Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Melakukannya untukku



“Hai!” sapa Mirabel dengan topeng ramah yang ia bawa. Garis bibirnya bahkan melengkung lebar sekali.


“Ch!” decak Rose sambil membuang wajahnya ke samping. Ia juga tidak lupa untuk memberikan tatapan sinis pada wanita itu. Sungguhpun, Rose sangat muak dengan senyum palsu itu.


Ya! Rose yakin jika itu adalah kepalsuan yang sengaja ia kenakan, untuk merancang sesuatu. Firasatnya mengatakan hal itu.


Pasti saudara tirinya ini memiliki niat buruk. Seorang Mirabel tidak akan tersenyum lebar, jika dia tidak sedang menginginkan sesuatu.


Ben hanya perlu tenang. Ia sudah biasa menghadapi wanita macam seperti ini. Yang suka menggoda dan penuh intrik. Pria bertopi koboi itu menggulung lengan kemejanya sampai ke siku, lalu ia letakkan gelas champagne-nya ke meja buffet di sisinya.


Pria itu lalu berdiri tegap sambil melipat tangan di depan dada. Sedikit menelengkan kepala seraya memperhatikan gerak-gerik wanita bergaun hitam ini. Apa yang mau dia lakukan?


Tapi Mirabel mengartikan lain dari tatapan Ben itu. Ia berpikir jika kekasih saudara tirinya itu sedang memperhatikan penampilannya. Mungkin juga sedang terpesona dengan cantiknya dia malam ini.


Heh! Baru tah, kan, jika dia lebih cantik dari pada Rose!


Tak memedulikan sikap sinis Rose padanya, Mirabel, dengan tidak percaya diri melangkah maju. Dengan sengaja ia mengambil posisi di tengah, di antara Rose dan Ben. Sehingga hal itu langsung mendapat protes keras dari Rose.


“Hey! Apa yang kau lakukan?” serunya sambil merasakan tubuhnya yang sengaja digeser.


Ben pun sama, dia jadi bergeser dari titik semula ia berdiri, namun pria gagah itu tetap mempertahankan posenya saat ini. Sambil terus memberikan tekanan pada wanita yang sedang berdiri di antara dia dan kekasihnya.


“Aku hanya ingin mengajakmu mengucapkan selamat kepada Kak Victor,” ucap Mirabel santai. Digoyangkannya gelas bertangkai kecil di tangan.


Sluurp~!


Kemudian ia menyeruput sedikit minuman di tangannya itu. Ia pun ingin merasakan efek dari benda kecil yang ia keluarkan tadi. Wanita itu juga ingin menggila bersama dengan pria di sebelahnya ini.


“Jangan memanggilnya seperti itu! Kau tidak pantas melakukannya! Dia adalah kakakku, bukan kakakmu!” bentak Rose kesal.


Jangan menganggap apa yang bukan miliknya adalah miliknya! Rose tidak suka! Sudah cukup wanita ular itu mengambil semua miliknya dulu. Jadi sekarang, jangan mengada-ada! Apapun, termasuk dengan kakaknya, Mirabel tidak pantas dan tidak layak untuk mendapatkannya.


Ditatap sengit oleh Rose saudara tirinya itu. Dengusan-dengusan kasar terdengar dari sosoknya yang sedang menahan sabar. Dalam tatapannya, Rose hanya menginginkan jika wanita itu segera pergi dari hadapannya.


Lukanya yang dahulu memang sudah sembuh. Namun sakit hatinya belum usai. Sebab, terlalu dalam luka yang Mirabel dan ibunya itu torehkan padanya.


“Hhe…!” Dengan tidak tahu dirinya, Mirabel malah tertawa kecil. Seolah apa yang Rose serukan tadi adalah sebuah lelucon baginya.


Ia tutup mulutnya, menggunakan punggung tangan agar tawa halusnya itu nampak elegan di mata Ben.  Agar pria itu makin terpesona kepadanya.


Dan sayangnya, hal itu tidak mempan sama sekali! Ben hanya terus menatapnya datar. Jika tingkahnya keterlaluan, maka dia sendiri yang akan menyingkirkan saudara tiri kekasihnya itu dari hadapan mereka. Ben tidak suka melihat wajah Rose cemberut dan kesal.


Sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, Ben dan Rose tidak menyadari jika Mirabel tengah meletakkan gelas champagne-nya ke buffet di belakangnya.


Sekali dia menoleh ke belakang untuk memastikan, bahwa ia sudah benar menukar gelas miliknya dengan milik Ben. Ketika berhasil, lantas, ia pun tersenyum samar. Dan sekarang yang ia genggam adalah, gelas milik pria incarannya itu.


“Jangan begitu!” Direngkuh lengan Rose untuk ia dekap dengan gaya sok akrab. Dan selalu, senyum manisnya itu ia tujukan pada pria di hadapannya saat ini.


“Bagaimanapun juga, kan,  kita ini… ber-sau-da-ra!” Mirabel sengaja mengeja kata terakhirnya tepat di dekat wajah Rose untuk menekankannya.


“Jadi, apapun milikmu, kita tentu harus berbagi, kan!” imbuh wanita itu dengan tatapan penuh arti.


Namun dia tidak berani menatap Ben. Selain karena sejak tadi dia sudah bertahan dari tekanan yang Ben berikan. Ia pun tidak ingin rencananya terbaca oleh pria itu.


Mirabel yakin, pria di hadapannya ini, selain mengandung aura yang berbahaya, dia juga dapat menilai, menangkap sesuatu dengan tatapannya yang dalam dan pekat. Jadi setelah mengatakan hal itu, ia buru-buru pergi dari sana.


“Karena kau tidak mau menerima ajakanku, lebih baik sendiri saja menemui kakakmu, uupss…” Sengaja Mirabel menutup mulutnya dengan gaya menjengkelkan. Lalu dia mengakhiri kalimatnya. “Kakak kita maksudnya! Daahh!”


“Kau!” geram Rose pada wanita yang sedang melambaikan tangan kepadanya. Napasnya terdengar putus-putus karena perasaan kesal yang luar biasa.


Dia itu benar-benar, ya! Masih saja berani mengakui Kak Victor adalah kakaknya! Tidak! Kak Victor adalah kakaknya seorang. Mulutnya yang kotor tidak pantas memanggil kakaknya dengan sebutan yang sama seperti dirinya.


Rose tidak mau! Ia tidak rela!


Tak~!


Untuk melampiaskan kekesalannya, sengaja Rose menghentak satu kakinya ke lantai. Dilirik dua gelas yang berada di atas duffet, di sisi mereka berdua. Rose langsung menyambar salah satunya untuk menuntaskan dahaganya akan ketenangan.


“Ini bukan milikmu!” Tapi buru-buru gelas itu direnggut oleh tangan kekasihnya.


Rose yang terkejut pun jadi mematung di tempat, masih dengan tangan setengah terbuka di depan mulut. Hanya bola matanya saja yang bergerak melihat Ben menukar gelas champagne yang tadi ia ambil, dengan gelas jus miliknya sendiri.


Ia sudah selesai mengisi kekosongan tangan Rose dengan segelas jus jeruk milik wanita itu sendiri. Dan bahkan, ia menyodorkan gelas itu ke mulut Rose, sampai kekasihnya itu menyicip rasa jus jeruk dengan lidahnya, lagi.


Kemudian Rose menarik gelas yang sudah menempel di bibirnya itu dengan kesal. “Biarkan aku mencobanya, Ben! Kau tahu, kan, aku sedang kesal!”


“Tidak!” tegas Ben singkat.


Glek~!


Langsung saja, Ben menghabiskan isi gelas itu dalam satu kali tegukan. Agar kekasihnya itu tidak rewel dan merengek lagi padanya. Dan Rose makin mengerucut wajahnya, karena bertambah kesal.


Wanita itu berpikir, karena tadi sedang dalam keadaan serius, maka Ben tidak akan terlalu memperhatikan jika Rose memang sengaja mengambil gelas champagne miliknya. Tapi ternyata… heh! Pria itu ternyata sadar juga!


Tak~!


Diletakkan Ben gelas yang baru saja ia tanggalkan isinya ke meja buffet lagi, dengan keras.


“Kakakmu sudah turun dari panggung. Ayo kita bergabung dengan yang lain!” ajak Ben padanya lalu.


Tanpa basa basi lagi, Ben merangkul bahu Rose supaya wanita itu mengikuti langkahnya. Tidak mau tahu, meski Rose melangkah dengan berat hati.


Huh! Pria itu memang bukan mengajaknya, tapi sedang memerintahnya saat ini. Pada akhirnya memang Rose mesti mengikuti apapun yang kekasihnya itu katakan. Ia menyeret langkahnya, sambil tak mengubah ekspresinya yang masih kesal.


“Kau tidak boleh terprovokasi dengan begitu mudah oleh musuhmu. Tetap tenang, pertahankan ketenangan di wajahmu meski badai mulai menerjang dengan begitu keras!” Sambil berjalan, sambil merangkul Rose, Ben memberikan nasihatnya. Sekali pria itu melirik ke arah Rose dengan senyum kecil di bibirnya.


“Ha…?” Rose yang mulanya masih kesal pun jadi ternganga dengan ceramah singkat yang terlalu tiba-tiba ini.


Wanita itu pun mengubah ekspresinya, menjadi tenang kembali seraya menghadap ke depan. Rose memikirkannya.


Benar apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu! Dia memang perlu belajar tenang menghadapi lawan ataupun musuh.


Di sudut aula itu, terdapat sebuah sofa mewah yang memang dipersiapkan untuk siapapun. Yang lelah atau yang sedang menunggu seseorang.


Namun yang mendudukinya saat ini adalah, seorang wanita dengan gaun perak. Bertali spaghetti dan memiliki bagian belakang yang terbuka. Gaun yang menjuntai ke lantai, kini menutupi kakinya yang sedang menyilang dalam posisi duduk.


Di tangannya terdapat sebuah tab yang menampilkan adegan demi adegan dari sejak Mirabel melakukan sesuatu pada minumannya sendiri, sampai ia menghampiri Ben dan Rose. Lalu menukar minuman miliknya dengan milik Ben. Hingga Mirabel pun pergi dari hadapan pasangan kekasih itu.


“Menarik!” Ditariknya seulas senyum puas, jahat dan licik.


“Ternyata aku tidak perlu turun tangan langsung. Dia baik sekali, sudah mau melakukannya untukku! Kalau begitu, aku harus memberinya hadiah, nanti!” ujarnya sambil mengusap video yang di pause sehingga menampakkan wajah Mirabel pada tab itu. Tawa kecil pun lolos dari bibirnya yang ranum dan seksi.


Dia lantas memerintah pada seseorang yang selalu setia di sampingnya. Pria itu pun merunduk untuk mendengar instruksi.


“Kerahkan orang untuk berjaga di sekitarnya!”


Tuk~! Tuk~!


Benar! Wanita itu adalah Della Moran August. Dan yang diajak bicara olehnya adalah Emilio, sang pengawal pribadi aka teman duet ranjang.


Della mengetuk wajah Ben yang sekarang tengah ditampilkan oleh layar tab yang ia pegang. Menunjuk sosok yang ia maksud.


“Jika dia mulai lengah dan tidak sadarkan diri, bawa segera dia kepadaku!” titahnya lagi. Seperti tahu, apa yang sudah Mirabel masukkan ke dalam minuman  itu.


Sebuah benda kecil berukuran setengah dari kukunya pun mendarat di telapak tangannya. Itu adalah kamera micro yang ia pergunakan untuk memantau tiga orang tadi. Lantas ia menggenggam benda hitam itu dan memasukkannya ke dalam clutch silver yang ia bawa.


“Baik, Nona!” angguk Emilio mengerti.


Pria berbalut setelan jas rapi itu pun melipir dari hadapan nonanya, untuk memberikan perintah pada beberapa orang melalui sambungan telepon.


Dan dengan sangat berat hati, mau tak mau, suka tidak suka, dia tetap harus menjalankan perintah itu. Perintah untuk membawa laki-laki lain untuk nona yang biasanya ia layani.


Bersambung…


Jadi gimana nih? Siapa yang bakal dapetin Ben hayo…


Della si wanita mengerikan apa Mirabel si wanita permen?


Kalian dukung yg mana nih.. wkwkwkwkk