
Pada akhirnya, Berly kembali ke kamarnya, dengan selamat dan tanpa kekurangan sesuatu apapun. Tentu saja, hal itu bisa terjadi, karena Daniel yang mengantarnya. Dengan penuh perhatian, hingga bisa selamat sampai tujuan.
Sayangnya, Daniel hanya mengantar Berly, sampai di depan kamar. Karena sudah terlalu larut, maka ia memilih untuk segera undur diri, saat sudah memastikan Berly benar-benar masuk ke dalam kamarnya.
Keduanya berpisah, setelah saling melambaikan tangan.
Selama perjalanan menuju kamar Berly dan ibunya. Anak perempuan itu, sudah menuturkan dengan jelas, waktu dan tempat, dia dan keluarganya, akan mengadakan makan malam bersama. Untuk merayakan hari ulang tahun Berly yang keempat.
Dan terjadilah malam ini, di restoran yang sama, tempat Victor dan Bella mengadakan perayaan ulang tahun pernikahannya, maka, di tempat makan itu pula, keluarga itu, merayakan ulang tahun Berly.
Akan tetapi, pada kesempatan kali ini, mereka memilih spot yang berbeda. Sebuah spot dengan kolam renang kecil di belakang bangku yang berbaris, menjadi pilihan keluarga itu.
Sebuah strawberry cheese tart bertingkat, sudah siap dieksekusi. Terdapat empat lilin panjang nan ramping, bertahta di atasnya, di antara tumpukan buah strawberry segar.
Nyatanya, strawberry cheese cake adalah pastry favorit Berly. Selera anak itu, bahkan sangat mirip dengan ayahnya.
Berly hanya mau memakan kue tersebut, jika, itu adalah ibunya yang membuat. Sebab, Rose selalu mempertahankan cita rasa dan resep yang Ben beritahukan padanya, tempo dulu.
Pun, dengan apa yang ia jual di toko kuenya. Maka dari itu, pastry tersebut sangat laku terjual setiap harinya.
Ternyata, Berly pun menyukai makanan manis itu, bahkan sejak ia masih bayi. Sebab, Rose pernah iseng, menjejalkan kue tersebut, saat Berly baru saja menginjak usia 8 bulan.
Maka, mulai dari sanalah, lidah Berly, hanya mau menerima, kue sejenis, buatan ibunya saja.
Pun, sama halnya dengan hari ini.
Rose meminta izin pada pihak restoran, untuk meminjam dapur serta peralatan memasak yang ada di sana. Juga, beberapa bahan yang ia perlukan. Tentu saja, ia membayar dengan kocek yang sesuai.
Tidak dalam bentuk cake yang seperti biasanya. Karena ini untuk acara ulang tahun, maka Rose membuatnya, dalam bentuk tart, agar bisa ia bentuk lebih tinggi dan besar, sebagai kue ulang tahun putrinya.
Di sisi meja sebelah kiri, terdapat Victor, Bella yang sedang memangku Ellia, lalu Bervan, serta Paman Alex. Sedangkan di sebelah kanan, hanya ada Rose dan Baz saja. Sebab, Berly, sudah berdiri di tengah meja, di hadapan kue ulang tahun cantik itu.
Si anak perempuan, begitu cantik malam ini. Mengenakan gaun senada dengan ibunya, berwarna kuning gading berlapis tutu.
Bak seorang princess, gaun selutut itu, dipasangkan, dengan sebuah sepatu kaca. Sepasang sepatu yang memiliki, setumpuk berlian berbentuk pita, di atasnya.
Rambut pirang Berly, dibiarkan tergerai, hanya saja, Rose membuatnya menjadi sedikit bergelombang.
Juga, ia sedikit memoles wajah putri kecilnya itu, agar terlihat lebih segar dan cerah. Tidak banyak, hanya sedikit perona pipi, juga bibir dengan warna pink.
Rose memang sudah menyiasati malam ini, supaya anaknya itu, benar-benar nampak, bak seorang putri. Dan Berly, akan selalu menjadi seorang putri baginya.
Hal ini pun, ia lakukan, demi menebus kesalahannya, karena sudah membuat Berly, sempat menghilang semalam.
Wanita itu merasa lega, karena putrinya itu bisa kembali dalam keadaan baik-baik saja. Sayangnya, ia tidak bisa bertemu, dengan orang baik yang sudah mengantarkan anak perempuannya itu.
Rose menyesal, karena ia belum sempat mengucapkan terima kasih. Karena sudah menjaga putrinya. Mutiara indah satu-satunya yang ia miliki.
Ia berjanji, nanti, jika ada kesempatan, ia akan mencari orang tersebut dan mengucapkan rasa syukurnya.
Yang tidak diketaui oleh wanita itu adalah, bahwa putri kecilnya sudah mengundang orang tersebut, untuk menghadiri acara ulang tahun, kecil-kecilan ini.
Pun, sama dengan Berly. Rose juga mengenakan gaun kuning dengan tutu yang sama. Hanya saja, sedikit berbeda. Sebab, wanita itu, selalu tidak meninggalkan jaket kulit. Sebagai outer dari apapun yang ia kenakan.
Hanya saja, rambutnya yang juga dibuat keriting, Rose ikat kuncir kuda.
Ya! Wanita itu, sudah meninggalkan kesan manisnya, sejak lama. Tetap saja, ada sentuhan garang dan berani, di setiap penampilan.
Happy Birthday To You
Happy Birthday To You
Happy Birthday To You
Hapy Birthday To You
….
Sambil berdiri, di posisi mereka masing-masing, semua orang bernyanyi dengan riang. Seraya bertepuk tangan, serta lengkung bibir yang begitu lebar.
Bahkan, Ellia yang masih kecil pun, begitu antusias ikut bernyanyi, meski, suaranya belum begitu jelas.
Namun, semua itu, kontras dengan wajah murung, yang berulang tahun hari ini. Bola mata hitam keabu-abuan itu, terus mengedar. Mencari sosok, yang begitu ia tunggu-tunggu.
Berly sedang mengingat, jika, ia sudah memberitahukan waktu dan tempatnya, dengan benar. Lalu, kenapa orang itu belum muncul juga?
Siapa lagi?! Tentu saja, orang itu adalah Daniel. Orang yang sudah terasa begitu spesial bagi anak kecil itu, meski mereka baru pertama kali bertemu.
Anak kecil itu, hanya tidak menyadari, apabila sebenarnya, sudah terbentuk ikatan batin, antara seorang ayah dan anak, di antara mereka berdua.
Lalu, tiba-tiba saja, hatinya merasa sedih, saat memikirkan, kemungkinan, jika Daniel melupakan janjinya untuk datang. Atau bahkan mungkin, sudah melupakannya.
Mata yang jernih itu pun, lama kelamaan mengkristal. Tidak tahu kenapa, tapi bagi Berly, rasanya, kesedihan itu, sangat banyak menyerang hatinya, saat ini.
Hingga, kristal bening itu pun mencair. Meneteskan sebulir berharga yang lantas, mendarat, pada bandul kalungnya yang berbentuk huruf B.
Ya! Itu adalah kalung yang sama, yang pernah Rose belikan untuk Ben dulu. Ia membeli dua buah kalung yang sama. Untuk dikenakan di leher mereka masing-masing. Lalu, mereka tidak pernah melepaskan kalung itu, sama sekali.
Juga dengan Ben, sampai akhir hayatnya, sebelum ia menghilang.
Setelah Berly lahir, maka, Rose mewariskan kalung itu pada putrinya. Yang mempunyai inisial yang sama, dengan ayah bioligisnya itu.
Mungkin saja, dengan kalung tersebut, Ben dapat kembali. Itu adalah harapan Rose, yang tak pernah usai ia panjatkan.
Anak perempuan itu, segera menyeka matanya yang basah. Tidak ingin, semua orang yang berada di sana, menyadari, bahwa ia baru saja menangis. Sedangkan, dirinya saja, tidak mengetahui sebab pasti, kesedihannya ini.
Juga, karena tidak mau mengecewakan ibunya, yang sudah susah payah menyiapkan semua ini.
Satu! Dua! Tiga!
Semua orang bersorak, dengan kompak membuat aba-aba supaya Berly, segera meniup lilinnya.
“Berly Callary! Lilinnya!” bisik Rose, menginterupsi sang putri, yang masih tertunduk.
Kedua tangannya masih di depan, bertepuk kecil, menyamai ritme yang lain. Sementara, sesekali ia melirik ke depan. Ke arah semua keluarganya.
Agaknya, Rose menangkap gelagat aneh dari sikap putrinya itu. Akan tetapi, ia benar-benar tidak dapat menerka, apa yang sedang Berly pikirkan. Serta, penyebab apa yang membuat putrinya itu, sekarang malah jadi tertunduk sedih.
Wanita itu pun, bergerak menyamping. Meraih putrinya, lalu, mengusapkan telapak tangannya yang hangat pada punggung Berly yang setengah terbuka.
“Sayang! Ada apa?” bisik Rose lembut. Sementara yang lain, masih terus bernyanyi dan belum sadar akan sikap aneh anak perempuan itu.
“Tidak apa-apa!” Lantas, Berly mengangkat wajahnya. Menatap sang ibu, dengan senyum yang begitu lebar. Sangat manis, namun sebenarnya, ia sedang menyembunyikan rasa pahitnya di dalam hati.
“Aku hanya sedang berdoa, supaya, aku bisa segera bertemu dengan Papa!” imbuhnya seraya melebarkan senyum menyakitkan itu.
Seorang anak kecil, saat ini, hanya sedang berusaha, untuk tetap tegar di hadapan ibunya. Dan…, ia pun tidak tahu, kalimat yang ia ucapkan, datang begitu saja, tanpa ia pikirkan dulu sebelumnya.
Sumpah demi apapun, hati Rose dibuat kacau mendengar hal ini. Ia terenyuh, sebab Berly mau menerima keadaan ini, dan masih berharap Ben segera kembali. Tapi di sisi lain, Rose semakin merasa bersalah, karena telah membuat keadaan sedemikian rupa, untuk putri tercintanya.
Apakah…, apakah ia begitu egois, karena telah selalu, mempertahankan cintanya terhadap Ben? Apakah ia salah, karena sudah melakukan hal ini?
Eehhh heehhh…. Ditarik Rose napasnya dengan begitu dalam, sampai kepalanya menengadah. Sambil pula memendam perasaan luka ini ke dalam batinnya. Serta menahan air mata, yang siap jatuh ke tanah.
Demi apa! Ia ingin sekali memberikan kebahagiaan kepada putri kecilnya itu! Namun, cintanya pada Ben terlampau besar, hingga Rose sendiri, tak dapat mengendalikan.
“Semoga doamu terkabul, Sayang!” Satu kecupan dalam, Rose labuhkan, pada kening sang putri.
Keduanya pun memejam, merasakan energi kasih sayang dari kedua belah pihak.
Sedang di belakang mereka, nampaknya, Baz semakin mantap dengan rencana yang sudah ia buat. Pria itu lantas tersenyum dengan begitu lebarnya, seraya mengangguk.
Dirogoh Baz saku celananya di bagian kanan. Di mana sisi menonjol itu tidak terlihat dari arah Rose maupun Berly. Ia telah menyiapkan sesuatu yang begitu spesial, di dalam kantong celananya itu.
Satu
Dua
Tiga
Fuuuhhh~!
Berly pun meniup lilin-lilin yang sudah mencair. Kini, giliran ia memotong kue kesukaannya tersebut.
Sebelum benar-benar menancapkan seluruh pisau kue itu, Berly memandang ke depan sebentar. Sepertinya, penantiannya telah usai. Mungkin, ia hanya harus pasrah dengan ketidak-hadiran Daniel, di acara pentingnya ini.
Anak kecil itu bersedih, Berly patah hati. Hanya saja, tidak ada yang menyadari, kecuali Bervan. Bocah lelaki yang paling dekat dengannya. Kakak laki-laki yang selalu menjaga dan menyayanginya juga Ellia.
Berly lantas menarik kedua sudut bibir, untuk memaksakan senyum terbit di sana.
Saat, ia sudah menancapkan seluruh mata pisau kue itu dan mencoba menariknya. Seseorang muncul dari balik pepohonan berlampu.
Senyum sumeringah pun muncul. Wajah lesu dan murungnya menghilang, seketika. Ia menarik pisau kue itu tanpa sadar, kemudian menancapkannya lagi, untuk membuat sebuah potongan kecil.
Namun, semua itu, ia lakukan, dengan tanpa memandangnya sama sekali. Berly hanya, mengikuti arah gerakan tangan sang ibu. Matanya terus menatap ke depan, pada seseorang, yang kemudian datang… tapi tidak seorang diri.
“Maaf, aku telat!” ucap Daniel seraya memberikan senyum menyesal.
DEG
Suara itu!
Tidak hanya Rose, tapi semua orang membulatkan mata, secara bersamaan. Mereka lantas menoleh pada asal suara dengan perlahan.
Takut, sangat takut, apabila, mereka telah salah mendengarkan.
Dia!
Mendadak, Rose merasakan dadanya bergemuruh saat sudah menatap sosok itu. Napasnya menjadi pendek dan terengah-engah. Lalu, tangan yang sedang memandu putrinya memotong kue pun, jatuh dan gemetar.
Keduanya, kedua tangannya gemetar. Dan geteran itu merambat ke seluruh tubuh. Efek terkejut ini, sangat dahsyat menyerang seluruh raganya. Yang belum siap sama sekali untuk menerima kenyataan ini.
“Ben!” ******* kecil dan pelan lolos dari bibir merah mudanya.
Baz pun langsung menoleh dengan cepat. Memastikan, apa yang baru saja keluar dari mulut wanita di sisinya. Melihat respon Rose kali ini, rasanya, tidak mungkin jika penglihatan mereka, salah.
Ia lantas menoleh ke arah lelaki itu lagi. Sosok yang sekarang memiliki paras sama, namun penampilannya nampak berbeda.
Rose tak percaya. Ia benar-benar tidak menyangka, jika lelaki yang selalu ia tunggu-tunggu, masih hidup. Masih bernapas dan nampak nyata di hadapan matanya.
Sosok yang sangat ia cintai dan begitu ia rindukan, selama bertahun-tahun lamanya.
Akhirnya, akhirnya Rose dapat melihatnya lagi.
Jika, seluruh tubuhnya sudah gemetar, akibat rasa terkejut yang menyerang begitu hebat. Kini, wajah juga bibir yang gemetar menahan tangis.
Namun, matanya tidak bisa melakukan hal itu. Air mata seketika lolos tanpa kontrol. Meluruh di pipi dengan satu tetes yang begitu bermakna.
Semua orang ternganga. Semua orang yang berada di sana tidak menyangka, bahwa, mereka akan bertemu dengan Ben lagi.
Akan tetapi….
Pria itu tidak datang sendiri. Ada seseorang di sebelahnya. Yang merangkul lengannya dengan begitu posesif, manja dan mesra. Juga seseorang lainnya di belakang, yang berjalan dengan wajah datar.
Benar saja! Daniel datang bersama Della dan juga Emilio yang tak pernah ketinggalan.
Tunangannya itu, merengek minta ikut datang ke pesta, anak kecil, yang sempat sekilas Daniel ceritakan.
Dan… siapa sangka, jika, yang akan mereka datangi, justru adalah jurang perangkapnya sendiri.
Nyatanya, Daniel aka Ben yang ia manipulasi, sedang kembali pulang, pada keluarganya, yang sebenarnya.
Begitu melihat sosok Rose, Della langsung memasang tatapan waspada. Sangat waspada, bahkan wanita itu ketakutan saat ini. Takut apabila, pria yang sudah ia dapatkan dengan susah payah, akan kembali direbut oleh pemilik yang sesungguhnya.
Daniel yang tak menganggap ekspresi aneh semua orang yang menatapnya dengan terpana dan penuh rasa terkejut di bola mata mereka. Pria itu hanya berpikir, jika mereka hanya kaget karena ada orang asing yang tiba-tiba datang, pada acara keluarga tersebut.
Laki-laki itu pun tersenyum ramah tanpa ragu. Menyapa semua orang, satu persatu. Tanpa terkecuali. Termasuk Rose, yang kini sudah berlinangan air mata.
Bagaimana tidak menangis?!
Wanita itu! Wanita yang bersama Ben saat ini, Rose masih mengingatnya. Dengan sangat jelas. Ia simpan memori foto wanita mengerikan itu, di dalam benaknya.
Wanita, yang sudah menyiapkan dan merencanakan semua nestapa dan nelangsa, yang mesti ia jalani selama beberapa tahun belakangan.
Tangannya di samping terkepal amat kuat. Sangat kuat, sampai buku-bukunya nampak pucat dan memutih.
Tidak hanya sakit hati karena Ben datang bersama dengan seorang wanita. Lebih sakit dan menusuk lagi, sebab pria yang ia cintai, nyatanya, datang bersama dengan sosok yang begitu ia benci.
Dan bahkan begitu mesra.
Alis, mata, hidung, bibir. Semuanya mengerut di antara semua gejolak emosi yang tengah merasukinya.
Ia hendak menangis, ingin memeluk. Tapi juga ingin mengamuk karena murka.
Jika begini, berarti semua spekulasi mereka benar! Wanita picik itu, wanita iblis itu, yang telah merebut cinta serta hidupnya, selama ini.
Baz juga tahu dan hapal akan wajah itu. Maka, ia pun menoleh pada Rose. Takut dan khawatir, terjadi sesuatu pada wanita itu.
Benar saja, seluruh tatapan serta aura Rose saat ini, diliputi oleh kebencian yang begitu kental.
“Selamat ulang tahun, Berly! Maaf aku terlambat!” Daniel sudah sampai di hadapan Berly.
Mencium pipi bocah perempuan, yang sekarang sudah nampak begitu sumeringah. Lantas memeluknya sebentar. Sebab, Della tidak melepaskan tangannya sama sekali, untuk tetap berada di dalam kungkungannya.
Ia merasa agak risih dengan sikap kekanakan Della. Tapi Daniel belum bisa menegurnya, karena saat ini, sedang ada begitu banyak orang.
“Aku lupa membeli kado untukmu,” ucanya dengan nada menyesal sambil melerai pelukan. “Dan, oh ya, tapi aku sudah membelikannya untukmu. Aku tidak tahu apa yang kau sukai, tapi kuharap kau mau menerimanya.”
Dikeluarkan Daniel, sebuah kotak beludru panjang, dari dalam saku jas di bagian dalam. Kemudian, menyerahkan benda itu ke tangan Berly.
Dalam euphoria yang ia rasa, anak perempuan itu membuka kotak tersebut. Lalu, didapatinya, sebuah kalung berbandul mutiara hijau yang nampak begitu indah.
“Memberikan boneka sudah biasa, aku ingin memberikan sesuatu yang spesial untukmu,” ucap Daniel seraya tersenyum dengan begitu lebar.
Ia juga tersenyum ramah, pada wanita yang ia yakin adalah ibu dari putri manis itu.
Bukannya senang, tapi Rose merasakan sakit di hatinya. Senyuman itu, seperti ia adalah Ben tidak mengenalinya. Seperti, ia adalah orang asing bagi pria itu.
Sementara, Berly tengah menatap kalung itu, dengan penuh pesona dan begitu bahagia. Sangat jelas.
Dari orang spesial, dengan hadiah yang begitu spesial. Karena hadiah tersebut, sangat sesuai dengan namanya. Berly, si mutiara hijau berharga.
“Oh, ya! Ibu, Paman, Bibi, ini adalah Daniel. Dia yang sudah mengantarkan aku tadi malam.” Berly akhirnya ingat untuk memperkenalkan pria istimewanya itu, kepada semua orang.
“Halo, aku Daniel Ernesto! Senang bertemu dengan kalian!” Nampak, pria itu melambaikan tangan pada semua khalayak di sana.
Lantas, Berly dan Daniel pun saling pandang juga saling lempar senyum.
“Ayo, aku akan memakaikannya untukmu!” Dilepas Daniel tangan Della dengan tatapan memohon dan sedikit memaksa.
Hingga, pada akhirnya Della mau melepaskannya. Daniel lantas mengambil hadiah yang berikan, lalu melingkarkan kalung tersebut pada leher Berly.
Daniel? Apakah bukan Ben? Tapi Rose yakin, jika itu adalah pria miliknya.
Apa yang terjadi? Mengapa bisa begini? Kenapa namanya berubah dan Ben seakan tidak mengenali dirinya, juga seluruh keluarganya?
Sibuk melihat interaksi Daniel dan Berly, tidak ada yang menyadari, apabila, Rose tengah semakin gemetar seluruh tubuhnya, dari atas sampai kaki.
Wanita itu, terus memundurkan langkahnya. Dengan campur aduk perasaan yang membahana, merajai hingga membuatnya hampir gila, karena tidak bisa menerima kenyataan ini.
“Dan, kenalkan… ini Della, dia adalah tunanganku!” ucap Daniel pada semua orang.
Ia tersenyum ramah, kembali. Sedangkan Della, sangat melebarkan senyumnya. Seolah dia menang telak dalam keadaan ini.
Ya! Dia sudah menjadi tunangannya, saat ini.
JEGERRRR
Seperti baru saja disambar petir, tubuh Rose lantas terhuyung ke belakang. Di mana terdapat sebuah kolam renang kecil, di sana.
Byuuuurrrr~!
“ROSE!!!!” jerit Baz panik.
Bersambung…
mohon maaf ya kalo kepanjangan,, aku mau update semalem, tapi kayanya kurang pas aja kalo aku potong di tengah-tengah,, makanya aku terusin pagi ini, biar lebih terasa klimaksnya,,
semoga teman-teman suka ya
keep strong and healthy semuanya