
Saat ini Rose tengah berkonsentrasi penuh. Tangannya merentang ke depan, merapat karena kedua telapak tengah bersatu memegang sebuah senjata. Sebelah matanya menyipit bahkan hampir memejam, membidik sasaran yang dia inginkan.
Wanita itu sudah siap untuk menembak. Ditarik Rose pelatuk senjata itu, lalu dia menghitung dalam hati.
1
2
3
Dor~!
Sebuah tembakan melesat ke arah papan nilai. Dan berhasil melubangi lingkaran dengan nilai 7. Ini sudah cukup baik, baginya yang baru beberapa hari berlatih menembak.
“Yeay~!” sorak Rose kegirangan. Kedua tangannya merentang ke atas sambil berjingkat-jingkat.
Prok~! Prok~! Prok~!
Sebuah tepuk tangan menyambut sorak sorainya. Namun, itu bukan berasal dari tangan Ben. Melainkan dari tangan Baz yang baru saja datang.
“Kau hebat, Rose!” pujinya terang-terangan. Tak peduli jika Ben ada di sana, menatap sengit pada dirinya.
“Tentu saja!” sahut Rose percaya diri. Dia mengedikkan dagu dengan tatapan sombong.
“Jangan senang dulu, Sayang! Kau sebenarnya sedang menertawai kekalahanmu sendiri, saat ini!” seru Ben tak acuh sambil bangun dari duduknya.
Tadi, sambil Rose mempersiapkan diri, Ben memilih untuk duduk di sebuah sofa yang berada tak jauh di belakang dirinya. Ia ingin menikmati setiap momen kekalahan Rose sambil bersantai. Duduk bersandar seraya menyilangkan kaki.
“Kalah?” tanya Baz bingung. Apa maksudnya dengan kalah? Apakah mereka…?
Sebentar Rose tersenyum padanya. Lalu, ia mengalihkan perhatiannya lagi pada Ben. Kekasihnya yang selalu percaya diri, mentang-mentang dia hebat.
Hem! Lihat saja nanti!
“Kau yang jangan terlalu percaya diri, Sayang! Kita belum tahu siapa pemenangnya!” sahut Rose sambil mengangkat dagu.
Jika diadu dengan skill yang Ben miliki tentu saja ia akan kalah. Secara logika, Ben sudah belasan tahun memegang senjata. Sudah menjadi satu bagian dengan tubuhnya sendiri, mungkin. Sedangkan dirinya, hanya hitungan hari, dia baru memegang dan bisa mengendalikan senjata.
Dari segi pengalaman saja, sudah jelas siapa yang akan menang di sini! Namun, hal itu tidak menjadi halangan untuk Rose. Karena dia… sudah memiliki rencana! Matanya yang menatap Ben, mengerling kelicikan.
“Hem…!” Ditipiskan Baz bibirnya dengan perasaan lelah. Sebab, selama dia berada di sini, matanya jadi harus menyaksikan langsung setiap adegan romantis yang keduanya lakukan. Lagi!
Padahal, setelah kembali ke negaranya, perasaannya sudah merasa lega. Dia juga telah sepenuhnya melepaskan Rose. Meski di dalam hati, dia masih menyukainya. Lalu, setelah kembali dengan kesibukannya juga, Baz jadi tidak perlu melihat hal-hal menyakitkan itu lagi. Karena mereka sudah berbagi jarak dengannya. Ben tidak perlu terlalu merasa sakit hati.
Tapi sekarang, sepertinya dia mesti pasrah. Jiwa raganya mesti tersiksa lagi. Bahkan hanya dengan panggilan ‘sayang’ yang saling bersahutan saja, sudah membuatnya begitu menderita.
Tolong! Hargai dia di sini! Pria itu merintih dalam hati.
“Kalian taruhan?” tebak Baz. Akhirnya dia bertanya, setelah meluruskan pikiran.
“Ya!” jawab Rose dengan senyum cemerlang. Seakan dia sangat percaya diri untuk menang. Sedangkan Ben, tak menampakkan jejak apa pun, karena wajah biasanya saja sudah terlihat angkuh dari sananya.
“Lalu, apa hadiahnya jika salah satu di antara kalian menang?” Baz pikir, tumben sekali, pasangan kekasih ini melakukan sebuah taruhan.
Ditambah, taruhan ini sungguh tidak menguntungkan bagi Rose. Dengan mata telanjang saja, semua orang tentu dapat menilai, jika Rose pasti akan kalah jika berhadapan dengan orang aneh itu.
Bahkan, belum ada yang bisa mengalahkan Ben di dalam kelompoknya sendiri. Mungkin! Ini adalah taruhan yang tidak adil. Seharusnya, orang aneh itu melakukan taruhan dengannya, bukan dengan Rose!
Baz mencemooh melalui tatapannya. Hanya pengecut yang mau bertaruh dengan seorang wanita!
“Heh~!” Lalu Ben hanya mendengus untuk menanggapi tatapan itu. Ia tak peduli dengan apa yang Baz pikirkan.
“Rahasia!” seru Rose girang.
“Percuma kami mengatakannya kepadamu!” Dahi Baz mengernyit mendengar penuturan Ben.
“Kau yang sendiri tidak akan mengerti!” Ben pun menambahkan.
Jleb~!
“Ch!” Sombong sekali orang itu. Ben pasti sengaja menyindir dirinya, dengan kejam!
“Buahaha… haha… ha…!” tawa bahak seseorang datang dari arah belakang Baz.
Ternyata… itu adalah Relly! Dengan kurang ajar dia terpingkal-pingkal sambil berjalan mendekat ke arah mereka semua.
“Kau minta dihajar, ya!” Tangan Baz sudah mengepal di udara, ingin memberi pelajaran pada asisten orang aneh itu.
“Relly, diam!” Rose memerintah sambil mendelikkan mata. Walaupun sebenarnya ia juga ingin tertawa.
“Maaf, maaf!” Rasa-rasanya ia puas sekali melihat ada orang lain menderita karena pasangan kekasih yang satu ini. Dipegangi perutnya dengan satu tangan, sambil berusaha meredakan tawa.
“Hah!” Pria itu lantas melepas tawa terakhirnya. Relly masih memiliki nurani untuk tidak mempermalukan Tuan Baz lebih lama lagi.
Semua orang bisa melihat jika wajah pria itu, sekarang sudah menggelap. Malu dan kesalnya sedang menjadi awan kelabu yang menutupi ketampanannya.
Tentu saja Relly merasa kasihan, karena dia jadi mengingat bagaimana nasibnya yang selalu menderita selama ini. Tuan dan nonanya memang hobi sekali menyiksa seseorang!
“Akhirnya… aku memiliki teman berkeluh kesah sekarang!” ujar Relly sambil memandang Baz.
“Aku tidak mau berteman denganmu!” tolak Baz mentah-mentah. Dia masih kesal karena Relly menertawakannya tadi.
“Tidak apa-apa! Suatu saat Tuan pasti akan memintaku untuk menjadi teman!” kata Relly yakin.
Harusnya Tuan Baz belajar dari pengalaman, selama mereka tinggal bersama di rumah Tuan Victor. Selama dua insan itu bersama, maka akan terus ada penyiksaan bagi mereka semua yang statusnya masih sendiri.
“Tck!” Dan Baz belum mau meyakini hal itu.
“Ayo kita lanjutkan taruhan kita!” seru Rose pada kekasihnya. Meninggalkan dua single fighter yang sedang berdebat.
Wanita itu sudah penasaran dengan hasil pertandingan ini. Misinya belum selesai jika Ben belum melakukan gilirannya.
“Kau akan melihat kekalahanmu sebentar lagi!” ucap Ben dengan angkuhnya. Meskipun begitu, Rose tidak terpengaruh sama sekali.
Baz dan Relly memilih untuk menonton pertunjukkan itu dengan berdiri, beberapa meter di belakang Ben. Bergabung bersama Rose yang terus memicingkan mata, menunggu saat yang tepat.
Benar! Dia tidak boleh kalah! Sebab, jika Rose kalah maka dia harus menyerah pada apa yang selama ini ia pertahankan. Keteguhan hati yang sudah ia bangun akan menjadi sia-sia.
Karena Rose akan menyerahkan dirinya seutuhnya kepada Ben, jika pria itu yang menang. Tapi… jika Rose yang menang, maka Ben tidak boleh mengganggunya seperti tadi lagi. Maksudnya, jika sedang berada di depan banyak orang. Kalau tidak ada orang, boleh, sih, tapi… sedikit!
Heh! Bahkan Rose harus bertaruh untuk memberi pelajaran pada kekasihnya itu! Ya, ampun!
Peraturannya adalah, nilai tembakan Ben harus lebih tinggi satu poin dari nilai Rose. Dan karena wanita itu masih amatiran, maka nilainya tidak boleh di bawah enam. Meski Rose mendapat nilai enam pun, dia sudah dinyatakan kalah.
Tadi, Rose sudah mendapatkan nilai tujuh. Berarti sekarang, Ben hanya perlu mendapatkan nilai delapan, untuk menang.
Hah! Mudah sekali! Bahkan, ia bisa melakukannya sambil memejamkan mata. Gumam Ben sangat percaya diri.
Pria itu sudah bersiap. Ditarik Ben pelatuk senjata yang ia gunakan.
“Sekarang!” Rose langsung mendekat tanpa suara.
Cup~!
Dor~!
Ciuman itu datang bersamaan dengan Ben yang akan melesatkan pelurunya. Satu detik, hanya butuh satu detik bagi Rose untuk memecah konsentrasi pria itu, dengan mencium pipinya.
“Enam!” teriak Relly tidak percaya.
“Ha…!” Baz juga tertawa tanpa suara.
Hanya Ben yang masih terperangah dengan hasil yang ia dapat. Pria itu lantas menoleh dengan mulut menganga. Pada Rose yang sedang tersenyum puas. Barisan gigi putih wanita itu juga turut mengejek kekalahannya.
Bersambung…
Yah... babang ben kalah! Nasib... nasib...