sepatu hak tinggi dengan salah satu tangan, yang diyakini pasti adalah milik nonanya.
Ada kilatan terkejut pada netra biru wanita itu, sebab tidak menyangka mereka akan berpapasan di tempat ini.
Della pikir, Ben dan kekasihnya itu pasti sudah menyusul rombongan, yang diketahuinya telah kembali pulang terlebih dahulu.
Lantas, sudut bibirnya terangkat naik. Sedikit, ia samarkan senyumnya itu sambil menoleh ke arah lepas pantai, sebentar. Lalu memandang kepada dua sejoli itu lagi, dengan berani dan terang-terangan.
Bukan hanya Della saja, serta Emilio yang terkejut dengan pertemuan tidak sengaja mereka. Tentu Ben dan Rose juga sama. Mereka terkejut karena bisa bertemu, dengan wanita yang mesti mereka waspadai.
Di momen santai nan romantis ini. Kehadiran Della seakan menjadi perusak, pelebur masa-masa yang harusnya tercipta dengan indah.
Keduanya terkejut, namun Ben lebih andal dalam menyembunyikan ekspresinya. Ia simpan rasa kagetnya itu dalam tatapannya yang tetap datar.
Puk~! Puk~!
Ditepuk Rose bahu kekasihnya itu dua kali. Isyarat jika ia ingin diturunkan. Sambil menggerak-gerakkan kedua kakinya yang masih dibawa oleh sang kekasih.
“Turunkan aku!” pintanya berbisik dengan suara pelan.
Wanita yang kini masih mengenakan gaun yang sama seperti semalam pun turun dari gendongan kekasihnya.
Beruntunglah, Ben belum menggila ketika mulai melucuti pakaian Rose. Jadi, gaun maroon-nya itu masih mulus dan layak untuk digunakan kembali.
Begitu juga dengan Ben. Lelaki itu masih mengenakan setelan kemeja maroon yang sama. Hanya saja, jas hitam yang ia kenakan, kini ia berikan kepada Rose. Untuk dikenakan, benar-benar dikenakan.
Paling tidak, jas hitam itu cukup kebesaran di tubuh Rose. Sehingga, bagian bahu dan punggung atas Rose yang terbuka, tidak perlu memamerkan diri lagi. Juga, beberapa senti meter belahan panjang gaunnya dapat tertutupi oleh jas itu.
Hal ini Ben lakukan, tentu saja demi menghindarkan Rose, dari tatapan kurang ajar, mata-mata keranjang kepada kekasihnya itu.
Ben tidak rela berbagi, bahkan jika itu hanya untuk memuaskan indera penglihatan mereka saja. Meski hanya sepenggal kulit yang nampak memanjakan mata mereka.
Mungkin, harusnya ia membungkus Rose, dengan sprei kamar yang tadi mereka tempati saja! Sehingga tubuh wanitanya jadi tertutup rapat ketika mereka berjalan sekarang.
Ben lantas menurunkan pandangan matanya ke bawah. Kala merasakan, Rose menggenggam tangannya, kemudian bergerak, berdiri merapat ke sisinya.
Ia melihati genggaman tangan itu. Lantaran Rose menyekap telapak tangannya dalam genggaman yang posesif. Itu kuat sekali, penuh emosi, seakan sedang meremat parutan kelapa untuk mengambil santannya.
Apakah kekasihnya ini begitu khawatir?
Sebab, Ben dapat melihat tatapan Rose yang mengarah ke depan, nampak nyalang, juga takut secara bersamaan.
Pria itu tersenyum lembut, meski wanitanya tidak memerhatikan. Tatapannya pun juga melembut sesaat.
Mungkinkah, Rose begitu takut kehilangannya? Memikirkan hal ini, mendadak menjadi lebih bersemangat.
Semakin seseorang takut kehilangan, berarti semakin berharga pula hal itu baginya. Ben menyimpulkan, begitu dalamnya perasaan yang dimiliki Rose terhadap dirinya.
Hey, dia bukannya besar kepala! Tapi ini adalah fakta yang patut dan harus ia banggakan. Karena ternyata, perasaan yang mereka punya, sama-sama kuat.
Sama-sama saling menginginkan, sama-sama saling menjaga, sama-sama takut kehilangan.
Dengan begini, Ben jadi tidak perlu khawatir berlebihan lagi, perihal pernikahan mereka, yang masih belum pasti hilalnya. Yang terpenting adalah, perasaan mereka, cinta mereka, sama-sama kuat, untuk saling menjaga.
Lihat saja penampilan wanita itu!
Wanita yang bernama Della itu, nampak sangat berkilauan, anggun dan megah. Bak istana kerajaan, sedangkan dirinya hanya bagaikan sebuah villa keluarga.
Perbandingan yang mencolok sekali Rose rasakan. Sehingga dirinya merasa minder jika mesti menjadikan wanita cantik itu sebagai saingan cintanya.
Lengan Ben yang kekar, ia peluk dengan erat. Melampiaskan kekhawatirannya dengan cengkeraman kuat pada kemeja di bagian lengan itu.
Dirinya baru tersadar ketika Ben mengguncang genggaman tangannya. Pria itu tersenyum sembari menganggukkan kepala. Mengajaknya meneruskan langkah mereka lagi.
Dibalas Rose senyuman itu, dengan tarikan bibir yang singkat. Kemudian, keduanya, menatap ke depan lagi, dengan tatapan yang berbeda.
Ben enggan mengalihkan pandangannya, barang satu senti pun pada Della. Ia tak sudi untuk menatap bahkan jika itu hanya sedetik saja, pada seseorang yang memiliki niat buruk, baik terhadap dirinya, maupun kekasihnya.
Meskipun parasnya cantik, walaupun tubuhnya molek menggoda, Ben tidak berminat sama sekali.
Ia memandang lurus dengan tatapan serta ekspresi datar. Agar lawan tak dapat membaca apa yang ia pikirkan saat ini.
Sedang Rose, tak dapat membohongi rasa penasarannya yang terus berlanjut. Wajah wanita itu seolah mempunyai magnet, sehingga Rose betah berlama-lama menatapi paras menawan itu, meski dengan sembunyi-sembunyi.
Ketika mereka berpapasan, Rose mencoba meluruskan pandangan, meskipun terasa sulit baginya. Ia juga penasaran, apakah wanita yang bernama Della itu akan menatap ke arah mereka… bukan, ke arah kekasihnya atau tidak.
Namun gerakan kecil Ben lakukan pada genggaman tangan mereka, serta sedikit mengedikkan dagu. Ben memintanya untuk memantapkan diri, untuk terus menatap ke depan.
Ia melirik pria itu sebentar, setelah mengerti, barulah, Rose mengikuti instruksi yang kekasihnya berikan. Lantas, dengan sedikit meragu, Rose mengangkat dagu, demi tidak ragu-ragu lagi untuk terus melihat lurus ke depan sana.
Pikir Ben, tidak ada alasan bagi mereka untuk bertegur sapa. Meski mereka mempunyai masalah di belakang. Namun sampai saat ini, mereka masih berakting seolah belum mengetahui dalang dari masalah yang menimpa mereka, adalah wanita itu.
Mereka mesti terus bertingkah seolah-olah seperti ini. Karena Ben, tidak mau terlibat lebih jauh lagi, dengan wanita, yang ia yakin pasti sangat berbahaya.
Lalu Della, yang sejak tadi mempertahankan sikap agungnya dengan mengangakat dagu, ketika mereka berpapasan, matanya sempat melirik sebentar. Ke arah Ben, dengan perasaan berdebar yang sulit dijelaskan.
Wanita itu lantas tersenyum, setelah mereka saling membelakangi. Ia tidak tahu perasaan apa ini, tapi yang jelas, rasa penasarannya terhadap lelaki itu semakin meningkat.
Della pun semakin mendamba, semakin ingin merasakan bagaimana cara pria itu menatap kekasihnya. Ia membayangkan, bagaimana jika ia yang berada di posisi kekasihnya itu.
Namun, selintas bayangan apa yang terjadi pada kedua orang itu tadi malam, membuat Della merasakan kembali gejolak amarahnya.
Wanita itu menghentikan langkahnya, disusul oleh Emilio sambil menukikkan alisnya ke dalam.
“Ada apa, Nona?” tanyanya mengurai penasaran.
Della tidak menjawab dengan kata-kata. Hanya saja, dengusan napasnya terdengar kasar dan berat saat dikeluarkan.
Rahang wanita itu mengetat. Garis tulang pipinya menegas. Yang jelas, di dalam rongga mulutnya, giginya tengah bergemerutuk menahan geram.
Della menoleh perlahan. Lalu, ia menatap dua punggung yang semakin bergerak menjauh. Dengan tatapan tajam nan menusuk.
Ia benci, mengingat bagaimana keinginan dan rencananya gagal. Berantakan. Padahal, ia sudah mempersiapkannya dengan matang.
“Jika tidak bisa didapatkan dengan cara halus… maka aku akan menggunakan cara yang kasar dan memaksa!” ungkapnya bak mengucapkan sebuah sumpah.
Namun, di sisinya, Emilio nampak memandangnya dengan tatapan nanar dan pias. Sepertinya, sebentar lagi, ia akan dibuang.
Bersambung…