Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Anggap Saja Latihan



Ribut-ribut terdengar dari loby hotel. Di mana tempat itu akan menjadi rute pengantin wanita berjalan menuju altar pernikahan.


“Ada apa, Suamiku?” tanya Bella.


Ia datang karena kebetulan Anggie bilang, Ben memintanya ke sana. Tetapi, istri dari Victor itu nampak kebingungan setelah melihat suaminya memarahi Relly dari kejauhan.


“Apa-apaan ini, Bella? Mana ada sejarahnya yang mengantar pengantin wanita ke altar adalah kerabat wanita?!” seru Victor dengan emosi.


Berulang kali ia melepaskan napas kasarnya pendek-pendek melalui mulut. Seolah sedang membuang amarah yang sedang ia tahan.


“Ada apa sebenarnya, Sayang?” Meskipun berada dalam atmosfer yang menegangkan, Bella tetap bersabar dan menjaga ketenangan.


“Tanya saja dia! Tanya tuannya!” Victor pun meletakkan telunjuknya tepat di depan wajah Relly.


Pria yang sedari tadi menundukkan kepala dan gemetar. Bagaimanapun juga, dulunya Victor adalah salah satu orang yang disegani di Harimau Putih.


Ketika tak ada yang mengusik, Victor memang lebih tenang dari pada Ben yang buas dan bar-bar. Namun, saat sedang marah, temperamennya kurang lebih sama dengan lelaki bertopi koboi itu.


Relly benar-benar tidak berani mengangkat wajahnya sama sekali, begitu mendengar lolongan Victor terhadapnya.


“Ada apa, Relly? Coba jelaskan pelan-pelan padaku?” pinta Bella.


Ia melihat ke arah suaminya sebentar yang masih menahan amarah. Masih membelakangi mereka. Kemudian, menganggukkan kepala pada Relly yang nampak takut untuk bersuara.


“I-ini, Nona Bella…. A-anu….”


“Tidak apa-apa, Relly! Coba tarik napas dalam-dalam, lalu keluarkan pelan melalui mulut. Tenanglah dan bicara pelan-pelan!” Bella pun memberikan arahan pada Relly yang nampak gugup.


“Hey, Istriku! Memangnya dia mau melahirkan, kau suruh tarik napas begitu?! Suruh saja supaya dia langsung bicara yang benar!” Victor tiba-tiba berbalik dan menegur keras.


“Bagaimana dia mau bicara yang benar, kalau wajah dan suaramu saja sudah membuat dia jantungan!” bentak Bella balik. “Sudah, berbalik lagi saja sana! Serahkan semuanya padaku!” perintahnya pada sang suami.


Segera, setelah mendengar suara menggelegar istrinya yang biasa sabar, Victor lekas menjepit bibir dan tak berkutik. Ia pun menurut dan langsung membalikkan badan lagi.


Oke! Nampaknya hal itu cukup memancing Relly untuk jadi lebih tenang.


“Jadi, Tuan Ben minta agar yang mengantar pengantin wanita ke altar adalah Nona Bella saja.” Ia pun bisa buka suara.


“Kenapa begitu?”


Meski tidak setuju, Bella tetap sabar dan bertanya alasannya. Tidak seperti Victor yang langsung tidak terima dan marah hingga begitu menggebu-gebu.


“Katanya, Tuan Ben ingin supaya tidak ada laki-laki lain yang melihat Nona Rose pertama kali dalam balutan gaun pengantin.


“Tuan Ben ingin, supaya dialah laki-laki yang melihat betapa cantiknya Nona Rose pertama kali. Begitu, Nona Bella!” Relly selesai menjelaskan.


“Kau sudah dengar, kan? Bagaimana aku tida-.”


“Diam!” Bella langsung memotong Victor seraya berseru tegas dan membulatkan mata.


“Tapi kau sudah dengar, kan? Alasannya itu benar-benar mem-.”


“Ku bilang diam!” Dipelototi oleh istrinya, Victor auto membalikkan badan lagi dan benar-benar tak berkutik.


Seseorang yang biasanya lemah lembut dan sabar, ketika marah pasti terlihat lebih menakutkan.


“Jadi, itu alasannya aku dipanggil ke sini?” tanya Bella pada Relly.


“Benar, Nona!”


“Ehm…, begini Relly!” Istri dari Victor itu nampak berpikir sejenak. Menimbang sanggahan yang tepat dan bijak. “Tolong sampaikan padanya, bahwa benar seperti apa yang suamiku bilang. Tidak ada dalam sejarahnya yang mengantar pengantin wanita ke altar adalah seorang wanita. Kecuali, sudah tidak ada kerabat pria satu pun yang bisa dimintai pertolongan,” terangnya dengan sabar.


“Sedangkan Rose, dia masih punya ayah dan kakak laki-laki yang berhak untuk mendampinginya. Jika Ben tetap bersikukuh ingin begitu, itu tandanya Ben tidak menghormati Rose dan keluarganya.


“Juga, sebab ayah mertuaku belum datang, maka, Victor adalah laki-laki selanjutnya yang berhak mengantar Rose sampai ke altar. Hingga menyerahkannya kepada pengantin pria.”


Bella benar-benar menjelaskannya penolakan mereka dari pihak pengantin wanita dengan jelas dan sabar. Serta, tidak terdengar menuntut sama sekali. Malah terdengar seperti sedang memberi pengertian.


“Kalau begini aku mengerti! Tidak seperti tadi, begitu selesai mengatakan, aku langsung dimaki-maki tanpa alasan yang jelas,” keluh Relly sembari menyindir suami dari wanita yang bersedia menjelaskan padanya dengan sabar.


Merasa dipandangi, Victor pun lekas  berbalik. Sembari melayangkan tatapan yang menyipit dan menajam.


Sayangnya, tak ada yang mencurigakan sama sekali. Relly pun nampak masih menundukkan kepala seperti tadi.


Padahal sebenarnya, Relly buru-buru menunduk begitu melihat Victor hendak menggerakkan kepalanya. Siapa tahu akan memelototi seperti hendak menerkam?


Dan benar, bukan? Relly juga tahu kalau insting tajam Victor tidak akan pernah hilang.


“Baiklah, Nona! Kalau begitu, saya akan sampaikan pada Tuan Ben lebih dulu. Tapi…, kalau tuan masi menolak, bagaimana?”


“Jika kau menjelaskan padanya sama persis seperti apa yang ku katakan, aku yakin, dia pasti akan mengerti!”


Setelah Relly pergi, Bella lantas menghadapi suaminya yang masih membalikkan badan.


“Lalu untuk kau-!” Tubuh Victor pun ia balik secara paksa. Sebab, sang suami malah mematung badannya pada posisi itu.


Victor yang takut istrinya akan mengomeli dirinya pun menjepit bibir dan memejamkan mata.


“Sayang! Kalau kau menjelaskan padanya pelan-pelan, kan, Relly pasti akan mengerti.”


Siapa sangka, kalau ternyata, istrinya itu malah akan bertutur lembut seperti biasanya, kepadanya. Pria itu pun lekas membuka mata.


“Kenapa kau marah-marah? Ada apa, hem? Aku tahu, tidak biasanya kau seperti ini!” Rahang tegas sang suami pun dielusnya dengan lembut.


“Aku gugup, Sayang!” jawab Victor jujur.


Bella pun tersenyum dengan matanya. “Gugup? Kau, kan,  bukan pengantinnya, Sayang!”


“Tapi pengantinnya adikku, Sayang! Rasanya, seperti akan melepas anak perempuanku pada laki-laki lain!” Suara Victor berubah cemas.


Bella tertawa kecil. Ia coba memahami kekhawatiran yang tengah suaminya rasakan. Rasa gugup dan tidak tenang itu pun ia obati dengan sebuah pelukan.


Dipeluknya erat Victor, lantas Bella sandarkan wajahnya pada dada bidang sang suami. Ia hidu aroma dan wangi parfum khas yang ia pilih khusus untuk suaminya itu.


Kemudian, Bella angkat wajahnya. Sekarang dagu yang bersandar di dada, sebab wajah cantik itu menengadah menatap wajah tegang suaminya.


“Kalau begitu, anggap saja sekarang adalah latihan, sebelum kau benar-benar melepas putri kita nanti pada pria lain,” tutur Bella sembari tersenyum lembut.


“Ellia-!” Digeser pandangan Victor sebentar, lalu ia ambil napas dalam. “Baiklah, akan aku coba!” Ia pun menganggukkan kepala setuju.


Meskipun, jangkauan waktu untuk putrinya itu masih lama. Sebab Ellia saja sekarang masih balita. Namun, memikirkan apa yang dikatakan istrinya. Victor mengerti, bahwa momen tersebut akan menjadi momen yang lebih membuat mereka gugup daripada ini.


Maka, sekarang Victor pun sudah bisa merasa lebih tenang.


Dari pelukan itu, Bella juga bisa mendeteksi detak jantung lelakinya. Apakah masih menggebu-gebu atau tidak. Karena sudah terdengar stabil dan konstan, ia pun melerai pelukannya.


“Kalau begitu…, ayo kita jemput calon pengantin wanitanya!”


“Ayo!”


Pasangan suami istri itu pun melenggang sambil bergandengan tangan. Menuju Rose yang sedang menunggu di salah satu ruang tunggu.


Bersambung…